Acuan Permainan Musik Modal Adalah


BAHAN AJAR Musik BARAT



(KONSEP MUSIK MODAL,TONAL DAN ATONAL)


Asongan Pendidikan

               : SMA Kewedanan Sakti Kuantan Singingi


Mata Kursus

                       : Seni Budaya (Seni Musik)


Kelas/Semester

                     : XI/Suatu


Pertemuan Ke                        :


1 (pertama)



Alokasi waktu


            : 2 x 45 Menit


Tujuan Pembelajaran


:

1.


Menguraikan Tinggi nada Gregorian, dan Kromatik

2.


Menjelaskan musik monofon

3.


Menjelaskan

Nada modal ialah nada-musik pentatonis kerjakan musik area.


4.


Mengidentifikasi Karakteristik Musik Modal Tonal dan atonal

5.


Membandingkan konsep Nada modaln Tonal dan atonal

6.


Membedakan karakteristik nada modal dan tonal secara auditif


7.


Membebaskan karakteristik musik tonal dan atonal secara auditif



Materi :


Fakta:


Konsep:

Musik Modal Adalah  karya musik nan berasal pecah satu jajaran nada dengan jarak interval tertentu dan enggak ada hubungannya individual antara masing masing not tangga nada tersebut kecuali nada bawah yang merupakan pusat (finalis)  (Dieter Mack, 1994)

Musik Tonal Yakni Sistem musik yang memandang bunyi secara vertikal dan horizontal, adanya kancing nada yang di tangkap suara alias dirasakan, artinya satu rangkaian not tidak hanya n kepunyaan hubungan secara horizontal saja setiap not itu tidak berdiri sendiri, mempunyai Tanga Musik Diatonis Mayor dan Diatonis minor


Musik Atonal yaitu garapan musik

yang mengabaikan

Membaikan kunci atau tonal center

(keakuran tonal)

,


Kaidah :

1.


Irama Modal memiliki 7 Tangga nada :

Ionian, Dorian, Frigia, Lydian, Mixolydian, Aeolian, dan mode Locrian, saban tujuh perimbangan modal terdiri berasal pengaruh tertentu dari irama diatonis dari satu oktaf.


2.


Prinsip modal dari berpangkal musik “monofon”,


3.


Musik Tonal barat menunggangi Tanga Nada Diatonis Mayor dan Diatonis minor dengan Menggunakan akor yang terikat interval tinggi irama

4.


Musik atonal lain menirukan aturan halal atau sonder mengupas Tonal nada menggunakan tanggga irama kromatif


Prosedur:

Mengobservasi secara audio rasa musik barat dalam perspektif Modal, Tonal dan Atonal baik berusul segi melodi (horizontal) mapun kemesraan (vertikal)

Menganalisis secara pemahaman terhadap konsep dengan bahasa defenitif

Membunynikan maupun memainkan tangga nada yang menjadi modal (gregorian) 7 tangganada modus, Tonal, dan atonal dengan baik secara vertikal maupun horizontal.


URAIAN MATERI



Materi Pengantar (orinetasi Peserta jaga)



Harmoni Musik



Harmoni




kerumahtanggaan musik Barat adalah keseleo satu teori irama yang mengajarkan bagaimana menyusun suatu rangkaian akord-akord hendaknya nada tersebut dapat enak didengar dan selaras. Di sini dipelajari akan halnya pemakaian berbagai nada secara simultan dan akord-akord musik, nan terjadi dengan sesungguhnya ataupun yang tersirat. Pengkajian ini bosor makan merujuk kepada studi tentang, gerakan dari satu nada secara sinkron ke nada nan lain, dan cara-prinsip sistemis yang mengeset progresi tersebut


Sejarah Lahirnya Kehangatan



Notasi Gregorian Tahun 590






Notasi musik
lahir pada periode
590
nan disebut
Notasi Gregorian, nan ditemukan makanya
Paus Gregorius I, di mana sebelumnya
nada
mengalami kegelapan bukan ada peninggalan tercatat. Pada periode hidupnya Paderi Gregori telah menyalin ratusan lagu-lagu
gereja
internal notasi gregorian tersebut. Notasi ini memekai 4
garis
sebagai
not
balok, hanya belum suka-suka notasi
iramanya
(hitungan bersendikan perasaan penyanyi. Di sini sifat lagu masih seumpama lagu tunggal ataupun
monofoni.





Musik Organum 1150-1400




Pada awalnya insan menyanyi dengan irama yang sebanding, atau disebut dengan
organum,
nada atas
dinyanyikan oleh
wanitaatau
anak-momongan, sedangkan
nada rendah
dinyanyikan maka dari itu
laki-suami. Di sini terjadi susunan lagu berjarak
oktaf, suara pangkat (wanita/momongan-anak) dan suara sedikit (pria).





Nada Discant 1400-1600




Ternyata tidak semua boleh mengikuti suara miring tinggi atau suara rendah.Oleh sebab itu diputuskan untuk membuat suara miring yang kuart kian tekor mengikuti melodi, kuart tinggi maunpun kuart terbatas, dan musik yang demikian ini disebut musik diafoni (dia=dua, foni=kritik).



Basso Ostinato Tahun 1600




Turunan-orang Italia pada tahun sekitar 1600 menemukan barang apa nan disebut Basso Ostinato maupun Bass yang bergerak gendeng atau gila, substansial asosiasi musik-musik yang bergerak setahap demi selangkah ke bawah atau ke atas, kemudian diulang lega rangkaian irama lain secara sama.





Musik Polifoni Era Barok 1600-1750




Ternyata suara yang mengikuti begitu juga melodi menjadi ki boyak, maka mulailah suara tidak bersirkulasi secara sejajar, maka mulailah dengan sebelah nan inkompatibel. Komponis Giovani Perluigi da Palestrina (1515-1594) adalah perambah tentang situasi ini, dan disusun teori mengenai musik melodi banyak (polifoni), sehingga setiap irama alias bintik (punctus=point) bergerak secara mandiri alias berlawanan (counter), di sinilah lahir teori kontrapung (counterpoint=kontrapunt).


Johann Sebastian Bach (1685-1750) yakni riuk suatu empu musik polifoni dengan teknik kontrapung nan sangat tingkatan, karema disusun seperti matematik. Dekat semua penggubah lagu Era Barok (1600-1750) mengekspresikan dengan teknik kontrapun, misalnya George Frederic Handle (1685 – 1759) berpangkal Inggris, Antonio Vivaldi (1678 – 1741) dari Italia, nan lain George Philipp Telemann, Arcangelo Corelli, Henry Purcell, Domenico Scarlatti, Jean-Philippe Rameau, dlsb.






Irama Homofoni Era Klasik 1750-1825




Lebih jauh puas Era Klasik (1750-1825) ditemukan koalisi akord yang berlandaskan tri-suara (triad), selanjutnya berkembang dengan catur suara ataupun lebih. Irama yang begini disebut Nada Homofoni, sehingga kontrapung menjadi diversifikasi melodi yang kontrapuntis.

Para juru rumpaka Era Klasik (1750-1825) adalah Carl Philipp Emmanuel Bach dan Johann Christian Bach (anak-anak JS Bach yang tidak mengikuti sang ayah yang polifoni), Johann Stamitz, Franz Joseph Haydn, Wolfgang Amadeus Mozart, Luigi Boccherini, Christoph von Gluck, Franz Schubert, Wolfgang Amadeus Mozart (si anak asuh ajaib) dan Ludwig van Beethoven (maestro yang tuli).

Irama Era Klasik didominasi dengan karya Konserto, Sonata, Symphony, Variasi, Lagu (Lied), dlsb.

·



Konsep musik modal

.





TUJUH Neraca MODAL/Pangkat Nada MODAL

Modal irama maju terdiri dari tujuh skala yang berbeda berkaitan dengan sendi mayor dan minor damping, masing-masing dengan sifat nan berlainan dan karakteristik yang memperlainkan mereka bermula satu sama lain. Disebut Ionian, Dorian, Frigia, Lydian, Mixolydian, Aeolian, dan mode Locrian, masing-masing tujuh skala modal terdiri berpangkal kontrol tertentu dari nada diatonis berbunga satu oktaf.

KARAKTERISTIK

Setiap kecenderungan punya gelar neraca karakteristik dan struktur harmonisa tertentu yang silih memberi suara yang unik. Walaupun namanya asal Yunani, perkariban nada berbeda berpunca tren Yunani dengan jenama yang mirip.






1. Modal Ionian yaitu satu-satunya tendensi nan dominan ketujuh tipe chord terjadi secara alami pada neraca tingkat kelima, sebagai V7. Tanpa penjelasan kian lanjut, “tren utama” ataupun tetapi “besar” mengacu pada modal Ionia.





2. Modal Dorian memiliki karakteristik yang diajukan keenam relatif ke modal Aeolian, yang menghasilkan akord IV terdepan dan chord II minor. Akord dominan ketujuh dalam modal ini terjadi sreg neraca derajat keempat, umpama IV7.

3. Modal Phrygian memiliki menurunkan relatif kedua untuk Aeolian, yang menciptakan chords karakteristik berkurang



II besar dan v. Mode ini cukup mahajana dalam nada flamenco. [rujukan?] The akord dominan ketujuh internal modal ini terjadi sreg skala derajat keempat, sebagai III7.





4. Modal Lydian memiliki relatif keempat diangkat ke Ionia, nan menciptakan iv berkurang, vii minor, akord II dan terdahulu. Akord dominan ketujuh internal modal ini terjadi pada rasio derajat kedua, bak II7.





5. Modal Mixolydian memiliki gelar 7 mengedrop relatif terhadap Ionia. Akord dominan ketujuh kerumahtanggaan mode ini karena terjadi sreg tonik, seperti I7. Akord karakteristik lainnya v katai, dan akord VII utama. Ada juga chord seram iii, tetapi tidak digunakan secara ekstensif dalam tata letak modal.





6. Mode Aeolian memiliki









6 dan 3, 7. Akord dominan ketujuh dalam modal ini terjadi sreg tingkat skala ketujuh, sebagai VII7. Chords lainnya Its karakteristik adalah iv minor dan akord v. Ada perbedaan lembut antara komposisi modal Aeolian dan komposisi dalam sebuah kunci minor, karena derajat keenam dan ketujuh dalam sebuah kunci minor dapat diubah kerjakan menciptakan IV utama dan akord V. Tren Aeolian pula lebih dikenal sebagai neraca (Murni) Alam boncel. Dalam kasus-kasus dimana modal Aeolian memiliki tanda kunci yang sama seumpama kunci utama tertentu namun dengan tonik nan berbeda, ini disebut misal skala relatif katai. Sebagai komplet, A Aeolian adalah minor relatif berusul rasio C mayor.





7. Modal Locrian telah menurunkan derajat skala kedua dan kelima relatif terhadap Aeolian dan memiliki chord i berkurang. Hal ini sangat tidak stabil, dan chord saya menciut yang takhlik menargetkan nada celaan dalam modal hampir bukan-bukan. Sejumlah potong ditulis dalam mode ini biasanya digunakan suatu akord minor i diubah (BDF


) untuk mendirikan pusat tonal, dan kemudian menggunakan chord V minor iii (DFA) dan terdahulu (FAC) kerjakan membentuk modalitas. Menyabarkan tingkat kelima bila menggunakan chord i saringan enggak. Akord dominan ketujuh dalam modal ini terjadi pada skala derajat keenam, misal VI7.




Kontak ANTAR MODAL





Mungkin cara paling sederhana bikin memahami tujuh mode modern dan kekeluargaan antara mereka adalah bakal melihatnya sebagai rotasi berentetan satu set tujuh goresan-misalnya, dengan memperalat garitan dari nisbah C Mayor: C, D, E, F, G, A, B, dan C. Ini yakni C Ionian kecondongan karena C adalah catatan referensial, dan kamil interval di atas diketahui bahwa sesuai dengan Ionia. (The neraca ki akbar dan skala modal Ionia di sembarang kenop merupakan identik.) Mempertahankan coretan perimbangan C-utama sebagai kerangka referensi:

* C modal Ionia terdiri berasal tulisan C, D, E, F, G, A, B, C (Do, Re, Mi, Fa, Sol, La, Ti, Do)






* D modal Dorian terdiri dari catatan D, E, F, G, A, B, C, D (Re, Kwetiau, Fa, Sol, La, Ti, Do, Re)

* E Phrygian terdiri dari E, F, G, A, B, C, D, E (Mi, Fa, Sol, La, Ti, Do, Re, Laksa)

* F Lydian terdiri pecah F, G, A, B, C, D, E, F (Fa, Sol, La, Ti, Do, Re, Mi, Fa)

* G Mixolydian terdiri berpokok G, A, B, C, D, E, F, G (Sol, La, Ti, Do, Re, Mi, Fa, Sol)

* A Aeolian terdiri dari A, B, C, D, E, F, G, A (La, Ti, Do, Re, Mi, Fa, Sol, La)

* B Locrian terdiri dari B, C, D, E, F, G, A, B (Ti, Do, Re, Laksa, Fa, Sol, La, Ti)

Semua contoh di atas terdiri terbit catatan yang sama persis, perbedaan di antara mereka adalah siasat nada dari setiap mode. Skala D Dorian mengandaikan catatan D untuk menjadi siasat. Dengan perkenalan awal bukan, karangan D menjadi tonik, temporer semua catatan tetap seperti proporsi C-besar. Konsep ini dapat dialihkan chromatically lakukan setiap skala besar.






Menerapkan kaidah ini untuk dinas tetap-lakukan suku pengenalan solfège dan kredit perimbangan derajat dari hasil neraca asli terdepan dalam bergerak-do solfège dan angka proporsi derajat relatif terhadap satu sekufu tonik baru (dan dengan accidentals diterapkan sehubungan dengan derajat seperti yang ditemukan dalam skala ki akbar) sebagai berikut:



Ionian mode
Do, Re, Misoa, Fa, Sol, La, Ti, Do
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 1






Dorian mode



Re, Bihun, Fa, Sol, La, Ti, Do, Re


2, 3, 4, 5, 6, 7, 1, 2


—menjadi—
Do, Re, Me, Fa, Sol, La, Te, Do



1, 2,


3, 4, 5, 6,


7, 1


Phrygian kecenderungan


Misoa, Fa, Sol, La, Ti, Do, Re, Mi


3, 4, 5, 6, 7, 1, 2, 3




—menjadi—
Do, Ra, Me, Fa, Sol, Le, Te, Do



1,


2,


3, 4, 5,


6,


7, 1




Lydian gaya



Fa, Sol, La, Ti, Do, Re, Kwetiau, Fa


4, 5, 6, 7, 1, 2, 3, 4


—menjadi—
Do, Re, Mi, Fi, Sol, La, Ti, Do



1, 2, 3,


4, 5, 6, 7, 1


Mixolydian mode




Sol, La, Ti, Do, Re, Mi, Fa, Sol


5, 6, 7, 1, 2, 3, 4, 5


—menjadi—
Do, Re, Mihun, Fa, Sol, La, Te, Do



1, 2, 3, 4, 5, 6,


7, 1




Aeolian kecondongan



La, Ti, Do, Re, Mi, Fa, Sol, La


6, 7, 1, 2, 3, 4, 5, 6


—menjadi—
Do, Re, Me, Fa, Sol, Le, Te, Do



1, 2,


3, 4, 5,


6,


7, 1


Locrian mode


Ti, Do, Re, Mi, Fa, Sol, La, Ti




7, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7


—menjadi—
Do, Ra, Me, Fa, Se, Le, Te, Do



1,


2,


3, 4,


5,


6,


7, 1


Tujuh skala modal modern akhirnya dapat dianggap ibarat pergeseran resep ke derajat berurutan dari rasio ki akbar. Maka itu karena itu, setiap interval dalam modal akan diberikan penudingan interval baru sesuai dengan posisinya nisbi terhadap tonik plonco.


Modal berfaedah setiap karya musik berbunga dari keseleo satu jajaran irama dengan jarak interval nan tertentu dan lain suka-suka hubungan individual antara masing-masing not tangga nada tersebut, kecuali nada sumber akar yang merupakan “taktik” (finalis tangga irama modal).



Kaidah modal berasal dari nada “monofon”, yaitu satu lagu saja atau satu melodi line yang dinyanyikan oleh satu atau sejumlah orang. Dalam hal ini mandu modal mirip dengan pelecok satu prinsip dalam musik karawitan yaitu sistem pelog/salendro, karena hierarki nada pelog/salendro lebih berbimbing dengan khuluk melodi yang monofon (mengufuk) dan terletak nada radiks pun sebagai “pusat”. Perbedaan dengan cara modal di Eropa dapat ditemukan intern rangka ganjaran interval, karena di Indonesia tak ada standardisasi jarak interval. Kenyataan ini tidak adalah kehilangan melainkan perbedaan yang berdasaran estetika irama (rekaman, tradisi budaya) yang farik.

Kemudian apabila kita menganalisis berbagai lagu monofon yang kuno, tampaknya unsur-partikel pentatonis sekali lagi ada, sehingga ahli ahli musik di seluruh dunia menduga : kaidah pentatonis adalah semacam sumber sendirisendiri sistem tingkatan nada di dunia ini. Ternyata, terdapat beberapa budaya nada nan tetap mengembangkan prinsip pentatonis seperti Indonesia misalnya. Sementara itu di Eropa, unsur-unsur pentatonis diubah melampaui sistem tangga nada modal. Sementara itu, karakter pentatonis masih sering unjuk pada beberapa karya-karya nada Barat sebagai simbol “paling alami”.

Ada beberapa karya irama di Eropa dengan partikel-unsur pentatonis:

1. Nada monofon abad ke-7 nan namanya “Lagu Gregorian”

2. Karya Claude Debussy yang berjudul “Epigraphes Antique”

3. Karya Franz Schubert yang berjudul “Fruhlingstraum”

Perigi :

  • http://littlethinkgiet.blogspot.co.id/2011/02/sapta-proporsi-modaltangga-nada-modal.html
  • https://brainly.co.id/tugas/7237538



·



Konsep nada tonal

Tonal merupakan sitilah nada berarti “menyatakan bunyi atau warna suara” sedang kan tone berharga “bunyi irama” itu sendiri.

Dalam
teori musik,
perbandingan diatonik
merupakan komponen dasar teori musik marcapada Barat. Skala diatonik punya tujuh titinada yang berlainan dalam satu oktaf. Not-not ini adalah not-not masif pada piano. Internal notasi
solmisasi, titinada-not tersebut ialah “Do-Re-Mi-Fa-Sol-La-Si”. (Terkadang, ‘Si’ direpresentasikan dengan ‘Ti’ agar huruf mula-mula setiap not berbeda).


Neraca mayor
dimulai dengan not mula-mula (Do), dan berakhir setakat not ‘Do’ nan ada satu oktaf di atas Do yang pertama.

Dalam
teori musik, skala diatonik mayor adalah bagian penting dalam pembangunan tradisi musik dunia Barat. Skala ini terdiri dari tujuh not dalam satu oktaf, diwujudkan dalam tuts putih dalam perangkat musik piano, diperoleh berpangkal pergaulan enam nada kelima (fifth) yang berurutan kerumahtanggaan suatu versi
meantone temperament, dan menghasilkan dua
tetrakord
yang dipisahkan dengan
selang antara
suatu nada bernilai penuh. If our version of meantone is the twelve tone
equal temperament
the pattern of intervals in semitones will be 2-2-1-2-2-2-1. Skala besar dimulai pada catatan pertama dan dilakukan dengan persiapan-langkah untuk oktaf permulaan. Dalam solfège, suku kata bakal setiap proporsi adalah “Do-Re-Laksa-Fa-Sol-La-Ti-Do”.

Skala minor alami bisa dicari n domestik dua cara, yang pertama adalah sebagai minor relatif pecah skala mayor, yang dimulai plong tingkat keenam skala dan meneruskan langkah demi awalan melalui tetrachords setakat dengan oktaf mula-mula berpunca tingkat keenam. Dalam solfège “La-Ti-Do-Re-Laksa-Fa-Sol.”

Alternatif, minor alami boleh di lihat sebagai pergaulan dari perbedaan tetrachord semenjak adegan 2-1-2-2-1-2-2. di arena “Do-Re-Mé-Fa-Sol-Lé-Té-Do.”

Harmoni musik Barat sejak Renaisans hingga akhir abad XIX berdasar plong skala diatonik dan aliansi-rangkaian unik yang dihasilkan oleh sistem pengerahan ketujuh nada ini. Harus diingat bahwa yang minimal potongan sekali lagi terbit praktik umum kunci perubahan musik, saja ini berorientasi ke pertautan strata musik diatonis dalam satu kunci dengan mereka nan bukan, tatap
modulasi
(musik).

Tuts-tuts putih pada alat musik
piano
takhlik skala
diatonik
C mayor (C-D-E-F-G-A-B-C), dengan jarak satu interval saban nadanya, kecuali cak bagi E-F dan B-C, yang memiliki interval semitone (segumpal tone).

Diatonik dari terbit bahasa Yunani “diatonikos” artinya “mengendurkan”. Seringkali dipakai bakal menyebut keseluruhangaya, namun umumnya dipergunakan lakukan menegur rasio mayor dan minor.

Sahaja divisi tertentu oktaf, 12 dan 20 terjadwal, memungkinkan keunikan, koherensi, dan kesederhanaan transposisional, dan bahwa cuma subset diatonik dan pentatonik berbunga 12 nada set kromatikikuti hambatan ini (Balzano, 1980, 1982)


This article is about the musical system. For linguistic feature, see Tone (linguistics).

Perfect authentic cadence (IV–V–I progression, in four-part harmony) in C major About this sound Play (help·info). “Tonal music is built around these tonic and dominant arrival points [cadences], and they form one of the fundamental building blocks of musical structure” (Benjamin, Horvitz, and Nelson 2008, 63).

Tonality is a musical system that arranges pitches or chords to induce a hierarchy of perceived relations, stabilities, and attractions. The pitch or triadic chord with the greatest stability is called the tonic, and the root of the tonic chord is considered to be the key of a piece or song. Thus a piece in which the tonic chord is C major is said to be “in the key of C”. The most common use of the term …”is to designate the arrangement of musical phenomena around a referential tonic in European music from about 1600 to about 1910″ (Hyer 2001). Contemporary classical music from 1910 to the 2000s may practice or avoid any sort of tonality—but harmony in almost all Western popular music remains tonal.[vague] Harmony in jazz music includes many, if not all, tonal characteristics, while having different properties from common practice classical music.

“All harmonic idioms in popular music are tonal, and none is without function” (Tagg 2003, 534).[vague] Tonality is an organized system of tones (e.g., the tones of a major or minor scale) in which one tone (the tonic) becomes the central point for the remaining tones. In tonality, the tonic (tonal center) is the tone of complete relaxation, the bulan-bulanan toward which other tones lead (Benward & Saker 2003, 36). The cadence in which the dominant chord resolves to the tonic chord plays an important role in establishing the tonality of a piece.

“Tonal music is music that is unified and dimensional. Music is unified if it is exhaustively referable to a precompositional system generated by a single constructive principle derived from a basic scale-type; it is dimensional if it can nonetheless be distinguished from that precompositional ordering” (Pitt 1995, 299).

The term tonalité originated with Alexandre-Étienne Choron (1810) and was borrowed by François-Joseph Fétis in 1840 (Reti 1958,[page needed]; Simms 1975, 119; Judd 1998a, 5; Heyer 2001; Brown 2005, xiii). According to Carl Dahlhaus, however, the term tonalité was only coined by Castil-Blaze in 1821 (Dahlhaus 1967, 960; Dahlhaus 1980, 51).

Although Fétis used it as a general term for a system of musical organization and spoke of types de tonalités rather than a single system, today the term is most often used to refer to major–minor tonality, the system of musical organization of the common practice period. Major-minor tonality is also called harmonic tonality (in the title of Carl Dahlhaus 1990, translating the German harmonische Tonalität), diatonic tonality, common practice tonality, functional tonality, or just tonality







Terjemahan :

Kata sandang ini yakni tentang sistem musik. Untuk fitur ilmu bahasa, lihat Tone (linguistik).

irama sempurna otentik (IV-V-I perkembangan, di empat bagian keteraturan) di C mayor Akan halnya suara ini Play (uluran tangan · info). “Nada tonal dibangun di sekitar ini tonik dan dominan kedatangan poin [irama], dan mereka membentuk satu blok bangunan fundamental dari struktur musik” (Benjamin, Horvitz, dan Nelson 2008, 63).

Nada suara merupakan sistem irama yang mengatur pitches atau akord cak bagi menginduksi hirarki perikatan yang dirasakan, penguatan, dan atraksi. Lapangan atau chord triadic dengan stabilitas terbesar disebut tonik, dan akar akord tonik dianggap kunci dari sepotong atau lagu. Jadi sepotong dimana chord tonik adalah C mayor dikatakan “dalam kunci C”. Penggunaan paling kecil awam dari istilah … “yakni bikin menunjuk susunan fenomena nada di seputar tonik referensial dalam musik Eropa bersumber selingkung 1600 hingga sekitar 1910” (Hyer 2001). Kontemporer musik klasik terbit tahun 1910 ke tahun 2000-an mungkin belajar atau menghindari apapun nada suara-tapi harmoni intern hampir semua nada populer Barat tetap tonal. [Jelas] Harmony dalam musik jazz mencangam banyak, jika lain semua, karakteristik tonal, temporer mempunyai sifat nan berbeda dari praktek publik musik klasik.

“Semua idiom harmonik dalam nada populer ialah tonal, dan tidak ada yang tanpa fungsi” (Tagg 2003, 534). [Jelas] Ganjaran Corak adalah sistem nan terorganisir dari nada (misalnya, nada perbandingan besar atau mungil) di mana satu tone ( tonik) menjadi tutul pusat cak bagi nada yang tersisa. Dalam nada suara, tonik (sosi tonal) adalah irama relaksasi lengkap, target ke sisi mana nada lain memimpin (Benward & Saker 2003, 36). Irama di mana chord dominan memutuskan bagi akord tonik memainkan peran berfaedah privat membangun nada suara dari sepenggal.

“Musik Tonal adalah musik yang terpadu dan matra Musik disatukan takdirnya mendalam merujuk ke sistem precompositional dihasilkan oleh mandu konstruktif tunggal yang berasal semenjak neraca jenis asal;. Itu adalah format kalau dapat tetap dibedakan dari nan menempah precompositional “(Pitt 1995, 299).

Istilah tonalit pecah Alexandre-Étienne Choron (1810) dan dipinjam oleh François-Joseph berhala sreg tahun 1840 (Reti 1958, [Pekarangan diperlukan]; Simms 1975, 119; Judd 1998a, 5; Heyer 2001; Brown 2005, xiii). Menurut Carl Dahlhaus, bagaimanapun, tonalit istilah sahaja diciptakan maka dari itu Castil-Blaze pada waktu 1821 (Dahlhaus 1967, 960; Dahlhaus 1980, 51).

Meskipun fetis digunakan ibarat istilah umum bakal suatu sistem organisasi musik dan bercakap dari jenis de tonalit daripada sistem individual, hari ini istilah nan paling sering digunakan untuk merujuk kepada irama suara ki akbar-kecil, sistem organisasi musik dari praktek umum periode. musik suara mayor-minor disebut juga irama celaan harmonik (dalam judul Carl Dahlhaus 1990, menerjemahkan harmonische Jerman Tonalität), nada suara diatonis, praktek umum musik suara miring, nada suara fungsional, atau tetapi nada suara

Seni irama merupakan simbolisasi pencitraan bersumber anasir-atom musik dengan khazanah dasarnya suara dan nada atau notasi. Notasi sebagai salah satu elemen nada merupakan simbol irama penting yang substansial nada-musik. Melalui notasi kita dapat menunjukkan secara tepat tinggi rendahnya nada. Nada ditulis dengan simbol. Huruf angka musik itu dinamakan not. Notasi adalah sistem penulisan lagu ataupun nada menggunakan rajah, angka, atau huruf angka-simbol tertentu nan dapat menggambarkan elus nada, tempo, dan birama.

Pembukaan terhadap nada-nada yang yaitu elemen dari unsur dasar melodi pada seni musik yakni proses pengajian pengkajian yang perlu dilakukan. Unsur-unsur musik itu terdiri bersumber beberapa kelompok yang secara bersamaan menciptakan menjadikan sebuah lagu atau komposisi musik. Walaupun kerumahtanggaan pembelajaran irama pembahasan elemen-unsurnya kita anggap seolah-olah terpisah. Setiap kali pembahasan kita memusatkan perhatian kepada satu unsur musik saja. Akan tetapi, semua unsur itu berkaitan erat, maka dalam pembahasan sebuah atom musik mungkin lagi akan menyinggung molekul yang lain.

Sistem penulisan musik dikenal ada penulisan notasi angka nan satuannya positif angka, sistem penulisan notasi balok nan satuannya berupa rangka, dan notasi fonem yang satuannya kasatmata leter. Melalui notasi inilah kita bisa mengenal, lebih jauh sebuah karya musik dengan membaca, menulis dan menyanyikan sebuah lagu. Lebih lagi bertambah mulai sejak itu kita dapat menuliskan kembali lagu-lagu ciptaan orang lain maupun lagu ciptaan kita sendiri. Jelasnya, “notasi” merupakan perwujudan dari sebuah  “lagu”,  sedangkan “titinada”  yakni  perwujudan  dari “irama”.  M. Soeharto ( 2000 : 11 ). Banyak istilah dan simbol musik nan digunakan untuk sebutan irama. Misalnya:

1.


Nada tonal yaitu nada-nada diatonis bakal musik barat;

2.


Nada modal merupakan nada-nada pentatonis untuk musik provinsi.


A. Pangkat Nada Pentatonis



Tangga nada pentatonis hanya terdiri terbit panca musik pokok (Penta yang berarti lima; dan Tone nan penting musik). Musik-irama dalam tangga nada pentatonis tidak dilihat berlandaskan jarak musik, melainkan berdasarkan melangkahi urutannya dalam tinggi musik. Nada dan panjang nada pentatonis ini mempunyai istilah koteng terutama untuk seni karawitan Jawa dan Sunda. Tangga irama pentatonis sendiri terbagi atas dua tangga nada, yaitu pelog dan slendro. Tiap-tiap tipe strata nada pentatonis ini punya susunan jarak irama yang berbeda. Selanjutnya terletak beberapa simbol musik tersapu dengan sistem musik pentatonik (berarti lima nada kiat) nan tumbuh dan berkembang di daerah, dilambangkan berikut.


1. Karawitan Sunda:



Notasi Daminatila, memiliki lima nada pokok disimbolkan dengan:


No.


Penulisan

1.

Irama Skor

1

5

4

3

2

1

2.

Nada Aksara

Tepi langit
(tugu)

S (singgul)

G (galimer)

P
(panelu)

L (loloran)

T
(tugu)

3.

Dibaca

da

la

ti

na

Mi

da



Selain nada pokok, dalam karawitan terwalak lagi nada sisipan atau nada riasan. Nada tersebut dengan istilah lain disebut nada uparenggaswara (Sunda). Misalnya nada Pamiring atau irama meu (2+) Bungur atau nada ni (3-) pananggis atau nada teu (4+) dan sorog atau nada leu (5+). Nada uparenggaswara tersebut intern istilah musik biasa dikenal dengan sebutan nada kromatik, misalnya f menjadi fis (4). Dalam penyajian karawitan Sunda terletak beberapa laras nan dapat digunakan bagi bermain irama, baik internal sajian lagu-lagu ataupun sajian gending.

Laras yang ialah susunan irama pentatonis boleh dikelompokkan menjadi dua kerubungan besar, yaitu laras salendro dan laras pelog. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh para akademisi, laras salendro di daerah Sunda melahirkan tiga laras, merupakan laras salendro, laras degung, dan laras madenda. Sedangkan laras pelog bersalin tiga surupan, yaitu surupan jawar, surupan sorog, dan surupan Liwung.

Atik Soepandi (1975) menguraikan pembukaan salendro mulai sejak dari kata sala dan indra. Sala – sara – suara, dan indra yaitu dewa utama di India, jadi apabila kita simpulkan salendro dapat diartikan suara pertama kerumahtanggaan kata lain disebut tangga nada mula-mula.

1.


Arti kiasan berusul istilah salendro itu seorang ungkapan nadanya memiliki karakteristik bagak, nyali, dan gembira.

2.


Tangga nada untuk laras madenda memiliki karakter trenyuh, susah, dan bingung, sakit hati.

3.


Laras Degung ungkapan nadanya berkarakter hening dan kadang galau.

4.


Menurut Soepandi (1975:36) istilah Pelog memiliki khasiat latah/cadel, maksudnya bercakap alias dalam mengungkapkan sesuatu yang tidak jelas dengan istilah lain disebut seliring atau urun.

5.


Intern karawitan Jawa pelog artinya nada hiasan maupun nada kromatik.

Notasi/nada nilai pentatonis dan komparasinya dengan notasi diatonis adalah sebagai berikut.






daminatila




2. Karawitan Jawa



Internal musik karawitan jawa seringkali kita tangkap suara istilah laras slendro dan laras pelog, kedua laras tersebut dalam istilah musik beradab bisa disebut sebagai ‘panjang musik’ yakni pertautan irama dalam satu oktaf.

Laras slendro merupakan sistem sa-puan irama nan terdiri dari lima nada dalam satu gembyang (oktaf), irama tersebut diantaranya ; 1 (ji), 2 (ro), 3 (lu), 5 (mo), 6 (nem). Istilah ji, ro, lu, mo, nem tersebut merupakan nama singkatan ponten dari bahasa jawa, ji bermanfaat siji (satu), ro berarti loro (dua) lu signifikan telu (tiga), mo penting limo (lima) dan nem penting enem (enam).



No.


Penulisan

1.

Musik Angka

1

2

3

5

6

1

2.

Nada Abjad

ji

ro

lu

mo

nem

Ji



Selain menggunakan singkatan segel, dalam laras juga sering digunakan istilah tradisional lainnya bagi menyebut setiap nada. Istilah tradisional tersebut diantaranya (1) Panunggal yang berarti bos, (2) gulu nan berarti leher, (3) dada, (5) lima yang berharga lima jari pada tangan, dan (6) enem.

Selain laras slendro, dalam karawitan jawa juga dikenal istilah laras pelog, yakni tataran irama yang terdiri semenjak tujuh irama nan berbeda. Nada-irama tersebut diantaranya nada; 1 (ji), 2 (ro), 3 (lu), 4 (pat), 5 (mo), 6 (nem) dan 7 (pi). Jika dibandingkan dengan pangkat nada diatonis, susunan tataran irama pelog terbatas makin sebagai halnya susunan tangga nada mayor (do, re, mi, fa, so, la, sang, do), namun penyebutan untuk karawitan tetap menggunakan bahasa jawa (ji, ro, lu, pat, mo, nem, pi).

Dalam memainkan laras pelog internal gending, masih dapat dibagi juga menjadi dua yaitu Pelog Barang, dan Pelog Bem. Pelog Barang tidak pernah membunyikan nada 1, sedangkan pelog Bem bukan pernah membunyikan nada 7.






No.


Penulisan

1.

Musik Ponten

1

2

3

4

5

6

7

2.

Musik Huruf

ji

ro

lu

pat

mo

nem

pi



3. Karawitan Bali: Notasi Dingdong

Notasi ini menggunakan lambang bahasa kawi tepatnya bahasa Jawa kuno, yang plong awalnya hanya berkembang di lingkungan pembelajaran karawitan puisi di Bali. Sejalan dengan perkembangannya, notasi Ding dong telah digunakan untuk menotasikan beragam jenis gending lega klonengan Bali. Rancangan notasi tersebut bisa ditransfer sreg notasi angka dengan kawin Notasi Ding dong (nada daya) merupakan disimbolkan sebagai berikut:


No.


Penulisan

1.

Irama Poin

1

2

3

5

6

2.

Nada Lambang bunyi

ding

dong

Deng

dung

dang




B. Hierarki Nada Diatonis




Tataran nada diatonis terdiri dari tujuh buah nada yang berpisah suatu dan setengah nada. Strata musik ini terbagi menjadi dua kelompok, yaitu pangkat nada diatonis mayor dan tangga nada diatonis minor. Pada lazimnya musik diatonis yang punya arti dua jarak nada, yakni jarak 1 (200 Cent Hz) dan jarak ½ (100 Cent Hz) dilambangkan dengan berikut.


No.


Penulisan

1.

Musik Poin

1

2

3

4

5

6

7

1

2.

Nada Huruf

c

d

e

f

g

a

B

c

3.

Dibaca

do

re

bihun

fa

sol

la

Ti

do

4.

Interval nada





not angka



Untuk menulis not atau notasi balok diperlukan garis-garis paranada, karena notasi balok rata-rata tersimpan pada paranada atau balok titinada nan terdiri dari lima garis sejajar. Irama balok (not) yang tersimpan puas garis titinada balok disebut dengan not garis/not balok. Adapun titinada nan tersimpan antara garis dan garis disebut dengan not ulas ataupun not spasi. Paranada yaitu seperangkat merek terdiri atas lima garis mendatar. Musik-nada diletakan pada garis paranada alias diantara dua garis, yaitu disebut spasi. Intern menghitung paranada atau garis titinada balok burung laut dimulai dari dasar. Dalam praktiknya rasam penulisan notasi intern garis para musik adalah:

1.


Not-not yang tersimpan di atas garis ke tiga jihat gawang not di gambar ke atas.

2.


Not-not yang berpunya di radiks garis ketiga sisi tiang titinada di gambar ke bawah.

3.


Not-not yang terwalak pada garis ketiga sisi tiang not, bisa ke atas atau ke bawah

4.


Peletakkan bendera sayang kearah kanan.

5.


Notasi yang mempergunakan suara dua, gambar gawang not mengarah ke atas bagi suara purwa, medium bakal suara kedua menjurus ke pangkal.





tangga nada



Jika penulisan notasi balok bikin penyisipan ponten not, maka dipergunakan bintik dibelakang titinada, sedangkan untuk notasi angka, nilai not mulai sejak pada titik akan ditentukan maka dari itu garis skor. Namun seandainya enggak terserah garis kredit, maka nilai tutul akan sama nilainya dengan not yang mampu di depannya. Apabila kita menemukan tiga buah not yang mujur nilai satu ketuk, ini disebut triol (tri irama/ tiga nada nan disatukan).


·


Konsep musik atonal

Pastinya telinga kita belum terbiasa mendengar kata musik Atonal bukan? tambahan pula majalah irama saja tidak banyak yang subur membahas keseleo satu genre musik ini. Tetapi, menurut desas desus yang beredar mayoritas musisi tak mengakui atonal sebagai genre irama dan menganggapnya sebagai kebisingan acak. Atonal sendiri adalah jenis musik tanpa musik dan disonansi yang bisa jadi mempunyai kesamaan tetapi sebenarnya tidak sama.

Sebenarnya, jika menganggap atonal bukan putaran bermula musik duga kurang tepat. Sebab irama tanpa nada sebenarnya sudah lalu familiar digunakan terutama dalam sejarah musik dan dipahami sebagai sebuah gerakan yang berbeda dimulai sekeliling awal abad 20. Atonal sendiri saat itu muncul karena adanya keakraban individu terhadap musik namun tanpa dibumbui dengan perasaan.




Atonal mengajarkan kita buat membuat musik berbumbu. Atonal juga ditengarai misal awal munculnya musik klasik nan sudah lalu terbantah geliatnya sejak abad 20. Saat itu musik-musik tanpa nada banyak digunakan untuk program peribadatan diberbagai gereja. Nada tanpa nada menjadi fenomena lautan sepanjang mulanya abad 20 karena dipandang sebagai nada alternatif nan lebih harmonis.




Nada sonder nada sebenarnya ditandai dengan sistem dan teori yang pas mudah, yang nadanya saja berwujud “tonal”. awalnya banyak yang mencecar nada atonal karena dipandang tidak jelas, namun seiring dengan banyaknya musisi atonal nan lahir lambat laun individu-manusia juga menginjak menyukai irama ini. Ingin mengenal lebih jauh tentang irama ini? Pergilah ke Eropa karena di Indonesia belum banyak musisi yang mengetahui nada ini



Ikhtisar

·


Nada Barat dikeloompokkan beralaskan aspek “tonal” ki akal musik, pangkat nada yang memberi kesan maupun tidak tonik atau lengkap, (modal, tonal dan atonal)

·


Modal musik bertamadun terdiri dari tujuh nisbah yang farik berkaitan dengan kiat mayor dan minor damping, tiap-tiap dengan sifat yang berbeda dan karakteristik nan membedakan mereka dari suatu sama lain. Disebut Ionian, Dorian, Frigia, Lydian, Mixolydian, Aeolian, dan mode Locrian, masing-masing sapta perbandingan modal terdiri dari otoritas tertentu berbunga nada diatonis semenjak suatu oktaf.




·


Sistem nada yang memandang obstulen secara vertikal dan horizontal, adanya sentral irama yang di dengar atau dirasakan, artinya satu rangkaian not tidak hanya memiliki hubungan secara melintang saja setiap not itu bukan berdiri sendiri, memiliki Tanga Nada Diatonis Mayor dan Diatonis minor




·


Dalam
teori musik,
skala diatonik
adalah komponen sumber akar teori nada dunia Barat. Skala diatonik mempunyai sapta not yang berlainan dalam satu oktaf. Not-not ini merupakan not-not putih pada piano. Dalam notasi
solmisasi, titinada-not tersebut adalah “Do-Re-Mi-Fa-Sol-La-Si”.





·


“Musik Tonal ialah irama yang terpadu dan matra Musik disatukan jika mendalam merujuk ke sistem precompositional dihasilkan makanya pendirian konstruktif unik yang berasal dari rasio variasi dasar;. Itu adalah matra jika dapat tetap dibedakan dari nan memesan precompositional “(Pitt 1995, 299).


·


Musik Atonal adalah garapan nada

nan mengabaikan

Membaikan kunci maupun tonal center

(harmoni tonal)

,




·


Atonaity :

Membaikan muslihat maupun tonal center.





LATIHAN Pertanyaan

1.


Jelaskkan tangga irama diatonis mayor dan minor?

2.


Sebutkan 7 pangkat irama irama modal

3.


Jelaskan konsep Musik Modal

4.


Jelaskan konsep Musik Tonal

5.


Jelaskan konsep Musik Atonal

Source: http://agendapikrstarku.blogspot.com/2017/01/konsep-musik-barat-modaltonalatonal.html

Posted by: soaltugas.net