Contoh Ceramah Tentang Sopan Santun

10 Contoh Bacaan Ceramah Ringkas beserta Konotasi & Struktur | Bahasa Indonesia Kelas 11

Contoh Teks Ceramah - Pengertian - Tujuan - Struktur

Menengah mencari referensi cak bagi mewujudkan skenario ceramah? Di artikel Bahasa Indonesia kelas 11 ini menyediakan himpunan contoh wacana ceramah dalam berbagai kegiatan keagamaan, disertai dengan pengertian, tujuan, struktur, dan ciri-cirinya berikut ini.



Hai, sudahkah kamu mendengar ceramah hari ini? Di mana beliau legal mendengar pidato?
Yup, lektur kebanyakan terwalak dalam kegiatan keagamaan, sebagaimana momen shalat Jumat, pengajian, misa di gereja, atau dalam kegiatan keagamaan lainnya. Melampaui kata sandang ini, kita akan belajar mengenal khotbah, tiba mulai sejak denotasi, tujuan, struktur, ciri-ciri, dan eksemplar teks orasi. Yuk, simultan saja disimak!

Pengertian Teks Ceramah

Ceramah yaitu penyajian pesan, pemberitahuan, ataupun pengetahuan yang dilakukan oleh orang yang kompeten di bidangnya dan disampaikan di depan umum.
Sosok yang mengerjakan pidato disebut penceramah. Sebelum berceramah, pensyarah terlebih dahulu menyiapkan materi berbentuk referensi ceramah sesuai dengan tema acara.

Nah, sementara itu,
n

eks

khotbah adalah transkripsi alias bentuk tercatat semenjak kegiatan menyampaikan pesan di depan umum.
Tidak pelik, makhluk-bani adam menjuluki ceramah andai pidato atau khotbah. Keduanya seringkali dianggap serupa karena isinya menganjurkan pesan di depan khalayak gegap-gempita. Hanya, sebenarnya terwalak perbedaan antara pidato, pidato, dan pidato, loh! Di antaranya berikut ini:

  • Ceramah:
    pengungkapan perhatian intern rajah kata-kata yang ditujukan kepada orang banyak dan bersifat persuasif, yakni berisi pelawaan alias galakan kepada bani adam buat berbuat sesuatu.
  • Khotbah:
    pembicaraan di depan umum yang berisi pengutaraan embaran keagamaan, praktik beribadah, atau  ajakan-ajakan keagamaan.

Baca Pula: Mari, Kenalan dengan Denotasi Teks Ceramah, Unsur, Struktur, dan Ciri Kebahasaanya


Tujuan Referensi Ceramah

Saat sedang membuat wacana ceramah, dia harus menghakimi tujuan ceramah itu seorang, gais. Terserah beberapa macam pamrih teks orasi, di antaranya harus informatif, persuasif, dan rekreatif. Maksudnya apa ya?



1. Memberitahukan (informatif)

Ceramah informatif ditujukan kerjakan menambah butir-butir mustami. Misalnya, pidato tentang peranan para siswa pada perian perang kemerdekaan.

2. Memengaruhi (persuasif)

Orasi persuasif bertujuan agar pendengar mempercayai, menyetujui, maupun malah mengajuk ajakan penceramah. Misalnya, ceramah tentang hidup segak dan menjaga kebugaran lingkungan.

3. Menyabarkan (rekreatif)

Ceramah rekreatif bermaksud hendaknya pendengar merasa terhibur. Biasanya, ceramah ini banyak diwarnai oleh kejenakaan, anekdot, atau guyonan yang memancing tertawa pendengar.


Ciri-ciri Teks Ceramah

Struktur Pustaka Ceramah

Seperti jenis teks lainnya, wacana ceramah juga memiliki struktur. Tentang struktur referensi ceramah, di antaranya sebagai berikut:

1. Tesis

Kebal introduksi isu, masalah, ataupun pandangan pembicara mengenai topik yang akan dibahas.

2. Kekeluargaan Argumen

Berisi rukyah-pandangan pembicara yang dipaparkan untuk membantu tesis.

3. Penegasan Ulang

Sakti hasil penalaran, simpulan, ataupun saran dari pembicara tercalit topik yang dibahas.

Baca Pun: Kumpulan Abstrak Pustaka Eksplanasi beserta Strukturnya


Kaidah Kebahasaan Wacana Orasi

Nah, selain memperhatikan tujuan dan struktur teks ceramah, ia juga perlu lhooo mengetahui cara kebahasaannya. Apa saja, ya? Berikut penjelasan lengkapnya!


1. Sapaan dengan introduksi ganti orang mula-mula (tersendiri) dan kata ubah makhluk kedua sah

Pronomina persona permulaan yang dimaksud antara lain sebagaimana


 saya, aku


, atau



kami



apabila penceramahnya mengatasnamakan kerumunan.

Selain itu, teks orasi sekali lagi sering menggunakan kata teguran yang ditujukan sreg bani adam banyak, begitu juga



hadirin, kalian, bapak-kiai, ibu-ibu, saudara-saudara.

2. Menggunakan kata teknis atau istilah

Teks orasi kebanyakan banyak menggunakan kata-pengenalan teknis alias peristilahan berkenaan dengan topik nan dibahas.

Contohnya sreg teks ceramah tentang komplikasi kebahasaan, istilah-istilah nan muncul n domestik teks adalah



sarkastis, eufemistis, tata krama, etika berbahasa


, dan sebagainya.


3. Menggunakan kata-kata nan menunjukkan gabungan kausalitas

Teks ceramah pun menggunakan perkenalan awal-kata yang menunjukkan argumentasi sebab-akibat. Contohnya seperti



jikalau… maka, sebab, karena, dengan demikian, balasannya, oleh karena itu.

4. Menggunakan kata-kata yang menyatakan wasilah temporal

Selain itu, referensi ceramah kembali bisa menggunakan pembukaan-pengenalan yang menyatakan hubungan temporal atau neraca (penangkisan), sebagaimana



sebelum itu, kemudian, pada hasilnya, sebaliknya, berbeda halnya, saja.

5. Memperalat prolog kerja mental

Segala apa itu introduksi kerja mental? Verba mental itu sebagaimana



diharapkan, memprihatinkan, memperkirakan, impresif, menduga, berpendapat, berasumsi, menyimpulkan


.

6. Memperalat alas kata persuasif

Kata-kata persuasif yang umum digunakan antara lain sebagaimana



hendaklah, sebaiknya, diharapkan, perlu, harus.


Arketipe Bacaan Orasi

Oke, setelah memahami pengertian, tujuan, struktur, sampai kaidah kebahasaan teks khotbah, selanjutnya


yuk


kita belajar bersama-sebanding eksemplar naskah ceramah sesuai dalam berbagai tema berikut ini.



1. Contoh Teks Ceramah adapun Sikap Kudus


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Puji syukur selalu kita ucapkan kepada Allah SWT karena atas hidayah dan hidayah-Nya kita bisa berkumpul di sini dalam keadaan segar wal afiat. Kali ini, izinkanlah saya memberikan sepatah dua terpenggal kata tentang sikap ceria.

Rasulullah SAW n domestik sebuah hadits berkata, ”Allah tidak mengamini darmabakti kecuali dilakukan dengan putih lakukan berburu ridha Allah amung.”

Oleh karena itulah, segala apa hal yang kita lakukan harus dengan sikap ikhlas. Pasalnya, Allah SWT lain akan menerima kelakuan apapun nan kita untuk tanpa didasari rasa nirmala.

Mulai masa ini, mari kita bersama-selaras terus memupuk sikap asli, terlebih saat beramal. Tak wajib pamrih, meski Tuhan SWT yang membiji apa yang kita lakukan. Ingat belalah, kata kuncinya adalah ikhlas.

Demikian ceramah saya plong kali ini, mudah-mudahan saya dan teman-p versus sekalian bisa mengambil makna dari pidato ini dan mengimplementasikannya di manjapada berupa.

Wassalamualaikum wr. wb.


2. Contoh Teks Kuliah mengenai Sikap Sabar

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hadirin yang saya hormati, marilah kita ucapkan puji terima kasih kepada Allah SWT  nan hingga detik ini masih menganugerahi hidup dan kesehatan.

Teradat kita ingat saudara-saudara bahwa sudah hampir setahun endemi Covid-19 melanda seluruh bumi. Sreg situasi ini, silakan kita belajar untuk sabar menghadapi musibah ini. Panjang usus menghadapi musibah ini.

Kerumahtanggaan surat Al-Baqarah ayat 153, “Hai orang-sosok yang beriman, jadikanlah sholat dan sabar sebagai pelindungmu, sesungguhnya Sang pencipta SWT senantiasa bersama orang-individu yang sabar.”

Allah SWT senantiasa mengingatkan kita kerjakan sabar, riuk satunya melalui ayat tersebut. Dengan sabar, kita akan terlindung dari segala emosi buruk nan justru memperkeruh suasana. . Dengan demikian, kita harus sabar menunggu situasi menjadi kian baik salah satunya dengan terus menerapkan protokol kesehatan.

Demikian abnormal yang dapat saya sampaikan. Harap pemaafan bila terserah pelecok kata maupun ucapan nan invalid berkenan.

Wassalamualaikum wr.wb.


3. Contoh Teks Ceramah tentang Rasa Syukur

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Sudahkah oponen-teman sedarun berterima kasih tahun ini?
Terima kasih selain membawa ketabahan batin jikalau terus diterapkan akan membawa kenikmatan kerumahtanggaan semangat. Keadaan ini karena berlega hati mempunyai peranan yang berfaedah dalam menata tindakan yang menginjak dari lever.

Jika kita melihat beragam peristiwa yang terjadi penghabisan-akhir ini, kita akan menyadari salah satu akar tunjang masalahnya adalah kurang bersyukur. Rasa kurang bersyukur yang dimiliki maka dari itu hamba allah ini membawa banyak kekacauan. Oleh karena itu, dengan bersyukur yang benar tentu akan babaran perilaku yang baik dan tepat.

Mengenai sikap berterima kasih ini, Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 152 dan 172, artinya seperti ini, “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku lagi akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar.”

Dalam ayat satunya Allah berfirman yang artinya, “Duhai orang-basyar yang beriman! Makanlah berpangkal nafkah nan baik yang Kami berikan kepada engkau dan bersyukurlah kepada Allah jika sira hanya menyembah kepada-Nya”

Dua ayat diatas jelas mensyariatkan kita buat bersyukur atas segala saja nan Halikuljabbar SWT berikan kepada kita.

Selain itu, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini bukan didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan faedah baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, engkau pula menahan perasaan, maka yang demikian itu yaitu kebaikan pula baginya.” (HR. Muslim)

Saya kira cukup hingga di sini kita ceratai pentingnya rasa syukur ini, semoga kita bisa mengamalkannya secara terus menerus internal spirit ini.

Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


4. Contoh Referensi Ceramah akan halnya Menuntut Ilmu

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Syukur Alhamdulillah, sampai saat ini kita masih diberikan kesehatan maka dari itu Allah SWT sehingga kita semua dapat berkumpul dalam program ini. Selawat serta salam ‘bukan lupa kita haturkan kepada suami kita Nabi Muhammad SAW. Semoga kita semua mendapatkan syafaatnya plong hari penutup kelak. Aamiin.

Hadirin nan dirahmati Allah SWT, lega kesempatan ini, izinkan saya mendongeng mengenai pentingnya menuntut ilmu. Tentu kita ingat, dengan ilmu pengetahuan kita akan mendapatkan pemahaman. Salah satunya betapa pentingnya menuntut ilmu sebagai halnya telah diberikan contoh Halikuljabbar melewati firman pertama yang turun. Bahwasanya Allah mengajari Rasul Muhammad SAW bagi membaca.

Surat Al Mujadalah ayat 11 lagi menerangkan kepada kita tentang kedudukan orang yang menuntut mantra.  Almalik akan mengeraskan derajat orang-orang berilmu.

Tanpa ilmu pengetahuan, kita akan buta dengan apa yang ada di sekitar kita. Kita akan kesulitan menentukan sebelah etis dan salah. Makanya sebab itu, jangan pernah penat dan nongkrong menuntut mantra.

Demikian yang saya tuturkan, apabila terserah salah ucap saya mohon maaf. Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

5. Contoh Bacaan Orasi tentang Kematian

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Para hadirin, tidak lupa selalu kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT. Atas limpahan karunia-Nya lah kita boleh berkumpul di sini internal keadaan sebaik-baiknya.

Kesempatan ini biarkan lah saya memanfaatkannya untuk memberikan sepatah dua patah kata tentang kematian.

Para hadirin, apa yang paling dekat dengan kita? Bukan makhluk-orang yang kita cintai, lain pula kekayaan. Perlu kita sadari, apa yang paling kecil dekat dengan kita adalah mortalitas.

Surat Ali Imran ayat 185 telah menjelaskan bahwa kematian tentu akan menghampiri setiap basyar yang roh di bumi. Soal waktu bilamana datangnya, lain terserah satupun manusia nan mengetahui. Enggak ada khalayak di bumi ini yang mengetahui pron bila ajalnya mengundang.

Oleh karena itu, marilah kita tiba merabuk kebaikan dan amalan lakukan bekal di alam baka kelak. Bukan ada yang boleh menolong diri kita sendiri, selain amal perbuatan baik.

Sekian ceramah tentang mortalitas dari saya. Semoga kita semua selalu terlindung dari ikab api neraka.

Wassalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh.

Baca Juga: Kompilasi Eksemplar Teks Prosedur Sederhana, Obsesi, dan Protokol


6. Contoh Teks Ceramah tentang Kesantunan privat Bercakap

Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang berbahagia,

Pemilihan kata-kata oleh mahajana penghabisan-akhir ini cenderung semakin menurun kesantunannya dibandingkan dengan zaman saya dahulu ketika kanak-kanak. Peristiwa tersebut tertentang lega ungkapan-ungkapan pada banya
k

kalangan n domestik menyatakan pendapat dan perasaannya, sama dengan ketika berdemonstrasi ataupun rapat-rapat publik. Kata-kata mereka kasar atau bertendensi menyerang. Tentu saja, hal itu sangat menggores hati yang menerimanya.

Gejala yang setimpal terlihat juga lega penggunaan bahasa oleh para politisi kita, misalnya detik melontarkan kritik terhadap garis haluan pemerintah. Tanggapan-tanggapan mereka terdengar pedas, vulgar, dan bilang di antaranya menghadap provokatif. Padahal sebelumnya, lega zaman pemerintahan Orde Baru, pemakaian bahasa dibingkai secara santun suntuk penyortiran kata yang dihaluskan maknanya (epimistis).

Kita pun pasti gelisah sebagai orang tua bangka. Kita sering menyaksikan resan berbahasa anak asuh-anak dan para remaja yang garang dengan dibumbui sebutan-sebutan antarsesama nan lampau miris untuk didengar.

Fenomena tersebut menunjukkan adanya penjatuhan standar moral, agama, dan tata kredit yang dolan dalam masyarakat itu. Ketidaksantunan berkaitan sekali lagi dengan rendahnya penghayatan mahajana terhadap budayanya sebab kesantunan berpendidikan itu lain belaka berkaitan dengan kecermatan dalam pemilikan kata ataupun kalimat. Kesantunan itu berkaitan lagi dengan adat korespondensi yang bertindak privat umum itu.

Penyebab utamanya adalah perkembangan publik yang sudah tidak menghiraukan perubahan nilai-nilai kesantunan dan tata krama intern satu masyarakat. Misalnya, kesantunan (pengelolaan krama) yang dolan sreg zaman kekaisaran yang berlainan dengan yang berlangsung pada masa kebebasan dan pada masa kini. Kesantunan juga berkaitan dengan palagan: poin-biji kesantunan di jawatan berbeda dengan di pasar, di terminal, dan di rumah.

Pergaulan menyeluruh dan pertukaran informasi kembali mengirimkan pengaruh puas pergeseran budaya, khususnya berkaitan dengan nilai-angka kesantunan itu. Fenomena demikian menyebabkan para cukup umur dan anggota masyarakat lainnya gamang dalam berbahasa. Pada akhirnya mereka punya mandu bertata cara nan mereka anggap berkelas, tanpa mengindahkan kaidah bahasa yang sesungguhnya.

Sepikiran dengan perubahan perian dan tantangan global, banyak hambatan intern upaya penataran penyelenggaraan krama berbahasa. Misalnya, tayangan televisi yang bertolak belakang dengan pendirian penyelenggaraan jiwa dan pengelolaan krama manusia Timur. Padahal, sekolah kembali kurang memperhatikan kesantunan berbahasa dan bertambah mengutamakan kualitas otak siswa privat perebutan iptek.

Selain itu, kesantunan berpendidikan bosor makan juga diabaikan dalam mileu anak bini. Sedangkan, belajar bahasa sebaiknya dilaksanakan setiap hari agar anak boleh menghayati betul bahasa nan digunakannya. Momongan belajar pengelolaan santun berbahasa mulai di lingkungan tanggungan.

Nilai-nilai kesantunan beristiadat n domestik beragama juga merupakan keseleo suatu kewajiban manusia yang bentuknya berupa perkataan yang kecil-kecil dan enggak menyakiti orang lain. Kesantunan dipadankan dengan konsep qaulan karima yang berarti mulut nan letoi lembut, penuh dengan pengultusan, penghargaan, pengagungan, dan sanjungan kepada manusia lain. Berbahasa santun juga sama maknanya dengan qaulan ma’rufa yang bermakna berkata-pembukaan nan sesuai dengan biji-skor yang diterima n domestik masyarakat perawi.

Oleh karena itu, pendidikan etika berbahasa memiliki peranan nan sangat terdahulu. Perolehan pendidikan kesantunan berbahasa sangat diperlukan laksana salah satu hukum dalam beragama. Dengan kesantunan, dapat tercipta harmonisasi sangkutan dengan mileu sekitar. Penghijauan kesantunan berbahasa juga sangat berwibawa positif terhadap kematangan emosi seseorang. Semakin intens kesantunan beristiadat itu boleh ditanamkan, kedewasaan emosi itu akan semakin baik. Aktivitas berpendidikan dengan emosi berkaitan erat. Kemarahan, kesenangan, kepahitan, dan sebagainya tercermin dalam kesantunan dan ketidaksantunan itu.

Berbahasa santun mudahmudahan sudah menjadi suatu tradisi yang dimiliki oleh setiap manusia sejak kecil. Anak terbiasa dibina dan dididik bertata cara santun. Apabila dibiarkan, bukan bukan-bukan rasa kesantunan itu akan hilang sehingga anak asuh itu kemudian menjadi bani adam yang arogan, kasar, dan kering berpokok nilai-nilai etika dan agama. Pasti saja, kondisi itu tak diharapkan oleh orangtua dan masyarakat manapun.

7. Contoh Bacaan Ceramah tentang Waktu Pahlawan

Bapak-bapak dan ibu-ibu yang saya hormati,

Sepemakan lagi kita akan sampai lega hari nan sangat bersejarah, yaitu tanggal 10 November atau yang disebut dengan Hari Pahlawan. Pada hari itu kita seluruh bangsa Indonesia akan mengenang sekali lagi keadaan ki akbar sebagai paksa ki kenangan yang terjadi di Surabaya lega tanggal 10 November 1945.

Pertempuran hebat telah terjadi pada saat itu antara para nasionalis nasion yang bahadur berani menandingi tentara Perkongsian. Betapapun transendental senjata tentara Sekutu, saja tidak sedikitpun nasion Indonesia merasa merembas dan mungil hati. Padahal pada masa itu senjata nan kita miliki sebagian besar hanyalah tombak bambu. Padahal, pihak jodoh telah menggunakan senjata-senjata berat dan modern. Akan tetapi, dengan bekal usia yang menggelora serta keagamaan nan kuat, tak setapakpun mereka mundur apalagi terus bertamadun menantang maut.

Hadirin yang berbahagia,

Kita optimistis bahwa para pejuang yang ringgis di arena balasan di Surabaya copot 10 November 1945 melawan barisan serikat dagang yang rangah dan keganasan murka itu mati syahid. Maka itu sebab itu, sudah sewajarnyalah sekiranya kita bangsa Indonesia mengagungkan jasa mereka dengan memanjatkan doa kepada Allah hendaknya arwah mereka dikabulkan-Nya dengan kemuliaan yang paling-paling. Semoga mereka diampuni segala apa dosanya dan dilimpahi hadiah yang sebanyak-banyaknya.

Di samping itu wajib kita ketahui bahwa menghormati jasa para pahlawan bukan hanya kita harus mewiridkan mereka, hanya yang lebih terdepan lagi merupakan meneladani mereka dengan penuh semangat serta meneruskan penangkisan mereka dengan tekad yang bulat. Barangkali akan menyesallah mereka takdirnya para generasi taruna enggak nyali menegakkan kebenaran dan keadilan serta tidak berani menyirnakan kemungkaran.

Saudara-saudaraku yang mendapat habuan,

Bukanlah bangsa yang osean, jika kita tidak bisa menghormati para pahlawan yang telah gugur memandu kita. Kewiraan dan tekad mereka, kita jadikan cermin pemandu nan dapat membimbing kita menuju kepada keutamaan amal dan menggiatkan kita buat berjuang dalam usaha membangun negara dan bangsa nan aman, tenteram, dan sentosa.

Akhirnya, mari kita panjatkan doa seyogiannya hidup para pahlawan kita masin lidah di sisi Allah dengan ketinggian yang sebabat-tingginya. Kemudian, agar kita dan zuriat kita bisa menjumut suri teladan kerjakan diamalkan dalam membangun negara nan aman, sentosa, netral, dan bernas.

8. Transendental Pustaka Orasi tentang Penggunaan Bahasa Antar Pelajar

Plasenta-saudara yang palamarta, suatu ketika saya melihat bilang orang siswa asyik melanglang di depan sebuah kelas bawah dengan langkahnya nan pas mewujudkan orang di sekitarnya merasa bising. Terdengar percakapan di antara mereka yang terka-kira begini, “Punya liang semalam hilang.” Terdengar pula sahutan salah seorang mereka, “Lho, kalau mempunyai gua, sederajat elu kemanain?”

Tidak menyangka, salah seorang pelajar di samping saya juga menuduh percakapan mereka. Kamu kemudian nyeletuk, “Gua apa: Terowongan Selarong atau Gua Jepang?”

Sejumlah siswa yang mendengarnya tertawa katai. Di antara mereka suka-suka yang berbisik, “Serasa di Terminal Kampung Rambutan lekang, ye…?”

Situasi tersebut menyantirkan bahwa terserah dua kelompok siswa nan punya sikap berbahasa yang berbeda di sekolah tersebut. Kelompok pertama adalah mereka nan kurang n kepunyaan kepedulian terhadap eksploitasi bahasa yang baik dan benar. Keadaan ini tampak sreg ragam bahasa yang mereka gunakan nan menurut pasemon siswa kelompok kedua sebagai ragam bahasa Kampung Rambutan. Bahasanya turunan-orang Betawi.

Berasal komentar-komentarnya, kelompok pesuluh kedua memiliki sikap kritis terhadap prinsip penggunaan bahasa temannya. Mereka mengetahui makna gua yang benar kerumahtanggaan bahasa Indonesia adalah ‘gerohok pada tungkai gunung’. Dengan makna tersebut, introduksi gua seharusnya ditujukan untuk penyebutan toponimi, seperti Liang Selarong, Lubang Jepang, Gaung Pamijahan, dan selanjutnya; dan bukannya pengganti orang (persona)
.

Sangat beruntung, sekolah saya itu masih memiliki kerumunan siswa yang peduli terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan bermartabat. Padahal rata-rata sekolah, penggunaan bahasa para siswanya memusat lebih tidak terkontrol. Yang dominan adalah ragam bahasa pasar atau bahasa gaul. Nan banyak terdengar yakni saringan kata seperti elu-liang.

Kiai-buya dan Ibu-ibu, prasangka baik saya waktu itu bukannya mereka tidak memahami akan perlunya ketertiban berbahasa di lingkungan sekolah. Saya berkeyakinan bahwa doktrin tentang “berbahasa Indonesialah dengan baik dan benar” mutakadim mereka peroleh jauh-jauh sebelumnya, sejak SMP atau apalagi

sejak mereka SD. Saya melihat ketidakberesan mereka berbahasa, antara enggak, disebabkan oleh kekurangwibawaan bahasa Indonesia itu sendiri di ain mereka.

Ragam bahasa Indonesia ragam seremonial mereka anggap kurang “asyik” dibandingkan dengan bahasa gaul, tambahan pula dengan bahasa asing, baik itu internal pergaulan alias ketika mereka sudah masuk dunia kerja. Tuntutan kehidupan modern telah membelokkan apresiasi para siswa itu terhadap bahasanya seorang. Bahasa asing berkesan lebih bergengsi. Tutorial bahasa Indonesia tidak jarang ditanggapi dengan sikap sinis. Mereka merasa lebih asyik dengan mengikuti tutorial bahasa Inggris atau alat penglihatan syarah lainnya.

Internal kehidupan masyarakat umum pula, kinerja bahasa Indonesia memang menunjukkan kondisi yang semakin tidak menggembirakan. Setelah Badan Bahasa tidak sekali lagi menunjukkan peran aktifnya, bahasa Indonesia menunjukkan perkembangan ironis. Bahasa Indonesia digunakan seenaknya seorang; lain doang maka itu lingkaran terpelajar, cuma juga oleh para ketua dan wakil rakyat.

Koteng pejabat negara berkata dalam sebuah wawancara televisi, “Content undang-undang tersebut nggak semacam itu, cak kenapa. Ada dua item nan harus kita perhatikan di dalamnya.” Pejabat tersebut nada-nadanya merasa dirinya lebih hebat dengan menggunakan kata content tinimbang kata isi ataupun kata item ketimbang kata bagian atau hal.

Penggunaan bahasa yang obrak-abrik juga banyak dipelopori oleh pematang pebisnis. Awak kampanye, pemilik toko, dan pemasang iklan kian pandai menggunakan bahasa asing. Seorang pabrikan salon makin merasa bersikap dengan nama usahanya yang bermerek Susi Salon daripada Salon Susi atau pengusaha kue lebih berkeyakinan diri dengan tokonya nan bernama Lutfita Cake ketimbang Toko Kue Lutfita. Akan terasa aneh terdengarnya apabila kemudian PT Jasa Marga latah menamai jalan-jalan di Bandung dan di kota-kota lainnya, misalnya, menjadi Sudirman Jalan, Kartini Jalan, Soekarno-Hatta Urut-urutan.

Hadirin yang berbahagia, guri terdidik dengan julukan hebatnya perumpamaan “tulang bekas kaki negara, pamrih hari depan bangsa” seharusnya tidak larut dengan kebiasaan sama dengan itu. Para murid apalagi harus menunjukkan kelas idiosinkratis dalam situasi berpendidikan
.

Ketekunan para siswa dalam memafhumi literatur-literatur ilmiah sesungguhnya merupakan kendaraan efektif intern mengakrabi ragam bahasa absah. Dari literatur-literatur tersebut mereka dapat mencontoh tentang akal pikiran, berasa, dan berkomunikasi dengan bahasa nan bertambah sensibel dan tertata.

Semata-mata, lain lagi ceritanya kalau yang dikonsumsi itu berupa majalah hiburan yang penuh gosip. Forum gaulnya faktual komunitas dugem; literatur utamanya kronik-koran kuning, jadinya ya…, gitu deh…. Polah bahasa elu-gue, oh-yes… oh-no…. nan siapa akan lebih banyak mewarnai.

9. Teoretis Teks Pidato mengenai Pergaulan Bebas

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Segala puji kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala apa enak-Nya yang telah diberikan kepada kita semua. Shalawat serta salam tak lupa kita sanjungkan keharibaan nabi besar Muhammad SAW.

Bapak-bapak, ibu-ibu, dan teman-teman sekalian. Saat ini ini, kita berada di zaman kebebasan, yaitu zaman di mana nilai-nilai keimanan yang kita anut mutakadim tidak lagi menjadi birai kita internal berperilaku. Pergaulan netral adalah sesuatu yang marak terjadi momen ini. Hal ini merupakan ki kesulitan yang membidas pribadi-pribadi labil, begitu juga para akil balig. Mereka mencoba hal apapun, tanpa mempedulikan batasan yang sudah ditetapkan maka itu agama, mileu soial, dan hukum.

Perpautan bebas sendiri diartikan sebagai satu pergaulan nan lain mempunyai batasan, mengabaikan norma-norma agama, atau mahajana. Oleh karena itu, pergaulan independen menghadap berorientasi ke hal yang negatif, seperti seks bebas, pemaiakan narkoba, dan lain-lain.

Remaja-muda kita yang merupakan generasi penerus bangsa telah dibutakan dengan pergaulan sonder adanya batasan. Mereka tidak pula mengenal mana nan benar dan mana yang salah. Maka dari itu karena itu, banyak sekali remaja-mulai dewasa yang masih sekolah mutakadim kekurangan kehormatannya. Lemahnya iman dan kurangnya pemahaman agama untuk mulai dewasa juga dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya kombinasi nonblok.

Sepantasnya Selam mutakadim mengatur etika asosiasi bikin cukup umur. Perilaku tersebut merupakan batasan-batasan yang dilandasi nilai-nilai agama. Oleh karena itu, sudah seharusnya para remaja memperhatikan dan melaksanakan etika-etika koalisi dalam rukyat Selam untuk mencegah terjadinya sesuatu nan dilarang Almalik SWT. Perilaku nan menjadi batasan n domestik pergaulan di antaranya:

1. Menutup Aurat

Islam telah memerintahkan laki-laki dan cewek untuk menutup genitalia demi menjaga kebersihan diri dan kehormatan hati. Aurat merupakan anggota tubuh nan harus ditutupi dan tidak dapat diperlihatkan kepada cucu adam nan bukan mahramnya. Disamping menutup alat kelamin, pakaian nan dikenakan juga tidak boleh ketat, sehingga memperhatikan kolong anggota awak, dan juga bukan boleh tipis atau transparan.

2. Menyingkir Perbuatan Zina

Pergaulan antara laki-junjungan dengan perempuan diperbolehkan selama masih suka-suka batas dan enggak membeberkan peluang terjadinya ulah dosa. Islam adalah agama yang menjaga virginitas. Susunan di dalam Selam dilandasi oleh nilai-skor kesucian. Dalam perkariban dengan antiwirawan keberagaman harus dijaga jarak, sehingga lain cak semau kesempatan terjadinya kejahatan seksual yang dapat merugikan diri pelaku, keluarga, dan mahajana sekitar.

Pergaulan objektif dilarang karena menyebabkan terjadinya perbuatan nan tidak terpuji, sampai-sampai akan berjauhan dengan suatu kejadian yang lebih buruk. Oleh karena itu, bak hamba allah yang beragama, kita harus menjauhi perbuatan zina, dan mewatasi pergaulan terhadap cucu adam yang bukan mahramnya. Demikian saya akhiri syarah pada hari ini, hendaknya bapak, ibu, dan teman-padanan langsung boleh mendapat kursus. Cacat lebihnya saya mohon maaf.

Wabilahi taufik wal pemberian, wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

10. Contoh Bacaan Orasi akan halnya Etis Santun pada Ibu bapak

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh,

Alhamdulillahi robbil ‘alamin, assholaatu was salamu ‘ala asrofil ambiak iwal mursalin wa ala alihi shohbihi wa man tabi’ahum biihsani ilaa yaumid dien… amma ba’adu.

Segala apa puja dan puji syukur kita panjatkan kehadiat Allah SWT, sholawat tak tengung-tenging kita curahkan kepada Sayyidana Muhammad SAW, beserta keluraga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Hadirin sekalian, di podium ini izinkan saya menampilkan pesan arti yang berjudul “Sopan Santun Kepada Ayah bunda”.

Saudaraku nan dirahmati Halikuljabbar, keridhaan Sang pencipta tergantung kepada ridha kedua orang berida kita, dan kemurkaan Allah bergantung kepada keduanya. Sudah sepantasnya bagaikan anak kerjakan menghargai, menghormati, dan berlaku moralistis santun kepada orang tuanya.
Berbaktilah kepada kedua ayah bunda karena jasa keduanya menjadi sesab kita hadir dimuka bumi ini.

Carilah keridhaan Allah melalui bakti kepada kedua ibu bapak. Seandainya kita memperlakukan keduanya begitu juga prabu, maka kita pula akan diperlakukan Allah sebagaimana raja. Banyak kasus momongan-anak yang durhaka, yang enggak memperdulian orang tuanya. Maka, Allah akan berang kepadanya, vitalitas mereka akan sengsara, malah matinya akan su’ul khotimah (akhir kematian jelek). Kebalikannya, anak-momongan yangsopan, santun, dan pelalah berbakti, maka kehidupannya akan diangkat derajadnya maka itu Tuhan SWT.

Demikian ceramah singkat ini, mudah-mudahan bisa menjadi wasilah petunjuk dari Allah. Semoga kita menjadi anak asuh yang saleh yang berbakti keadaibu bapakkita. Aamiiin.

Wa billahi taufik wal hidayah was salamu alaikum
warohmatullahi wabarokatuh.

Baca Juga: Pengertian Teks Publikasi Hasil Observasi, Intensi, Struktur & Cara Menyusunnya

Oke gais, setelah mencerna pengertian sebatas contoh-arketipe teks tersebut, apakah kamu mutakadim memahami teks ceramah
? Sesudah ini, semoga kamu bisa membuat teks syarah dan menyampaikannya di depan turunan ramai, ya. Padalah, seandainya kamu masih ragu bagaimana prinsip mengekspresikan wacana ceramah, engkau boleh mempelajari materi ini lebih jauh melalui


ruangbelajar

di Ruangguru
. Umur!





ruangbelajar



Teks:

Suherli. 2022. Bahasa Indonesia Kelas bawah XI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Edisi Revisi).

Profile

Dinda Silviana Haur

Source: https://www.ruangguru.com/blog/contoh-teks-ceramah

Posted by: soaltugas.net