Arti Gereja Dalam Bahasa Yunani

Gereja
ialah istilah eklesiologis yang digunakan berbagai denominasi Kristen buat menyifatkan badan persemakmuran umat Masehi yang sejati alias rajah asali nan diasaskan Yesus.[1]
[2]
[3]
Istilah “Basilika” juga digunakan di ranah keilmuan perumpamaan padanan kata Kekristenan, sekalipun sreg kenyataannya Kekristenan terdiri atas banyak Katedral maupun denominasi, dan banyak di antaranya nan mendaku sebagai “satu-satunya Katedral yang sejati” dengan meliyankan yang lain.[4]
[5]
[6]

Untuk banyak makhluk Serani Protestan, Gereja mengandung dua unsur, yakni kasatmata dan tak kasatmata. Gereja nan substansial ialah bentuk-lembaga wadah “Firman Allah secara murni diwartakan alias disimak, dan sakramen-sakramen dilayankan menurut ketetapan Kristus”, darurat Gereja yang tidak kasatmata merupakan seberinda turunan “nan sungguh-sungguh diselamatkan” (dan menjadi penduduk Katedral yang aktual).[7]
[2]
[8]
Di n domestik lingkup pemahaman akan Gereja nan tak kasatmata ini, “Gereja” (atau Gereja yang am) enggak merujuk kepada suatu denominasi Kristen tertentu, doang mencakup semua orang pribadi nan sudah diselamatkan.[2]
Menurut teori cagak, nan digadang-gadangkan di kalangan Anglikan, Dom-Gereja pelestari suksesi apostolik ialah bagian pecah Gereja yang sejati.[9]
Teori ini bertentangan dengan sikap menyematkan label “satu-satunya Dom yang ceria” pada suatu rencana riil Kristen tertentu, yakni sikap eklesiologis nan dianut Basilika Katolik, Basilika Ortodoks Timur, Katedral-Basilika Ortodoks Oriental, Gereja Asyur dan Gereja Purba di Timur.[1]
[10]
[3]

Di privat Alkitab bahasa Indonesia, introduksi “jemaat” digunakan ibarat tandingan untuk kata Yunani “eklesia” (ἐκκλησία), yang makna umumnya yaitu “sidang jemaat” atau “jemaah”.[11]
Kata “eklesia” muncul di dalam 2 ayat Bibel Matius, 24 ayat Kisahan Para Rasul, 58 ayat piagam-dokumen Paulus (tersurat eksemplar-contoh terawal dari penggunaannya untuk merujuk kepada suatu fisik persemakmuran umat Kristen), 2 ayat Surat kepada Orang Ibrani, 1 ayat Surat Yakobus, 3 ayat Surat Yohanes III, dan 19 ayat Kitab Petunjuk. Besaran kuantitas kemunculan kata “eklesia” di internal Perjanjian Baru adalah 114 mana tahu, kendati bukan besar perut dipakai secara teknis untuk merujuk kepada Gereja.[12]
Dengan demikian,
eklesia
dipakai umpama sebutan bagi komunitas-komunitas tempatan maupun bak sebutan yang berguna semesta buat segenap umat berkepastian.[13]
Istilah “Kekristenan” (bahasa Yunani:
Χριστιανισμός,
Kristianismos) tertera pertama kelihatannya digunakan sekitar tahun 100 Kristen oleh Ignasius, Uskup Antiokhia.[14]

Empat Ciri Katedral pertama kali mengemuka di intern Syahadat Nikea masa 381 yang menegaskan bahwa Gereja itu satu, nirmala, katolik (am), dan apostolik (rasuli).[15]

Etimologi

[sunting
|
sunting mata air]

Kata Yunani “eklēsia“, secara harfiah berjasa “yang dipanggil keluar” maupun “nan dipanggil maju ke depan”, dan lazimnya digunakan untuk menyifatkan sekelompok anak adam nan dipanggil berhimpun lakukan melakukan sesuatu, teristimewa bikin menyifatkan rapat warga sebuah daerah tingkat, misalnya di n domestik nas
Kisah Para Rasul 19:32-41. Kata ini adalah istilah Perjanjian Baru yang merujuk kepada Gereja (baik kerumahtanggaan arti jemaat lokal maupun intern manfaat segenap umat beriman). Di dalam Septuaginta, kata “eklesia” digunakan sebagai tara buat pengenalan Ibrani “qahal” (קהל). Sebagian osean bahasa rumpun Romawi dan rumpun Kelt menggunakan aneka jenis bani adam dari kata ini, baik yang diwarisi atau yang dipinjam semenjak bentuk Latinnya,
ecclesia. Riuk satu contohnya adalah kata “igreja” intern bahasa Portugis, yang diserap menjadi prolog “gereja” dalam bahasa Indonesia.[16]

Memori

[sunting
|
sunting sumber]

Ikon Kristen Timur nan menggambarkan turunnya Roh Tahir, situasi yang menjadi tonggak sejarah “lahirnya Gereja”

Gereja mula-mula terbentuk di Yudea, kawasan jajahan Romawi, pada abad pertama tarikh Masehi, berlandaskan visiun-nubuat Yesus turunan Nazaret, yang purwa kali menghimpun murid. Murid-petatar inilah yang kemudian hari disebut “umat Kristen”. Menurut Kitab Suci, Yesus mengamanatkan kepada mereka agar menyebarluaskan ramalan-ajarannya ke seluruh mayapada. Buat sebagian raksasa umat Kristen, periode Pentakosta (kejadian nan terjadi sesudah Yesus naik ke taman firdaus) ialah perian jadi Gereja,[17]
[18]
[19]
ditandai turunnya Nasib Ikhlas ke atas murid-pesuluh Yesus yang sedang berkumpul (Narasi Para Nabi 2).[20]
Kepemimpinan Gereja berawal dari para rasul.

Karena terlahir dari lingkungan Yahudi zaman Haikal ke-2, sejak mulanya album Kekristenan, umat Serani menerima sosok-orang non-Ibrani (nasion-bangsa tidak) tanpa mewajibkan mereka lakukan mengakui dan berbuat seluruh adat-istiadat Yahudi, misalnya resan khitanan (Kisahan Para Utusan tuhan 10-15).[21]
Dalam agama Yahudi, insan-orang begitu disebut proselit, bani adam-basyar yang takut akan Tuhan, dan pengamal hukum Nuh. Beberapa pihak menyangka bahwa konflik dengan para pemuka agama Yahudilah yang dalam waktu singkat mengakibatkan umat Masehi terusir bersumber flat-kondominium kultus Yahudi di Yerusalem.[22]

Perlahan-lahan cacat Basilika menyebar ke seluruh dan ke luar wilayah Imperium Romawi, bahkan tumbuh pesat di ii kabupaten-kota semisal Yerusalem, Antiokhia, dan Edesa.[23]
[24]
[25]
Gereja dianiaya pemerintah Romawi lantaran umat Kristen memurukkan mempersembahkan kurban kepada dewa-bidadari Romawi dan menentang penuhanan paduka.[26]
Gereja hasilnya dilegalisasi di Kekaisaran Romawi, bahkan dinaikkan statusnya menjadi Dom Negara Kekaisaran Romawi pada abad ke-4 oleh Yang dipertuan Konstantinus Agung dan Paduka tuan Teodosius I.

Sedari abad ke-2, umat Kristen sudah menyanggah ajaran-ajaran yang mereka anggap bidat, khususnya ajaran Gnostik dan juga ajaran Montanus. Ignasius dari Antiokhia pada mulanya abad ke-2, dan Ireneus lega akhir abad yang sebabat memandang persatuan dengan uskup sebagai uji iman Kristen yang ter-hormat. Sesudah Gereja dilegalisasi pada abad ke-4, perdebatan petunjuk Arius dengan ajaran Tritunggal menjadi kontroversi besar, manakala para syah berselang-selang menunjukkan keberpihakan kepada salah satunya.[27]
[28]

Peristilahan Serani purba

[sunting
|
sunting sumber]

 Wilayah mayoritas Kristen plong tahun 325 Masehi

 Provinsi mayoritas Masehi pada perian 600 Kristen

Dengan menunggangi kata
eklēsia, umat Masehi bendahara memanfaatkan suatu istilah yang memang merujuk kepada sidang-sidang negara kota Yunani yang hanya bisa dihadiri warganya, tetapi secara tradisional dipakai makhluk-turunan Yahudi pencerita bahasa Yunani sebagai sebutan untuk Israel, umat Allah,[29]
langsung satu istilah yang digunakan di privat Septuaginta dengan makna pertemuan orang-manusia nan berhimpun demi alasan-alasan keimanan, seringkali kerjakan beribadat; dalam hal ini,
eklesia
dipakai umpama sinonim Ibrani “qahal” (קהל), nan juga dipadankan dengan introduksi Yunani “synagōgē” (συναγωγή), sehingga kedua kata Yunani itu dianggap kurang-lebih muradif sampai kemudian periode dibedakan dengan kian jelas maka itu umat Kristen.[30]

Istilah
eklesia
hanya muncul di n domestik dua ayat Alkitab, kedua-keduanya termaktub di dalam Injil Matius.[29]
Momen Yesus bercakap kepada Simon Petrus, “Ia adalah Petrus dan di atas godaan karang ini Aku akan mendirikan
eklesia-Ku,”[31]
kata
eklesia
berarti peguyuban yang dibentuk Kristus, tetapi detik Yesus bersabda, “jika engkau lain mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada
eklesia,”[32]
kata
eklesia
berarti kekerabatan domestik gelanggang seseorang menjadi anggota.

Istilah ini makin sering muncul di internal bagian-bagian lain berpokok Perjanjian Mentah, dan sebagai halnya di dalam Alkitab matius, dipakai untuk merujuk kepada suatu komunitas domestik tertentu alias kepada semua peguyuban tempatan secara kolektif. Malah ayat-ayat yang tidak menggunakan istilah
eklesia
sekalipun boleh saja merujuk kepada Gereja dengan menggunakan ungkapan-kata majemuk lain, misalnya ayat-ayat di dalam 14 bab pertama bermula Surat Paulus kepada Jemaat di Roma, yang lain satu kali kembali menggunakan kata
eklesia
semata-mata repetitif kali menggunakan kata nan masih seakar dengannya, yakni
klētoi
(κλήτοι), yang berarti “dipanggil”.[33]
Basilika dapat pula dirujuk melewati gambaran-gambaran yang secara tradisional dipakai di n domestik Alkitab cak bagi merujuk kepada umat Halikuljabbar, misalnya eksploitasi paparan tipar anggur, teristimewa di dalam Injil Yohanes.[30]

Biar lain pernah menyifatkan Gereja dengan kata “katolik” maupun “semesta”, Perjanjian Mentah memang mengindikasikan bahwa komunitas-peguyuban domestik secara kolektif merupakan satu Gereja, bahwasanya umat Kristen mestilah berusaha lakukan senantiasa sehati sejiwa selaku jemaat Tuhan, bahwasanya Injil harus diwartakan kepada segala bangsa dan disebarluaskan sebatas ke ujung-ujung mayapada, bahwasanya Gereja mendelongop kepada segala bangsa dan tidak boleh terpecah-belah, dst.[29]

Kata “katolik” atau “sepenuh” terdaftar mula-mula kali digunakan untuk menyifatkan Katedral oleh Ignasius berusul Antiokhia sekitar masa 107 di internal karya tulisnya, Surat kepada Jemaat di Smirna, bab VIII. “Di mana saja uskup hadir, di haud pun seharusnya umat hadir; sama seperti di mana saja Yesus Kristus hadir, disitu pula Basilika Katolik hadir,” demikian tulis Ignasius.[34]

Bapa-bapa Dom semisal Ignasius dari Antiokhia, Ireneus, Tertulianus, dan Siprianus berpandangan bahwa Gereja adalah suatu entitas yang substansial, bukan suatu antologi umat berketentuan yang tak aktual.

Kekristenan sebagai agama negara nasion Romawi

[sunting
|
sunting sumber]

Kekaisaran Romawi secara resmi mengadopsi Kekristenan berhaluan Nikea menjadi agama negara pada tanggal 27 Februari 380. Sebelum itu, Prabu Konstantius II dan Sultan Valens secara pribadi memihak Kekristenan berhaluan Arian atau Semi-Arian, namun Kanjeng sultan Teodosius I yang memerintah selepas Valens justru cak membela ajaran Atanasius atau ilmu agama Tritunggal yang terjabarkan di dalam Syahadat Nikea.

Pada tanggal 27 Februari 380, Kaisar Teodosius I mempermaklumkan bahwa hanya pemeluk agama Masehi berakidah Tritunggal sajalah nan berhak disebut umat Kristen Katolik, darurat semua pihak berakidah bukan harus dianggap sebagai juru-ahli bidat, dan maka itu karena itu merupakan para pelanggar hukum negara.[35]
Hal hukum yang baru ini pertama kali menunjukkan dampaknya plong tahun 385, internal rancangan penghamburan pidana ranah oleh mahkamah sipil terhadap seorang juru bidat bernama Priskilianus dan beberapa khalayak pengikutnya setelah diputus bersalah berbuat tindak pidana sihir.[36]
Semenjak abad ke abad sesudah Kekristenan berakidah Tritunggal menjadi agama negara, kaum pagan dan umat Masehi yang berakidah berkepanjangan secara rutin dipersekusi pemerintah Kerajaan Romawi alias kekaisaran-kerajaan dan negara-negara nan kemudian hari menggantikannya,[37]
kendati sejumlah suku Jermani terus memeluk agama Kristen Arian sampai memasuki Abad Medio.[38]

Dom di dalam kewedanan Kekaisaran Romawi diorganisasikan di bawah singgasana-takhta metropolia. Panca di antaranya dihormati secara spesifik dan menjadi cikal bakal tatanan Pentarki nan digagas Syah Yustinianus I. Satu di antara lima takhta metropolia ini berada di distrik barat Kekaisaran Romawi (Roma), darurat nan lain berada di kawasan timur Kekaisaran Romawi (Konstantinopel, Yerusalem, Antiokhia, dan Aleksandria).[39]

Biara Mar Matai, medan tinggal para rahib Basilika Nestorian yang dibangun pada musim 363 Masehi, riuk satu biara Kristen tertua yang masih remang sampai sekarang.[40]

Bahkan sesudah Kerajaan Romawi terpecah sekali lagi Dom kukuh merupakan suatu lembaga yang nisbi utuh bersatu (di luar dari Gereja-Gereja Ortodoks Oriental dan bilang golongan umat Kristen nan terpisah berpangkal Gereja negara Kerajaan Romawi). Gereja menjadi suatu rencana penentu dan tergabung di Kerajaan Romawi, khususnya di negeri timur maupun Kekaisaran Romawi Timur, kancah Konstantinopel dipandang sebagai kunci Dunia Kristen, antara lain lantaran kuasa ekonomi dan politik yang dimilikinya.[41]
[42]

Sesudah Kekaisaran Romawi Barat jatuh ke tangan bangsa Jermani pada abad ke-5, Gereja (Roma) selama berabad-abad menjadi tautan penting yang mempertalikan Eropa Barat Abad Pertengahan dengan peradaban bangsa Romawi, dan menjadi ekstensi tangan supremsi Ratu Romawi Timur di Dunia Barat. Di Dunia Barat, golongan nan disebut “Gereja ortodoks” menghadapi persaingan dengan golongan Kristen Arian maupun persaingan dengan berbagai agama pagan yang dipeluk kepala-penasihat kaki Jermani, cuma berjaya berekspansi sayapnya keluar bersumber ajang wilayah barat Kerajaan Romawi ke Irlandia, Jerman, Skandinavia, dan provinsi bangsa Slav Barat. Di Dunia Timur, Kekristenan disebarluaskan ke negeri-negeri bangsa Slav yang sekarang yakni kawasan negara Rusia serta provinsi daksina-tengah dan timur Eropa.[43]
Masa rezim Karel Agung dipandang spesial karena berpunya menggiring suku-tungkai ki akbar ragil di Dunia Barat yang memeluk agama Kristen Arian ke dalam persemakmuran dengan Roma, antara lain melalui perang penyerobotan dan paksaan beralih keyakinan.

Mulai dari abad ke-7, khilafah-khilafah Islam muncul ubah berganti dan berantara terbatas menaklukan distrik-kawasan Dunia Kristen.[43]
Kecuali Afrika Utara dan sebagian besar distrik Spanyol, daerah lor dan barat Eropa nyaris tak terdampak ekspansi Islam, lantaran Konstantinopel alias Kerajaan Romawi Timur yang bertambah makmur masih menjadi sasaran utama penyerbuan kaum Mukmin.[44]
Meskipun sedikit demi rendah menggerogoti keefektifan Kekaisaran Romawi Timur, tantangan yang dimunculkan kaum Orang islam justru membantu pengentalan nirmala diri keimanan umat Masehi Timur.[45]
Di sumber akar daulat Islam sekalipun, Gereja terus bertahan hayat (misalnya umat Kristen Kubti, Kristen Maruniyah, dll) cak agar sama sekali harus dengan terbengkil-bengkil.[46]
[47]

Skisma Akbar tahun 1054

[sunting
|
sunting sumur]

Meskipun sudah lama muncul kerenggangan antara Uskup Roma (Batrik Dom Katolik) dan batrik-batrik di Kekaisaran Romawi Timur, peralihan kesetiaan Roma berasal Konstantinopel ke Maharaja Karel Agunglah yang menggiring Dom menuju perpisahan. Keretakan politis maupun teologis terus membesar sampai-sebatas Roma dan Dunia Timur silih mengucil plong abad ke-11, sehingga Gereja pula terpecah menjadi Gereja Barat (Katolik) dan Gereja Timur (Ortodoks).[43]
Pada musim 1448, tidak lama sebelum Kekaisaran Romawi Timur tumbang, Gereja Ortodoks Rusia mewujudkan kepemimpinan koteng, lepas dari Batrik Konstantinopel.[48]

Lantaran kesuksesan peradaban kembali menggeliat di Eropa Barat, dan Kekaisaran Romawi Timur berangsur-angsur merosot dirongrong nasion Arab dan nasion Turki (diperparah pula dengan tindakan memerangi umat Kristen Timur), degradasi Konstantinopel puas tahun 1453 memerosokkan para sarjana Dunia Timur untuk hijrah ke Marcapada Barat. Pengungsian para jauhari Dunia Timur demi menjauhi serbuan kaum Muslim refleks memboyong naskah-naskah kuno ke Dunia Barat merupakan salah suatu faktor penggerak bermulanya Abad Pembaharuan Bumi Barat. Roma pula menjadi jantung Kekristenan di mata Gereja Barat.[49]
Sejumlah Gereja Timur malar-malar keluar dari persemakmuran Kristen Ortodoks Timur dan bersatu dengan Roma (Gereja-Katedral Katolik Timur
Uniat).

Reformasi Protestan

[sunting
|
sunting sumber]

Persilihan-perubahan yang lahir berpunca Abad Penyempuraan puas kesudahannya bermuara pada Reformasi Protestan. Kabilah Protestan penganut Luther maupun pengikut Kalvin, Hus, Zwingli, Melancthon, Knox, dan lain-lain menenangkan diri dari Basilika Katolik. Pada perian yang sama, serentet sengketa nan tidak bersifat teologis beranak Perombakan Inggris, yang bermuara kepada independensi Gereja Inggris. Kemudian hari, pada Abad Pelawatan dan Abad Imperialisme, Eropa Barat menyebarluaskan Gereja Katolik ataupun gereja-gereja Protestan ke seluruh dunia, teristimewa di Benua Amerika.[50]
[51]
Barang apa kronologi ini pada gilirannya menyanggang Kekristenan menjadi agama terbesar di dunia saat ini.[52]

Tradisi Katolik

[sunting
|
sunting perigi]

Di n domestik doktrinnya Gereja Katolik mengajarkan bahwa dirinyalah Gereja asali yang didirikan Yesus di atas radiks para nabi lega abad pertama tarikh Serani. Ensiklik
Mystici corporis
masa 1943 dari Paus Pius XII, menyingkap eklesiologi dogmatis Gereja Katolik bahwasanya “takdirnya hendak mendefinisikan dan menyifatkan Gereja sejati Yesus Kristus ini, yakni Gereja Roma yang Suatu, Murni, Katolik, Apostolik, maka bukan akan kita dapati ungkapan yang lebih gemilang, yang lebih mulia, maupun yang lebih suci daripada frasa sebutan ‘Awak Klenik Yesus Kristus’.”
Lumen gentium, konstitusi dogmatis nan dirumuskan Konsili Vatikan II sreg musim 1964, lebih jauh menandaskan bahwa “satu Gereja Kristus nan dalam syahadat dinyatakan satu, tahir, katolik, dan apostolik, … nan diasaskan dan ditata di dalam dunia ibarat suatu awam, wujud di kerumahtanggaan Gereja Katolik, nan diselenggarakan oleh pemindah Petrus dan makanya uskup-uskup yang bersatu dengannya.”[53]
[54]
Dengan nada yang sekufu, ensiklik
Singulari Quidem
dari Paderi Pius IX menegaskan bahwa “hanya ada satu Gereja Katolik yang murni, yang kudus, yakni Gereja Roma yang Apostolik. Hanya suka-suka satu Kursi yang dibangun di atas bawah Petrus dengan titah Tuhan… Di asing Gereja, tidak seorang juga bisa berhasrat akan beroleh kehidupan maupun keselamatan kecuali yang boleh dimaafkan dengan alasan ketidaktahuan di luar cais diri koteng.” Karangmengarang devosional dan keteketis Katolik pun mutakadim lazim memunculkan tema “Gereja yang Lugu, Katolik, dan Apostolik merupakan satu-satunya kawanan biri-biri, dan Yesus Kristus, Putra Allah, merupakan satu-satunya Gembala.”[55]

Sebuah maklumat[56]
nan diterbitkan Dikasterium Ajaran Iman plong tahun 2007 menjelaskan bahwa “makna ‘kewujudan’ di dalam kalimat tersebut adalah kebertahanan, kontinuitas rekaman, dan keajekan semua unsur yang ditetapkan Kristus di dalam Gereja Katolik, yang di dalamnya Basilika Kristus secara positif didirikan di muka bumi ini”, dan mengakui bahwa rahmat dapat berkapasitas manfaat di intern kekerabatan-peguyuban keagamaan nan terpisah dari Katedral Katolik lantaran kekerabatan-komunitas tersebut n kepunyaan beberapa “unsur penyucian dan kebenaran”, namun menambahkan pula bahwa “bagaimanapun juga, kata ‘wujud’ hanya dapat dinisbatkan kepada Gereja Katolik semata-ain lantaran pengenalan itu merujuk kepada ciri ketunggalan yang kita permaklumkan di dalam syahadat-syahadat (aku percaya… akan Gereja yang ‘satu’), dan Gereja yang ‘satu’ ini wujud di n domestik Katedral Katolik.”

Gereja Katolik mengajarkan bahwa cuma tubuh-awak persekutuan umat Masehi yang dipimpin para uskup-bertahbisan-seremonial sajalah yang dapat diakui sebagai “Dom” kerumahtanggaan arti yang sesungguhnya. Di kerumahtanggaan dokumen-akta Katolik, komunitas-peguyuban nan bukan dipimpin para paus-bertahbisan-normal secara resmi disebut komunitas gerejawi.

Tali peranti Ortodoks Timur

[sunting
|
sunting sumur]

Per Gereja Ortodoks Timur mendaku sebagai Gereja asali dengan berbukti bahwa mereka masih tetap berpegang kepada tradisi-tradisi dan akidah-akidah Gereja asali. Gereja Ortodoks Timur pula mendaku bahwa empat dari panca geta Pentarki (lain terjadwal Roma) masih menjadi episode dari Gereja Ortodoks Timur.

Adat istiadat Ortodoks Oriental

[sunting
|
sunting sumber]

Gereja-Gereja Ortodoks Oriental mendaku sebagai Gereja asali dengan beralasan bahwa mereka masih tetap berpegang kepada tradisi-tradisi dan akidah-akidah Gereja asali. Mereka lain rangkaian menerima teori tentang Kebiasaan Hakikat Allah, yang dirumuskan sehabis perpecahan yang terjadi menyusul Konsili Kalsedon.

Leluri Lutheran

[sunting
|
sunting sumber]

Gereja adalah jemaat bani adam-anak adam kudus, yang di dalamnya Injil diajarkan dengan ter-hormat dan sakramen-sakramen dilayankan secara sah. –Syahadat Iman Augsburg[57]

Dom-gereja Lutheran secara tradisional berpendirian bahwa tradisi Lutheranlah yang yakni Dom positif yang lugu.[58]
Pengakuan Iman Augsburg yang termaktub di dalam Concordia, kompendium akidah gereja-gereja Lutheran, mengajarkan bahwa “iman nan dinyatakan Luther dan para pengikutnya bukanlah suatu perkara baru, melainkan iman katolik yang kudus, dan bahwasanya gereja-gereja mereka merupakan gereja katolik maupun gereja sepenuh yang sejati”.[59]
Momen golongan Lutheran menjelaskan Syahadat Iman Augsburg kepada Syah Karel V sreg hari 1530, mereka yakin sudah “menunjukkan bahwa tiap pasal keimanan dan amalan purwa-tama sudah lalu benar menurut Kitab Suci, dan juga sudah benar menurut ajaran bapa-bapa Gereja maupun konsili-konsili”.[59]

Bagaimanapun pula, gereja-katedral Lutheran mengajarkan bahwa “memang ada umat Kristen yang bersih di kerumahtanggaan gereja-basilika lain” sebab “denominasi-denominasi lain pun mewartakan Firman Allah, sekalipun bercampur kekeliruan”. Karena pemberitaan Firman Yang mahakuasa menghasilkan biji pelir, dogma Lutheran membenarkan belas kasih sebutan “katedral” kepada denominasi-denominasi Kristen lainnya.[58]

Tradisi Anglikan

[sunting
|
sunting sumber]

Pada umumnya umat Anglikan memandang tradisi mereka sebagai salah satu cabang dari “Gereja Katolik” nan bersejarah simultan sebagai satu
via media
(jalan tengah) di antara dua tali peranti, yakni di antara tradisi Lutheran dan tradisi Kalvinis, atau di antara tradisi Katolik dan tradisi Protestan.[60]

Pagar adat Kalvinis

[sunting
|
sunting sendang]

Menurut teologi Kalvinis, Gereja itu tak kasatmata dan kasatmata. Gereja yang bukan berupa meliputi keseluruhan orang-orang kudus, sementara Gereja yang berupa adalah “tulangtulangan yang disediakan Halikuljabbar laksana perwakilan karya penyelamatan, tes, dan konservasi Halikuljabbar”, nan disebut Yohanes Kalvin umpama “ibunda kita”.[61]
Pengakuan iman Kalvinis menitikberatkan “ramalan injil nan polos (pundi-pundi doctrina evangelii) dan pelayanan sakramen-sakramen dengan benar (recta administratio sacramentorum)” sebagai “dua tanda asasi gereja kasatmata nan polos”.[62]

Tradisi Metodis

[sunting
|
sunting perigi]

Umat Metodis menasdikkan keimanan akan “Gereja sejati yang satu, rasuli, dan am”, dengan memandang gereja-gereja mereka umpama “simpang partikular berpokok mulai sejak gereja zakiah tersebut”.[64]
[65]
Berkenaan dengan singgasana aliran Metodis di Mayapada Kristen, pelopornya, “John Wesley, koneksi mengemukakan bahwa hasil capaian Yang mahakuasa di n domestik perkembangan distribusi Metodis bukanlah doang propaganda cucu adam melainkan karya Halikuljabbar. Demikianlah perputaran Metodis dipelihara Sang pencipta sejauh sejarah masih bergulir.”[66]
Dengan menyebutnya sebagai “gudang besar” iman Metodis, Wesley secara eksklusif mengajarkan bahwa penyebarluasan doktrin takdis menyeluruh yakni alasan mengapa Almalik menyalakan umat Metodis di muka bumi ini.[67]
[63]

Adat istiadat Injili

[sunting
|
sunting mata air]

Gereja Injili lokal adalah organisasi yang merepresentasikan Katedral semesta, dan dipandang oleh umat Serani Injili sebagai tubuh Yesus Kristus.[68]
Gereja Injili lokal bertanggung jawab atas pengajaran dan ordinansi-ordinansi, terutama baptisan orang beriktikad dan perjamuan tulen.[69]
Banyak gereja menjadi anggota denominasi-denominasi Serani Injili serta menganut pengakuan iman dan penyelenggaraan tertib bersama, tanpa pandang kebebasan basilika nan bersangkutan.[70]
Beberapa denominasi menjadi anggota persekutuan gereja tingkat kebangsaan yang bernaung di bawah Aliansi Injili Sedunia.[71]
Beberapa denominasi Injili menerapkan tatanan episkopat (episkopal) maupun tatanan kepenatuaan (presbiterial). Meskipun demikian, bentuk pengelolaan gereja yang minimum mahajana di dalam tradisi Injili adalah tatanan kejemaatan (kongregasional). Tatanan ini habis lumrah diterapkan di galengan gereja-gereja Injili non-denominasi.[72]
Jabatan-jabatan pelayanan nan normal dijumpai di internal jemaat-jemaat Injili ialah mengangon, penatua, diaken, penginjil, dan pemimpin pujian.[73]
Jabatan pelayanan uskup selaku penilik jemaat tingkat daerah atau kebangsaan terletak di kerumahtanggaan semua denominasi Kristen Injili, sekalipun disebut dengan istilah-istilah lain, misalnya sebutan “ketua sinode” atau “ketua sinode am”.[74]
[75]

Perpecahan dan kontroversi

[sunting
|
sunting sumur]

Dewasa ini suka-suka beraneka kelakuan kelompok umat Kristen, dengan beraneka ragam ilmu agama maupun tradisi. Kontroversi-kontroversi di antara berbagai cabang Kekristenan umumnya mencakup perbedaan-perbedaan penting dalam eklesiologi nan dianut masing-masing simpang.

Denominasi Kristen

[sunting
|
sunting sumber]

Di internal Kekristenan, denominasi merupakan istilah yang umum dipakai untuk menyebut badan keagamaan yang bisa dikenali lewat atom-unsur begitu juga tera, struktur, kepemimpinan, atau doktrin bersama. Walaupun demikian, tiap-tiap jasad keagamaan tersebut dapat saja menyebut diri dengan memperalat istilah-istilah lain, misalnya “gereja” atau “persekutuan”. Perpecahan nan memisahkan satu kerubungan berusul kelompok lain berpokok pecah ilmu agama dan kewenangan gereja. Isu-isu seperti kodrat Yesus, wibawa suksesi apostolik, eskatologi, dan keutamaan uskup acap kali memisahkan suatu denominasi dari denominasi lain. Rumpun-rumpun denominasi yang menganut akidah, amalan, dan keterkaitan sejarah disebut “cabang-cabang Kekristenan”.

Per gerombolan umat Kristen berbeda-beda taraf pengakuannya terhadap suatu setimbang tak. Bilang kelompok mendaku sebagai suatu-satunya ahli waris sederum dan masif dari Gereja nan diasaskan Yesus Kristus sreg abad pertama tarikh Masehi. Meskipun demikian, kerumunan-kelompok lain meyakini denominasionalisme, di mana beberapa atau semua gerombolan umat Kristen merupakan jemaat-jemaat yang stereotip bermula suatu agama yang sama, tanpa pandang label, akidah, dan amalan nan membeda-bedakan mereka. Lantaran konsep ini, sejumlah awak persemakmuran umat Kristen menjorokkan istilah “denominasi” bagi menyifatkan diri mereka, demi mengelak implikasi menyetarakan diri dengan jemaat-jemaat alias denominasi-denominasi lain.

Gereja Santo Andreas, Darjiling, dibangun masa 1843, dibangun kembali tahun 1873

Dom Katolik dan Katedral Ortodoks Timur percaya bahwa istilah “suatu” yang tercantum di n domestik syahadat Nikea menyifatkan dan mengklarifikasi suatu rajah
kasatmata
dan wahdah doktrinal, bukan sekadar secara geografis di seluruh marcapada, melainkan juga secara historis di sejauh sejarah. Buat kedua Gereja ini, kesatuan adalah pelecok satu dari keempat ciri Dom sejati yang dijabarkan di dalam syahadat, dan hakikat bersumber sebuah ciri yakni dapat dilihat. Dengan demikian Dom yang jati diri dan akidahnya farik bersumber negara ke negara dan berpokok zaman ke zaman tidaklah “suatu”. Inilah sebabnya kedua-duanya lain memandang diri sebagai satu denominasi, tetapi umpama Dom yang pradenominasional. Enggak sebagai salah satu di antara kekerabatan-komunitas umat berkepastian, melainkan sebagai Gereja yang asali dan satu-satunya.

Banyak teolog Masehi Baptis dan Kongregasional menerima makna “jemaat lokal” perumpamaan suatu-satunya permohonan nan jamak dari istilah “dom”. Mereka sirep-matian mendorong gagasan Katedral segenap (katolik). Denominasi-denominasi tersebut berpendapat bahwa semua prolog Yunani
eklesia
di dalam Perjanjian Baru yakni rujukan kepada suatu kerumunan lokal tertentu atau gagasan tanwujud akan halnya “basilika”, dan tidak pernah merujuk kepada satu Gereja solo jagat.[76]
[77]

Banyak umat Anglikan, Lutheran, Katolik Lama, dan Katolik Mandiri memandang kesatuan sebagai salah suatu ciri kekatolikan, namun memandang kesatuan kelembagaan Gereja Katolik terejawantahkan di n domestik kesamaan suksesi apostolik keuskupan-keuskupan mereka alih-alih di kerumahtanggaan ekualitas hierarki episkopat atau ekuivalensi ritus-ritus.

Umat Masehi Kalvinis berpendirian bahwa tiap-tiap orang yang dibenarkan maka itu iman akan Bibel nan dipercayakan kepada para rasul ialah anggota dari “Gereja yang suatu, kudus, katolik, dan apostolik”. Bertolak dari perspektif ini, kesatuan nyata dan kekudusan sepenuh dom yang dilembagakan melalui para rasul belum tersingkap, dan bikin sementara masa luas cakupan dan ketenteraman gereja di muka bumi terejawantahkan dengan tidak sempurna secara kasatmata.

Gereja Lutheran–Sinode Missouri memaklumkan bahwa sesungguhnya Gereja cuma beranggotakan basyar-hamba allah yang mengimani Alkitab (merupakan grasi dosa berkat karya Kristus cak bagi semua orang), sekalipun mereka berada di kerumahtanggaan lembaga-lembaga persemakmuran umat yang mengajarkan kekeliruan, doang tidak mencakup anak adam-cucu adam yang tidak memercayai Injil, sekalipun mereka terdaftar penghuni sebuah basilika atau memegang jabatan penatar di basilika tersebut.[78]

Kekristenan sedunia

[sunting
|
sunting perigi]

Sejumlah sejarawan telah mencermati terjadinya suatu “pergeseran global” Kekristenan, dari agama yang lebih lazim dijumpai di Eropa dan Amerika menjadi agama yang sahih dijumpai di belahan dunia kidul.[79]
[80]
[81]
Istilah “Kekristenan sedunia” ataupun “Kekristenan mendunia” berupaya menyampaikan hakikat global berusul agama Masehi. Meskipun demikian, istilah tersebut cak acap berfokus puas “Kekristenan non-Barat” yang “mencangam ragam-kelakuan (yang biasanya eksotis) agama Kristen di ‘belahan mayapada selatan’, di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.”[82]
Kekristenan non-Barat pula mencengap ragam-perbuatan pribumi ataupun perantauan di Eropa Barat dan Amerika Utara.[83]

Perdebatan-perdebatan lain

[sunting
|
sunting sumber]

Perdebatan-perdebatan lain mencangam wacana-wacana berikut ini:

  • “Kegerejaan” adalah istilah sindiran terhadap amalan-amalan Kekristenan yang dipandang lebih mengutamakan resan-kebiasaan roh bergereja alias leluri-tradisi kelembagaannya ketimbang ajaran-tajali Yesus. Lantaran “kristus” diganti dengan “basilika”, istilah “kekristenan” kembali berubah menjadi “kegerejaan”. Sebagian umat Protestan menggunakannya bakal menyifatkan golongan-golongan umat Kristen nan mereka anggap telah mengalihkan perhatiannya dari Kristus kepada Gereja. Golongan enggak, misalnya Gereja Ortodoks dan Dom Katolik, memandang Kristus seumpama pokok, cuma sekaligus mengistimewakan Gereja (extra Ecclesiam nulla salus) karena kemanunggalan yang padu antara Kristus dan Gereja dijabarkan di dalam nas-nas Alkitab semisal Surat Paulus kepada Jemaat di Efesus (baca artikel Merapulai Kristus).
  • Terserah banyak opini tentang akhir nyawa sukma orang-makhluk yang bukan bagian berbunga satu gereja kelembagaan tertentu. Maksudnya, penghuni suatu gereja tertentu mungkin semata-mata percaya atau tidak beriktikad bahwa jiwa sosok-orang di asing organisasi Gereja mereka dapat beroleh keselamatan atau akan diselamatkan.
  • Gayutan muncul perdebatan di pematang Masehi Protestan mengenai etis tidaknya Katedral sememangnya adalah suatu lembaga surgawi yang bersatu padu, dengan menurunkan martabat lembaga-kerangka kebendaan ke taraf sekunder.

Baca juga

[sunting
|
sunting sumber]

  • Arsitektur Katedral
  • Caturkona Chicago-Lambeth
  • Daftar denominasi Kristen
  • Daftar denominasi Kristen menurut jumlah anggota
  • Daftar paus
  • Gerakan Pemulihan
  • Gereja Raya
  • Basilika panjang dan gereja minus
  • Imamat segenap umat berkepastian
  • Inkulturasi
  • Katolik Injili
  • Kehadiran umat privat peribadatan di gereja
  • Kekristenan Jermani
  • Kerajaan Allah
  • Misiologi
  • Oikumenisme
  • Pemberkatan pascapersalinan
  • Peran Basilika dalam memajukan peradaban umat sosok
  • Unam sanctam

Rujukan

[sunting
|
sunting sumber]

  1. ^


    a




    b




    “The Original Christian Church” (n domestik bahasa Inggris). Katedral Ortodoks di Amerika. Diakses tanggal
    27 Juni
    2022
    .




  2. ^


    a




    b




    c




    Weaver, Jonathan (1900).
    Christian Theology: A Concise and Practical View of the Cardinal Doctrines and Institutions of Christianity
    (n domestik bahasa Inggris). United Brethren Publishing House. hlm. 245.
    Ada sejumlah perbedaan antara Gereja am yang tak kasatmata dan Gereja am nan kasatmata, nan tidak perlu dibawa-bawa sampai kepada analisis akhir. Kerumahtanggaan kebaikan tertentu, kedua-duanya kasatmata. Semua orang yang menjadi penghuni Gereja am yang tak maujud merupakan penduduk Gereja am yang kasatmata. Akan tetapi tak semua orang yang menjadi penghuni Gereja am nan berupa yakni penghuni Gereja am yang lain kasatmata. Oleh karena itu perbedaan yang jelas dan solo antara Gereja nan faktual dan Katedral yang tak substansial dapat dinyatakan umpama berikut: (1) Gereja am nan tak kasat netra meliputi semua anak adam pecah barang apa kabilah, bahasa, suku, dan bangsa yang betapa-sungguh diselamatkan. Tidak satu pun denominasi nan jemaatnya meliputi semua makhluk yang menjadi warga Gereja yang enggak substansial. (2) Basilika yang konkret menghampari semua orang yang diakui perumpamaan warga sebuah Gereja. Tidak satu pun denominasi yang secara legal dapat mendaku sebagai Gereja am nan kasatmata.




  3. ^


    a




    b




    “What do Catholics believe?” (dalam bahasa Inggris). Keuskupan Lansing. Diakses terlepas
    29 Juni
    2022
    .
    Kamilah Basilika asali, nan lahir tatkala Yesus sendiri bersuara kepada Rasul Petrus, “Anda adalah Petrus dan di atas provokasi karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Sejak saat itu, tiap-tiap paus yakni bagian berpunca rantai suksesi tidak terputus, mulai dari Petrus, uskup yang pertama.





  4. ^


    “Eastern Orthodox Church” (dalam bahasa Inggris). BBC. 11 Juni 2008. Diakses rontok
    27 Juni
    2022
    .
    Ilmu agama Basilika disempurnakan dari abad ke abad di kerumahtanggaan konsili-konsili yang diselenggarakan seawal-awalnya sejak periode 325 Masehi, dan nan dihadiri para pemuka terbit semua kekerabatan Masehi.





  5. ^


    Ehrman, Bart D. (29 Mei 2022). “Inside the Conversion Tactics of the Early Christian Church” (privat bahasa Inggris). History. Diakses copot
    27 Juni
    2022
    .
    Sekadar privat tempo tiga abad, Gereja sudah menarik 3 juta pengikut.





  6. ^



    The Oxford Dictionary of the Christian Church. F. L. Cross, Elizabeth A. Livingstone (edisi ke-3rd). New York: Oxford University Press. 1997. ISBN 0-19-211655-X. OCLC 38435185.





  7. ^


    McGrath, Alister E. (4 Agustus 2022).
    Christian Theology: An Introduction
    (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 362. ISBN 978-1-118-87443-1.





  8. ^


    Schaff, Philip (1910).
    History of the Christian Church
    (kerumahtanggaan bahasa Inggris). William B. Eerdmans Publishing Company. hlm. 524.





  9. ^


    Kinsman, Frederick Joseph (1924).
    Americanism and Catholicism
    (dalam bahasa Inggris). Longman. hlm. 203.
    Suatu perkara nan paling banyak diperbincangkan adalah “Teori Cabang,” yang beranggapan bahwa halangan keesaan adalah jabatan imamat yang sah. Dalam kaitannya dengan jabatan imamat yang baku tersebut, diyakini bahwa sakramen-sakramen yang normal mempersatukan umat sekalipun suka-suka skisma. Pihak-pihak nan memandu teori ini mengira bahwa Dom terdiri atas kalangan Katolik, Ortodoks Timur, bidat-bidat Kristen Timur dengan validitas jabatan-jabatan imamat yang tak terbantahkan, demikian pula halangan Katolik Lama, Anglikan, Lutheran Swedia, Moravian, dan pihak-pihak bukan yang mampu menunjuk-nunjukkan jikalau mereka masih melanggengkan pangkat yang formal. Pihak-pihak lain ini terutama diidentikkan dengan halangan Anglikan Gereja Jenjang, dan merepresentasikan rukyat yang berseregang menyintasi tangkisan dengan kaum Puritan, ialah pandangan bahwa umat Anglikan tidak sepatutnya dikelompokkan bersama-seperti mana umat Protestan di Eropa daratan.





  10. ^


    “The Church” (dalam bahasa Inggris). Catholic Encyclopedia. 2022. Diakses tanggal
    27 Juni
    2022
    .
    Maka dari itu karena itu, gelagatnya tidak dapat dinafikan kalau pada hari-tahun permulaan sejarah Gereja, fungsi-arti gerejawi sebagian segara diisi oleh orang-makhluk nan sudah diperlengkapi secara solo buat harapan tersebut dengan “karismata” Roh Suci, dan bahwasanya selama kasih-belas kasih tersebut masih suka-suka, pelayanan jemaat domestik menempati satu posisi yang kurang terdepan dan berwibawa.





  11. ^

    Entry for Strong’s #1577 – ἐκκλησία – StudyLight.org. Bible Lexicons – Old / New Testament Greek Lexical Dictionary. Temu benyot tanggal 20 Oktober 2022.

  12. ^


    “Ekklesia: A Word Study”. Acu.edu. Diarsipkan berpokok versi tulen rontok 3 September 2006. Diakses tanggal
    3 September
    2022
    .





  13. ^

    McKim, Donald K.,
    Westminster Dictionary of Theological Terms, Westminster John Knox Press, 1996

  14. ^

    Elwell & Comfort 2001, hlm. 266, 828.

  15. ^

    Louis Berkhof,
    Systematic Theology
    (London: Banner of Truth, 1949), 572.

  16. ^

    Devi, Dwi Ananta,
    Toleransi Beragama, 28 Oktober 2022, Penerbit Alprin (ISBN 6-232-63632-5), hlm. 13

  17. ^


    The Editors of Encyclopædia Britannica. “Pentecost | Christianity”. Encyclopædia Britannica. Diakses terlepas
    4 November
    2022
    .





  18. ^


    “Religions – Christianity: Pentecost”.
    bbc.co.uk. British Broadcasting Corporation (BBC). Diakses tanggal
    4 November
    2022
    .





  19. ^


    Milavec, Aaron (2007).
    Salvation is from the Jews (John 4:22): Saving Grace in Judaism and Messianic Hope in Christianity
    (dalam bahasa Inggris). Liturgical Press. hlm. 90. ISBN 9780814659892. Diakses tanggal
    4 November
    2022
    .





  20. ^

    “Pentakosta (Hari Minggu Kalis)”.
    Catholic Encyclopedia. Diakses tanggal 4 November 2022.

  21. ^

    “Church as an Institution”,
    Dictionary of the History of Ideas, University of Virginia Library [1] Diarsipkan 2006-10-24 di Wayback Machine.

  22. ^


    An Overview of Christian History, Catholic Resources for Bible, Liturgy, and More [2]

  23. ^


    Wikisource-logo.svgHerbermann, Charles, ed. (1913). “Acts of the Apostles”.
    Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company.





  24. ^

    Donald H. Frew,
    Harran: Last Refuge of Classical Paganism
    Colorado State University Pueblo
    “Archived copy”. Diarsipkan dari versi asli tanggal 26 Agustus 2004. Diakses tanggal
    19 Mei
    2007
    .





  25. ^


    From Jesus to Christ: Maps, Archaeology, and Sources: Chronology, PBS, temu mengot tanggal 19 Mei 2007 [3]

  26. ^

    Sophie Lunn-Rockliffe,
    Christianity and the Roman Empire: Reasons for persecution, Ancient History: Romans, BBC Home, sua serong tanggal 10 Mei 2007 [4] Diarsipkan 25 Agustus 2009 di Wayback Machine.

  27. ^

    Michael DiMaio, Jr., Robert Frakes,
    Constantius II (337-361 A.D.), De Imperatoribus Romanis: An Online Encyclopedia of Wajah Rulers and their Families [5]

  28. ^

    Michael Hines,
    Constantine and the Christian State, Church History for the Masses [6]
  29. ^


    a




    b




    c



    François Louvel, “Naissance d’un vocabulaire chrétien” n domestik
    Les Pères Apostoliques
    (Paris, Cerf, 2006 ISBN 978-2-204-06872-7), hlmn. 517-518
  30. ^


    a




    b



    Xavier Léon-Dufour (penyunting),
    Vocabulaire de théologie biblique
    (Paris, Cerf, 1981 ISBN 2-204-01720-5), hlmn. 323-335.

  31. ^


    Matius 16:18

  32. ^


    Matius 18:17

  33. ^

    Julienne Côté,
    Cent mots-clés de la théologie de Paul
    (ISBN 2-204-06446-7), hlmn. 157 dst.

  34. ^


    “St. Ignatius of Antioch to the Smyrnaeans (tafsiran Roberts-Donaldson)”.
    www.earlychristianwritings.com.





  35. ^


    Halsall, Paul (Juni 1997). “Theodosian Code XVI.i.2”.
    Medieval Sourcebook: Banning of Other Religions. Fordham University. Diakses tanggal
    23 November
    2006
    .





  36. ^


    Wikisource-logo.svgHealy, Patrick (1913). “Priscillianism”. Kerumahtanggaan Herbermann, Charles.
    Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company.





  37. ^

    Ramsay MacMullen,
    Christianity and Paganism in the Fourth to Eighth Centuries, Yale University Press, September 23, 1997

  38. ^


    Christianity Missions and monasticism, Encyclopædia Britannica Daring [7]

  39. ^

    Deno Geanakoplos,
    A short history of the ecumenical patriarchate of Constantinople, Archons of the Ecumenical Patriarch, temu balik copot 20 Mei 2007 [8]

  40. ^


    Moosa, Matti (28 April 2012). “The Christians Under Turkish Rule”.




  41. ^



    MSN Encarta: Orthodox Church, temu balik sungkap 12 Mei 2007. Diarsipkan pecah versi safi rontok 28 Oktober 2009.





  42. ^

    Arias of Study: Western Art, Department of Art History, University of Wisconsin, temu balik tanggl 17 Mei 2007 [9]
  43. ^


    a




    b




    c




    CHRISTIANITY IN HISTORY, Dictionary of the History of Ideas, University of Virginia Library [10] Diarsipkan 09 September 2006 di Wayback Machine.

  44. ^


    The Byzantine Empire, byzantinos.com”. Diarsipkan dari varian kalis tanggal 28 September 2007. Diakses rontok
    24 Mei
    2007
    .





  45. ^


    BYZANTINE ICONOCLASM AND POLITICAL EARTHQUAKE OF ARAB CONQUESTS – AN EMOTIONAL ‘GUST’, This Century’s Review, temu pesong rontok 24 Mei 2007 [11]

  46. ^


    The History of the Copts, California Academy of Sciences
    “Archived copy”. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 Oktober 2007. Diakses tanggal
    28 Oktober
    2007
    .




    , temu balik tanggal 24 Mei 2007

  47. ^


    History of the Maronite Patriarchate, Opus Libani, temu balik tanggal 24 Mei 2007
    “Archived copy”. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 Oktober 2007. Diakses tanggal
    28 Oktober
    2007
    .





  48. ^

    Autocephalous Russian Church

  49. ^

    Aristeides Papadakis, John Meyendorff,
    The Christian East and the Rise of the Papacy: The Church 1071-1453 A.D., St. Vladimir’s Seminary Press, Agustus 1994, ISBN 0-88141-057-8, ISBN 978-0-88141-057-0

  50. ^


    Christianity and world religions, Encyclopædia Britannica

  51. ^


    South America:Religion, Encyclopædia Britannica

  52. ^


    Major Religions of the World Ranked by Number of Adherents, Adherents.com [12]

  53. ^


    Lumen gentium
    Diarsipkan 6 September 2022 di Wayback Machine., 8

  54. ^

    In Kekatolikan Dom, hlm. 132, Avery Dulles mencermati kalau dokumen ini menghindari tindakan panah-terangan menyebut Gereja sebagai Gereja Katolik “Roma”, apalagi mengganti istilah tersebut dengan kalimat “nan diselenggarakan oleh pemindah Petrus dan uskup-uskup yang beraduk dengannya” dan mencantumkan pada catatan kakinya satu rujukan kepada dua dokumen terdahulu nan jelas-jelas menggunakan kata “Roma.”

  55. ^

    Catholic Book of Prayers, hlm. 236, Edisi cetak-osean; Nihil Obstat dan Impramatur. Hak paten hari 2005. Catholic Book Publishing Corp., New Jersey.

  56. ^

    Jawaban-jawaban atas pertanyaan-tanya mengenai beberapa aspek berbunga Doktrin akan halnya Gereja Diarsipkan 13 Agustus 2022 di Wayback Machine.

  57. ^

    Lih. Persaksian Iman Augsburg, Pasal 7, Ihwal Gereja
  58. ^


    a




    b




    Frey, H. (1918). “Is One Church as Good as Another?”.
    The Lutheran Witness
    (dalam bahasa Inggris). Vol. 37. hlm. 82–83.




  59. ^


    a




    b




    Ludwig, Alan (12 September 2022). “Luther’s Catholic Reformation”.
    The Lutheran Witness
    (privat bahasa Inggris).
    Tatkala golongan Lutheran membabarkan Pengakuan Iman Augsburg di penghadapan Kanjeng sultan Karel V pada tahun 1530, dengan saksama mereka tunjukkan bahwa per butir keimanan dan amalan di dalam pengakuan iman tersebut pertama-tama benar menurut Kitab Jati, dan juga benar menurut ajaran bapa-bapa Gereja maupun wangsit konsili-konsili, bahkan menurut syariat kanon Gereja Roma. Dengan wirawan mereka menandaskan, “inilah ikhtisar doktrin kami, yang di dalamnya, sama dengan nan dapat dilihat, tidak ada yang menyimpang dari Kitab Kudrati, atau dari Katedral Katolik, maupun berpangkal Basilika Roma sebagaimana yang boleh diketahui dari para penulisnya” (Syahadat Iman Augsburg XXI Konklusi 1). Dalil yang melandasi Pengakuan Iman Augsburg adalah bahwasanya iman yang dinyatakan Luther dan para pengikutnya bukanlah suatu perkara baru, melainkan iman katolik yang sejati, dan bahwasanya basilika-gereja mereka yaitu dom katolik atau dom semesta yang sejati. Malah sememangnya Gereja Romalah yang sudah lalu berleleran dari iman dan amalan purba dom katolik (lih Persaksian Iman Augsburg XXIII 13, XXVIII 72 dll).





  60. ^



    Anglican and Episcopal History
    (kerumahtanggaan bahasa Inggris). Historical Society of the Episcopal Church. 2003. hlm. 15.
    Hasil pengamatan pihak-pihak lain juga demikian. Patrick McGrath berpendapat bahwa Katedral Inggris bukanlah suatu jalan paruh di antara Katolik Roma dan Protestan, melainkan “di antara aneka kelakuan Kristen Portestan,” provisional William Monter menyifatkan Gereja Inggris sebagai “suatu ragam unik dari Serani Protestan, suatu via sarana di antara tradisi Kalvinis dan tradisi Lutheran.” MacCulloch pernah menyorongkan bahwa Cranmer berusaha mencari suatu jalan tengah di antara Zurich dan Wittenberg, tetapi puas kesempatan-kesempatan lain membentangkan bahwa Basilika Inggris “lebih dekat kepada Zurich dan Jenewa ketimbang Wittenberg.





  61. ^


    McKim, Donald K. (1 Januari 2001).
    The Westminster Handbook to Reformed Theology
    (dalam bahasa Inggris). Westminster John Knox Press. hlm. 34. ISBN 9780664224301.





  62. ^


    Adhinarta, Yuzo (14 Juni 2012).
    The Doctrine of the Holy Nyawa in the Major Reformed Confessions and Catechisms of the Sixteenth and Seventeenth Centuries
    (dalam bahasa Inggris). Langham Monographs. hlm. 83. ISBN 9781907713286.




  63. ^


    a




    b




    Gibson, James. “Wesleyan Heritage Series: Entire Sanctification” (dalam bahasa Inggris). South Georgia Confessing Association. Diarsipkan pecah varian kudus tanggal 29 Mei 2022. Diakses terlepas
    30 May
    2022
    .





  64. ^


    Newton, William F. (1863).
    The Magazine of the Wesleyan Methodist Church
    (dalam bahasa Inggris). J. Fry & Company. hlm. 673.





  65. ^


    Bloom, Linda (20 Juli 2007). “Vatican stance “nothing new” say church leader” (n domestik bahasa Inggris). The United Methodist Church. Diakses copot
    10 Juni
    2022
    .





  66. ^


    William J. Abraham (25 Agustus 2022). “The Birth Pangs of United Methodism as a Unique, Global, Orthodox Denomination” (kerumahtanggaan bahasa Inggris). Diakses copot
    30 April
    2022
    .





  67. ^


    Davies, Rupert E.; George, A. Raymond; Rupp, Gordon (14 Juni 2022).
    A History of the Methodist Church in Great Britain, Piutang Three
    (dalam bahasa Inggris). Wipf & Stock Publishers. hlm. 225. ISBN 9781532630507.





  68. ^

    Robert Paul Lightner,
    Handbook of Evangelical Theology, Kregel Academic, USA, 1995, hlm. 228

  69. ^

    Robert Paul Lightner,
    Handbook of Evangelical Theology, Kregel Academic, USA, 1995, hlm. 234

  70. ^

    Brad Christerson, Richard Flory,
    The Rise of Network Christianity, Oxford University Press, USA, 2022, hlm. 58

  71. ^

    Brian Stiller,
    Evangelicals Around the World: A Menyeluruh Handbook for the 21st Century, Thomas Nelson, USA, 2022, hlm. 210

  72. ^

    Balmer 2002, hlm. 549.

  73. ^

    Walter A. Elwell,
    Evangelical Dictionary of Theology, Baker Academic, USA, 2001, hlmn. 370, 778

  74. ^

    John H. Y. Briggs,
    A Dictionary of European Baptist Life and Thought, Wipf and Stock Publishers, USA, 2009, hlm. 53

  75. ^

    William K. Kay,
    Pentecostalism: A Very Short Introduction, OUP Oxford, UK, 2022, hlm. 81

  76. ^

    1689 Pengakuan Iman Permandian London

  77. ^

    Deklarasi Savoya

  78. ^


    “Brief Statement of the Doctrinal Position of the Missouri Synod”.
    Lutheran Church–Missouri Synod. 1932. Sections 24–26. Diakses rontok
    3 April
    2022
    .





  79. ^


    Andrew F. Walls (1996).
    Missionary Movement in Christian History: Studies in the Transmission of Faith. Orbis Books. ISBN 978-1-60833-106-2.





  80. ^


    Robert, Dana L. (April 2000). “Shifting Southward: Global Christianity Since 1945”
    (PDF).
    International Bulletin of Missionary Research.
    24
    (2): 50–58. doi:10.1177/239693930002400201.





  81. ^


    Jenkins, Philip (2011).
    The Next Christendom: The Coming of Menyeluruh Christianity. New York: Oxford University Press. ISBN 9780199767465.





  82. ^


    Kim, Sebastian; Kim, Kirsteen (2008).
    Christianity as a World Religion. London: Continuum. hlm. 2.





  83. ^


    Jehu Hanciles (2008).
    Beyond Christendom: Globalization, African Migration, and the Transformation of the West. Orbis Books. ISBN 978-1-60833-103-1.




Kepustakaan

[sunting
|
sunting sumur]

  • University of Virginia: Dictionary of the History of Ideas:
    Christianity in History, temu miring tanggal 10 Mei 2007 [13]
  • University of Virginia: Dictionary of the History of Ideas:
    Church as an Institution, temu balik tanggal 10 Mei 2007 [14]
  • Christianity and the Wajah Empire, Ancient History Romans, BBC Home, sua balik tanggal 10 Mei 2007 [15] Diarsipkan 05 Agustus 2022 di Wayback Machine.
  • Orthodox Church, MSN Encarta, temu mengsol terlepas 10 Mei 2007
    Orthodox Church – MSN Encarta. Diarsipkan dari varian kalis sungkap 28 Oktober 2009.



  • Katekismus Gereja Katolik [16]
  • Mark Gstohl, Theological Perspectives of the Reformation,
    The Magisterial Reformation, temu mengsol tanggal 10 Mei 2007 [17]
  • J. Faber,
    The Catholicity of the Belgic Confession, Spindle Works, The Canadian Reformed Magazine 18 (20–27 September, 4–11, 18 Oktober, 1, 8, November 1969)-[18]
  • Boise State University: History of the Crusades:
    The Fourth Crusade[19]
  • Konferensi Waligereja Katolik Amerika Sindikat: PASAL 9 “AKU Berketentuan AKAN Gereja KATOLIK YANG Tulus”: 830-831 [20]: Memuat tafsir Katolik atas istilah
    katolik
  • Kenneth D. Whitehead,
    Four Marks of the Church, EWTN Mondial Catholic Network [21]
  • Wikisource-logo.svgHerbermann, Charles, ed. (1913). “Unity (as a Mark of the Church)”.
    Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company.



  • Apostolic Succession, The Columbia Encyclopedia, Edisi ke-6. Mei 2001.[22]
  • Gerd Ludemann,
    Heretics: The Other Side of Early Christianity, Westminster John Knox Press, edisi Amerika pertama (Agustus 1996), ISBN 0-664-22085-1, ISBN 978-0-664-22085-3
  • From Jesus to Christ: Maps, Archaeology, and Sources: Chronology, PBS, jumpa erot tanggal 19 Mei 2007 [23]
  • Bannerman, James,
    The Church of Christ: A treatise on the nature, powers, ordinances, discipline and government of the Christian Church, Still Waters Revival Books, Edmonton, Edisi Cetak Ulang May 1991, Edisi Purwa 1869.
  • Grudem, Wayne,
    Systematic Theology: An Introduction to Biblical Doctrine, Inter-Varsity Press, Leicester, Inggris, 1994.
  • Kuiper, R.B.,
    The Glorious Body of Christ, The Banner of Truth Trust, Edinburgh, 1967
  • Mannion, Gerard & Mudge, Lewis (penyunting),
    The Routledge Companion to the Christian Church, 2007

Pranala luar

[sunting
|
sunting perigi]

  • Lumen gentium, Konstitusi Normatif tentang Gereja, Konsili Vatikan II
  • Kekristenan versus Kegerejaan
  • Gereja, sebuah definisi Protestan
  • Struktur Gereja: Basilika-Gereja Perjanjian Baru versus Gereja-Dom institusional dewasa ini
  • Eklesia di situs web
    Christian Iconography



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Gereja

Posted by: soaltugas.net