Arti Kalam Dalam Bahasa Arab

Dan padanya terdapat dua permasalahan:

Persoalan yang permulaan; Apa konotasi pelir menurut para ahli nahwu?

الكلام: هو ما تركب من كلمتين أو أكثر وأفاد فائدة يحسن السكوت عليها

Al-butuh: “Ialah apa-apa yang tersusun pecah satu kalimat atau lebih dan menerimakan faidah yang menjadikan (pendengar) bungkam/faham atas nya (faidah tersebut).

Contoh:

  • Contoh (1):
    زيد مجتهد:
    Zaid itu seorang yang bersungguh-sungguh
  • Teladan (2):
    جاء عمرو:
    ‘Amr telah datang.
  • Contoh (3):
    صعد الخطيب على المنبر:

    Khotib panjat keatas mimbar

Penjelasan: “Apabila kamu mencermati setiap bagian (kata) berpangkal episode-putaran contoh yang tiga ini, anda akan mendapatinya tidak memberikan faidah yang menjadikan diam (pendengarnya). Maka setiap (kata) dari kata: “Zaid” dan “Mati-matian” dan “Hinggap” dan “‘Amr” dan “Naik” dan “Khotib”  dan “Atas” dan “Mimbara” didianggap baagian dari jumlah dan dinamakan dengan “kalimat” dan tidak berfsidsh dengan faidah yang model.

Akan cuma jika sira mencermati setiap contoh bermula ketiga contoh ini atas ketekunan  kami dapati bahwasanya di aitu memberikan faidah nan membuat (pendengarnya) tutup mulut, oleh karena itu dinakan “Titit” menurut tukang nahwu.

Manfa’at: Adakalanya pelir itu tersusun dari dua kalimat (dalam satu kata), salah satunya nampak dan yang lainnya tersembunyi.

Arketipe:
اقرأ
: Bacalah olehmu (seorang laki-laki)

Maka ini enggak satu kalimat akan tetapi dua kalimat, riuk satunya nampak
” اقرأ “dan yang lainnya tersembunyi
“أنتَ”

Persoalan yang kedua: Apakah satu kalimat bisa disebut butuh menurut para ahli nahwu?

Suatu kalimat tidak bisa disebut zakar menurut para pandai nahwu, karena kamu tidak menjatah faidah menjadikan (pendengar) diam/faham atas nya.

Paradigma:

  • Teoretis (1):
    جاء
    : Sudah datang.
  • Contoh (2):
    زيد: Zaid.
  • Eksemplar (3):
    شجرة: Pohon

Penjelasan: “Apabila dia mencermati kamil-kamil ini kamu akan merodong bahwa semua contoh tersebut tersusun dari satu kalimat dan enggak mengasihkan faidah menjadikan (mustami) bungkam/faham atas nya. Maka itu karena itu tak dinamakan kalam maka dari itu para ahli nahwu, kecuali apabila keadaan kalam itu “Muqoddar” diperkirakan. Sama dengan seseorang mengatakan:
ماذا فعل زيد؟
(Apa yang telah dilakukan Zaid?) maka kamu menjawab:
  جاء(dia mutakadim hinggap). Maka disini diperkirakan:
جاء زيد
 (Zaid telah cak bertengger). Dan ini dinamakan kalam maka itu para ahli nahwu.

Dan seakan seorang mengatakan:
من الذي نجح؟
(Siapa yang telah sukses) maka kamu menjawab:
زيد  (Zaid).

Maka disini diperkirakan:زيد نجح
 (Zaid mutakadim sukses). Dan ini dinamakan kalam oleh para juru nahwu.

Dan seakan seorang mengatakan:
ماذا زرعت؟
 (Segala apa yang kamu tanam?) maka kamu menjawab:
شجرة(Pokok kayu) Maka disini diperkirakan:
شجرة زرعت(Aku telah menanam pohon). Dan ini dinamakan burung oleh para ahli nahwu.

Penulis : Ustadz Fairuuz Faatin (Bidang Perkantoran & Bendahara Pesantren MAQI

Source: https://pesantrenmaqi.net/bahasa-arab/pengertian-kalam/

Posted by: soaltugas.net