Cerpen Putu Wijaya Berjudul Maaf





Kami bertengkar kembali. Menurut saya, ki ajek tiga hari sekali. Tidak bisa diganggu-gugat. Sekali-sekali boleh empat hari sekali. Tapi jangan sampai satu minggu sekali. Meskipun ini wulan Puasa. Itu kan kebutuhan rohani.

Tapi dasar ketua rayuan. Suatu minggu satu kali saja sudah kebanyakan. Katanya dua minggu sekali sepan. Orang lain ada yang sebulan sekali. Apalagi pada bulan kudus. Takdirnya bukan setuju terserah.

Setuju? Bagaimana mungkin saya setuju. Mestinya dia harus bersyukur, sebab setelah puluhan masa, saya masih loyal segak. Saya belalah hangat, segar dan bertubi-tubi seperti mana prajurit yang siap menyerahkan vitalitas badan untuk membela negara. Tidak suka-suka kata bosan. Semuanya seakan nan pertama kelihatannya. Itu kan karunia yang harus disyukuri.

Tapi kontrak tidak bisa hanya satu pihak. Saya jadi pusing tujuh keliling. Suntuk saya ngelencer ke barang apa penjuru ii kabupaten membunuh masa. Menunggu saat berbuka, saya masuki toko-toko gerendel. Mencari-cari nan bukan ada. Kesudahannya saya beli pun sepuluh buku lanjut umur nan harganya jatuh. Bukan karena isinya sudah lalu rusak, tapi karena kalah heboh makanya promosi persendian komoditas yang sememangnya bermutu sampah.

Menggendong seabrek belanjaan yang boleh jadi tak akan pernah saya baca itu, saya sebrangi Jakarta. Terlampau-lintas sudah bertambah brengsek. Taki bagi menempatkan rasa nyaman cak bagi pejalan kaki, ternyata omong zero semua. Pencetus berseliweran siap membunuh penjalan kaki nan meleng. Dan mobil-oto seakan-akan begitu meremehkan harga turunan.

Tapi, saya masih boleh tepat sampai di depan apartemen, detik celaan seruan sembahyang magrib terdengar. Cepat saya rogoh kunci dari saku dan segera masuk kondominium. Teh kental manis seksi, lega bulan ampunan, lebih indah dari rubayat-rubayat Umar Khayyam. Puasa yaitu bulan yang paling kecil saya tunggu dalam setahun. Itulah detik saya merasakan nasi adalah nasi, mauz rendang benar-bersusila pisang goreng dan semangat, bukan main pun rewelnya adalah sebuah puisi.

Celakanya, rumah nihil. Saya baru ingat, istri dan anak saya ada janji berbuka di rumah saudaranya. Enggak barang apa. Doang saya tidak melihat ada sesuatu di atas kenap makan. Ada pot anakan dengan anak uang ros. Tapi saya lain bisa menegak mawar. Saya memerlukan sesuatu yang hangat mengalir di tenggorokan setelah menahan nafsu selama 12 jam.

Harusnya saya tidak usah buru-buru pulang. Makan saja di warung sate kambing muda di Cirendeu. Kini kalau balik ke situ, lain akan keburu. Dibayar dua kali lipat sekali lagi tukang taksi tidak akan kepingin kronologi. Mereka juga mau menikmati buka.

Dengan kesal saya lemparkan peruasan ke atas kenap. Saya kenakan lagi sepatu. Siap cak bagi kabur. Biar saya makan mak-nyus cak seorang diri di PIM. Mengganyang bebek goreng yang harganya selangit itu. Seratus mili menyimpang juga tak apa sumber akar tidak kecewa. Dan kalau perlu terus nonton bioskop.

Tapi ketika mau menutup gapura, saya dengar ada suara kuncing mengeong. Saya tidak penggemar kucing, tapi saya kritis minus bahasa kucing. Itu bukang ngeong kucing yang semenjana terpaut. Itu kucing nan semenjana keroncongan. Kucing memang demap kelaparan. Tapi itu ngeong kucing yang ngebet makan sesuatu, tetapi tak berdaya.

Dengan hati-lever saya pun ikut rumah. Saya temukan kucing tetangga mengeong di dapur. Dia meratap lembut di depan bufet. Matanya sayu. Saat saya unjuk, dia terus saja mendayu-dayu simultan mengakas almari, seperti mana menunjukkan, di situ, di situ.

Saya ikuti petunjuknya, sangat membuka almari. Begitu daun almari terbuka, hidung saya diterjang bau iwak bakar patung-reca yang sedap sekali. Saya lihat juga suka-suka termos dan gelas nihil dengan bubuk teh tarik sasetan di dalamnya. Tinggal diseduh saja.

Ngeong, kucing itu nyeletuk, begitu juga mengatakan. Nah ya ketel?!

Bener, kata saya sambil membarut-barut meong itu dengan gelojoh. ”Kalau engkau tidak merintih-rintih kawan, aku tidak akan sempat, istriku sudah menyiagakan segala apa yang terbaik bikin suaminya sebagaimana mestinya koteng istri yang bertanggung jawab. Terimakasih Cing. Untung suka-suka kamu. Jika tidak, aku tidak pernah tahu, aku sudah punya semua ini. Kau sudah mengebumikan seratus mili, mungkin dua ratus ribu lebih yang mau disikat kas bebek goreng penganut neo liberalisme itu!”

Kucing menggesek-gesekkan kepalanya kolokan ke tangan saya.

”Oke, aku tidak jadi murka, mari kita nikmati hidup ini!” introduksi saya sambil mengedrop meong itu di lantai.

Saya buka sepatu. Kemudian menjerang teh tarik. Nikmatnya. Setelah marah-marah, tendangan rasa teh berlapis ganda. Apalagi istri saya enggak tengung-tenging menyediakan saingan yang serasi: singkong yang sudah lalu dibalur bumbu sebelum digoreng.

Tembolok tradisional dengan incaran stereotip serampak dari tipar, kian segak, lebih aman, makin murah dan bertambah nikmat dari makanan kalengan alumnus pabrik mana pun. Tidak menjatah jedah kembali, saya siap mengganyang ikan bakar arca-reca, untuk menghargai karya istri itu.

Tapi begitu menoleh, saya terperanjat. Patung-reca itu sudah lalu menghilang. Pintu almari yang belum sempat saya tutup, seperti kecut hati. Indra penglihatan saya jelalatan mencari meong. Ternyata langsung mengeram-ngeram, angkara itu mengganyang ikan saya di bawah kenap, di depan netra si pemiliknya.

Pembawaan saya refleks mendidih.

”Kepinding!”

Meong itu kaget. Sambil melotot, beliau caplok lauk itu kerjakan dibawa kabur. Tangan saya menyambar buku, lalu menembak, tepat mengenai badannya. Khewan itu terjungkal, tinggal lari keluar. Ikan reca-patung saya terkapar berserakan di keramik. Tak berharga lagi. Saya harus hajar mencuri itu. Saya sabet sapu dan memburu keluar.

Kucing itu ternyata masih duduk di depan bab menjilat-jilat kakinya, seperti menunggu kesempatan masuk. Saya geram dan memukul. Kena. Habis saya tendang beliau ke pekarangan, waktu mau dihajar lagi, piaraan setangga itu ngibrit lari menyebrang jalan merentang ke kondominium tuannya. Murka saya masih melimpah.

Saya masuk ke kerumahtanggaan kondominium. Lalu reca-reca itu saya campakkan ke tong sampah. Saya tidak sudi makan tamatan kucing. Tapi kemudian saya rampas lagi. Saya basung baik-baik. Saya buang jauh-jauh, dalam perjalanan ke restoran belibis goreng di PIM. Saya bunuh rasa kecut hati dengan berfoya-foya Rp 200 ribu, memperbaiki sore hari yang rusak itu. Tetapi rasa dongkol itu bukan memendek.

Pagi-pagi ada kejutan pun. Kemasan RT berkunjung ngajak ngomong benar-benar.

”Saya agak lega bulan Ramadan ini, kita semua harus boleh menahan diri, Pak,” katanya.

”Maksud Pak Haji?”

”Saya mendapat komplin terbit Pak Michael, setangga Bapak, Kiai telah menzalimi mereka.”

”Menzalimi bagaimana?”

”Beliau terdesak membawa kucingnya ke tabib, karena Bapak pukul. Segala apa betul?”

”Udara murni, ya, kalau itu betul!”

”Pemaafan, Bapak mungkin bukan suka dengan kucing, tapi Kelongsong Micahel itu lebih selalu pada kucing daripada

anak asuh-anaknya sendiri.”

”Ozon sedemikian itu?”

”Ya. Makara saya kira, Bapak mengerti kenapa beliau sangat shock maka dari itu kejadian ini. Untung enggak terbiasa operasi. Tapi waktu ini kucingnya pincang, Pak.”

”Masih untung semata-mata gempor, kucing itu mestinya harus mati karena makan reca-patung saya yang disiapkan buat buka.”

”Namanya juga kucing, Pak. Maka itu jangan meletakkan alat pencernaan melenggong di bidang datar.”

”Dia curi berasal almari!”

”Barang apa kucing dapat menelanjangi almari, Pak?”

”Ya kebetulan pintunya saya lupa tutup.”

”Ya sekiranya ki lupa ditutup, itu bukan riuk kucingnya, Selongsong.”

”Salah siapa? Riuk saya?”

”Kucing itu satwa, Pak, tak boleh disalahkan. Kita yang punya kesadaran yang bersalah.”

”Wah itu tidak adil! Jikalau ada perompak mencuri barang saya, meskipun saya pangling mengunci almari, penjarah itu harus dihukum, karena perbuatan mencuri itu menarung hukum!”

”Memang serupa itu, Pak.”

”Terus Pak RT mau nyuruh saya ngapain? Minta maaf sama Paket Michael karena saya sudah lalu menampung kucingnya? Enggak! Terima rahmat. Kalau disuruh membayar perawatan meong itu ke mantri, saya bayar, tapi kalau minta maaf, sorry, itu tidak kecenderungan saya, bukan keseleo saya teko?!”

”Memang itu maksud beliau.”

”Segala?”

”Beliau menuntut Bapak menukar ongkos berobat kucingnya.”

Pak RT merogoh dompet dan menyingkirkan kuitansi. Saya terkesiap. Harap ampun. Jumlah yang terserah di privat tanda pembayaran itu membuat candik saya masuk hangus.

”Kami bukannya lain punya duit Pak RT,” alas kata gula-gula saya yang memang cepat naik pembawaan, ”tapi ini tanya keseimbangan. Tahun kami disuruh mengongkosi meong ke dokter padahal satwa itu sudah mencuri reca-reca suami saya? Itu keterlaluan. Sekiranya perlu ke pengadilan, kita ramein di pengadilan sekarang cak agar jelas! Kita ini masih negara syariat morong?!”

Pak RT termenung. Diam-diam saya mengucap syukur. Kucing kutu busuk itu mutakadim membuat saya dan istri saya kompak pun.

”Baiklah,” alas kata Bungkusan RT kemudian, ”demi menjaga ketenteraman kita bersama dan moga tidak mengotorkan kekhusukan bulan Bulan pahala, saya cabikan jalan tengahnya. Begini. Biarlah ongkos perawatan kucing itu, saya yang menanggung. Tapi izinkan saya bagi mengatakan kepada Cangkang Michael, semua itu berpunca Bapak. Jadi perantaraan tanggungan Selongsong Michael dan batih Kiai-Ibu di sini loyal terpelihara. Bagaimana kalau serupa itu?”

”Kenapa jadi begitu, Pak RT?”

”Ya sebagai RT saya merasa bertanggung jawab lakukan mengusahakan perdamaian di antara warga.”

Saya dan istri saya kisik-bisik.

”Kalau sampai paket RT yang bayar, rasanya kami malu sekali lagi,” bisik saya.

”Memang. Lewat Cangkang RT terlalu baik sih. Seperti nabi namun.”

”Makara kami bayar saja?”

”Ya sudahlah, demi Pak RT, cak agar tidak berleleran!”

Akhirnya ongkos kucing itu ke dokter kami bayar kontan. Pak RT memuji kebersamaan kami. Saya pun lagi bersyukur, kucing itu sudah berjasa menjaga keutuhan kondominium tangga saya. Kalau tidak ada dia, sampai sekarang saya masih ceker-kuku dengan istri soal tiga kali sekali atau dua minggu sekali.

Kami terpaksa mengeluarkan Rp 200 ribu buat biaya kucing itu. Jumlah itu patut raksasa, tapi tak kombinasi saya sesali. Sebab sejak saat itu, kucing itu tidak pernah lagi nekat masuk ke internal apartemen saya. Apalagi mencuri. Takdirnya silam, dia terus saja berjalan lempeng, enggak sudi alias tak jantan menoleh,

Sekali pernah saya lalai menutupkan pintu. Sedangkan di meja makan sedang ada ayam jantan goreng nan bau harumnya muntah sampai keluar rumah. Kucing itu bohongbohongan jilat-jilat kakinya yang masih pincang. Kemudian engkau nangkring dan memandang ke dalam. Tapi hanya memandang. Sejajar sekali tidak nekat masuk. Kakinya yang pincang itu sudah membelajarkan ia kerjakan menghormati eigendom saya, sekali pun dia tetapi fauna.

”Jadi kalau suka-suka meong tinggal dempang rumah, tidak peduli kucing siapa. usir namun!” perkenalan awal saya mengindoktrinasi anak asuh saya nan yunior berumur 5 tahun.

”Kenapa?”

”Karena kalau dibiarkan, sira akan bintang sartan mencolong! Paling tidak cerih seenaknya. Sira tahu sendiri kan, kotoran meong itu bau, susah hilang!”

”Kalau nggak mau?”

”Hajar dengan batu!”

”Semua kucing?”

”Lain semua kucing sadis. Tapi kita enggak ada waktu bagi menyeleksi mana yang jahat mana yang bjaksana. Generalisasi saja, semuanya maling.”

”Kenapa?”

”Sebagai halnya kata George Washington, saja senjata yang bisa dipakai bakal menjaga perdamaian .”

”Kenapa?”

”Karena belaka kekerasan yang akan dapat mencegah kekerasan. Biar ki terbuka, almari lalai ditutup, kucing itu tidak akan berani lagi turut, karena dia terpaksa mengagungkan kita. Kamu karuan tak akan mau juga mengeluarkan Rp 200 ribu bagi mengobati kakinya yang satu lagi, karena Bapak akan mematahkan kakinya yang satu pun.”

Lewat saya tunjukkan bagaimana saya mengajari meong itu dengan melempar pokok. Rupanya buku-pokok itu memang ditakdirkan aku beli bakal menghajar maling.

”Jangan mengajari anak kamu sadis!” protes istri saya.

”Lho, hidup ini sudah kejam. mengapa. Kalau kita tidak ikut kejam, kita akan selalu jadi bahan. Sebenarnya ini enggak kezaliman, tetapi ketegasan hanya. Cak agar lain ada kebolehjadian orang lain untuk kejam terhadap kita, kita harus tegas. Kita tunjukkan kita dapat brutal!”

”Itu kan teori kamu!”

”Boleh dites, tapi itu penting kita harus matang reca-reca juga!”

Istri saya membalikkan muka tak menanggapi. Tapi dia gadis yang baik. Engkau tidak sampai lever membiarkan dendam saya lega reca-patung berkelanjutan. Sehari pasca- saya sambat, ikan patung-arca itu sudah lalu menanti di atas meja menjelang waktu waktu buka.

Dengan tak sabar saya tunggu ceramah Pak Quraish Shihab di televisi nan dipandu oleh sang cantik Inneke Koesherawati. Sekali ini rasanya lama sekali. Bau reca-reca itu sudah meretas-cabik.

”Lihat kucing itu sudah bengong di situ!” kata istri saya menunjuk keluar tingkap. ”Nggak bakalan ada kapoknya. Namanya sekali lagi binatang!”

Saya ngintip. Kucing itu memang lagi termenung di pagar rumah. Tapi itu jelas akting. Dia pasti sudah mengendus bau reca-arca nan mutakadim senggang membuat kakinya dingklang.

”Tutup jendelanya, Pak!”

”Tidak usah. Ini saatnya cak bagi mengawasi apa kondominium kita ini masih dia hormati?!”

Sebaliknya dari menyelimuti ventilasi, daun jendela saya kuakkan sintal-lebar. Bab dibuka. Saya pura-pura tak mengingat-ingat kedatangan kucing itu. Ikan reca-reca itu saya pajang di atas kenap di teras, tanpa ditutupi. Saya mau membuktikan, apakah meong itu masih mempunyai nekat.

”Aneh!” kata cem-ceman saya.

Saya tidak peduli. Saya kepingin membuktikan legalitas teori presiden pertama Amerika Serikat itu.

Seperti itu azan magrib terdengar, kucing itu makin gugup. Dia tak kutung-putusnya melongok ke arah meja di teras. Kelihatan nafsunya bergolak. Tapi pelajaran yang sudah diterimanya lain membiarkan dia mengalir lebih jauh berpangkal pagar. Sebaliknya, meninggalkan pagar pun dia tidak cak hendak. Reca-reca itu memang terlalu luhur buat ditinggalkan.

”Cak hendak makan ataupun kepingin ngurus kucing bersantap?!” bentak istri saya kesal.

”Stttt! Tatap, aku sudah berhasil menghajar binatang itu bagaimana memuliakan teritorial kita!”

”Ntar ikannya disambar sekali lagi, plonco nyesel!”

”Nggak bakalan!”

”Namanya juga kucing!”

”Enggak mungkin! Kakinya yang timpang itu, telah membentuk kamu ngeper seorang!”

Tapi seketika anak asuh saya yang kecil muncul dari samping. Dia membawa batu cak hendak melempar binatang itu, sesuai dengan yang saya ajarkan. Kucing itu cepat berbalik. Ternyata anda tidak meleleh. Kakinya nan cidera seperti seketika sembuh. Dia membungkuk menanti serangan. Anak saya bukan mengingat-ingat bahaya, terus mendekat dengan alai-belai di tangan yang siap dilemparkan.

Dan kucing itu menyepak.

”Pak!” teriak istri saya.

Saya serampak nongol di tingkap. Belum luang berteriak, kucing itu sudah terkinjat meluluk muka saya. Sira kontan membatalkan serangannya, lewat nocat ke urut-urutan dan remang. Tapi sebuah mobil yang meluncur cepat menerima lompatannya. Kucing itu tergilas.

Saya tertuju. Takjub menyibuk tuan mobil itu, sudah membantai peliharaan kesayangannya. Untung saya belum sempat teriak. Raba-rubu saya beri isyarat candik saya cak agar membawa Dede masuk.

Malam hari kami lebih cepat menutup pintu dan mematikan lampu. Saya tahu Pak Michael pasti semenjana uring-uringan. Saya menghindari pergesekan. Musim rembulan lugu harus berhantaman karena pertanyaan kucing.

Esoknya, seperti yang sudah diduga, Pak RT unjuk. Saya lebih sangat menegor.

”Bulan Bulan puasa tidak bisa mengumbar emosi kan Kelongsong RT?”

Selongsong RT tersenyum seperti kena sindir.

”Betul, Pak. Tapi kalau tertekan apa boleh untuk.”

”Lho boleh?”

”Habis jika nyolong melulu?!”

Saya mematung.

”Kali Kelongsong RT?”

”Mungkin lagi! Almarhum!”

”Almahum siapa?”

”Kucing yang Bapak bunuh itu.”

Saya tertegun. Pat RT mesem.

”Saya bukan gorok meong itu! Kan nan punya sendiri yang menggilasnya!”

”Ya untungnya begitu. Tapi sebenarnya dia sudah mati sejak Bapak mematahkan kakinya.”

Saya enggak menjawab.

”Sejak kakinya terpotong, meong itu enggak berani lagi menceracam ikut ke apartemen. Bukan hanya rumah Bapak, sekali lagi rumah saya dan rumah-rumah yang lain. Dan sejak itu pula, tak terserah yang kontak kehilangan ayam atau lambung tidak mulai sejak bidang datar secara misterius. Rupanya selama ini kucing itu biang keroknya.

Sekarang kita aman…”

”O ya?”

Pak RT senyum lagi.

”Ya.”

”Takdirnya sejenis itu bagus dong.”

”Bagus.”

”Makara kita aman saat ini. Tidak terserah tenang dan tenteram, tidak suka-suka tai kucing?”

”Ya. Bakal sementara.”

”Temporer?”

”Buat sementara.”

”Kenapa?”

”Sebab Sampul Michael sudah membeli tiga ekor kucing sekali lagi buat mengganti kesayangan istrinya itu. Habis istrinya nangis terus kekurangan kucingnya.”

Saya terhenyak.

”Berharga kita harus melakukan pembantaian sekali lagi?”

Pak RT tertawa.

”Tidak usah. Pas biasakan menyikap pintu dan almari dapur.”

”Dan mematahkan kakinya lega kesempatan permulaan kamu mencuri?!”

”Betul!”

”Sebab kalau dibiarkan alias dimaafkan, ia karuan akan mengulang dan lama-lama bintang sartan ki aib!”

”Betul.”

Saya tertawa.

”Kalau begitu kita cs Pak RT.”

Saya menjulurkan tangan. Lalu kami berjabatan.

”O ya, saya pangling,” kata Pak RT sambil merogoh kantungnya, lalu mengulurkan selembar kuitansi. Darah saya tersirap.

”Apa ini?”

”Menurut Paket Michael nan menjagal kucingnya itu, Bapak. Bapak diminta dengan silam kepingin mengganti pembelian ketiga kucing yang baru dibelinya itu.”

Sampul RT suntuk serupa itu hanya meninggalkan saya. Seakan-akan lain ada sekufu sekali keanehan dalam peristiwa itu. Saya bingung. Seketika saya jadi pembunuh yang harus dihukum. Mana hayat nabi serta kebesaran Pak RT nan dulu tertentang begitu baplang untuk menjaga ketenteraman warga. Kenapa saya dianggap pantas menerima pemutarbalikkan nan galau itu.

Manusia dan hewan sama saja, teriak saya relung hati. Sangat saya kejar Pak RT ke rumahnya. Saya ulurkan kuitansi itu ke mukanya. Cak agar beliau menatap dengan baik, bukan kuantitas yang tertera di sana yang membuat saya mabok, tetapi maknanya. Hakikatnya. Dan minus bicara sepatah introduksi pun, saya tersobek kuitansi itu di depan matanya. Berantara menjadi potongan-potongan kerdil. ***

Source: https://imamzainudin.blogspot.com/2014/06/cerpen-karya-putu-wijaya-kucing.html

Posted by: soaltugas.net