Allah SWT sebagai Penolong, Kembalilah kepada-Nya: Renungan saat Merebaknya Virus Corona


Maka dari itu : Amrullah, S.Ag., M.M (Pegawai Kankemenag Kota Lubuklinggau)

Allah SWT berfirman:
“… Sudahlah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Sira sebaik-baik penaung”.
(QS Ali ’Imran, 3 :173).
“Tiadakah kamu tahu, bahwa memiliki kerajaan langit dan bumi? Dan tidak bagimu pelindung dan mukhalis selain Almalik.”
(QS Al-Baqarah, 2 107).

Fenomena merebaknya virus corona (covid-19) di muka dunia momen ini menjadikan manusia untuk segera kembali kepada Tuhannya. Sebagai mukminat-muslim kita harus mengakui dengan penuh ‘keyakinan’ bahwa Halikuljabbar SWT umpama penolong dengan membalas segala urusan dan penyerahan diri kepada-Nya, ibarat empunya dan penguasa umbul-umbul jagat raya ini.

Jaenuri pada jerambah website https://islam.nu.or.id batik bahwa virus corona makin dari sekadar turunan, semua ciptaan tersebut juga bisa menjadi media bertafakur dan ‘berdzikir’ menghafal Allah. Terserah beberapa pelajaran terdepan yang dapat kita ambil hikmahnya, merupakan :


Pelajaran pertama
, sebagai bukti “kemaha-agungan” Allah SWT. Ini kenyataannya, manusia itu lemah dan kecil di hadapan-Nya. Bukankah sebentar-sebentar melaksanakan shalat, kita memulainya dengan ucapan takbiratul ikhram (Allahu Akbar, Tuhan Maha Samudra). Sebuah pengakuan seorang hamba akan kemahabesaran Allah. Betapa lemah dan mungil diri kita ini. Allah tunjukkan kemahagungan-Nya habis berbagai media, termasuk lewat makhluk kecil sama dengan virus corona yang tak terlihat secara kasat netra.

Mujarab sekarang ini, sahaja melalui virus nan Yang mahakuasa kirimkan ke tampang bumi, seluruh lapisan umum menjadi gempar dan sebagian segara dicekam kekhawatiran. Fenomena ini menjatah pelajaran bukan main silam mudah kerjakan Yang mahakuasa kerjakan memberantas alam ini. Risikonya tidak patut untuk kita bikin bergaduk congkak di tampang bumi ini. Namun menghadapi sebagian terkecil berasal makhluknya saja kita sudah dibuat repot, kalut, cemas, dan khawatir.


Les kedua
, menjadi media bakal merenungi bahwa hamba allah amatlah dekat dengan “kematian”. Kita tahu bahwa bugar, sakit, bahkan kematian adalah kuasa Allah SWT. Kehadiran virus corona yang seakan menjadi hantu bagi seluruh basyar sebenarnya tidak ubahnya sebagai halnya air bah, gempa bumi, tsunami, petak longsor, dan jenis musibah lainnya. Kepanikan manusia adanya corona ini sepantasnya karena mereka takut akan datangnya kematian.

Tentu sekadar, mencegah maupun mengobati adalah kewajiban manusia ibarat anak adam nan nanang dan menjadi wujud ikhtiarnya. Namun berhasil maupun tidak pada akhirnya menjadi ketentuan yang menjadi ketetapan Allah SWT dan manusia lain bisa mengelak dari segala apa yang Beliau putuskan. Sebagai penguat diri kita sebetulnya tidak yang mesti kita khawatirkan karena setiap memulai shalat –dalam do’a iftitah– kita berikrar di hadapan Allah:
“Inna shalati wanusuki wa mahyaya wa mamati lillahir Robbil ‘alamin: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah buat Yang mahakuasa, Sang pencipta semesta alam.”

Penyerahan totalitas diri kehadapan Ilahi menjadi prakondisi sesudah kita berbuat ikhtiar yang maksimal. Sebuah pertanyaan yang lain terlazim kita jawab seputar “kematian”: Seberapa jauh kita sudah mempersiapkan diri menyambut kedatangannya? Dan sudah cukupkah pelepas yang kita kumpulkan selama hayat di dunia ini?


Pelajaran ketiga
, menumbuhkan kesadaran akan “integrasi” keilmuan. Segala macam ilmu yang terserah di bumi dan langit adalah berasal dari satu sendang merupakan Allah SWT. Islam tidak mengenal dikotomi antara dogma dan mahajana. Taun corona telah menyibakkan kesadaran manusia adanya kebutuhan akan guna-guna agama sebagai benteng keagamaan, mantra medis sebagai upaya penanganan fisik, dan hobatan sosial cak bagi menggetah kerja setimbang yang solid n domestik menghadapi musibah.

Tidak ada nan harus dinafikan, semua bisa bersinergi sebagai bagian dari aji-aji-guna-guna Halikuljabbar yang dianugerahkan kepada hamba-Nya. Bukanlah Ia telah menggarisbawahi:
“Peruntungan-Nya-lah semua nan ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah petak”
(QS Thaha, 20: 6).


Dan tutorial keempat
, pentingnya kesadaran akan “nyawa bersih”. Islam mengajarkan kepada umatnya sukma jati. Bukankah Allah SWT mutakadim menyatakan dalam firman-Nya:
“… Dan Allah menyukai orang-orang nan jati.”
(QS At-Taubah, 9: 108). Tanzil ini dikaji secara spesifik dalam kitab-kitab fiqih, lebih-lebih dalam umumnya les fiqih, bab tentang kebersihan ini diletakkan pada awal pembahasan, yaitu
bab thaharah (bersuci)
berusul najis dan hadats. Salah satu bentuk aplikasinya adalah praktik berwudhu’ minimal lima kali dalam sehari bakal menunaikan shalat panca waktu.

Berwudhu’ lebih berusul hanya praktik menyertu, namun menjadi ikhtiar agar dari segala macam bentuk feses, mikroba, bibit penyakit, virus, maupun sejenisnya. Laksana umat Islam kita patut bersyukur karena segala apa tulangtulangan ibadah yang kita cak bagi memiliki keutamaan terhadap kebutuhan semangat, termasuk kesehatan. Banyak para ilmuwan membuktikan pentingnya menyertu bagi kesehatan insan. Keberhasilan ilmu kabar telah membuktikan bahwa ibadah bukan sahaja tanggung, saja pula kebutuhan.

Dari catur tutorial tersebut maka orang harus mengakui bahwa Allah satu-satunya yang dapat menjadi mukhalis, karena manusia itu litak dan tidak berdaya. Karenanya menurut Ustadz Abdul Somad ada empat amalan sebagai ikhtiar semoga selamat dari musibah dan bahaya corona, yaitu dengan :

  • Memperbanyak istighfar,
  • Menggandakan shalawat kepada Rasulullah SAW,
  • Melipatkan shadaqah
    sirr
    (sembunyi-sembunyi), dan
  • Mendawamkan wudhu’ serta membaca Qunut Nazilah.

Itulah sebuah ikhtiar kita sebagai manusia. Mari kita rapatkan tentara untuk membandingbanding virus corona ini, semoga Yang mahakuasa SWT melindungi kita semua dan negeri Indonesia dari bermacam-macam rajah bencana dan petaka. Dengannya kita akan dapat lagi menunaikan ibadah secara maiksimal tanpa ada kekhawaitiran dan kecemacana, Aamiin.
Wallahu a’lam bishshawab.