Bottom Up Untuk Pelajaran Matematika

Penganggaran bottom-up atau bawah ke atas merupakan jenis penganggaran keuangan di mana perusahaan membiarkan masing-masing departemen menetapkan perkiraan anggaran mereka sendiri. Pengelolaan puncak kemudian meninjau rekapitulasi nan dibuat maka dari itu setiap kementerian dan setelah disepakati, anggaran tingkat pangkat dari seluruh organisasi dibentuk dengan menjumlahkan anggaran per departemen.

Metode penganggaran ini, yang juga disebut penganggaran partisipatif, melibatkan semua anak adam di kementerian dalam proses pengutipan keputusan nan dimulai di tingkat dasar dan menaiki ke tingkat atas hierarki organisasi cak bagi tanggulang estimasi bakal seluruh organisasi.

Segala apa itu Penganggaran berpunca Bottom-Up?

Definisi – Penganggaran bottom-up didefinisikan sebagai proses penganggaran nan dimulai dengan antisipasi departemen tingkat bawah dan bergerak ke atas mendekati tingkat minimum atas organisasi cak bagi membentuk runding intiha seluruh perusahaan.

Dalam pendekatan bottom-up, total ancangan diputuskan sesuai dengan proyeksi biaya, pengeluaran, gaji karyawan atau upah fungsionaris, biaya administrasi, dll bersumber setiap departemen bikin masa keuangan berikutnya. Secara keseluruhan, penganggaran dari bottom-up menyiratkan bahwa penganggaran organisasi dilakukan dari bawah ke atas.

Prosesnya dimulai bermula radiks dan kemudian secara bertahap mendaki ke tingkat organisasi. Kendatipun prediksi kerjakan departemen tertentu diatur dan disajikan makanya manajer departemen, perkiraan tersebut akan diterapkan sekadar setelah mendapat persepakatan berasal manajemen puncak. Karena pendekatan ini mempertimbangkan kebutuhan karyawan dan kebijakan firma, firma dapat tumbuh kian jauh.

Semua departemen harus bekerja sepadan intern metode ini. Oleh karena itu, menjamin kelancaran operasi berpunca pendekatan bottom-up yakni terdahulu. Memahami visi dan misi organisasi maka itu seluruh tenaga kerja yaitu kuncinya.

Proses Penganggaran Perusahaan berpangkal Bottom-Up

Metode bottom-up menjamin alokasi uang yang patut untuk setiap departemen.

Pengelolaan yang lebih rendah bersumber setiap departemen mewujudkan anggarannya sendiri sesuai dengan order yang direncanakan, perkiraan biaya untuk komponen individu, pembelian peralatan, perkakas dinas, dan anggaran tahun sebelumnya.

Fungsionaris boleh fokus lega apa yang berjasa kerjakan mereka ketika penganggaran dilakukan berpunca pangkal ke atas atau bottom-up. Ini juga membantu kementerian merencanakan proyek mereka bagi tahun anggaran berikutnya.

1. Tentukan beraneka rupa kementerian firma

Pendekatan Bottom-up dimulai dari tingkat hierarki perusahaan yang lebih terbatas. Langkah utama merupakan mengkategorikan perusahaan ke dalam kementerian. Identifikasi setiap departemen memudahkan untuk mendapatkan perkiraan prediksi berdasarkan departemen.

Karyawan saban departemen dapat membuat daftar proyek bakal periode mendatang. Maka mudah bagi kepala departemen bakal menyusun daftar periksa biaya kerjakan setiap proyek. Departemen juga dapat mengegolkan biaya administrasi mereka privat daftar periksa.

Kadang kala, perkiraan anggaran suatu departemen dapat lalu segara, menciptakan menjadikan adegan penting berpangkal anggaran perusahaan. Kementerian tersebut dapat dibagi menjadi sub-divisi lakukan kecepatan proses estimasi.

2. Dorong setiap departemen bakal membentuk daftar pengeluaran

Dengan daftar proyek dan ancangan biaya yang mutakadim disiapkan, manajer departemen dapat membentuk proyeksi biaya. Semua biaya kementerian dijumlahkan dan diajukan sebagai proyeksi biaya kementerian.

Manajer departemen bertanggung jawab makanya departemen finansial bagi memasukkan biaya yang layak dan diperlukan. Dengan cara ini, perkiraan taksiran menjadi eksplisit, dan pengeluaran anggaran menjadi cermat.

3. Jumlahkan biaya untuk setiap departemen

Anggaran keseluruhan firma diperoleh dengan menjumlahkan perkiraan anggaran semua departemen. Kepala departemen diberi peran bagi mengajukan anggaran departemennya.

Anggaran keseluruhan bukanlah rekaan akhir bagi perusahaan. Penyelenggaraan puncak menganalisis semua kalkulasi kementerian sebelum mengamankan anggaran perusahaan.

4. Telaah rekaan masing-masing departemen

Biarpun kebutuhan setiap departemen harus dipenuhi, manajemen senior juga harus menyerang alokasi taksiran tahunan. Runding anggaran harus sesuai dengan maksud dan sasaran perusahaan.

Pengelolaan senior meninjau perkiraan anggaran setiap departemen. Ini membahas masalah perkiraan anggaran yang sangat rendah atau lebih tinggi berasal departemen. Setiap perkiraan yang tidak memuaskan didiskusikan dengan kepala departemen masing-masing buat membentuk perubahan nan diperlukan.

5. Mengendalikan perkiraan taksiran

Setelah manajemen puncak puas dengan antisipasi taksiran, ia merekomendasikannya ke kementerian keuangan. Keuntungan dan ketakberuntungan firma dianalisis lakukan jangka panjang.

Departemen keuangan menyetujui perkiraan anggaran dan menetapkan anggaran perusahaan secara keseluruhan. Kemudian mendistribusikan dana di antara departemen nan berlainan.

Proses Penganggaran Top-Down vs Proses Penganggaran Bottom-Up

Ketika memilih apakah akan menggunakan metode penganggaran top-down atau bottom-up, perusahaan harus memafhumi perbedaan antara keduanya dan bagaimana mereka cocok suatu sama lain. Ini ialah zarah dari proses perencanaan nan lebih segara yang dikenal sebagai perencanaan top-down dan bottom-up.

Memilih teknik penganggaran berdasarkan hasil teoretis adalah situasi sahih, tetapi bisa jadi tidak memasrahkan hasil yang optimal ketika digunakan dalam praktik. Penganggaran berpokok bottom-up / dasar ke atas sesekali disebut sebagai versi penganggaran top-down nan lebih beradab. Ini tidak terjadi, dan keduanya yakni dua disiplin penganggaran nan berbeda.

Departemen harus menciptakan menjadikan anggaran dalam posisi yang dikemukakan maka itu kepemimpinan senior dalam runding top-down. Departemen memformulasikan perkiraan runding mereka dan mengirimkannya ke didikan senior dalam anggaran dari bottom-up sumber akar ke atas.

Pendekatan penganggaran top-down biasanya kian cepat. Cuma, hal itu dapat menyebabkan departemen berjuang untuk tetap berada internal jumlah yang dianggarkan karena pengelolaan mungkin tidak mengetahui semua pengeluaran terkait. Penganggaran top-down juga memiliki lebih minus keefektifan tercalit adab.

Kedua cara utama ini merupakan metode penganggaran nan minimum banyak digunakan. Di satu jihat, anggaran top-down menghemat waktu, doang mengorbankan pemahaman menyeluruh mengenai persyaratan sendirisendiri departemen. Kesudahannya, bilang departemen mungkin tidak dapat berfungsi secara efektif privat batas-perenggan yang ditetapkan oleh tata tingkat atas.

Sebuah prediksi bottom-up, di jihat lain, mendorong fungsionaris bikin mengambil kepemilikan berpunca proses dan memperkuda keahlian mereka dalam kementerian yang mereka kelola. Namun, tamatan departemen mungkin enggak selalu sejalan dengan tujuan organisasi secara keseluruhan.

Keuntungan Penganggaran dari Bottom-Up

1. Akurasi

Penganggaran bottom-up biasanya mempunyai keuntungan karena cukup akurat karena setiap departemen organisasi memaklumi pengeluaran dan perigi dayanya.

Memendekkan perkiraan anggaran dari masing-masing departemen dapat menghasilkan runding yang akurat untuk perusahaan secara total.

2. Motivasi

Karyawan nan berkewajiban bikin menciptaan anggaran umumnya bekerja lebih gentur ketimbang yang tidak untuk memenuhi tujuan perusahaan. Karena mereka diberi tanggung jawab keuangan, mereka mendapatkan rasa memiliki.

Ini meningkatkan moralitas dan kepercayaan tenaga kerja. Jadinya, mereka menentang bertahan dengan perusahaan untuk waktu yang lama.

3. Kebutuhan departemen

Tata Puncak barangkali tidak mempunyai wawasan rinci tentang setiap acara dan enggak bisa membelakangkan di mana harus mengalokasikan sumber siasat. Pendekatan bottom-up membantu menyelaraskan dengan kebutuhan departemen bikin hingga ke intensi mereka.

Karena karyawan dari setiap departemen menyiagakan perkiraan anggaran, persyaratannya layak eksplisit intern pemberitaan prediksi.

4. Transparansi

Biaya dan sumber muslihat departemen disajikan dengan cara nan paling jelas. Personel semenjak tiap-tiap kementerian berkujut n domestik estimasi anggaran.

Alokasi dana dan pengeluaran yang dilakukan oleh departemen diketahui oleh setiap karyawan departemen. Transparansi mendukung untuk mendapatkan pembantu pegawai dengan firma.

Kekurangan Anggaran Bottom-Up

1. Kurangnya Koordinasi

Kurangnya penyerasian antar departemen, mewujudkan prediksi tanpa memikirkan kementerian bukan. Kejadian ini sekali lagi dapat menyebabkan tumpang tindihnya runding anggaran.

2. Penyimpangan berbunga Intensi Organisasi

Anggaran yang dibuat oleh fungsionaris dengan pengalaman paling kecil sedikit mungkin berleleran bersumber tujuan organisasi. Dan lain akan mengirimkan keberuntungan untuk firma.

3. Lebih berpunca Penganggaran

Besar peluang seandainya pelecok satu departemen melebihi anggaran. Itu dapat mempengaruhi kementerian tak bakal meninggi dana ekstra. Setiap departemen harus diberikan kesempatan nan setimpal untuk pertumbuhan kerumahtanggaan perusahaan.

4. Durasi Jenjang

Integrasi semua set perincian yang lebih kurang untuk membentuk anggaran terpadu lakukan seluruh firma umumnya membutuhkan musim lebih lama. Analisis menyeluruh dan implementasi anggaran perincian yaitu proses nan memakan waktu.

Tips Implementasi Metode Bottom-Up

Berikut adalah beberapa saran untuk menerapkan penganggaran berpangkal bottom-up dalam menggalas Dia. Cobalah tips ini sebelum memilih perkiraan anggaran yang diperoleh dari metode ini. Ini boleh menjadi garis haluan yang luar biasa bikin organisasi Dia.

1. Memiliki Tujuan Yang Jelas

Mendefinisikan harapan membantu untuk menetapkan batas kerjakan proses apapun. Semacam itu pula dengan penganggaran dari bottom-up. Bahan biaya dan pengeluaran terbit saban manajer departemen harus masuk akal. Sungguhpun garis haluan ini adalah tentang kebutuhan departemen, Anda juga harus menimang-nimang batasan moneter perusahaan.

2. Mempertahankan Organisasi Struktural

Kebaikan dan persyaratan berbeda untuk berbagai departemen perusahaan. Rekapitulasi rekapitulasi tiap-tiap disiapkan mengajuk fitur saban departemen.

Demikian sekali lagi, faktor-faktor yang harus dipertimbangkan untuk runding taksiran suatu kementerian enggak boleh taruh tindih dengan departemen lain. Ini akan mengakibatkan duplikasi Anggaran atau kesuntukan detail terdepan barang apa kembali.

3. Perhatikan detailnya

Kepala departemen berkewajiban bagi teliti dengan semua dana dan pengeluaran departemen. Adalah tugas mereka cak bagi membudidayakan daftar runding dengan biaya nan diproyeksikan buat tahun keuangan.

Walaupun memakan waktu, ini yakni kaidah yang efektif untuk enggak mengabaikan pengeluaran yang dilakukan makanya departemen. Hal ini meningkatkan bahara jawab serta moralitas pegawai.

Kesimpulan!

Keberhasilan bisnis terdapat pada visi dan misi paser tataran bisnis. Membuat ancangan runding tidak menjamin pertumbuhan bisnis. Perkiraan estimasi harus sepadan dan sesuai dengan mangsa perusahaan.

Kendatipun pendekatan bottom-up memenuhi kebutuhan karyawan, tetapi pun harus membawa keuntungan bagi organisasi. Karena overbudgeting bisa terjadi dengan mudah, teliti dengan daftar perincian dari saban departemen.

Karyawan harus mematuhi tenggat periode penganggaran. Ingatkan staf lakukan melandaskan anggaran mereka lega tebakan terbaik mereka dan tidak menambahkan rial ekstra untuk padding. Pastikan mata air daya dialokasikan dengan bijak dan dengan mandu yang memastikan setiap basyar memiliki apa yang mereka butuhkan untuk menyentuh keseluruhan rencana dan tujuan memikul Anda.

Source: https://belajarekonomi.com/penganggaran-bottom-up/