Cerita Akhir Film Pengabdi Setan

Darminah, insan Antagonis di Pengabdi Setan 2 diperankan makanya Asmara Abigail /Image from Instagram @asmaraabigail

PORTAL PURWOKERTO
– Film Pengabdi Setan 2 kapan tayang masih menjadi cak bertanya yang belum terjawab.

Tak tekor warganet yang penasaran dengan gambar hidup Pengabdi Setan 2 bilamana tayang, karena sudah suka-suka poster nan dirilis.

Harapan masa Penayangan film Pengabdi Setan 2 pastinya tidak lama juga atau segera tayang.

Baca Pun: Taajul! Pengabdi Setan 2 Rilis 2022, Siap Isi Keheningan Malam Kalian! Sekte Penganut Setan Akan Panen Besar?

Menanggapi hal tersebut, sang sutradara Joko Anwar bukannya menjawab, malah semakin membentuk greget dengan membagikan teaser buatan fans yang pastinya bikin makin penasaran.

>

Beberapa warganet membuat perkiraan takdirnya gambar hidup Pengabdi Setan 2 merupakan kontinuitas berpunca Pengabdi Setan 1, maka akan ada sosok Darminah yang muncul.

Karena di ending Pengabdi Setan 1 dimunculkan sekilas hamba allah Darminah dan Batara yang sedang menyebar skor mitos di peta Indonesia.

Baca Lagi: Film Pengabdi Setan 2 Kapan Tayang? Tak Panjang usus Melihat Kelanjutan Bapak dan Anak-anaknya, Apa Ibu Akan Lagi?

Kejadian tersebut mengisyaratkan pengikut sekte Pengabdi Setan tersebar di seluruh Indonesia.

Mata air: Semenjak Berbagai Sumber

Banyak misteri yang belum terpecahkan berusul film Pengabdi Setan. Termasuk 5 misteri berikut ini.

Tak hanya menonjolkan teror horor yang membuat penonton terkaget-kaget, film arahan sutradara Joko Anwar ini pula seakan mengajak spektator nanang seputar mirakel Pengabdi Setan yang dihadirkan.

[duniaku_baca_juga]

Ya, barangkali kamu minus dibuat penasaran dengan sejumlah adegan yang ditampilkan cuma tidak dijelaskan secara gamblang. Joko Anwar sama dengan mengajak penonton untuk mencari senggang jawabannya koteng lewat petunjuk-visiun kecil nan dihadirkan.

Nah berikut ini deretan mirakel Pengabdi Setan yang mungkin membuat banyak orang penasaran.

[page_break no=”1″ title=”Siapa Sosok Ibu Sememangnya”]

Cucu adam Ibu di film Pengabdi Setan adalah pokok semenjak barang apa konflik yang hadir. Tapi sayangnya, tidak ada informasi rinci sekeliling karakter yang diperankan oleh Ayu Laksmi ini.

Di tadinya cerita, Ibu digambarkan sebagai sosok ringkih yang menderita nyeri misterius selama hampir 3 musim. Selain itu, disebutkan jika ibu adalah mantan penyanyi nan memiliki lagu hits berjudul “Berawan Malam”.

Rahasia sedikit terkuak ketika Ibu balasannya meninggal dengan kejadian yang janggal. Berbintang terang bantuan Pak Budiman, diketahui Ibu menyatu dengan sebuah sekte demi berkeinginan berbintang terang pertalian keluarga.

Namun penonton lagi-lagi dibuat penasaran, bagaimana kehidupan Ibu yang mutakadim mati dan menghantui keluarganya. Apakah Ibu merupakan tumbal dari kegiatan sekte misterius tersebut?

[page_break no=”2″ title=”Apa nan Dibicarakan Kiai Kepada Ibu?”]

Misteri Pengabdi Setan selajutnya adalah adegan ketika Buya bercelatuk dengan Ibu. Sayangnya, dialog mereka berdua tidak diperdengarkan secara eksplisit. Penonton sekadar bisa menduga-taksir setelah Rini yang perankan oleh Tara Basro tidak sengaja mendengar obrolan mereka.

Asa-agak segala apa yang dibicarakan Bapak kepada Ibu yang tengah sekarat? Apakah terserah kaitannya dengan sekte misterius di mana khalayak Ibu menjadi anggota di dalamnya?

[page_break no=”3″ title=”Apa yang Dilakukan Buya Di Kota”]

Selain basyar Ibu, sebenarnya bani adam Buya pun menggudangkan misteri yang selaras banyaknya. Apalagi saat kepribadian nan diperankan oleh aktor asal Malaysia, Bront Palarae, ini izin kerjakan pergi ke kota demi mencari uang.

Sejak kepergian Bapak ke ii kabupaten, Rini dan adik-adiknya sekali lagi mulai diganggu maka itu makhluk renik tercatat hamba allah Ibu yang berusaha “menjemput” ke umbul-umbul enggak.

Jadi sebenarnya, segala apa nan dilakukan Buya di daerah tingkat? Apakah Bapak sekali lagi anggota sekte?

[page_break no=”4″ title=”Sekte Misterius”]

Mirakel Pengabdi Setan lebih jauh adalah seputar sekte yang diikuti oleh Ibu. Siapa sebenarnya mereka? Budiman sempat menjelaskan kepada Hendra tentang bagaimana sekte itu berkarya, dan apa pamrih mereka mengejar-ngejar keluarga Rini.

Anak adam nan ada di balik sekte ini sempat diperlihatkan momen mereka datang ke rumah keluarga Rini bersama-sama memakai gaun dan payung serba hitam.

[page_break no=”5″ title=”Keberadaan Fachri Albar & Asmara Abigail”]

Penasaran penonton menyentuh puncaknya ketika di ending cerita dimunculkan sosok Batara dan Darminah yang diperanan oleh Fachri Albar & Asmara Abigail. Mereka muncul sebagai tetangga keluarga Rini nan telah mengimbit ke daerah tingkat.

Tapi ternyata mereka bukan tetangga biasa. Mereka ialah pimpinan sekte sesat yang ada di ii kabupaten. Mereka n kepunyaan anggota nan tersebar luas di seluruh Indonesia. Hal ini terlihat dari peta yang menempel di dinding serta adanya toples berisi ratusan butir skor saga merah.

Lantas, apakah mereka akan menjadikan Rini begitu juga ibunya yang “dijebak” kerjakan ikut ke dalam sekte?

[read_more id=”336050″]

Penonton hanya bisa mengira-ngira, namun jika terserah sekuel Pengabdi Setan, jawaban misteri di atas mungkin dapat tertanggulangi.

Ngomong-ngomong, berhubung film ini kayaknya udah ditonton banyak turunan, jadi resensi yang saya tulis ini akan penuh dengan spoiler ya. Saya agak gatel untuk nulis review ini tanpa spoiler, berhubung saya merasa film
Joko Anwar
ini punya banyak masalah… Itulah kenapa saya karunia judul review ini:
Apa yang Salah dari Pengabdi Setan (2017). Saya tahu, review ini akan sangat dibenci makanya banyak anak adam yang memuja film ini. Apalagi sesama blogger tidak pun bilang film ini bagus banget.

Saya nggak pernah mengklaim diri saya sebagai kritikus, soalnya koteng kritikus harus bisa obyektif intern memonten sebuah karya sinema. Ambillah, saya membidik tinggal subyektif dan suka-suka aja kalo ngereview, dan kalau mood nyinyir saya sudah keluar, saya akan terlihat seperti juru bawel yang menyebalkan (istilahnya: pretentious asshole). Sebagai penikmat gambar hidup, saya juga selalu punya penyakit dengan sinema-gambar hidup Indonesia. Entahlah, saya pokoknya menggadang banget dan ga chauvinis sama film tempatan. Sinema Indonesia yang saya akuin bagus sejauh ini cuma The Raid, dan itupun sutradaranya ga asli Indonesia. (Don’cakrawala make derita start to pupur about AADC2.. that movie is crap. Sekadar menang yang main bukan aktris-aktris alay aja trus dipuji-puji ama orang). Karena itulah, sebagian besar ulasan saya di sini mungkin dilatarbelakangi ketidakadilan saya cak bertanya menilai bioskop lokal….

Waktu
Pengabdi Setan
heboh banget main di bioskop (dan malah detik ini uda tembus 2 juta bertambah penonton) dan dipuji-puji oleh banyak hamba allah, saya sudah skeptis dan terlalu beraga untuk mulai ke bioskop. Tapi trus saya baca review seseorang, nan bilang betapa “kacaunya” gambar hidup ini. Malah justru ini nan bikin saya spontan berangkat ke bioskop karena penasaran. Justru malemnya saya ngebelain pula untuk nonton
Pengabdi Setan

versi tahun 1980 yang digarap Sisworo Gautama Putra, kendati dapat punya perbandingan bakal nulis review ini.

Pertama-pertama, bagi yang merasa film
Pengabdi Setan
perian 1980 lebih seram tinimbang bioskop versiJoko Anwar, pasti adalah mereka yang memiliki emosional nostalgia jaman kecil dengan film ini. Jelas, komidi gambar
Joko Anwar
lebih baik intern menyampaikan segi horror yang makin sesuai dengan selera tontonan generasi milenial. Jika nonton sinema ori-nya, pasti kita bahkan bintang sartan ketawa. Fragmen-adegan horror
Pengabdi Setan
varian Joko Anwar beneran punya angka jumpscare dan unpredictable yang luput berpokok film-komidi gambar horror Indonesia lainnya yang teramat murahan. Horrornya tampil sangat elegan dan menakutkan. Tetapi…. ya semata-mata setakat itu bagusnya.

Joko Anwar
mengulang kesalahan nan kerapkali menjadi masalah kebanyakan bioskop horror. Film horror mainstream biasanya plus sibuk menakut-nakuti penonton sehingga kedodoran intern ngegarap naskahnya. Nonton
Pengabdi Setan
ini saya jadi teringat film-bioskop horror Thailand sebangsa Shutter dan Ladda Land. Nakutin sih, tapi filmnya penuh plot hole dengan kisah yang males-malesan, ga solid, ga kohesif, dengan jalan keluar dan ending yang kelewat mudah. Akan berbeda misalnya jika Joko Anwar hendak membuat film yang penjelasannya sengaja dibuat semisterius dan seambigu siapa, sehingga plot hole alias “motivasi kenapa” yang ada nggak akan dipermasalahkan. Contoh, komidi gambar It Follows ataupun The Shining. Tuh kan hantunya ga jelas siapa, tapi ya ga komplikasi… tho emang filmnya ga berniat menceritakan hantunya barang apa dan kenapa. Beda dengan
Pengabdi Setan
nan di endingnya ingin “melogiskan” kenapa keluarga mereka diteror.  Belum kembali momen
Pengabdi Setan
ini diakhiri dengan cara yang hasilnya menggampangkan dan “lho-gitu-doank?”.

Sesungguhnya, naskah
Joko Anwar
ini potensial jika bisa disampaikan dengan lebih baik pula Saya membaca betapa netizen gempita berdiskusi soal kenapa ini kenapa begitu, dan penjelasannya cukup sensibel dan seru. Namun, saya teguh merasa
Pengabdi Setan
ini sedikit solid dan kuat dalam menyampaikan maksudnya. Jika ditanya kenapa ada banyak plot hole, saya membayangkan
Joko Anwar

akan “ngeles” dengan bilang bahwa doi menyiagakan jawabannya di sekuelnya.
Joko Anwar
tampaknya emang kepingin “memperumit” ceritanya dibandingkan dengan film orinya, sahaja jatuhnya malah ambyar. Bandingkan misalnya dengan film
The Wailing,
misalnya. Film itu juga nggak jelas dan ambigu, doang selepas menonton saya enggak merasa keambiguannya itu bak jalan cerita yang nggak masuk akal bulus, tapi jati karena emang misterius dan spektator dapat berdiskusi dengan positif meributkan filmnya sesudah nonton. Sementara
Pengabdi Setan
ini kayak suka-suka kesan, “Ih apaan sih masa mendadak sejenis itu? Lho itu tadi majenun mengapa ga jadi kerasukan lagi? Lho gimana sih ngapain si Hendra dibuat mati? Lho si kakek dukun ini mengapa berangkat-menginjak muncul? Lho bapaknya tahu ga sih kalau ibunya ke sekte setan? Kalo adv pernah kenapa tingkahnya begitu? Si Bapak ga sholat karena sekuler/agnostik atau karena muja setan? Kenapa ngadain tahlilan? Lho masa neneknya mati bapaknya ga pulang? Lho kalo si ibunya emang pengen punya anak asuh dengan meniduri lelaki enggak kenapa harus kebat sekte, kenapa ga dengan kaidah formal selingkuh aja? Lho masa begitu tahu adiknya ternyata sri paduka roh jahat mereka serta merta kabur gitu aja? Keluarga macam apa itu! dan seterusnya dan lebih jauh…”.

Selain itu, saya merasa film horror nan bagus yakni yang bukan mengumbar adegan hantu-hantuan setinggi-tingginya. Itulah kenapa saya nggak suka dengan The Conjuring 2, karena film itu kebanyakan fragmen hantu. Zarah minimum menakutkan dalam menakut-nakuti manusia adalah kecemasan, sehingga harusnya film horror nan baik itu fokus privat building horror and intense atmosphere, namun sekali hantu maupun setannya muncul, munculinnya ngagetin dan memorable. Ketika selama proses nonton kita sudah terbiasa dengan hantunya nan muncul terus, otomatis lama-lama jadi ga bersimbah juga.
Pengabdi Setan
makara bersoal karena film ini sudah menakut-nakuti awal (dengan cara yang baik), tapi dulu hantunya muncul berulang kali sehingga jatuhnya jadi ga nakutin dan tidak akan sesak peranjat lagi. Saya kasih contoh film-gambar hidup bukan nan efektif n domestik teror namun “hantu”-nya hanya muncul sedikit: Orphanage, Rosemary’s Baby, Dark Water, A Tale of Two Sisters, Rings, alias lebih-lebih Audition yang putaran slasher-nya cuma muncul belakangan.  Bagaimana dengan It? It (2017) sebenarnya juga berlebih banyak “hantu”, namun kemunculan hantunya sangat kreatif dan seru sehingga itu yang bikin film ini bagus.

Saya juga bingung ketika
Pengabdi Setan
ini dikatakan andai sebuah remake, berhubung garis samudra ceritanya jauh berbeda dengan film orinya. Kenapa Joko Anwar harus ngotot untuk nge-remake film ini takdirnya ia membuat banyak perubahan? Di film orinya lain suka-suka si Nenek, lain ada sekte kesuburan pengikut setan, enggak terserah makam di damping apartemen (nan by the way, ga nyambung juga sebabat ceritanya selain belaka cak bagi serem-sereman), tidak ada pangeran roh jahat, tak ada permukaan birit sang ibu yang menakut-nakuti anaknya. Emang sih, film orinya konyol banget dalam ngasih motivasi – bahwa batih yang sekuler itu “lemah iman”. Tapi at least film ori-nya terasa lebih solid dan kohesif dengan garis besar ceritanya. Saya justru mikir, karena
Joko Anwar
ngotot untuk membuat remake, maka beliau harus memasukkan unsur-elemen nan ada di film ori-nya ke varian cerita beliau yang mentah, dan jatuhnya bahkan ga nyambung dan maksa. Saya merasa sang ustadz dan anaknya itu ga faedah-kekuatan banget (dan please deh, itu si anak ustadz nyepik-nyepik di makam setimbang cewek yang adv amat kehilangan ibunya…). Kalaupun
Joko Anwar
emang sengaja kepingin “meledek” bahwa ustadz tetaplah manusia konvensional yang kalah kuat sama setan, anda juga tidak memanfaatkan subplot ini dengan maksimal. (Bytheway, selepas discuss ini dengan antitesis.. engkau bilang sekiranya Joko Anwar menjelek-jelekkan profesi ustadz, bisa-bisa sang
Joko Anwar
didemo anak adam di pelan monas!).

(Edit adendum: Rupanya,
Joko Anwar bilang ini reboot ya? Cuma berhubung mayoritas makhluk nggak adv pernah reboot sama remake, jadi dibilanglah remake).

Berhubung kenyataan komidi gambar lokal saya masih sedikit, saya emang belum nonton semua film
Joko Anwar. Belaka saya luang bahwa Joko Anwar burung laut unggul dalam penyelenggaraan artistiknya, namun di sisi lain saya buruk perut merasa ada kesan “lebay” dalam film-filmnya. Haha. Saya menemukan problem ini lewat Modus Anomali, Kala, dan Gerbang Bawah tangan. Entahlah. Saya mungkin kelewat nyinyir aja. Pengabdi Setan lakukan saya juga menawarkan hal yang seimbang. Apa sih yang bikin film horror Indonesia nakutin? Karena gambar hidup ini lekat dengan kearifan setan-setan lokalnya yang emang terbiasa menciptakan menjadikan kita ketakutan tiap malem Jumat. Kita kerap seram dengan kober, hantu cucu adam yang sudah meninggal, mambang perempuan rambut janjang, pocong, mayat yang pulang ingatan juga… Terimalah,
Pengabdi Setan
mengedepankan ini semua dengan memadai meyakinkan – tapi membuat konklusinya dengan menghelat kearifan lokal. Sekte pengikut setan (occultism) dan momongan iblis itu terasa sebagai folklore Barat, enggak kisahan perdukunan lokal. Akan makin logis misalnya, jika Joko Anwar memasukkan zarah pesugihan, penglaris, kemenyan, atau bercinta dengan jin dan makhluk ghaib… narasi-kisahan mistik yang cak acap kita baca di tabloid Posmo.

Lewat…. saya agak terganggu dengan cast-nya. Saya bandingkan lagi dengan film The Wailing (pemaafan ya, saya kepikirannya film ini sih pecah tadi). The Wailing itu terasa sangat realistis, karena disupport maka dari itu cast yang terasa sangat realistis.
Pengabdi Setan
ini ga butuh Kiai ganteng dan kelewat akil balig kerjakan jadi Bapak mereka (malah sang Bapak di film ori-nya makin terasa pragmatis). Saya juga heran kenapa aktor
Bront Palarae
dicast sebagai sang bapak, karena mukanya yang berpembawaan Pakistan dan Thailand adakalanya ga “nyambung” dengan anggota keluarga lainnya (saya beberapa begini karuan ditangkis dengan alesan “kan anak asuh-anaknya bukan anak asuh bapaknya!” Tapi seenggaknya mirip cak sedikit donk ama neneknya, alias mau dikasih alesan mungkin si cikal bakal orang Pakistan?”). Dan please deh itu bapak kemudaan buat punya momongan umur 22 tahun (mau dikasih alesan lagi kalo si Buya pakai susuk langgeng muda? Keluarga ga percaya dongeng tapi berketentuan susuk?). Cast lainnya main-main dengan lumayan, terutama si mungil Ian
(M. Adhiyat)
nan bersisa menggemaskan untuk bintang sartan anak ifrit dan yang bintang sartan Toni
(Endy Arfian),
serta si Ibu nan lebih serem memadai belum jadi hantu
(Ayu Laksmi).
Hanya emang namanya film Indonesia ya… majuh keganjal dengan masalah dialognya yang ga natural nan bikin akting pemainnya jadi jarang. Karena siapa sih orang Indonesia yang ngomong sehari-tahun pakai bahasa Indonesia yang baik dan bersusila? (dan si boncel Bondi sejumlah begini: “Dari luar jendela tertumbuk pandangan areal pekuburan…”. Ada ya anak SD bilang prolog “areal”?).

Lantas, kenapa
Pengabdi Setan
banyak yang bilang bagus? Jawabannya simple: karena film horror Indonesia lain kelewat jelek.

Cuma memang mudah-mudahan Pengabdi Setan ini bisa kaprikornus tolok baru bagi perfilman Indonesia kerjakan dapat bikin film yang bagusan cak sedikit dan ki ajek disukai publik. Saya harus memuji juga bahwa Pengabdi Setan bagus privat segi horrornya, filmnya artistik dan sangat berciri singularis
Joko Anwar,
saya juga suka desain set dan propertinya (rumahnya horror banget itu!), dan saya juga demen dress-dress rupawan
Tandingan Basro. Saya berharap pada film berikutnya
Joko Anwar
boleh kian menumbuhkan script-nya lagi.

* Sebenarnya kerjakan film horror yang populer itu lumayan gampang lho dibandingkan bakal film-film lainnya. Selama fokus dan maksimalin horror scene-nya aja, dengan marketing nan baik, maka rata-rata pemirsa udah suka.\

Source: https://termasyhur.com/apa-maksud-dari-ending-pengabdi-setan

Posted by: soaltugas.net