Asesmen Autentik Pada Pembelajaran Matematika



Dadang A. Sapardan

(Pejabat Satah Pembinaan SD, Disdik Kab. Bandung Barat)

Pembelajaran merupakan sebuah sistem yang didukung oleh bermacam rupa onderdil. Setiap komponen internal sistem pendidikan ini, satu sama enggak memiliki keterkaitan yang cukup erat.

Riuk satu onderdil dalam penataran yakni evaluasi, penilaian, ujian, maupun asesmen. Penilaian menduduki posisi yang begitu politis karena yakni muara bersumber pelaksanaan pendedahan nan diterapkan maka itu satuan pendidikan.

Penilaian menjadi ancang yang dilakukan suhu untuk mematamatai ketercapaian penelaahan terhadap capaian kompetensi peserta didik yang menjadi tujuan pembelajaran. Kompetensi dimaksud di antaranya Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, Capaian Penataran, dan/maupun Tolok Kompetensi Lulusan. Dengan pelaksanaan penilaian yang memiliki tingkat akuntabilitas tinggi, seorang guru dapat mengaram posisi peserta tuntun n domestik pencapaian tujuan pembelajaran.

Penilaian yaitu proses atau tindakan yang dilakukan cak bagi melihat hasil dari sebuah pelaksanaan pembelajaran, sehingga bisa dijadikan pedoman dalam menciptakan menjadikan kebijakan penerimaan selanjutnya. Penilaian merupakan adegan nan tak dapat terpisahkan di privat pelaksanaan pembelajaran. Penilaian merupakan sebuah sarana nan dapat mengantarkan setiap suhu pada satu wilayah esensial dalam proses aktivitas nan dilakukannya, yaitu korelasi antara pelaksanaan pembelajaran nan sudah dilaksanakannya dengan tujuan pengajian pengkajian nan ditetapkannya yaitu kompetensi peserta didik.

Penilaian merupakan simpul yang dapat menghubungkan seluruh langkah pelaksanaan pembelajaran dengan tujuan pembelajarannya. Lewat penilaian, koteng suhu akan dapat mengetahui kedudukan peserta pelihara dalam wilayah pamrih pembelajarannya, sehingga hasil penilaian tersebut akan menjadi modal utama n domestik penentuan kebijakan pengajian pengkajian yang akan dilaksanakan selanjutnya. Demikian pula untuk peserta didik, mereka akan mendapat informasi akurat adapun kedudukannya dalam tujuan pembelajaran, sehingga posisi tersebut dapat dijadikan perangsangan oleh mereka guna meningkatkan pengejawantahan pembelajarannya pada hari mendatang.

Puas ketatanegaraan pendidikan, terwalak dua domain penilaian yang harus dilakukan oleh setiap runcitruncit pendidikan, yaitu penilaian formatif dan sumatif. Dalam konteks ini, guru menjadi ujung pendahan semenjak pelaksanaan kedua domain penilaian tersebut. Suhu menjadi khalayak nan kanonis n domestik kedua domain penilaian tersebut. Pemahaman komprehensif akan kedua domain penilaian tersebut menjadi prasyarat mutlak nan harus dari setiap master.

Ketika para suhu sudah lalu menaruh penilaian pada posisi yang sebenarnya, maka pelaksanaan penilaian telah didudukkan pada posisi esensial. Dengan demikian, di tangan gurulah, penilaian bertindak sangat strategis, karena bukan semata tools cak bagi mengetahui martabat pelajar asuh privat pencapaian intensi pembelajaran, namun digunakan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan penataran.

Autentik Asesmen misal Bagian Penilaian Formatif

Dalam penerapannya, asesmen menjadi bagian koheren dari proses penerimaan. Kegiatan asesmen dilakukan dengan cara mengeksplorasi kemampuan siswa dari berbagai ragam sisi nan memungkinkan. Karena itu, penilaian sejatinya dilaksanakan melalui tiga pendekatan, yaituassessment for learning(penilaian untuk pengajian pengkajian),assessment as learning (penilaian misal pendedahan),
assessment of learning
(penilaian penutup pembelajaran).

Assessment for learning adalah kegiatan penilaian yang dilakukan sepanjang proses pendedahan berlanjut dan umumnya digunakan bagaikan dasar kerjakan berbuat perbaikan proses sparing mengajar.

Lega assessment for learning, guru memberikan feedback (umpan balik) terhadap proses belajar peserta ajar, memantau keberhasilan, serta menentukan keberhasilan belajarnya. Assessment for learning pula boleh dimanfaatkan makanya master untuk meningkatkan performa peserta pelihara.Penugasan, presentasi, titipan, serta kuis merupakan bentuk yang halal dilaksanakan dalamassessment for learning.

Assessment as learning mempunyai kemujaraban nan karib mirip dengan assessment for learning, yaitu berfungsi sebagai penilaian formatif dan dilaksanakan selama proses penataran. Perbedaannya,assessment as learningmelibatkan peserta asuh secara aktif dalam kegiatan tersebut. Murid didik diberi camar duka cak bagi belajar memosisikan sebagai penguji buat diri sendiri. self assessment (penilaian diri) dan penilaian antarteman yaitu bagian dariassessment as learning.

Dalamassessment as learning,
peserta didik sekali lagi dapat dilibatkan dalam mengekspresikan prosedur penilaian, kriteria, atau kolom/pedoman penilaian, sehingga mereka mengerti dengan karuan apa yang harus dilakukan mudahmudahan memperoleh capaian pembelajaran yang optimal.

Assessment of learning
adalah penilaian yang dilaksanakan pasca- tuntasnya proses pembelajaran. Selesainya proses pembelajaran tidak selalu terjadi sreg tutup tahun alias pada akhir peserta didik menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu. Setiap guru melakukan penilaian terhadap setiap peserta pelihara dengan maksud buat menyerahkan pengakuan terhadap capaian pembelajaran peserta didik setelah melangkahi proses pembelajaran. Penilaian tengah semester, penilaian akhir semester, penilaian akhir waktu, dan ujian merupakan adegan bermulaassessment of learning.

Penilaian formatif merupakan upaya yang dilakukan temperatur lakukan memperbaiki kekurangan hasil belajar murid didik dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor sejauh proses pembelajaran dalam satu semester. Penilaian sumatif merupakan upaya menentukan keberuntungan membiasakan peserta ajar pada kompetensi tertentu detik penghabisan semester, pengunci perian penataran, maupun akhir masa pendidikan plong satuan pendidikan.

Penilaian formatif menjadi keseleo satu tools pengumpulan heterogen data, pemberitahuan, atau bukti-bukti yang bisa memasrahkan bayangan perkembangan kemampuan belajar pesuluh pelihara. Melalui penilaian formatif, guru dapat mengetahui akan halnya sejauh mana kemajuan peserta didik dalam menguasai kompetensi. Melewati penilaian formatif, guru dapat memutuskan pelaksanaan pembelajaran yang paling efektif bagi memfasilitasi setiap peserta didik guna hingga ke penguasaan kompetensi yang optimal.

Gambaran perkembangan kemampuan belajar murid didik wajib diketahui oleh guru sebaiknya bisa memastikan bahwa mereka mengalami proses pengajian pengkajian dengan benar sehingga capaian kompetensinya lebih optimal. Apabila data, informasi, atau bukti-bukti yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa peserta tuntun mengalami kemacetan membiasakan, maka guru segera boleh mengambil tindakan nan tepat agar pesuluh asuh terbebas dari kendala yang dihadapinya.

Karena paparan mengenai kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, maka penilaian tidak dilakukan pada akhir masa begitu juga halnya yang cerbak dilakukan oleh para guru, saja dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan pembelajaran. Dengan kata bukan, penilaian dilaksanakan secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pelaksanaan pembelajaran, sehingga data, informasi, alias bukti-bukti diperoleh dari kegiatan aktual.

Autentik asesmen merupakan penilaian yang terintegrasi dalam pelaksanaan pengajian pengkajian. Penilaian dilakukan terhadap kecekatan dan performasi, tak memahfuzkan fakta. Hasil dari pelaksanaannya digunakan sebagai feed back (umpan balik) terhadap pelaksanaan pembelajaran.

Mengacu puas konsep autentik asesmen yang merupakan pola asesmen integratif dengan proses penataran, sudah sememangnya guru melaksanakan autentik asesmen kerumahtanggaan pelaksanaan penataran yang dilakukannya. Dengan autentik asesmen, para hawa dimungkinkan akan terus mengerjakan restorasi kerumahtanggaan pelaksanaan pembelajarannya, selain tentunya memiliki rekam jejak yang akurat tentang tingkat kompetensi peserta didiknya.

Simpulan

Kerumahtanggaan kebijakan pendidikan, terdapat dua domain penilaian yang harus dilakukan oleh setiap rincih pendidikan, ialah penilaian formatif dan sumatif. Internal kedua domain penilaian tersebut, guru menjadi memegang posisi strategis. Hawa menjadi insan yang kanonis dalam kedua domain penilaian tersebut. Hawa harus memiliki kognisi komprehensif sehingga dapat menjalankan kedua domain penilaian tersebut dengan baik.
Ketika para guru harus dapat menempatkan penilaian pada posisi yang sebenarnya. Melangkahi penerapan tersebut, guru dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pengajian pengkajian serta dapat mengetahui pamor peserta bimbing internal pencapaian intensi pembelajaran.

Autentik asesmen sejatinya merupakan penilaian yang terintegrasi kerumahtanggaan pelaksanaan pembelajaran. Penilaian dilakukan terhadap keterampilan dan performasi, tak mengingat fakta. Hasil dari pelaksanaannya digunakan sebagai feed back (umpan balik) terhadap pelaksanaan pembelajaran. Karena itu, mutakadim selayaknya guru menerapkan autentik asesmen dalam pelaksanaan pembelajaran nan dilakukannya. Dengan autentik asesmen, para guru dimungkinkan dapat mengantarkan pelajar tuntun pada capaian kompetensi yang diharapkan. **** DasARSS.

Source: http://disdikkbb.org/news/autentik-asesmen-dalam-penilaian-formatif/