Cerpen Bahasa Indonesia “Broken Home”– Seperti yang udah aliansi ane bilang di blog pembukaan dulu. ane bikin share tugas-tugas sekolah ke akun blog ini. cerpen ini salah satu tugas sekolah nan disuruh ahli bahasa indonesia ke ane. lumayan lah untuk kalian yang nyari lengkap maupun yang nyari inspirasi cak bagi membuat cerpen. langusng ah mangga diliat….

Image result for broken Home


Di saat aku bergeming di ujung pangsa. Berselimutkan sayatan dingin angin malam ini. Paras nan seolah mencerminkan kebahagia-an, namun nyawa ini telah hancur berkeping-keping. Memang, dengan usiaku yang baru start 10 tahun, bukan seyogiannya aku mengalami peristiwa yang teramat pahit. Namun inilah kehidupanku!

Jam dinding tua di kamarku berbunyi hingga 10 kelihatannya tera lilin lebah itu tepat pukul 22.00 WIB. Mata ini tak cak hendak bikin memejam. Entah karena memang enggan kerjakan terlelap atau karena telingaku pekak akan cekcok antara dua hamba allah paruhbaya berlain jenis. Yayaya, merekalah sosok tuaku. Masih namun seperti anak kecil, tidak sangkutan bisa menyelesaikan penyakit tanpa bersengketa.Seolah terbiasa mendengar mereka berlawan mulut, aku hanya diam mengintip dari terali pintu kamarku. Batinku meronta seakan mau melerai dan menghentikan pertengkaran itu. Belaka, aku kembali berfikir atas resiko nan akan aku dapatkan seandainya mengamalkan ketololan itu. Setakat pada suatu hari terdengar seruan ayah beberapa bisa jadi kepada bunda “Dinda, mulai sekarang kita cerai!” Tampak, ibu menangis mendengar ucapan ayah. Disisi enggak, aku hanya boleh tungkap meluluk semua kejadian itu terjadi begitu semata-mata. Mendadak

mereka menghamipiriku di balik pintu kamar dan menyuruhku bikin melembarkan bikin ikut ayah atau ibu. Tanpa pikir tangga aku sederum memutuskan bahwa aku akan masuk dengan ayah. Ibu terlihat sangat kecewa atas keputusanku. Sekadar ibu tak bisa melawan dan tak bisa berbuat apa-apa. Terbit saat itu aku tinggal bersama ayah di jakarta dan melarangku untuk merodong ibu kandungku di bandung. Itulah awal berpangkal kebahagianku yang mulai hirap.

Cangap, sepertinya aku pelecok memintal ayah sebagai pamrih hidupku. 8 tahun kemudian ayahku memutuskan untuk menikah lagi, sesungguhnya aku tidak setuju, namun apa boleh buat. aku tak ingin membuat ayah kecut hati. Cuma, disisi lain akulah yang kecewa terhadap keputusan ayah. Kejadian bukannya semakin membaik, apalagi sebaliknya. aku merasa perhatian kedua orang tuaku semakin berkurang. Apalagi selepas adik tiriku lahir. Penampilan toni lambat laun jadi melandai.
Tidak aku sangka kehidupanku akan sejenis ini. Turunan tuaku berpisah di ketika aku harus berlaga demi masa depanku. Kejiawaanku mulai tak tenang. Aku hanya bisa mencetak diri sebagai jejaka yang pemurung dan mumbung beban nan membentangi semuanya dengan senyum terlarang.
Tak cak semau nan bisa aku jadikan sebagai tempat curhat dan pemenuhan.
meski n kepunyaan kutub terbaik sekalipun, kadang mereka tidak selengkapnya mengerti keadaan aku. Bisa jadi kamu tidak paham akan kondisi kita atau dia juga dalam komplikasi yang sekufu atau problem yang enggak. Meski dikelilingi musuh-inversi nan baik, ada kalanya, momongan broken home benar-bersusila merasa kesepian. Bukan ada yang lebih komplet, dibanding kasih burung laut orangtua.
Namun, setelah sekian lama mencari. Aku akhirnya menemukan ajang yang pas untuk dijadikan pemuasan. yaitu dengan mandu merokok, meminum alkohol dan berpesta. aku merasa bahagia dengan semua itu. Semua bebanku terasa gaib ketika melakukan resan-kebiasaan buruk itu. Aku  lain takut orang tuaku tahu, karna aku tahu bahwa ayah dan ibu sebabat sekali tidak peduli terhadapku.

Waktu ini aku sudah menginjak usia 18 tahun aku pula mutakadim menginjak pendidikan di institut. Aku memintal bakal ngekost bersama temanku di dekat gelanggang kuliahanku. Selain bisa menghemat tahun bagi menyingkir ke kancah lektur. Aku bisa menghindar dan merenggang dari batih baruku. Di kost’an bertahun-tahun aku menjalani kebiasaan buruk itu. hingga pada suatu saat aku bertemu dodi, dialah oponen kuliahku. Lamun kita ada di posisi yang sama. Tapi hidup dia jauh makin baik dariku. Hidupnya sekali lagi makin berwarna dariku. Kemudian aku menanya kepadanya “dod, lu kok bisa bahagia sih? sedangkan roh kita cerek sama, sama-sejajar bintang sartan momongan broken home.” Dodi sekadar tersenyum dan menceramahiku “Ton, lu harus tau, nasib kita tuh gak seberapa dibanding orang lain. Buka pepat-lebar mata lu! Di luar sana banyak anak yang setinggi sekali gk punya orang tua renta. Sudahlah, padahal kita, kita masih mempunyai hamba allah tua. Sungguhpun gk sepenuhnya orang jompo kandung, tapi semestinya harus bersyukur masih ada yang peduli spirit kita. Bayangin jika lu ada diposisi mereka! masih cak hendak demonstrasi… Lu punya agama? Soal Dodi. “punya!” jawab toni. Sekarang ketimbang lu foya-foya gak jelas. Mending lu coba dekatkan diri pada tuhan YME. Dijamin hidup lu gk bakalan kosong, umur lu pasti lebih berwarna!” Pungkas Dodi.

Sebatas sejak saat itu, aku menyedang lakukan merubah segala kebiasaan buruk dan lebih mendekatkan diri kepada almalik SWT. Ku biasakan bagi menggandakan ibadah kepada halikuljabbar dan sparing diri bakal bersedekah kepada khalayak nan membutuhkan. Sejak itu juga aku jadi aktif privat bineka organisasi. Semua itu aku buat namun buat mengalihkan kebiasaan burukku menjadi lebih bermanfaaat. Hidupku kembali berubah 180 derajat. Hidupku terasa lebih berwarna. Tidak ada pula yang namanya kesepian. Aku mulai mengenali juga segala apa itu kelebihan kesenangan. Termakasih Ya Sang pencipta. aku sangat bersyukur kau telah mempertemukanku dengan dodi. Dialah juru selamat hidupku. dia adalah sahabat terbaik di dunia. Aku suntuk berhutang budi padanya.

Sejak hari itu pula, aku berusaha untuk mengamini keadaan. Aku menyedang untuk dapat beradaptasi. Mencoba lakukan mencintai tanggungan baruku. Aku senantiasa untuk lebih erat dengan keluarga. mencintai dan mengasihinya dengan segala apa kekurangan dalam hidupku. dan ternyata lembaga ku berhasil. Aku tidak lagi dicampakkan keluargaku. Aku dulu menyesal telah melakukan ini sejak lama. Aku tambahan pula menjauhi mereka. Aku sangat meminta maaf kepada keluargaku, sebenarnya aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Mereka selalu mengkhawatirkankku. Namun karna sikap ketidakpedulianku aku tidak menggubris kegelisahan mereka. Aku menitahkan beremak maaf kepada kalian empat mata! Aku lagi berlutut dihadapan ayah, seraya menangis aku memohon kepada ayah hendaknya aku bisa bebas bersabung ibu kandungku. hingga akhirnya hati ayah sekali lagi terenyuh. Dan memperbolehkanku buat bebas bertumbuk ibu kandungku kapanpun dan dimanapun. dimulai dari sejak itu, aku bosor makan mengunjungi flat ibu, malar-malar sebaliknya.

Kini hidupku khusyuk seperti remaja-remaja bukan. Lain ada juga kekosongan dalam hidupku.
Aku tidak tau saja mengapa engkau mengakhirkan untuk menikah sekali lagi. Aku bukan tahu kalau ayah menikah kembali cuma karna takut aku kesunyian. Karna sehari-hari ayah majuh start pagi pulang malam. Tiada waktu untuk menjaga dan menemaniku, maka berpokok itulah ayah menikah! Untuk kesekalian siapa. Aku minta maaf yah, aku sudah lalu berburuk taksir kepadamu. Diriku tidak salah memilihmu sebagai tujuan hidupku. Aku sangat bersyukur!


Buat kalian di luar sana, ingatlah bahwa kalian masih memiliki kedua ayah bunda, mungkin kedua individu tua kalian telah berpisah, bukan lagi tinggal di satu rumah. Tapi, sayang mereka akan terus mengalir bikin kalian. Kalian masih n kepunyaan mereka sebagai ayah bunda kalian. Karunia rajin mereka kembali akan tegar tercurah lakukan kalian .Jangan pun menganggap hidup kalian bukan utuh.



kalian harus bonafide diri kalian bahwa kalian kuat dan kaya dalam menghadapi persoalan ini. Bukankah mutakadim memadai kalian melihat mereka terbebani dengan kelainan mereka? Segala apa kalian kepingin melihat kedua individu sepuh kalian bersedih lewat sekali lagi terbebani karena kalian? Janganlah kalian terus menerus bersedih. Ingatlah bahwa pasca- kegundahan, lusa kesenangan. Kali air ain kalian, nantinya akan berubah menjadi senyuman. Perpisahan kedua orang tua lontok kalian, bukanlah akhir berasal hidup kalian, melainkan awal yang bau kencur kerjakan kalian, lakukan mendorong kalian buat semangat lebih baik di masa depan. Yakinlah, bahwa Yang mahakuasa takkan menguji hambanya kalau Almalik tak yakin hambanya mampu menghadapinya. Kalian diuji karena Tuhan berpengharapan kalian mampu menghadapinya. Vitalitas!