Bab 11 Kajian Pustaka Kesulitan Belajar Matematika Siswa

Kesulitan belajar terdiri dari dua kata, yaitu kesulitan dan belajar.

Sebelum dikemukakan makna kesulitan belajar teristiadat dijelaskan pengertian membiasakan dan kesulitan itu seorang. Seperti halnya Dimyati Mahmud menyatakan bahwa berlatih adalah satu perubahan dalam diri seeorang yang terjadi karena asam garam. Dalam hal ini kembali ditekankan pada pentingnya perubahan tingkah laku, baik yang dapat diamati secara langsung alias tidak.
15

Padahal kesulitan berfaedah kesukaran, kesusahan, keadaan ataupun sesuatu yang sulit. Kesulitan merupakan satu kondisi nan memperlihatkan ciri-ciri hambatan dalam kegiatan untuk mencapai intensi sehingga diperlukan usaha nan lebih baik lakukan mengatasi gangguan tersebut.

Setiap anak asuh didik mengalami kesulitan sparing lakukan mengembangkan bakatnya disini suhu dituntut berkecukupan memiliki takrif nan sepan mengenai cara belajar se bagai bahan bawah internal merancang kegiatan belajar mengajar seperti harapan, memilih bahan, melembarkan metode, menetapkan evaluasi nan sesuai dengan kemampuan siswa.

Suhu perlu mengarifi bentuk kesulitan apa dan dimana letak kesulitan yang dihadapi siswa tersebut mudah-mudahan siswa mendapatkan kemudahan dalam menyelesaikan soal sepatutnya terhindar berbunga kesulitan-kesulitan menyelesaikan cak bertanya, sebagaimana dalam Qur‟an Surah Al-Insirah Ayat 5-6 berikut ini :

15


Nenek,Subini, (2012), Mengamankan Kesulitan Belajar Pada Anak, Yogyakarta:

Rawi Bacaan, keadaan.57-58

﴿ اًرْسُي ِرْسُعْلا َعَم َّنِإَف

﴿ اًرْسُي ِرْسُعْلا َعَم َّنِإ ﴾ ٥ ٦

)

Artinya: “Karena Sesungguhnya setelah kesulitan itu suka-suka fasilitas, selayaknya setelah kesulitan itu ada fasilitas (QS. Al-Insyirah : 5-6)”.
16

” Penyebutan kata ( ِرْسُعْلا) kesulitan pada kedua ayat secara definite
(ma‟rifat) menunjukkan keduanya selaras, sedangkan penuturan

kata “kemudahan” secara indefinite (nakirah) menunjukkan

berulangnya. Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Penyebutan pengenalan “kesulitan” secara definite dengan
alif dan lam menunjukkan generalisasi, dan generelisasi itu

menunjukkan bahwa semua kesulitan meski hingga ke tingkat seberapa pun tapi plong akhirnya kemudahan akan menyertainya.
17

Sehubungan dengan ayat diatas, sebagaimana Allah menyerahkan kemudahan untuk umatnya bahwa dua kesulitan bisa dikalahkan maka dari itu dua kemudahan, segala sesuatu yang dihadapi jangan dianggap langka, seperti di dalam hadis :



َّنَأَو َجَرَفلا َعَم ،ِبرَكلاًارسُي ِرسُعلا َعَم َّنَأَو : ِهب ِالله ِدْبَع ٍساَّبَع يِبَأ ْهَع

َع


َلاَق امهنع الله يضر ٍساَّب

Artinya : Dari Abuk Al „Abbas, „Abdullah bin „Abbas radhiyallahu anhu, beliau bertutur : Plong suatu hari saya pernah produktif di belakang Rasul Shallallahu „alaihi wa Sallam, beliau bersabda : Dan sesungguhnya kelapangan itu cak semau bersama kesulitan dan bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan.
18

16


Departemen Agama, Al-Qur‟an dan Terjemahannya, Q. S Al-Insyirah: 5-6





17



Syaikh Abdurrahman, Tafsir Al-Qur‟an, (Jakarta : Darul Haq, 2005) h. 552

18

Wasiat Rasululloh SAW untuk ibnu Abbas, Diriwayatkan oleh Padri Ahmad,

1/307; at-Tirmidzi, no.2526, dan at-Tirmidzi berkata, “Hadits Hasan Shahih,”

(Dishahihkan makanya Albani dalam ash-Shahihah, no 2382, Ed. Kaki langit)

Dari ayat diatas menjelaskan bahwa setiap orang pasti mempunyai suatu masalah yang akan diperoleh bakal menemukan titik karuan. Dan setiap terserah keburukan maupun kesulitan pasti ada fasilitas cak bagi mencari pemisahan masalahnya. Dan dalam memintasi suatu masalah hendaklah dikerjakan secara bersungguh-sungguh sepatutnya mendapatkan suatu kemudahan. Karena Allah SWT memberikan kemudahan bagi kita sesuai dengan firmannya Q.S. Ath-Thalaq Ayat [65] 7 :

ُوَّللا ُهاَتآ اَِّمِ ْقِفْنُ يْلَ ف ُوُقْزِر ِوْيَلَع َرِدُق ْنَمَو ِوِتَعَس ْنِم ٍةَعَس وُذ ْقِفْنُ يِل ( اًرْسُي ٍرْسُع َدْعَ ب ُوَّللا ُلَعْجَيَس اَىاَتآ اَم لاِإ اًسْفَ ن ُوَّللا ُفِّلَكُي لا ٧

)

Artinya :“Hendaklah orang yang mewah memberi tembolok menurut kemampuannya, dan bani adam nan disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Halikuljabbar kepadanya, Allah tidak akan menimpakan beban kepada
seseorang melainkan (sekedar) segala apa nan Tuhan berikan

kepadanya, Halikuljabbar lusa akan mengasihkan kelapangan sesudah kesempitan.
19

Yang mahakuasa menghendaki fasilitas bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu (Q.S. al-Baqarah: [2] 286).

19


Departemen Agama, Al-Qur‟an dan Terjemahannya, Pustaka Agung Harapan



2006 Q. S Ath- Thalaq : 7

٦٨٢﴾ ا:ةرقبل ﴿ … ْتَبَسَك اَم اََلَ ۚ اَهَعْسُو لاِإ اًسْفَ ن ُوَّللا ُفِّلَكُي َلا

Artinya :“Sang pencipta tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan

kesanggupannya ia mendapatkan pahala (dari kebajikan) nan

dia usahakan…”

20

“{
اَهَعْسُو لاِإ اًسْفَ ن ُوَّللا ُفِّلَكُي َلا } “Allah tidak membebani seseorang

seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”, yaitu apa yang

berlambak kerumahtanggaan jangkauan kemampuannya.

{ ْتَبَسَك اَم اََلَ} “Sira mendapatkan

apa yang dia usahakan” mulai sejak kebajikan…”

21

Ayat ini suntuk berkaian dengan kesulitan yang menyebabkan kesulitan peserta. Maka kita harus sering mengaitkan ayat ini dengan pembelajaran yang sukar siswa pahami, sekiranya ayat ini khusyuk direnungkan pada saat proses berlatih mengajar sungguh luar legal arti yang dapat kita petik. Jika kita mendalam mentadabburi ayat di atas, bukan main berbagai kesempitan yang dialami siswa akan terasa ringan dan semakin mudah di galas.

Dari ayat diatas menjelaskan bahwa setiap anak adam pasti memiliki suatu masalah nan akan diperoleh kerjakan menemukan noktah tentu. Dan setiap ada masalah atau kesulitan pasti ada fasilitas untuk mengejar pemecahan masalahnya. Dan dalam memecahkan satu kelainan

20


Kementerian Agama, Al-Qur‟an dan Terjemahannya, Referensi Agung Maksud



2006 Q. S Al-Baqarah : 286

21


Al-Pendeta Jalaluddin Muhammad, Tafsir Jalalain, (Surabaya : PT.eLBA Fitrah


Mandiri Sejahtera,2015) h. 284

hendaklah dikerjakan secara bersungguh-sungguh agar mendapatkan suatu kemudahan.

Kerumahtanggaan proses pembelajaran Ayat ini sangat bagus dijadikan andai suatu tembung bagi peserta n domestik menyelesaikan soal, karena dengan mengaitkan kepadaAl-Qur‟an dan Hadis murid akan lebih yakin, keras, dan tetap berusaha seperti firman Allah tersebut. Dibalik kesulitan nan dihadapi murid ada rahasia dibalik kesulitan tersebut dan juga fasilitas yang begitu dekat. Karena dengan menghadapi kesulitan maka akan mendapat habuan kemudahan, setelah mendapatkan fasilitas kesalahan pun enggak terjadi.

Maka berbunga penjelasan tersebut pada umumnya kesalahan dalam menyelesaikan cak bertanya matematika dapat dilihat terbit letak kesalahan nan sering dilakukan. Letak kesalahannya itu adalah : “Penyimpangan jawaban semenjak jawaban nan benar.”
22

Penyimpangan jawaban itu antara lain keseleo dalam memahami soal, pelecok n domestik pengerjaan soal, salah dalam memahami konsep soal.

Kesulitan membiasakan merupakan suatu kondisi dimana kompetensi ataupun prestasi yang dicapai lain sesuai dengan barometer kriteria yang telah ditetapkan, baik berbentuk sikap, siaran maupun kelincahan.

Proses membiasakan mengajar ditandai dengan adanya hambatan untuk mencapai hasil sparing nan lebih baik.
23

Kesulitan belajar merupakan hal atau kondisi tertentu nan

22


Abdul Haris Rosyidi, (2015), Analisis Kesalahan Murid Kelas II MTs



Al-Khoiriyah dalam Menyelesaikan Pertanyaan Kisahan nan Berkaitan SPLDV , Surabaya: Tesis


UNESA, h. 19

23


Nini Subini, et.al, (2012, Pisikologi Pendidikan, Yogyakarta: Rawi


Teks,), hal.57-58

ditandai dengan adanya obstruksi-kendala tertentu dalam satu kegiatan buat mengaras suatu tujuan sehingga memerlukan suatu usaha yang lebih giat, guna bisa mengatasi kesulitan berlatih mengajar.

Mulai sejak jabaran di atas dapatlah disimpulkan bahwa kesulitan berlatih adalah suatu gejala yang terbantah dalam berbagai jenis hambatan yang dimiliki oleh seorang peserta ajar n domestik proses belajar, baik rintangan bersumber dalam diri peserta didik maupun hambatan yang berpunca dari luar diri murid tuntun.

Kesulitan belajar peserta didik mencengam pengertian yang luas, di
antaranya: learning, disorder, learning disfunction, underachiever, slow

learner, dan learning diasbilities.

Learning Disorder atau kekacauan belajar ialah keadaan di mana

proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons nan berlawanan. Pada dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respon yang bertentangan, sehingga hasil sparing nan dicapainya makin rendah semenjak potensi nan dimilikinya. Contoh: peserta didik yang sudah terbiasa dengan latihan jasmani gigih sebagaimana karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan internal berlatih menari yang menuntut gerakan rengsa-gemulai.
24

Learning disfunction merupakan gejala di mana proses berlatih

yang dilakukan peserta pelihara tidak berfungsi dengan baik, meskipun selayaknya peserta didik tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan instrumen dria, atau gangguan psikologis

24


Muhammad Syarif Sumantri, (2016), Strategi Pembelajaran :Teori Praktik Di



Tingkat Pendidikan Dasar, Jakarta: PT Kaisar Grafindo Persada, peristiwa.169

lainnya. Sempurna: peserta didik nan memiliki postur jasmani yang tinggi atletis dan lampau cocok menjadi atlet bola volley, cuma karena tidak koneksi dilatih bermain bola volley, maka anda tidak bisa mengatasi permainan vollley dengan baik.



Under Achiever mengacu kepada peserta pelihara yang sesungguhnya

punya tingkat potensi jauhari yang tergolong di atas normal, tetapi pengejawantahan belajarnya tergolong tekor. Hipotetis pesuluh ajar nan telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong tinggal memenangi (IQ = 130-140), namun pengejawantahan belajarnya biasa-seremonial saja atau malah sangat rendah.



Slow learner atau lambat membiasakan adalah peserta didik yang lambat

dalam proses sparing, sehingga ia membutuhkan waktu nan kian lama dibandingkan sekawanan peserta pelihara lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.



Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada

gejala di mana peserta didik bukan bernas berlatih atau menghindarinya belajar, sehingga hasil membiasakan di bawah potensi intelektualnya.
25



Berpunca sedikit penjelasan di atas, dirasakan bahwa guru dan orangtua perlu memahami bentuk kesulitan sparing nan dialami oleh putra/putri mereka hendaknya kian memaklumi kesulitan yang putra-putri mereka hadapi.

Peserta jaga yang mengalami kesulitan belajar ada nan dapat dipecahkan seorang namun enggak jarang peserta asuh yang lain bisa mengamankan masalahnya sehingga memerlukan bantuan pihak lain atau

25


Ibid ,hal.169

suhu. Sebelum sambung tangan diberikan maka faktor-faktor penyebab kesulitam berlatih itu sendiri mesti diketahui tambahan pula suntuk.

Menurut Syah mendedahkan bahwa faktor-faktor penyebab kesulitan belajar terdiri atas dua macam; faktor internal peserta didik, yakni keadaan-kejadian maupun keadaan-kejadian yang mahajana dari kerumahtanggaan diri peserta didik sendiri, intelegensi; faktor eksternal peserta didik, yakni hal-hal ataupun hal-keadaan mendatang. Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Muktar dan Rusmini (privat Suryanih), bahwa keseleo satu penyebab yang mempengaruhi kesulitan belajar dari segi internal yakni intelegensi.

Biarpun bukan satu-satunya hal penyebab kesulitan peserta asuh, hanya menurut Kanjeng sultan akademikus sangat besar pengaruhnya terhadap hasil sparing peserta pelihara.
26

Setiap peserta tuntun n kepunyaan kemampuan nan berlainan yang bisa dikelompokkan puas peserta didik yang berkemampuan tinggi lazimnya ditunjukkan oleh motivasi tinggi n domestik sparing, perhatian dan ketekunan dalam mengimak cak bimbingan dan lain-lain. Sebaliknya peserta didik yang tergolong pada kemampuan kurang ditandai dengan kurangnya motivasi sparing, tidak adanya kebulatan hati intern mengikuti pelajaran, tercantum menyelesaikan tugas dan enggak sebagainya.

Kesulitan membiasakan peserta jaga akan berbuah terhadap kinerja belajar murid ajar karena bikin memperoleh prestasi yang baik dapat diperoleh dari perlakuan membiasakan di sekolah atau luar sekolah dan atas kodrat serta usaha dalam membiasakan. Keadaan ini juga terjadi dalam belajar

26


Suryanih, (2011), Diagnosis Kesulitan Belajar Matematika Murid didik dan



Solusinya dengan Pengajian pengkajian Remedial. Skripsi, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah

matematika oleh karena itu memahami kesulitan sparing murid pelihara dalam pelajaran Ilmu hitung utama bagi temperatur dijadikan masukan lakukan mengedit proses sparing mengajar di kelas. Berkenaan dengan aktivitas membiasakan yang dilakukan peserta pelihara, kebobrokan yang cangap ditemukan peserta didik antara lain rendah memafhumi materi jaga dan hal ini dianggap penghambat privat kegiatan belajar. Banyak ditemukan peserta didik yang dahulu aktif dan ada juga siswa didik nan pendiam, lain kurang juga ditemukan peserta didik nan punya tembung sparing rendah privat belajar, semua itu akan mempengaruhi proses pengajian pengkajian di dalam kelas. Sebab, bagaimanapun faktor siswa dan guru merupakan faktor nan sangat menentukan interaksi pembelajaran.

Munculnya kesulitan membiasakan ditandai dengan adanya hambatan-kendala intern mencecah suatu pamrih belajar. Salah satu rintangan-kendala yang dimaksud yakni kesulitan peserta didik intern memahami materi tuntunan nan ditunjukkan dengan kesalahan peserta didik dalam menjawab cak bertanya yang berkaitan dengan materi asuh tersebut sehingga aktivitas belajar lain selamanya dapat berlanjut baik.

Kesulitan yang dialami petatar didik internal penelitian ini yaitu ditandai dengan adanya kesulitan-kesulitan pesuluh didik internal menjawab pertanyaan nan berkaitan dengan Sistem Persamaan Linear Dua Elastis ( SPLDV).

B. Analisis Teori Tentang Melukis Grafik Materi Sistem Persamaan

Source: https://123dok.com/article/kesulitan-belajar-kajian-skripsi-yunita-jurusan-pendidikan-matematika.y8g9r65w