Contoh Penerapan 4 Pilar Pendidikan






PENERAPAN Model



EMPAT PILAR PENDIDIKAN (UNESCO) Kerumahtanggaan



MODEL Pengajian pengkajian BERBASIS PROYEK (PBL) UNTUK MENINGKATKAN
SOFT SKILLS
Tamatan SMK


Disusun oleh Singgih Subiyantoro



A.





Pendahuluan

Pendidikan kini menjadi barometer ukur kualitas suatu bangsa. Lalu, bagaimana dengan kondisi pendidikan Indonesia? Beralaskan hasil pol PERC lembaga konsultan dari Hongkong, pendidikan Indonesia menempati peringkat terendah dari 12 Negara di Asia Tenggara. Korea Daksina dan Singapura menjumpai peringkat teratas.

Bersabda mengenai persoalan pendidikan, maka kegiatan penelaahan di dalam kelas menjadi faktor nan lalu esensial bakal dikaji dan dievaluasi serta dirancang ataupun diperbaiki juga untuk tercapainya tujuan pendidikan. Di abad ke-21 ini pendidikan seyogiannya gemuk mengarahkan pebelajar agar dapat beradaptasi dalam situasi baru yang muncul dalam diri dan lingkungannya. Puas kondisi sebagaimana itu maka diperlukan kemampuan untuk belajar bagaimana belajar (learning how to learn) dan sparing sepanjang hayat (life long education)

Darurat itu, Lasmawan (I Gusti Bagus Wacika, dkk: 2022) berpendapat bahwa pendidikan nan relevan harus bersandar pada catur pilar pendidikan yaitu (1)
learning to know, ialah pebelajar mempelajari deklarasi, (2)
learning to do,
yakni pebelajar menunggangi pengetahuannya lakukan mengembangkan kecekatan, (3)
learning to be, yaitu pebelajar belajar menggunakan takrif dan keterampilannya lakukan roh, dan (4)
learning to live together, yaitu pebelajar sparing buat menyadari bahwa adanya saling ketergantungan sehingga diperlukan adanya saling menghargai antara sesama sosok.

Beralaskan pendapat tersebut maka pendidikan saat ini diharapkan berbenda membekali setiap pebelajar dengan kenyataan, kecekatan, serta skor-poin dan sikap, dimana proses belajar tidak sahaja mencerminkan pengetahuan (knowledge – based) tetapi mencerminkan keempat pilar pendidikan. Dengan mencamkan keempat pilar pendidikan tersebut, diharapkan banyak kompetensi-kompetensi yang dapat dikembangkan yang signifikan kerjakan kehidupan peserta didik dimasa depan, begitu juga kompetensi keimanan, ekonomi, sosial, dan
soft skills.


Soft skills


saat ini menjadi kejadian yang tinggal penting untuk dimiliki setiap pebelajar guna mempersiapkan diri menghadapi era globalisasi. Dengan dibekali
soft skills
diharapkan pebelajar nantinya lebih mudah untuk beradaptasi dengan dunia asing (lingkungan awam dan marcapada kerja). Ekspansi
soft skills
bisa dilakukan dengan pembiasaan dan bisa diajarkan di rangka pendidikan konvensional, informal maupun non formal. Dalam pengembangannya, dibutuhkan sebuah desain pembelajaran nan disusun sedemikian rupa sehingga dapat merangsang atau memperintim soft skill yang dimiliki pebelajar. Desain penataran kerumahtanggaan keadaan ini membentangi penyaringan pendekatan, model strategi dan metode-metode penerimaan yang tepat, nan sesuai dengan peserta didik atau karakteristik bidang riset. Menurut penulis, salah satu transendental penelaahan nan sekata untuk menerapkan empat pilar pendidikan buat dapat meningkatkan dan melantangkan soft skills lulusan SMK ialah model pembelajaran berbasis proyek (project based learning). Dengan menggunakan model ini, pebelajar dikondisikan untuk berlatih dengan kenyataan, dengan kerja maujud.

Pada kertas kerja ini akan dibahas mengenai makna empat pilar pendidikan yang dicanangkan UNESCO, eksemplar pembelajaran berbasis antaran (project based learning) dengan penerapan empat pilar pendidikan, serta penerapan contoh empat pilar pendidikan untuk meningkatkan
soft skills
jebolan SMK.



B.





Pembahasan



1.





Makna Catur Pilar Pendidikan (UNESCO)


a.




Learning to know


(berlatih mengetahui)

Pendidikan plong hakikatnya merupakan usaha bakal mencari agar mengarifi laporan yang dibutuhkan dan penting bagi kehidupan. Membiasakan cak bagi memafhumi (learning to know) kerumahtanggaan prosesnya tidak sekedar mengetahui apa yang bermanfaat tetapi lagi sekaligus mengetahui barang apa yang enggak bermanfaat untuk kehidupannya. Soetarno (2011: 15) berpendapat bahwa penekanan learning to know ialah puas penaklukan alat belajar lakukan seluruh petatar jaga. Jadi pembelajaran bukan semata-mata dilihat bermula pemerolehan kesadaran namun.

Di dalam konsep
learning to know
pendidik harus subur berperan bagaikan informator, organisator, motivator, diretor, inisiator, transmitter, fasilitator, mediator, dan evaluator bakal siswanya, sehingga peserta didik wajib dimotivasi agar kulur kebutuhan terhadap informasi, keterampilan umur, dan sikap tertentu yang ingin dikuasainya.

N domestik penerapannya, selain master harus berharta menempatkan dirinya sebagai fasilitator, guru juga dituntut untuk dapat berperan ganda sebagai kawan berdialog bagi siswanya dalam gambar mengembangkan aneksasi pengetahuan pesuluh.



b.






Learning to do




(belajar mengerjakan sesuatu)

Pendidikan juga merupakan proses membiasakan lakukan dapat melakukan sesuatu (learning to do). Proses belajar menghasilkan perubahan n domestik senyap kognitif, peningkatan kompetensi, serta pemilihan dan penerimaan secara siuman terhadap nilai, sikap, pujian, perhatian, serta kedahagaan untuk berbuat atau merespon suatu stimulus. Pendidikan membekali khalayak lain sekedar bikin mengetahui, tetapi seterusnya untuk terampil melakukan atau mengerjakan sesuatu sehingga menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi sukma.

Soetarno internal bukunya “ pembelajaran efektif” menambahkan bahwa makna
learning to do
yaitu seharusnya pembelajaran menekankan perlunya pengembangan inovasi. Camar duka-pemngalaman belajar yang terkait situasi ini adalah menumbuhkan kemampuan berkreasi secara tim, pengembangan jaringan, membangun kemitraan, kreativitas, kemampuan pemecahan komplikasi, serta pemungutan sebuah keputusan.

Konsep
learning to do
lagi boleh kita artikan bahwa pesuluh dilatih bikin bangun dan mewah melakukan suatu perbuatan maupun tindakan berharta dalam sunyi kognitif, afektif, dan psikomotor. Berkaitan dengan hal tersebut maka proses belajar-mengajar perlu didesain secara aplikatif seyogiannya keterlibatan pelajar asuh, baik fisik, mental dan emosionalnya dapat terakomodasi sehingga mencapai tujuan yang diharapkan.

Sekolah dan bagan pendidikan lainya sebagai wadah publik berlatih seyogyanya memfasilitasi siswanya lakukan mengaktualisasikan kelincahan nan dimiliki, serta darah dan minatnya agar
learning to do
dapat terrealisasi. Walau sesungguhnya bakat dan minat anak dipengaruhi faktor keturunan namun bersemi dan berkembangnya bakat dan minat juga bergantung pada lingkungan. Sama dengan kita ketahui bersama bahwa kegesitan merupakan sarana untuk menopang jiwa seseorang bahkan kecekatan bertambah dominan tinimbang penundukan pengetahuan satu-satunya.



c.






Learning to be




(belajar menjadi sesuatu)

Penguasaan pengetahuan dan keterampilan merupakan bagian dari proses menjadi diri sendiri (learning to be). Hali ini erat sekali kaitannya dengan pembawaan, minat, perkembangan awak, kejiwaan, tipologi pribadi anak asuh serta kondisi lingkungannya. Menjadi diri koteng diartikan bak proses pemahaman terhadap kebutuhan dan kudrati diri. Sparing bertabiat sesuai dengan norma dan kaidah yang berlaku di masyarakat, belajar menjadi sosok yang bertelur, sesungguhnya merupakan proses pencapaian aktualisasi diri.

Konsep
learning to be, perlu di pahami oleh pendidik dan pelaku pendidikan buat melatih siswa agar berada n kepunyaan rasa berkeyakinan diri yang tingkatan. Berkepastian diri dapat menjadi modal dasar bagi pesuluh bagi atma dalam masyarakat. Pengembangan diri, cara pandang, dan akal pikiran dianggap paling baik dalam menghadapi berbagai lingkungan yang berbeda kerumahtanggaan hidup manusia. Pendidikan merupakan media pengembangan sumur pusat manusia, internal prosesnya berwatak solo merupakan intern diri pebelajar namun kembali berbarengan andai proses menciptakan menjadikan pengalaman berinteraksi dengan makhluk tak.



d.






Learning to live together




(berlatih hidup bersama)

Plong pilar keempat ini, kebiasaan hidup bersama, silih menghargai, mangap, memberi dan menerima terbiasa dikembangkan disekolah. Kondisi seperti inilah yang memungkinkan tumbuhnya sikap ubah denotasi antar ras, kaki, dan agama.

Dengan kemampuan yang dimiliki, dapat dijadikan sebagai pelepas untuk mampu berperan dalam mileu di mana individu tersebut berada, dan serta merta mampu menempatkan diri sesuai dengan perannya. Kesadaran akan halnya peran diri dan orang lain dalam kerubungan belajar merupakan bekal dalam bersosialisasi di publik (learning to live together). Kerjakan itu, pendidikan di Indonesia harus diarahkan plong peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, karakter dan moral. Dengan kemampuan dan sikap manusia Indonesia nan demikian maka sreg gilirannya akan menjadikan masyarakat Indonesia masyarakat yang bermartabat di indra penglihatan masyarakat manjapada.

Konsep
learning to live together
bertaruk karena perlunya kerjasama privat mengendalikan proyek-proyek kolaboratif. Dengan demikian diharapkan dapat menjadi cara yang efektif buat mencegah munculnya suatu konflik. Tugas pendidik terkait dengan pilar ini ialah mengintensifkan kesadaran pesuluh asuh tentang diversifikasi dalam masyarakat dan ki memasukkan rasa saling ketergantungan antar sesama individu (aspek sosial).



2.





Kamil Pembelajaran Berbasis Proyek dengan Penerapan Empat Pilar Pendidikan

Pendidikan yang berpusat sekadar lega isi atau hasil, kini mutakadim seyogiannya bergeser pada proses. Detik ini supremsi penataran tidak lagi berpusat pada guru atau pendidik melainkan pada pelajar didik (student centered learning) yang mana mereka aktif mengkonstruksikan mantra pengetahuan (konstruktivistik), sehingga penekanan bukan lagi hanya sreg teori melainkan kembali pada bagaimana suatu karier dikerjakan.


Project based learning


ialah riuk satu bentuk konseptual pengajian pengkajian yang menggunakan pendekatan
student centered learning. Model penelaahan ini lebih mementingkan proses, proyek atau karya dari peserta jaga daripada hasil. Menurut Thomas, seperti dikutip maka dari itu Wena (2009: 144) penerimaan berbasis proyek merupakan pola pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada guru untuk mengelola penataran di kelas dengan melibatkan kerja proyek. Hal ini banyak digunakan bakal menggantikan metode pengajaran tradisional dimana guru misal kiat penerimaan. Boondee et al internal Rosyidatul Munawaroh, dkk (2013: 2).

Rosyidatul Munawaroh, dkk (2013: 2) memaparkan hasil pendalaman mengenai penerapan PBL yang dilakukan oleh Thomas di tahun 2000 nan menunjukkan bahwa hasil sparing siswa memperalat abstrak
Project Based Learning
naik damping 26% dibandingkan sekolah yuridiksi dan suka-suka peningkatan yang signifikan kemampuan memecahkan suatu masalah antara pre-konfirmasi dan post-tes bakal papan bawah eksperimen memperalat model
Project Based Learning. PBL bernas meningkatkan motivasi siswa dan memberikan gambaran partikular internal semua tingkatan

Pembelajaran berbasis pesanan (PBL) yang terdiri antaran yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, masyarakat, memori, matematika, politik dan kesempatan diskusi produktif untuk murid, mendorong studi siswa diarahkan masalah mayapada nyata, menyerahkan mereka semangat sparing dan pengajaran menjadi efektif (Turgut,2008:61).

Lebih lanjut suka-suka penemuan bahwa pengajian pengkajian berbasis pesanan boleh meningkatkan hasil membiasakan siswa, meningkatkan aktivitas dan keterlibatan petatar dalam karya siswa, makin menghibur, berfaedah serta bertambah berharga (Purworini, 2006: 19). Keadaan ini diperkuat oleh penelitian Wiyarsi & Partana (2009:40) yang menyimpulkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis pesanan cukup efektif n domestik meningkatkan aspek kedaulatan, aspek kolaborasi kelompok, dan aspek penguasaan psikomotorik.

Berusul beberapa pendapat dan hasil penelitian tentang kebermanfaatan teladan PBL, maka model ini kiranya menerimakan kesempatan kepada


murid bakal meningkatkan proses dan hasil sparing siswa


kerumahtanggaan membangun empat pilar penerimaan,


karena pemahaman siswa dapat meningkat


melalui proses bekerja ilmiah



(learning to do)


yang dilakukan secara kolaboratif



(learning to live together)

, sehingga kemandirian


berlatih pada pelajar akan terjangkau
(learning to be).

Privat model
project based learning
membiasakan mengarifi

(learning to know)

sangat dibutuhkan karena peserta pelihara dituntut aktif dalam kegiatan belajar lapangan dan desain belajar ini merupakan desain yang interaktif dan melibatkan semua domain penelaahan yaitu serebral, afektif,
maupun psikomotor. Pebelajar dituntut untuk aktif internal membereskan kelainan belajar privat situasi nyata buat meningkatkan warta dan prestasinya. Dengan
model
pembelajaran ini

(learning to know)


akan terus berkembang karena
belajar secara langsung akan kian mudah dipahami pebelajar.

Penerapan pilar kedua

(learning to do)


dalam PBL merupakan
balajar buat membereskan kecekatan dan kompetensi kerja. Kompetensi ini akan terus meningkat hingga profesional.
Learning to do
sangat dibutuhkan dalam
project based learning
untuk membekali peserta didik dalam mempersiapkan diri memasuki marcapada kerja, karena peserta asuh belajar tidak hanya secara teori melainkan praktek di lapangan. Abstrak project based learning n kepunyaan potensi nan segara bakal membuat pengalaman belajar yang menarik dan bermakna bagi mahasiswa untuk memasuki lapangan kerja maka dari itu ketrampilan berkarya sangat di perlukan.

Pilar nan ke 3

(learning to live together

) intern PBL dimaksudkan agar peserta asuh berlimpah berinteraksi, berkreasi dalam tim, berkomunikasi dengan orang lain dan spirit bersama antar kelompok. Tiap kelompok karuan memiliki latar belakang nan berlainan, baik itu pendidikan, kebudayaan, tradisi, atau tahap jalan nan berbeda, hendaknya bisa bekerjasama dan semangat rukun, mereka harus banyak belajar bagaimana hidup bersama.

Sedangkan pilar yang ke 4 (learning to be) di internal model penerimaan ini bertambah menekankan pada bagaimana peserta didik dituntut
banyak sparing mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya dalam rangka menjadikannya sosok yang utuh, baik aspek intelektual, emosi, sosial, fisik, maupun moralnya.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut, boleh dikatakan bahwa pola project based learning (PBL) yaitu salah satu model penataran yang kiranya cocok buat diterapkan pilar-pilar pendidikan dimana model ini sekali lagi memberikan kesempatan yang luas bagi pesuluh tuntun dalam mengembangkan kemampuan
hard skill
maupun
soft
skill.



3.





Penerapan Sempurna Catur Pilar Pendidikan kerjakan Meningkatkan
Soft Skills
Mantan SMK

Pencapaian dari hasil belajar ibarat hasil peluasan cendekiawan ataupun kognitif siswa harus pula diimbangi dengan pencapaian dan perkembangan pada aspek
soft skill (afektif)
siswa. “Konsep
soft skill”
maksudnya lain lain yaitu karakter atau sikap dan perilaku nan menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan, seperti keterusterangan, kesabaran, keberanian, kemandirian, tanggung jawab, kepedulian dan lain-lain” (Marzuki, 2012). Menurut Muqowim (2011:10) “Soft skills
adalah kemampuan menggapil diri secara tepat dan kemampuan membangun persaudaraan dengan insan lain secara efektif”.

Setiap guru atau pendidik seharusnya berada mengintegrasikan
soft skills
intern proses pembelajaran sehingga pelajar berlambak mengasah dan berekspansi kemampuan
soft skills
secara rutin. Adanya pembelajaran terpadu antara
hard skills
dan
soft skills
sangatlah diharapakan keberadaannya karena kemampuan
soft skills
tidak kalah pentingnya dengan kemampuan
hard skills.
Menerobos garis haluan pembelajaran yang tepat,
soft skills
menjadi hal nan kelihatannya dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran sehingga petatar dapat



mengembangkan kemampuan
soft skillnya.


Soft skill


meliputi kemampuan intrapersonal dan kemampuan interpersonal seseorang. Contoh berpunca intrapersonal skills merupakan

time management
,

stress management, change management, transforming beliefs, transforming character, creative thinking processes, goal setting and life purpose,


dan
accelerated learning technicques

.
Padahal
interpersonal skills, contohnya adalah;
motivation skills,
leadership skills,
negotiation skills,
presentation skills, communication skill, relationship building, public speaking skills,


dan
self-marketing skills.


Bermula plural jenis
soft skills ini
sebagian besar tidak diajarkan secara sambil di dalam ain pelajaran atau intern kurikulum. Akan tetapi, soft skill ini dapat di sisipkan ke dalam pembelajaran sehari-hari di inferior. Tentu saja hawa merupakan orang yang minimal berperan kerumahtanggaan menjembatani atau menyalurkannya kepada siswa. Di intern penerapannya, agar soft skill dapat berkembang dengan baik maka diperlukan sebuah rancangan pembelajaran yang tekun dapat di sisipi beragam skill itu, tentunya yakni desain penerimaan yang mengedapankan empat pilar pendidikan. Lalu desain seperti apa yang tepat kerjakan diterapkan dalam pendedahan SMK? N domestik hal ini katib menyarankan penggunaan model pendedahan
project based learning
(PBL). Asumsinya adalah PBL merupakan model pembelajaran konkret, kerja langsung sehingga akan terlampau seia dengan tujuan berusul SMK yang mengutarakan praktek dibanding teori. Dengan pembelajaran praktek ini tentunya akan adv amat meningkatkan hard skill pesuluh. Semata-mata, soft skill kembali akan ikut berkembang dengan baik asalkan pembelajarannya dirancang sedemikian rupa sehingga murid mendapat kesempatan luas kerumahtanggaan mengembangkan soft skillnya.

PBL menggunakan pendekatan
student learning centered
yang mana memposisikan peserta bimbing sebagai kontrol utama intern pendedahan. Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa akan lebih berkembang kemampuan hard dan soft skillnya. Salah satu model dari pendekatan ini yang menurut penulis seia bakal mengembangkan soft skill lulusan SMK adalah “ project based learning”.
Kaitannya dengan contoh empat pilar pendidikan UNESCO, model pembelajaran
project based learning
menyediakan ruang yang seluas-luasnya untuk boleh menyaringkan
soft skills
lulusan SMK.

Kaitannya dengan paradigma empat pilar pendidikan UNESCO, model pembelajaran
project based learning
menyediakan ruang nan seluas-luasnya bagi dapat memekakkan
soft skills
lulusan SMK.


Misalnya dalam pembelajaran


sekretaris. Bila pembelajaran sekretaris
diterapkan dengan model
ini, siswa akan diajak kerjakan terjun langsung ke lapangan (magang) bagaimana menjadi seorang sekretaris di sebuah perusahaan misalnya. Dengan demikian akan banyak kemampuan nan didapat oleh petatar, baik itu soft skill maupun hard skill. Soft skill nan dapat diperoleh misalnya


time management


(learning to know), creative thinking proccess, problem solving (learning to do),

relationship building (learning to live together), kemandirian (learning to be).


Sedangkan hard skill nan diperoleh peserta jaga tentunya adalah ketangkasan menggambar.

Semenjak konseptual diatas sudah dapat ditarik kesimpulan bahwa banyak soft sklill yang diperoleh ketimbang hard skill. Dengan serupa itu maka model ini bisa dikatakan tepat cak bagi mengembangkan soft skill lulusan.



C.





Intiha



1.





Kesimpulan

Dengan mengaplikasikan pilar-pilar tersebut, diharapkan pendidikan nan berlangsung di Indonesia dapat menjadi makin baik. Perancangan penelaahan nan sesuai akan suntuk menyampuk pemantapan soft skill siswa. PBL dapat dijadikan perumpamaan alternatif model pembelajaran nan menerapkan empat pilar pendidikan dengan maksud utamanya adalah mengencangkan soft skill siswa. Dengan PBL dan empat pilar ini diharapkan lulusan SMK memperoleh lebih banyak soft skill untuk bekal menghadapi dunia kerja.



2.





Saran

Buat peserta didik, pendidik maupun tenaga kependidikan, mari kita memulai mengintrospeksi diri masing-masing, sudah sejauh mana kita mengamalkan buat pendidikan di negeri kita ini, mulailah mengerjakan perubahan-peralihan boncel dan reformasi terhadap persoalan pendidikan nan bertahun-tahun melilit distrik ini. Kembangkan diri melalui pelatihan-pelatihan
soft skills
agar kita gemuk bersaing dan bergumul dengan masyarakat asing.


DAFTAR PUSTAKA

I Gusti Bagus Wacika, dkk. (2013).

Pengaruh Model Pengajian pengkajian Kooperatif Tipe Jigsaw Terhadap Hasil Belajar IPS Ditinjau dari Sikap Sosial n domestik Pengajian pengkajian IPS pada Siswa Kelas V di SDN 4 Panjer.



e-Journal Universitas Pendidikan Ganesha


,


1 (3): 2

Purworini. (2006). Pembelajaran Berbasis Bestelan sebagai Upaya Mengembangkan Habit of Mind.
Surat kabar Pendidikan Inovatif, 1 (4): 17-19.

Wena, M.

(2009).
Strategi Pembelajaran Inovatif Masa kini. Jakarta: Bumi Abc

Muqowim. (2011).
Peluasan Soft Skill Hawa.
Yogyakarta: Pedagogika.

Rosyidatul Munawaroh, dkk. (2012). Penerapan Lengkap Project Based Learning dan Kooperatif lakukan Membangun Empat Pilar Penataran Pesuluh SMP, 1 (1): 2-3

Turgut, H. (2010). Prospective Science Teachers: Conceptualization about Project Based Learning.
International Journal of Intruction, 1 (1): 61-79

Source: http://singgihsubiyantoro.blogspot.com/2014/01/penerapan-paradigma-empat-pilar.html

Posted by: soaltugas.net