Dharma Gita Berasal Dari Bahasa


May 16, 2022

Apa itu dharma gita jelaskan

Istilah Dharma Gita berasal dari bahasa sansekerta yaitu dari pembukaan Dharma yang artinya agama atau kebenaran sedangkan Gita nan artinya lagu atau nyanyian. Kaprikornus Dharma Gita artinya lantunan atau lagu suci yang secara spesial dinyanyikan alias dilagukan untuk mengiringi pelaksanaan formalitas agama Hindu.


Sekarang Dharma Gita sudah lalu mengalami kemajuan yang terlampau pesat, malah pemerintah melalui PHDI, secara rutin melaksanakan
UTSAWA

DHAR

MA

GITA

.



Utsawa Dharma Gita merupakan kancah perlombaan untuk menjalin relasi yang rajin kasih sesama khalayak di seluruh wilayah persil air. Adapun yang biasa digelar n domestik Utsawa Dharma Gita merupakan mengaji sloka, palawakya, dan puisi puisi rohaniah serta hal hal lain sebagai ciri spesifik budaya daerah masing masing yang dijiwai oleh agama Hindu.

  Untuk melajukan membaca dan penerapan Dharma Gita perlu kiranya diketahui nada dan titinada. Nada adalah suara merdu yang dihasilkan oleh getaran benda yang terstruktur tiap detiknya. Dikenal ada 7 nada menurut tinggi rendahnya nada yaitu:

Do-Re-Mihun-Fa-Sol-La-Si.

  Nada tersebut disebut dengan dyatonic, sedangkan not adalah gambaran musik. Intern bahasa Bali not diistilahkan dengan Titi Celaan. Menurut Titi Suara Bali, titinada dibagi menjadi dua jenis, merupakan: *. Pangkat nada pelog.

*. Tangga nada selendro.

  Tangga musik pelog dan selendro adalah radiks Gendingan. Laras pelog dan selendro di distrik Bali dipopulerkan sejak berdirinya Konsenvatori. Intern hobatan makrifat musik modern, tangga musik pelog dan selendro dikenal dengan tera jenjang pentatonik ialah tahapan nada yang punya lima irama pokok. Nada nada internal musik diberi logo yang diambil dari lambang bunyi yaitu:

a, b, c, d, e, f, dan g.

  Berdasarkan musik nada tersebut nada nada disusun menjadi c, d, e, f, g, a, b, dan c.

Tanda notasi pada tembang seperti Gendingan, pupuh, maupun kidung kebanyakan menggunakan simbol simbol seperti mana di atas yakni panganggening aksara Bali. Pada dasarnya Titi Celaan (Laras) atau panjang nada pelog alias selendro terdiri atas lima simbol pokok merupakan:

*. Tedong. *. Taleng. *. Kaki. *. Cecek.

*. Ulu.


Apabila dibaca kelima simbol itu menjadi dong, deng, dung, dang, dan ding.

Demikianlah denotasi Dharma Gita dalam petunjuk agama hindu, mudahmudahan ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

1.
Jelaskan apa itu Dharmagita dan sebutkan sekali lagi Dharmagita yang dibentuk dengan

mempergunakan rumusan sekar alit dan sekar madya?
Jawab :
Istilah Dharma Gita berbunga bersumber bahasa Sansekerta dari introduksi Dharma dan Gita. Dharma

artinya legalitas, agama atau keimanan, sedangkan Gita bermanfaat nyanyian atau lagu. Jadi

Dharma Gita berarti suatu karya seni keyakinan yang menggunakan media suara (
vokal)

maupun lantunan kesucian nan secara spesifik dilagukan kapan – detik pelaksanaan upacara

agama hindu
.

Di dalamnya terletak sajak-syair nan sudah diringkas dermikian
rupa dan

penuh dengan ajaran keagamaan, kemudian dilagukan dengan kritik nan amat
mempesona

Pelaksanaan dharmagita dilakukan lega upacara panca yadnya, nan lagunya
mutakadim

disesuaikan dengan tiap-tiap yadnya tersebut.Sehubungan dengan itu dalam setiap

pelaksanaan ritual yadnya, dilagukan kidung-kidung keagamaan, seperti wargasari,

trisandhya, mewirama dsb.
a)
Dharmagita yang dibentuk dengan mempergunakan rumusan sekar alit, merupakan :

Pupuh Sinom : 8a, 8i, 8a, 8i, 8u, 8a, 8i, 4u, 8a.

Pupuh Ginada: 8a, 8i, 8a, 8u, 8a, 4i, 8a.

Pupuh Adri: 10u, 6e, 8i, 8u, 8u, 8a, 8u, 8a, 8a.

Pupuh Ginanti: 8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i.
b)
Dharmagita yang dibentuk berlandaskan sekar madya. Riuk satu syarat untuk

menyamyikan sekar madya hendaklah perlahan-kapling.

Upload your study docs or become a

Course Hero member to access this document

Upload your study docs or become a

Course Hero member to access this document

End of preview. Want to read all 4 pages?

Upload your study docs or become a

Course Aditokoh member to access this document

Laporan Beritawan Tribun Bali, A A Nur Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR
– Dharmagita berfungsi sebagai salah satu atom yang dapat mewujudkan sebuah yadnya menjadi satwika yadnya.

Hal ini dapat dipahami melalui pemaknaan hakikat dharmagita seumpama sebuah sastra tembang.

Tembang pun disebut sekar. Sekar juga dapat berguna bunga. Demikian dijelaskan Koordinator Prodi Magister Kajian Budaya FIB Unud, Prof. I Nyoman Suarka.

“Dharmagita adalah suatu buaian kebenaran, nyanyian keadilan, yang dinyanyikan intern pelaksanaan upacara agama Hindu,” jelasnya kepada Tribun Bali, Minggu (8/11/2020).

Dharmagita lalu bermain dalam kegiatan ritual agama, sebagai pencurahan manah bakti dan pembimbing sentralisasi ingatan cenderung satu legalitas.

Kejadian ini disebabkan, jelas dia, karena dharmagita mengandung ajaran agama, susila, tuntunan sukma, serta pelukisan ketinggian Halikuljabbar dalam berbagai manifestasi-Nya.

Sejalan dengan itu, dharmagita sebagai salah satu budaya Hindu, sangat berperanan penting n domestik rangka meningkatkan kualitas kehidupan beragama di landasan generasi remaja Hindu sehingga perlu ditanamkan sejak dini.

Lanjutnya, sebagaimana disebutkan privat Kakawin Nitisastra bahwa pada zaman Siapa (era keributan) tiba, maka tidak cak semau yang melebihi ketimbang harta perbendaharaan (uang).

Individu-bani adam cenderung berebut harta gana dan dominasi, tanpa membenakan kesusilaan dan etika.

Halaman selanjutnya arrow_forward

Sumber:
Tribun Bali

Renungan

Viśvāni deva savitar

duritāni parāsuva

yad bhadram tan-na ā suva

(Yajurveda XXX. 30.3)

Tafsiran:

Ya Tuhan Yang Maha Esa yang menciptakan semuanya, semoga Ia menjauhkan kami dari semua karas hati dan Berkahilah kami dengan manfaat yang bermanfaat bagi kami

Seni dan budaya adalah bukti kekayaan cendekiawan dan tingginya suatu kultur di manjapada. Seni budaya tidak sekadar gelanggang mengadu gengsi atau dijadikan kita nampak berbeda suatu dengan yang lain. Situasi nan menjadi esensi dalam seni budaya tersebut adalah seni dan budaya mampu menghaluskan budhi memufakatkan jiwa. Kondisi seperti ini tentunya memberikan tujuan istimewa juga bagi tingkat kesadaran spiritual. Seni dan budaya itu diwujudkan dengan beraneka macam kaidah dan upaya, baik diwujudkan n domestik lembaga tarian, nada maupun lantunan lagu-lagu. Seni budaya enggak sekadar ekspresi kebahagian, namun lagi sebuah pernyataan diri, persaksian diri kepada Ida Sang Hyang Widhi. Keadaan itu karuan akan berjasa pula bagi kehidupan individu.

Duhai para Sisya Sistha !

Marilah kita mengamalkan Litarasi Digital dan Literasi Sosial !

Carilah informasi tentang rekaman urut-urutan Dharmagita di daerah mu, kemudian catatlah periode-masa perkembangannya. Kemudian buatkanlah semacam tabulasi periodisasi perkembangan Dharmagita tersebut. Catat dan dokumentasikan hal tersebut kemudian presentasikan di depan kelas ! Mintalah penjelasan pada orang tuamu, atau dedengkot-tokoh agama yang ada di sekitar lingkunganmu!

Selamat mengamati lingkungan!

A. Hakikat Dharmagita

Praktek keagamaan umat Hindu lain boleh dipisahkan dengan seni. Seni dan agama seolah-olah menjadi sebuah satu kesatuan yang utuh dan bersinergi secara positif privat visiun dan praktek keagamaannya.

Apa itu dharma gita jelaskan

Tulang beragangan  remaja sedang  Mekidung Perigi : http://www.kidungbali.org/pupuh-demung/

Seni membuat ilham Agama Hindu menjadi lebih indah, lembut/tidak kaku dan sklek dan tentunya dapat memberikan renyut kesucian serta ketahanan jiwa. Seni merupakan hasil perenungan yang mendalam yang digunakan bikin mewujudkan ide-ide Ketuhanan tersebut privat sebuah karya yang nyata dan dapat dinikmati. Melalui seni ini pun umat Hindu melakukan deifikasi, sehingga seni digunakan sebagai wahana untuk menunjukkan rasa bhakti umat kepada Tuhan.

Rasa bhakti kepada Tuhan ini tak belaka diwujudkan dengan melakukan persembahyangan semata, melainkan juga diwujudkan dengan melakukan aktivitas seni ataupun berkesenian. Karena pada hakikatnya, Tuhan menetap puas berbagai aspek dan kuap disegala wadah di alam semesta ini, termasuk intern ira kesenian itu sendiri. Sebagai sebuah persembahan, maka seni internal hal ini mengandung poin-nilai religius yang juga digunakan sebagai sarana dharma duta atau kendaraan siar agama/dakwah terhadap ajaran-ajaran suci agama. Itulah sebabnya, kedudukan seni internal agama Hindu habis mendukung dan merebeh tersebarnya ajaran agama Hindu secara baik dan damai.

Seni punya ragam macam dan bentuk. Sreg pembahasan ini, fokus pembahasan seni yang dimaksud adalah adapun seni vokal atau merinai, yang disebut dengan Dharma Gita. Istilah Dharma Gita di dok masyarakat Hindu tentunya sudah tidak asing lagi, bahka setiap dua tahun sekali pemerintah pusat melalui Kementerian Agama Direktur Jendral Pimpinan Awam Hindu secara konsisten menyelenggarakan adu-lomba yang terkait seni vokal keyakinan yang dikenal dengan Utsawa Dharma Gita.

Akan cuma, fenomena yang terjadi saat ini khususnya di dok generasi taruna, antusiasme generasi mulai dewasa Hindu terhadap Dharma Gita mulai menunjukkan indikasi penurunan bahkan telah muncul sikap acuh terhadap Dharma Gita. Munculnya pernyataan-pernyataan nan keliru tentang Dharma Gita seumpama suatu seni yang ketinggalan zaman, katrok, dan “ga gaul” sejatinya kini mulai mengakar dalam diri para generasi muda Hindu. Sementara itu, Dharma Gita merupakan salah satu bentuk Yadnya / ibadah kepada Tuhan.

Berdasarkan fenomena tersebut, maka dirasakan sangat terdahulu untuk kembali memaksimalkan gairah generasi muda Hindu untuk belajar Dharma Gita, dimulai dengan memberikan edukasi tentang ilmu, manfaat, dan jenis-tipe Dharma Gita itu sendiri. Kata-prolog ini berujud untuk sekali lagi memperkenalkan Dharma Gita di masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda Hindu.

Secara etimologi, Dharma Gita terbit dari bahasa Sansekerta merupakan Dharma dan Gita. Dharma internal hal ini berguna kebenaran nubuat-ajaran agama, padahal Gita penting lagu alias nyanyian. Jadi signifikasi Dharma Gita adalah lagu-lagu atau alunan yang mengandung ajaran-ajaran kebenaran sesuai dengan petunjuk-ajaran agama. Dharma Gita burung laut sekali lagi disebut dengan Gita Shanti yang pula memiliki makna nan karib sama yaitu berharga lagu-lagu yang membuat damai dalam roh ini. Dharma Gita dan Gita Shanti mempunyai tujuan yang sama yaitu dengan lagu atau buaian digunakan sebagai sarana bukan sekadar memberi atraksi semata tetapi pula memberikan tuntunan. Melalui pemahaman dan implementasi ajaran agama (dharma) maka hayat yang damai (shanti) akan tercapai.

Jenis-jenis Dharma Gita digolongkan menjadi tiga gerombolan (Sekar) yaitu sebagai berikut:

  1. Sekar Pulas mata : yaitu jenis dharma gita nan diatur dengan hukum padalingsa, yang biasanya berwujud puisi yang mengunakan bahasa Bali lumrah. Contohnya merupakan berbagai rupa jenis pupuh.
  2. Sekar Madya : yakni jenis dharma gita nan sekali lagi diatur dengan hukum padalingsa, nan umumnya digunakan lakukan mengiringi upacara-upacara yadnya, dan menggunakan bahasa jawa kuno nan mengkristal dengan bahasa Bali. Contohnya yakni berbagai varietas kidung.
  3. Sekar Agung : yaitu varietas dharma gita yang diatur dengan hukum wrtta dan matra, yang berisi ajaran-tajali religiositas yang disajikan dalam bahasa Jawa Kuno maupun berbahasa Sasekerta. Contohnya yakni berbagai variasi kakawin, palawakya, dan sloka.

Bersendikan ketiga diversifikasi kelompok Dharma Gita maka ketiga jenis ini memiliki kedudukannya sendiri-sendiri dalam mahajana. Sekar Pulas mata masih silam digandrungi di masyarakat, karena proses pembelajaran dan pemaknaan lagu ini masih lewat baik dan popular. Khusus untuki Sekar Madya dan Sekar Agung ini memiliki tingkat kesulitannya khas, namun banyak mengandung angka-ponten sejarah maupun petunjuk-ajaran kebenaran.

Dharma Gita yaitu keseleo satu wahana kerjakan umat Hindu untuk menunjukkan rasa bhaktinya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Menurut ajaran agama Hindu ada Sembilan cara kerjakan menunjukka rasa sujud bhakti kita kepada Tuhan yang dikenal dengan visiun Nawa Widham Bhakti. Ajaran Nawa Widham Bhakti ini terdapat dalam Bhagavata Purana yang mengistilahkan terletak Sembilan cara untuk mendekatkan diri dan menghaturkan sujud bhakti kepada Yang mahakuasa. Secara konseptual Nawa Widham Bhakti ini yakni salah satu ajaran nan dapat dimaknai dan dipedomani oleh umat untuk meningkatkan Sradha dan Bhakti umat sedharma terhadap Allah sebagai hamba-Nya (Dwaja dan Mudana, 2022: 216). Sesuai dengan pengertiannya, maka ada sembilan pembagian dari ilham Nawa Widham Bhakti ini adalah sebagai berikut:

  1. Srawanam

    :
    bermakna mendengarkan piteket/ pitutur sane rahajeng/ baik (Dwaja dan Mudana, 20015: 224). Ras bhakti kepada Tuhan dapat diwujudkan dengan mendengarkan petunjuk-ajaran agama yang baik melalui mendengarkan dharma wacana, alias petuah berpokok orang tua atau orang suci.
  2. Wedanam

    :
    membaca kitab-kitab ceria agama nan kita yakini (Dwaja dan Mudana, 2022: 224). Membaca kitab suci berfaedah kita menengah membaca wahyu-ilham Almalik itu sendiri, sehingga renyut kehormatan-Nya pun dulu berpengaruh positif lakukan diri manusia.
  3. Kirtanam

    :
    melantunkan sajak-tembang suci/ kidung wirama rohani (Dwaja dan Mudana, 2022: 224). Melantunkan lagu-lagu apresiasi yang mengandung ajaran-ajaran agama yaitu salah suatu mandu terbaik untuk memuja Tuhan dan dapat memberikan renyut keindahan dan kedamaian bagi lingkungan sekitarnya.
  4. Smaranam

    :
    secara berulang-ulang mengistilahkan merek Sang pencipta (Dwaja dan Mudana, 2022: 225). Secara kontinyu dan konsisten terus menyebutkan jenama Almalik baik secara langsung maupun relung hati. Menyebutkan gelar Tuhan maupun mantram-mantram ikhlas bisa dilakukan.
  5. Padasewanam

    :
    sujud bhakti di kaki Nabe ( Dwaja dan Mudana, 2022: 225). Melakukan pelayanan dan membantu segala pekerjaan dari guru kita adalah bukti pahala yang mulia.
  6. Sukhyanam

    :
    menjalin persahabatan (Dwaja dan Mudana, 2022: 225). Menjalin perkawanan intern hal ini yakni beraksi pelahap karunia tanpa membenci dan tidak berbuat himsa karma kepada semua makhluk hidup.
  7. Dahsyam

    :
    artinya berpasrah diri memuja kehadapan para batara. Keikhlasan adalah wujud bersumber kepasrahan, bukan menyesali pil dan lain bekerja, peristiwa tersebut bukan akan menjamin kesusksesan sesuai dengan intensi tiap-tiap.
  8. Arcanam

    :
    bhakti kepada Hyang Widhi melalui simbol-bunyi bahasa suci keagamaan (Dwaja dan Mudana, 2022: 226). Melampaui kendaraan Archa, Pratima, Pralingga yang yaitu lingga sthana Tuhan, yaitu pelecok satu implementasi terbit
  9. Sevanam

    :
    memasrahkan pelayanan dengan baik (Dwaja dan Mudana, 2022: 227). Pelayanan dalam hal ini yaitu apa bentuk bantuan kerjakan melonggarkan pikulan hidup ayah bunda.

Keseleo satu atom pecah Nawa Widham Bhakti tersebut adalah Kirtanam. Kirtanam merupakan mewujudkan bhakti sreg Tuhan melalui membawakan lagu-lagu kerohanian. Hal tersebut menekankan bahwa menyanyikan laguu-lagu kerohanian bisa dijadikan andai media memuja kebesaran Ida Sang Hyang Widhi Wasa, beserta segala apa manifestasi Beliau.

Beralaskan tinjauan ilham Nava Vidha Bhakti tersebut bisa dipahami bahwa Kidung adalah bagian dari Dharma Gita Hindu nan merupakan inti bermula Yajña itu. Dikatakan sebagai inti, karena Kidung adalah cara cak bagi berbuat pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi, bukan sekadar pengarak semata. Hal ini menunjukkan dengan melakukan Kidung sekadar umat Hindu telah dapat melakukan ikram kepada Ida Si Hyang Widhi. Dari ki perspektif pandang Nava Vidha Bhakti itu kidung disebut dengan kirthanam, dan istilah lain yang sepadan dengan kejadian itu yaitu Bhajan, Tandak (Hindu Kaharingan), Nembang (Hindu Jawa), dan banyak istilah lainnya yang memiliki istilah yang berlainan tetapi sejatinya memiliki arti atau maksud yang sama.

Apa itu dharma gita jelaskan

Rencana  Kidung Bak Pengantar Upacara Sumber :tindasan pribadi

Gambar di atas bukan rencana kidung. Seharusnya nan ditulis ialah: Gambar : Anak-anak sedang melantumkan kekidungan. Sumber: dokumen pribadi.

Tersapu dengan fungsi kidung sebagai Pengantar Upacara, berkaitan pula dengan keberadaan Lima Gita ataupun Panca Suara miring. Panca Gita adalah lima jenis obstulen, suara maupun untaian nada-musik yang digunakan bagi mengantarkan upacara, nan kelima zarah bunyi itu sering terserah dalam upacara. Mengenai pengalokasian berbunga Panca Gita itu merupakan:

  1. Suara Puja Mantra : adalah bunyi-bunyian yang ketimbul terbit perapalan mantra dari anak adam suci, yang digunakan untuk memuja Ida Si Hyang Widhi dan mengantarkan upacara. Suara miring ini digunakan buat mengundang Sang Hyang Siwa.
  2. Kritik Bajra/ Lonceng: yakni bunyi-bunyian yang timbul dari celaan genta/bajra nan dibunyikan maka itu para sulinggih. Kritik ini digunakan buat mengundang Sang Hyang Iswara.
  3. Suara Kidung: adalah bunyi-bunyian yang timbul berpokok untaian lagu-lagu sanjungan yang dilantunkan makanya umat saat berlangsungnya upacara. Celaan ini digunakan cak bagi mengundang Sang Hyang Brahma.
  4. Suara minor Gong/Gamelan: adalah obstulen-bunyian yang timbul pecah gamelan yang ditabuh saat upacara berlantas, baik bikin mengiringi upacara atau untuk mengiringi tari-tarian formalitas. Suara ini digunakan kerjakan mengundang Si Hyang Mahadewa.
  5. Suara Kulkul: yaitu bunyi-bunyian yang timbul dari suara kentongan nan dipukul saat upacara berlangsung. Suara kentongan ini digunakan untuk mengundang Sang Hyang Wisnu.

Beralaskan hal itu, menunjukkan bahwa Panca Gita digunakan bikin menjemput guna Ida Sang Hyang Widhi dalam penampakan ia ibarat Sang Hyang Panca Dewata, untuk hadir menyaksikan ritual yang madya dilangsungkan. Kehadiran kidung sebagai riuk satu bagian berpunca Panca Gita tersebut digunakan bagi ulem kemustajaban ilahi itu hadir ke manjapada sekaligus menghantarkan seremoni tersebut agar menjadi lebih baik dan berhasil.

Aduhai para Sisya Sistha!

Mari Cari Tahu!

Marilah cari tahu akan halnya fungsi Dharmagita n domestik sukma beragama di area kalian. Tanyakanlah pada para pemangku, tokoh adat, dan para pelaku dharmagita di wilayah kalian tersebut. Presentasikan hasil literasi sosial dan kegiatan wawancara yang  kalian lakukan itu di depan kelas. Diskusikan antar imbangan sebanding lainnya bila cak semau informasi-informasi tembahan lainnya.

Selamat mencari luang!

B. Jenis-Jenis Dharmagita yang Digunakan Dalam Panca Yadnya

Sekar Medium adalah jenis Dharma Gita yang rata-rata digunakan untuk mengiringi jalannya upacara Yadnya. Sekar Madya dilantunkan bersama dalam tempo nan sangat perlahan-lahan dan n kepunyaan irama yang suntuk panjang. Sekar Madya secara teknis pengambilan celaan, menunggangi teknik suara rongga mulut, sehinggga menciptakan suara nan strata, berirama, dan bergetar. Bahasa nan digunakan plong Sekar Menengah merupakan menggunakan bahasa Bali yang bercampur dengan Bahasa Jawa Historis, karena sebagian besar kidung-kidung nan ada sekarang berpangkal dari Jawa khususnya berasal kerajaan Kediri, Singosari dan Majapahit. Sebagian besar meres dan tokoh-tokoh dalam kidung inipun mengisahkan latar dan tokoh bermula kekaisaran-imperium tersebut. Adapun rasam yang mengikat Sekar Alit disebut dengan Padalingsa. Pada artinya besaran suku introduksi dalam setiap baris, dan Lingsa artinya vokal bungsu dalam tiap barisnya.

Tersapu dengan Lima Yadnya, setiap yadnya n kepunyaan jenis kidung nan berbeda-cedera, sebagai contoh detik Batara Yadnya kidung yang dipergunakan adalah Kawitan Wargasari, Wargasari, Brahmara Angisep sari, Adri, Rare Kadiri, dan tidak sebagainya. Manusa Yadnya menggunakan kidung Demung sawit, Malat, dan lain sebagainya. Rsi Yadnya menunggangi kidung Rsi Bhojana, Pitra Yadnya menggunakan kidung Syah Kembang, Adri, Megatruh, dan tidak sebagainya. Sedangkan saat Bhuta Yadnya galibnya menggunakan kidung Pupuh Jerum. Berikut di pangkal ini disajikan sejumlah jenis kidung.

Pupuh, Kidung dan Kakawin sesuai fungsinya digunakan pula untuk mengantarkan ritual privat kaitanPanca Yadnya. Irama dan liriknya telah diatur sesuai dengan tujuan formalitas. Jadi mereka yang melakukan pupuh, kidung dan kakawin mestinya bukan hanya juru melantunkan hanya, sekadar juga pandai meletakkan plong situasi yang tepat.  Berikut di pangkal ini macam-jenis Kidung sesuai dengan rangkaian ritual yang madya dilangsungkan.

1. Kidung Dewa Yadnya

Kidung nan terkait dengan Dewa Yadnya lazimnya menggambarkan suasana nan khusyuk, dengan nada irama yang hening dan mengalun seiring dengan hormat hobatan yang dihaturkan oleh para Sulinggih.

Apa itu dharma gita jelaskan

Gambar Seremoni Pujawali , n domestik upacara tersebut diiringi dengan Kidung Betara Yadnya Sumber : https://spiritualkundalinibali.wordpress.com/2011/04/05/piodalan-di-pura-agung-semanik-19-maret-2011/

Ciri eksklusif kidung Dewa Yadnya adalah liriknya mengandung unsur-unsur  pemujaan ,puji-penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi, dilantunkan dengan perlahan-lahan dan munjung kekhusyukkan.

Berikut Di asal ini beberapa spesies kidung yang digunakan cak bagi mengiringi rangkaian seremoni Dewa Yadnya, khususnya yang berlaku di Bali.

Tatkala nuntun Ida Bhatara: Kawitan Wargasari, Wargasari;

  • tatkala mapiuning,menghaturkan upacara: Brahmara Ngisep Sari, Kawitan Wargasari, dan
  • menghaturkan byakaon,prayascita, dll: Kidung Wargasari
  • memendak atau melasti: Wargasari
  • tatkala muspa: Kakawin Mredu Komala, Kakawin Totaka;
  • tatkala nunas tirta: kidung wargasari; pupuh adri, rare kadiri
  • tatkala maprani: kidung penduduk sirang, kidung wargasari
  • tatkala nyineb: warga sirang.

2. Kidung Rsi Yadnya

Untuk Rsi Yadnya digunakan: Rsi Bojana: Wilet Mayura, Bramara Sangupati, Pukul Gangsa sedangkan bagi upacara Diksa digunakan Rara Wangi. Kidung Rsi Yadnya sreg umumnya mencitrakan kesucian, ajaran ke-Halikuljabbar-an, wangsit vakansi dan menggambarkan swadharma koteng Orang Zakiah. Kidung Rsi Yadnya membangun suasana agung, berwibawa dan suasana kekhusyukan.

Apa itu dharma gita jelaskan

Gambar Upacara Padiksan,  privat prosesi ini, diiringi dengan kidung Rsi Yadnya Sumber : https://griyapucaksari.com/

Kidung momen Rsi Yadnya kadangkala juga menggunakan wirama/kakawin. Bedanya ketika dijadikan ibarat kidung, wirama itu dilantunkan bersama tanpa diisi dengan terjemahan/ artos. Wirama dinyanyikan dengan nada yang panjang, hanya tetap mengajuk aturan Temperatur-Laghu itu sendiri.

3. Kidung Manusa Yadnya

Kidung Manusa Yadnya adalah kidung yang digunakan bikin mengiringi dan menghantarkan upacara Manusa Yadnya. Kidung Manusa Yadnya silam banyak jumlahnya, dan galibnya menggunakan kidung-kidung Klasik di era Kekaisaran Kadiri, Singosari dan Majapahit.

Apa itu dharma gita jelaskan

Gambar Ritual Pawiwahan yang diiringi oleh Kidung Manusa Yadnya Sumber : http://new.babadbali.com/gong-konsentrat/2016

Kisah yang diceritakan pada kidung tersebut adalah cerita Panji, yakni spirit para Raja, Pangeran dan Putri ataukehidupan emir-yang dipertuan di istana. Hal itu bertujuan agar kehidupan umat bani adam bisa berjalan baik, rukun dan mendapat sebagaimana yang digambarkan plong Kisah Panji tersebut, tertera sekali lagi nilai-poin kehidupan dan mandu-cara kehidupan. Mengenai sejumlah

jenis kidung Manusa Yadnya sesuai dengan ritual nan dilakukan, adalah sebagai berikut.

  • Upacara Raja Swala: Demung sawit,
  • Ritual Matatah/ Mapandes: Kawitan Tantri, Demung Sawit,
  • Formalitas Mapetik: Malat Rasmi,
  • Ritual Pawiwahan: Seroja biru

4. Kidung Pitra Yadnya

Kidung Pitra Yadnya biasanya digunakan kerjakan mengiringi upacara kematian yang weduk zikir-doa lakukan mendoakan Sang Nasib agar menuju pada alam kelepasan.

Apa itu dharma gita jelaskan

Gambar Upacara Ngaben yang diiringi Kidung Pitra Yadnya Sumber : http://indonesiawow.com/upacara-ngaben-di-bali/

Kidung ini kebanyakan banyak diambil dari bacaan-teks Kakawin yang terbit dari Ramayana alias Kakawin Bharata Yudha.

Kejadian itu dikarenakan lega kisah-kisah itu banyak terdapat suasana yang spektakuler akan halnya gugurnya pahlawan, keberanian dan vakansi yang dialami oleh para tokoh Itihasa tersebut. Walaupun demikian, kakawin tersebut dinyanyikan seperti Kidung, yaitu dilantunkan dengan nada yang panjang, dinyanyikan bersama dan bergelombang membuat suasana yang haru namun penuh keikhlasan dan doa penyongsongan pembebasan. Berikut keberagaman-jenis Kidung dalam upacara Pitra Yadnya misal berikut:

  1. Meletakkan batang (nedunang sawa)/ Memandikan jenasah (nyiramang layon) : Sewana Girisa, Barisan Ugu.
  2. Perjalanan menuju ke kuburan (mamargi ke setra) : Wirama Indra Wangsa.
  3. Cak bagi mengubur dan membuat gundukan kuburan (gegumuk): Pupuh Adri.
  4. Detik membakar jenazah (Ngeseng sawa): Wirama Praharsini;
  5. Momen Ngereka abu: Kidung Baginda Kembang;
  6. Saat melarung abuk ke laut: Wirama Sikarini, Asti;
  7. Pada saat upacara Nyekah (Sukma Bupati): Wirat Kalengengan.

Berikut adalah sejumlah contoh Jenis Kidung Pitra Yadnya tersebut.

5. Kidung Bhuta Yadnya

Kidung Bhuta Yadnya yaitu kidung yang digunakan untuk mengiringi dan menghaturkan upacara Bhuta Yadnya. Kidung ini dipercaya subur mengundang keistimewaan bhuta (kekuatan alam) kemudian melakukan pengaturan

Apa itu dharma gita jelaskan

Rangka Seremoni Pacaruan yang diiringi Kidung Bhuta Yadnya Sumber : http://kadekshare.blogspot.co.id/2014/07/besarnya-kemujaraban-dari-pagar adat-mecaru-di.html

ulang (reposisi) sebagai rang koordinasi kemujaraban alam hendaknya memberikan keefektifan maujud kembali lega tatanan semangat manusia.

Kidung Bhuta Yadnya memiliki kekhasan, alunan kidungnya silam dinamis, dengan tatanan tangga nada yang indah. Berikut beberapa jenis kidung Bhuta Yadnya tersebut.

C. Dharmagita Dengan Literasi Domestik

Cak semau banyak Dharmagita nan tersebar di seluruh Indonesia. Tidak ada penyeragaman dalam Hindu, sehingga kearifan lokal masin lidah dengan baik. Situasi itu memungkinkan setiap etnis Hindu mempunyai kidungnya tersendiri. Inilah yang disebut dengan kebhinekaan. Karena usia beraneka itu ialah sebuah keniscayaan, namun janganlah jadikan perbedaan itu sebagai alasan untuk merasa benci dan berbeda.

Kesadaran ini juga harus dilaksanakan intern usia berbangsa dan bernegara. Hidup di Negera Indonesia dikodratkan untuk hidup berbhineka, nasib dalam masyarakat yang multikultur sehingga harus dipahami dan diterima dengan baik. Hidup n domestik multikultur ini sudah ditanamkan sejak zaman sangat oleh petunjuk karuhun Nusantara dan ilham luhur Agama Hindu. Hal ini dibuktikan dengan kekayaan budaya dan diterimanya semua budaya masuk misal babak integral dalam Agama Hindu, khususnya akan halnya kidung ini. Berikut akan disajikan beberapa jenis Kidung keimanan berpunca beberapa etnis Hindu di sejumlah daerah Indonesia, bersumber berbagai suku bangsa di Indonesia.

1. SINOM KETAWANG

Gusti Hyang Maha Wasesa

Sinembah sagung dumadi

Tumurun ing bumi

Ingayab gung dewa-bidadari

Sumunar cahya suci

Angambar ganda arum

Mustikaning jagad raya

Amisesa siang ratri

Ing wasana gya bangkit paring nugraha.

2. ERONGAN PUCUNG LADRANG

Hamba munjuk, lumantar pamantranipun

Kanthi puja brata, nggennya harap tirta suci

Kukus arum anglantarken sembah hamba.

Dhuh Hyang Agung, sih paduka kula suwun

Mugi dadya srana, pangleburing boke dhesti

Papa penyap raos wening jroning nala.

Gya tumurun, nugrahaning Hyang Maha Gung

Kang lumantar tirta, tinampen pra umat sami

Temah mulya tut widya nir sambekala.

3. DANDANG Gula GEDHONG KUNING

Lir kusumo, mbabar ganda wangi

Kumelun wor kukusing sang dupa Sang yogi anak cobek ciptane Hanut laksiteng wahyu

Matek mantram polos melatsih

Pindha si istri muda branta Kunjuk Hyang Maha Gung

Hambuka wenganing tyas

Ing sasmita wahyuning Hyang Hodipati

Waduh daya katentreman.

4. KETAWANG KADUK RETNO

E… angin mangidit milir

Arum-arum dupa sekar sesari

E… angin mangidit milir

Arum-arum dupa sekar sesari

Ri Si Pekik amuja wening ciptane

Yayah kojem brahmana mangsah semedi

Mangkono ingkang winuwus

Sanghya pra umat sadarum

Angesti wijiling nubuat

Sang surat bahari amusti tirta

Arum kukusing ratus

Angambar ing awang-awang

Umat samya sinekar panjang ilang.

5. PANJANG ILANG

Ngeningken cipta sayekti

Tuhu titis ing pangrasa

Rasa ngreh panca ndriyane

Rinacut manjing sajuga

Sumusup sajroning nala

Kang riris angambar arum

Ambabar jatining rasa.

Dhuh Gusti Hyang Maha Widhi

Lumunturo sih paduka

Muhung tur hormat mantrane

Minta sih peparing tirta

Anggayuh sucining nala

Cinaketno munggweng kayun

Rinengkuh Maha Wasesa.

Dhuh Gusti Hyang Maha Suci

Wit saking asih paduka

Kasembadan sasedyane

Sawusnya anampi tirta

Lucut tan manggih rubeda

Kaparenging Hyang Maha Gung

Widada nir sambekala.

6. ASMARANDANA

Sunwiwiti amemuji

Manembah Hyang Widhi Wasa

Cinawisna pirantine

Ratus tirta lan sekarnya

Kanggo srana amemuja

Kanthi wening jroning kayun

Nggennya kita ameminta.

7. Bopong Semawang PAMBUKA

Pamintaku kunjuk ngarsa Gusti

Linuberno ing teguh yuwana

Kang tansah gung aksamane

Dhuh Gusti dasih ulun

Jroning ari sembahyang niki

Tan kena tininggala

Sagunging mitraku

Berbenturan bagya Masif

Dhirgayuswa sumrambah sentana sami

Saking wahyuning Hyang Dharma.

8. TINAMPEN Memfilter PAMUNGKAS

Hyang Widhi, Maha Suci

Sampun purna atur sembah

Hyang Widhi, rahayua

Pemangku amercik tirta

Tirta kudus ganda arum

Tarlen amung amemuji

Mugi umat Hindu Dharma

Berida anem jaler estri

Estinen mustikaning tyas

Manunggal ngarsane Widhi.

Hyang Widhi, mugi-mugi

Kaparinga anugraha

Hyang Widhi, lestariya

Sagung sukma umat samyo

Umat manungsa kang gesang

Anugraha nurwidiya

Brahmacari kaluhurna

Satyam ewa na anertham

Satyam siwam lan sundharam

Moksa artham jagadhita.

Hyang Widhi katampia

Ulun angaturken sembah

Hyang Widhi, khidmat ulun

Lahir batin amemuji

Wahya dyatmika sembah ulun

Ijen ta tan hana waneh

Werdha mudha jaler estri

Gumolong dadi sawiji

Ing dinten sembahyang niki

Cekap nyuwun tirta suci.

9. Tanah air

Ibu pertiwi

Paring boga lan sandhang kang murakapi

Peparing rejeki manungso kang bekti………..

Tanah air………..ibu pertiwi……………

Sih sutrisno mring sesami…………

Tanah tumpah kang adil luhuring kepribadian

Ayo sungkem mring ibu pertiwi

Hyang prameng kawi

Tinedahno hamba mring lampah utami

Kang manut wewaton dhasaring agami…………..

Tat twam asi…………..kang sesanti……………..

Rahsa tan cedera sayekti……………

Aiwa persekutuan dagang suko deksiyo sesame

Ayo ngudi mrih luhuring budi.

10. BAWA Simaung PENUTUP

Umat sagung

Sembahyangan sampun rampung

Swawi wedhar sila

Kanthi namaskara santi

Asesanti rahayu kang pinanggiha.

Kidung pujian untuk umat Hindu Kaharingan disebut dengan Kandayu, nan menggunakan bahasa Sanghyang, di mana kehadiran kandayu ini adalah gita puja kepada Ida Si Hyang Widhi/Ranying Hatalla Langit, dan bineka kejadian rekaman atau kisah-kisah kepahlawanan yang menjadi teladan dan inspirasi umat Hindu di persil Kalimantan. Berikut di bawah ini disajikan beberapa contoh Kandayu.

a. Kandayu Manyarah Sangku Tambak Tuanku

Kandayu manyarah Sangku Kolam Ratu adalah sebuah kidung nan menembangkan tentang maksud dan harapan persembahyangan, pembayaran Sangku beserta dengan isinya kepada Raying Hatala. Tujuannya buat memohon hendaknya diberikan kilauan kekuatanNya lakukan kehidupan bani adam moga senantiasa mendapatkan bimbingan baik dalam berpikir, berfirman dan melakukan.

1. Sangku tambak hai pahalendang

Basuang Behes Parei Manyangen Tingang

Rukun tarahan je giling pucang

Inihang luhing je dandang tingang

2.Sangku Empang Hai Baguna

Inyarah Rangka Auditorium Paseban Yamtuan

Taharep Ulun Bakas Peti mati

Manumun Peteh Ranying Hatalla

3.Sangku Jituh Basuang Behas

Pambelum Inyarah Dia Bara Tikas

Dengan Hatalla Ilaku Ka-abas

Hambaruan Salamat Bereng Barigas

4.Hetuh Itah Uras Manyaksi

Ranying Hatalla te Puna Ati

Biti Bereng Daha dan isi

Bakas Tabela Hatue Bawi

5.Hetuh Itah Manyarah Sangku

Panungkup Mengirim je Raja Bunu

Tutuh Kameluh je Limut Gangguan

Peteh Hajamban je Raja Uju

6.Hatalla Nangkilik Jatta Nanggera

Narui Peteh Sangga Tatamba

Nyalumpuk Sangku je Tambak Raja

Akan Kalunen Sahapus Dunia

7.Sangku Inyarah Tumun Peteh

Uka Itah Uras Je Menteng Ureh

Alu Utus Je Kue-Kueh

Bereng Barigas Kahaban Keleh

8.Itah Manyarah Beliau Malayan

Dengan Hatalla Je Katamparan

Uka Manenga Nyalung Kaharingan

Inkes Intu Behas Hambaruan

9.Sangku Inyarah Intu Baun

Sangku Impunduk Je Melai Baun

Narai Ilaku Inenga Dinun

Tuah Rajaki Je Uras Atun

10.Sangku Inyarah Dengan Bagulung

Behas Imintih Bangkusan Timpung

Panyalumpuk Entang Penyang Hatampung

Sama Belum Tatau Manyambung

11.Sangku Inyarah Kalutuh Helu

Imapui Manyan Sangku Inggaru

Lampang Ewau Je Mangat Tutu

Mukei Kuasan Je Ratu Uju

12.Hetuh Itah Sama Saga

Intu Rencana Je Biti Are

Behas I-Intih Hariten Pire

Label Panenga Je Pasti Tege

13.Hetuh Itah Uras Mingat

Pasin Hatalla Mayit Salamat

Aluh Narai Bewei Kahimat

Gawi Manjadi Hayak Imberkat

14.Pasin Hatalla Bintang sartan Inarang

Cuba Irima Tuntang Ingumang

Bara Tamparae Sapanja-panjang

Ingandung Bahas Parei Nyangen Tingang

15.Hetuh Itah Uras Katawan

Bentuk Ungkup Mengirim Babuhan

Jalan Helu Tege Kalampangan

Janjin Hatalla Tatahian Huran

16.Majelis Kaharingan Jadi Imberkat

Ranying Hatalla je Mampaingat

Hetuh Utus Mamparahan Kabulat

Bereng Batuah Belum Salamat

17.Hajamban Jetuh Bulau Mandurut

Harantean Riwut Bahing Karungut

Peteh Nyai je Inai Keruh

Saluran Balanga je Runjan Riwut18.Balanga Bulau je Runjan Riwut

Turus Panatau je Tabo Gagap

Muhun Pahayak Ambun Hadurut

Eweh je Tawa Tatau Basewut

19.Sarah Sangku Sampai Tuh Bewei

Basarah Penyang Je Hinje Simpei

Mamparahan Ampin Kabulat Atei

Kaharingan Belum Penyang Karuhei

20.Sangku Inyarah Dengan Hatalla

Kahimat Itah Bakas Tabela

Tuah Rajaki Atun Babala

Kehidupan Panjang Belum Baguna

21.Hetuh Itah Basarah Melingkar

Hinje Atei Tiruk Pampakat

Manintu Hatalla Uka Kahimat

Bereng Barigas Itah Salam

 b.
Kandayu Mantang Tiang Erang

Kandayu mantang kusen erang adalah sebuah kidung yang berisikan tentang perjalanan Banama Tingang mandulang Bulau Untung Taheseng Hierarki (Memohon rezeki dan vitalitas panjang) yang dilakukan oleh Raja Telu Hakanduang yaitu Raja Umbul-umbul Garing Sanguman, Mantir mamaluhing Bungai dan Linga Rawing Tampun telun nan sudah mendapat anugrah dari Raying Hatalla sehingga Raja Telu Hakanduang memeiliki kebal nan dapat memeberikan rahim, kehidupan panjang, afiat sejahtera kepada semua mahluk. Kandayu ini digunakan internal persembahyangan (Basarah) Umum dan bukan lakukan Basarah keluarga.

1.Atei Itah Halajur Mangganang

Maniruk Auh Te Sapanja-Janjang

Auh Lunas Jalan Malempang

Panamuei Randung Banama Tingang

3.Banama Tingang Dia Tiliang

Itah Samandiai Uras Mahining

Palus Inulak Auh Bataling

Raja Ngarangan Je Balairung Mihing

5.Auh Kandayu Sasar Basikap

Banama Nahalau Ambun Tatilap

Panjungan Manjung Unuju Ancap

Lawang Haselan Kalawet Batatap

7.Tamuei Banama Kritis Bagulung

Sira Nyarita Je Luwuk Tanjung

Banama Tingang Paparantung

Tende Lewu Jabal Ambun Bagantung

10.Gawin Mantir Uras jadi

Limbah balaku Ewen Nanjuri

Lumpat Banama Mengkak tali

Banama Haguet dia Balihi

11.Tamuei Banama beliau Bambilit

Nanturung Tumbang je lawang Langit

Baginda Tantilap je Utus Rihit

Asun Bulan Manjijit Huit

13.Ampin Tamuei Banama Bagulung

Tende Nyawau Rahan Timpung

Uluh Uras Rata Hatampung

Ungkup Babuhan Laut Mangantung

15.Banama Namuei Hararahan

Murik Tumbang Kasabahan

Butuh Metu Spesies Bakuyan

Lauk Bilis Ranying Manjuhan

17.Tende Banama je Kanjanjulu

Ratu Mantir Mendeng balaku

Dengan Rajan Penis Metu

Takar Gantang Inenga Telu

19.Labehu Eka Bongsor Baputi

Talagan Tuah Talagan Rajaki

Akan Gagenep Uluh je Ati

Bakas Peti mayat Hatue Bawi

21.Mantir Mendeng je Taragatang

Mahining Auh Kanderang Tingang

Harandue Emir Mambuka Lumpang

Sarangan Bulau Untung Panjang

23.Banama sampai Kaleka Lewu

Bua are macam baribu

Genep Kunarpa Masak Manuru

Teras Sawang Salanja Sanselu

2.Banama Muat Paramun Gawi

Ije Mahi Dia Ati Balihi

Tarantang Garu Due Puluh Ije Biti

Puat Banama Je Bahtera Jadi

4.Tulak Banama Kitar Gantau

Naharep Matan Je Andau Tumbu

Panamuei Banama Gulung Pahuru

Dengan Kakare Taluh Inggau

6.Manjung I-Urik Ia Narusan

Tende Balaku Sawang Kaharingan

Tihang Banama Murik Jalayan

Namuei Danum Tatau Nyahukan

8.Banama Tingang Palus Tende

Mantir Mantang Rahan Dare

Putir Santang Ewen Hanyahe

Rajan Kameluh Bawi Hatue

9.Mantir Mansanan Ampin Jalana

Untung Rajaki Inenga akae

Lilis Lamiang Hapan Manduae

Bakam Supu Hapa Nyarangae

12.Lawang Langit Haluan Banama

Jamban Sangiang Mantir Balua

Ancala Masuluh Bintap Tantawa

Tende Lewu Gunung Tebat Raja

14.Handue Prabu Mantir Nanjuri

Rahan Timpung Nyai Siti

Umur Hierarki Tuah Rajaki

Banama Batulak Rahui Ngamburi

16.Panamuei Banama Dia Panjang

Murik Pantai Danum Sangiang

Raja Tatau Labih Sanang

Hut Bulau Telu Karung Kajang

18.Banama Namuei hai Pahalendang

Mantir Mandulang Untung Panjang

Murik Pantai Danum Sangiang

Hingga Tumbang Hulang Hagandang

20.Tamuei Nyandar Randung Banama

Mamuat Balai Lambang Palangka

Eleh Hakanderang jadi Hakaja

Dengan Panatau Tingang Rangga

22.Banama Miar Seser-jalan

Murik Batang Danum Jalayan

Pahalendang Lewu Palus Gitan

Bagare Kaleka Batu Nindan

24.Mantir Marentah Tarantang Garu

Lumpat Tame Huma Ungku

Sapala Namuei Uras Ilaku

Behas Jite Ije paham perlu (dst…)

c. Kandayu Parawei

Kandayu parawei adalah kidung yang berisikan sabda mulai sejak Raying Hatalla Langit yang berbentuk nasehat- nasehat nan bisa menguatkan iman Umat Hindu.

1.Nyahu Hai Paham Bataling.

Marawei Utus Uluh Kaliling

Kilau Pahiau Suling Gariding

Nasa Kaharingan Balai Mihing

3.Batengkung Hiau Nyahu Hai

Marawei Menugasi Engkau Suali

Murik Tarusan Nyalung Nantiri

Manyundau Tamparae Je Itah Ati

5.Langit Tanah Jadi Balawa

Ulun Kalunen Jadi Inampa

Taluh Handiai Saraba Injapa

Kalute Sulak Gawin Hatalla

7.Nyahu Hai Ayun Hakumbang

Hayak Kilat Je Kritis Panjang

Bara Ancala Kangantung Gandang

Balua Tahanjungan Je Gawang Erang

9.Auh Nyahu Kilat Batantu

Manyarurui Tamparan Talu Helu

Inyaksi Indehen Raja Uju

Kaharingan Marawei Dia Balemu

11.Kilat Panjang Nyahu Hakumbang

Balua Bukit Nganderang Tingang

Raja Uju Ewen Hakanduang

Kaharingan Nyarurui Ela layang

13.Kilat Hierarki Nyahu Ngaruntung

Riwut Marawei Penyang Hatampung

Sebanding Mananggar Gantang Untung

Ulun Uras Tatau Manyambung

15.Auh Palempang Baguna Tutu

Akan Utus Je Paduka tuan Bunu

Tutuh Kameluh Balimut Bisikan

Peteh Muhun Je Bara Ngambu

2.Semarak Tingkatan Nyahu Batengkung

Nyahu Marawei Utus Bagulung

Tegah Uap Je Gadung Untung

Dimpah Rahusan Tasik Malambung

4.Metuh Kaput Je Dia Gitan

Hatalla Manyewut Auh Tamparan

Hamauh Manyewut Intan Kaharingan

Kaput Hapisah Palus Sabahan

6.Peteh Mandehen Ranying Hatalla

Dengan Kalunen Ije Inampa

Nyuang Petak Nguntep Bumi

Ela Manggawi Taluh Je Papa

8.Nyahu Hai Kilat Balawa

Auh Peteh Ranying Hatalla

Kaharingan Lihat Dehen Ihaga

Sampai Petak Langit Inaheta

10.Nyahu Hai Nur Balawa

Jamban Peteh Ranying Hatalla

Mamparendeng Itah Ela Laya

Kaharingan Jete Jalan Balawa

12.Ujan Labat Cuaca Hanyahu

Kaharingan Jalan Tanduhan Helu

Peteh Hatalla Engkau Balemu

Marawei Menugasi Je Sri paduka Bunu

14.Kalute Kapaham Auh Parawei

Balaku PenyangHinje Simpei

Inyimpei Indehen Huang Atei

Murik Tarusan Balawang Karuhei

16.Auh Parawei Tikas Tuh Helu

Hajamban Riwut Rawei Kandayu

Manyarurui Peteh Hatalla Ngambu

Panjanjuri Paseban Hulu Banyahu

17.Ampin Pasin Ranying Hatalla

Akan Itah Sahapus Mayapada

Balai Kaharingan Tege Inampa

Jamban Manyimpei Peteh Hatalla

d.

Kandayu Mambuwur Behas Hambaruan

Kandayu Mambuwur Behas Hambaruan dinyanyikan untuk mengiringi petugas membagikan behas hambaruan kepada semua pelajar basarah. Mengoles telur mandung dan menuangkan undus (minyak kelapa) serta memercikan air tampung tawar. Bersamaan dengan itu pula siswa Basarah menyepakati anugerah berbunga Ranying Hatalla Langit yang telah dimohonkan dalam pelaksanaan Basarah (persembahyangan).

Kandayu ini terdiri berasal tujuh ayat nan disesuaikan dengan kuantitas beras hambaruan dalam satu bungkusan timpung nan berjumlah sapta butiran, dengan intensi sesuai denganRanying Hatalla Langit yang disebut Emir Uju Hakanduang, Kanaruhan Sahaja Basakati untuk memajukan anugerahnya kepada seluruh peserta Basarah. Kandayu ini boleh diulang – ulang sesuai keperluan sampai pelaksanaan Mambuwur Behas Hambaruan. Lirik Kandayu tersebut berisikan harapan dan do’a restu yang telah dianugerahi Ranying Hatalla Langit agar boleh menyatu dan bisa berguna didalam semangat. Kandayu Mambuwur Behas hambaruan ini hendaknya diikuti dengan sungguh – sungguh dan hikmat, sebagaimana dalam ayat kandayu dibawah ini.

  1. Uajan – ujan aseng hierarki Sambalut simpei bambang penyang Mandehen bulau untung strata

    Namburak rabia nyaman tuyang

  2. Nasaki dahan/tanteluh manuk darung tingang Batambang untung aseng strata Bereng barigas belum tatau sanang

    Batarung pulu lampang hagatang

  3. Mamantis nyalung kaharingan Akan entang tingang mangawan Utus Pangeran Bunu te huran

    Manyelem behas hambaruan

  4. Nanjuri-ku merah haselan tingang Batu junjun karepurun entang Malisen bara peres panganduang

    Sama rata baumur panjang

  5. Kuruk bulau hambaruan Sambalut nyalung kaharingan Balasang kandayu iye nyawanan

    Tumun peteh tingang tatu huran

  6. Sama kanuah anak jatha lampang Manasa pandung je balau panjang Hajamban kandayu je kusen erang

    Nanjak-ku argo uju hanya hajenjang

  7. Nutuh bulau pungkal raja Hajamban peteh Ranying Hatalla Bawi hatue bakas peti mati

    Kurik hai sira imbeda

Duhai Para Sisya Sistha!

Ayo Berkarya!

Cobalah bakal membuat sebuah Dharmagita dengan bahasa daerah dan kaidah dharmagita yang berlaku di negeri tempat tinggalmu. Kemudian lantunkanlah juga dharmagita yang kalian ciptakan itu. Selepas proses latihan itu, cobalah untuk mempraktekkannya di depan kelas, bersama kelompok belajar Anda. Buatlah video rekaman pelaksanaan kidung itu, kemudian kumpulkanlah video tersebut sreg Acharya kalian untuk dinilai. Selamat berkarya!

D. Kredit-nilai Filosofis dalam Dharma Gita

Ada berbagai jenis kidung n domestik Agama Hindu, hanya keragaman jenis kidung ini bukanlah sebuah kerancuan. Ini merupakan bukti Agama Hindu merupakan Agama yang kaya, berharta akan seni dan budaya. Agama nan toleran terhadap berbagai ragam kearifan lokal yang dimiliki maka dari itu daerah di mana Hindu itu bernas. Hindu jiwa sesuai dengan cara umur dan kebiasaan masyarakatnya, namun petunjuk dan idealism Ketuhanannya teguh satu, merupakan ajaran yang berpunca dari Veda.

Berdasarkan diversifikasi-jenis Kidung tersebut sejatinya banyak pelajaran yang dapat kita teladani. Enggak sahaja ajaran mengenai Ketuhanan, tetapi juga masalah Etika, Estetika, dan filosofi hidup. Oleh karena itu lega pembahasan ini, akan disajikan makna semenjak Kidung Panca Yadnya yang dimiliki oleh Umat Hindu, yang merupakan menjadi inti ataupun landasan penyusunan kidung tersebut.

1. Skor Teologis

Kidung keagamaan Hindu pada hakikatnya yaitu lagu-lagu keagamaan yang di dalamnya mengandung apresiasi dan berhala kepada Ida Si Hyang Widhi Wasa. Sebagai sebuah lagu sanjungan, maka lirik-lirik yang terkandung dalam kidung tersebut banyak menyuratkan pernyataan-pernyataan apresiasi kepada Tuhan, pernyataan atas segala kelemahan dan kesalahan yang dimiliki, serta pengharapan diri kepada Tuhan. Selain itu, kidung keyakinan juga mengandung ajaran-ajaran ke-Tuhanan yang dapat menggambarkan bagaimana konsep-konsep teologis dalam Agama Hindu.

Konsep teologis dimaksud yaitu mengenai kemahakuasaan Ida Si Hyang Widhi Wasa, hakikat ber-yadnya dan bineka manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi. Bak contohnya adalah ibarat berikut:

Brahmara Angisep Sari

Mogi tan kacakrabhawa

Titiang I katunan sami

Nista rani wak lan ingatan

Langgeng ngulati Hyang Widhi

Si suksma maha achintya

Nirbhana Siwa kasengguh

Singidan gelang-gelang terbantah aksi

Terjemahan:

Semoga enggak ketularan kutukan

Saya adalah turunan nan penuh kekukarangan

Penuh kesuntukan n domestik perbuatan, perkataan dan pikiran

Senantiasa setia memuja Hyang Widhi

Hyang Widhi hakikatnya sangat halus dan enggak terpikirkan

Disebut sebagai Nirbhana Siwa

Tak nampak, lain kasat netra, namun Beliau cak semau

Berdasarkan petikan Kidung Brahmara Angisep Pati tersebut boleh kita pahami tentang salah suatu konsep Rabani (teologis) dari kidung yang cak semau n domestik umat Hindu. Konsep Ketuhanan dimaksud adalah hakikat dari Ida Sang Hyang Widhi yang Maha Esa, Dia tunggal dan sangat kecil-kecil keberadaannya. Kemahakuasaan dan keberadaan Beliau adv amat luar biasa, tidak ada suatu apapun yang bisa menggambarkan wujud Tuhan itu, sehingga engkau disebut memiliki kekuasaan yang disebut dengan Achintya artinya tidak boleh dipikirkan, tidak dapat dijamah oleh pikiran maupunn indria.

Kemahakuasaan Tuhan itu dalam konsep teologis nan dimaksud menunjukkan konsep ajaran Nirguna Brahman yaitu hakikat Tuhan yang tidak riil, tidak bersifat, tidak tergambarkan dan hakikatnya merupakan Maha Esa. Dalam petunjuk Siwa Siddhanta konsep Ketuhanan ini disebut dengan Paramasiwa Tattwa, yaitu hakikat keberadaan Ida Sang Hyang Widhi yang Maha Esa, tidak tergambarkan, tidak bersifat tidak memiliki gambar, dan juga enggak bisa dipikirkan kerumahtanggaan perhatian maupun indria. Aspek ini menunjukkan konsep Rabani yang tertinggi internal Agama Hindu.

Konsep Ketuhanan ini kembali banyak sekali diuraikan dalam kidung-kidung umat Hindu Kaharingan (Kandayu). Begitu juga yang ditunjukkan dalam model teks Kandayu di atas menguraikan tentang kemahakuasaan Ida Si Hyang Widhi (Ranying Hatalla Langit), proses invensi kalimantang semesta, konsep kreasi negara dan raja-raja yang memerintah. Sekiranya ditinjau lebih dalam lagi situasi ini sangat sesuai dengan penulisan-penulisan kitab Purana, yang di dalamnya membahas tentang Tuhan, Atman, Bhuana (dunia), Sejarah Emir-raja, dan waktu (Kala).

2. Nilai Pemujaan

Kidung adalah pernyataan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi tentang barang apa bentuk berbagai upacara atau yajnya yang dihaturkan kepada-Nya. Kidung-kidung tersebut pada umumnya dinyanyikan bersama-sama dan penuh kekhusyukan dan kerendahan lever. Kidung menyatakan sebuah idiom bhatin umat nan secara tulus masif bakal memuja Tuhan.

Hal ini menunjukkan bahwa kidung bermakna bagaikan sebuah media dan kendaraan ikram kepada Ida Sang Hyang Widhi. Keadaan ini internal ajaran Nava Vidha Bhakti disebut sebagai Kirtanam yaitu pendirian cak bagi memuja dan mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi melalui lagu-lagu pujian. Dalam lagu-lagu fetis itu terdapat lirik-lirik lagu tentang keluhuran bagi Ida Si Hyang Widhi, kebesaran dan kemahakuasaan-Nya. Selain itu juga terletak pernyataan diri akan berbagai kelemahan, kekurangan dan ketidak sempurnaan diri. Sehingga internal kidung tersebut banyak mengandung pernyatan-pernyatan mengenai pengakuan atas berbagai kekurangan dan keterbatasan dalam diri manusia. Perhatikan arketipe kidung di bawah ini!

PUPUH GAMBUH

ngaturang tenturun harum pangiring puja bhakti kaluhur

maduluran kenung gantal

canang bibit

saha kidung puisi gambuh

katur cincin hyang widhi kawot

Terjemahan:

Menghaturkan dupa bebauan sebagai pembawa doa penghargaan yang dihaturkan

Bersaranakan canang gantal

canang ekstrak

Serta diiringi dengan kidung bertembangkan Pupuh Gambuh

Dihaturkan kepada Ida Sang Hyang Widhi

Berdasarkan petikan riuk suatu kidung di atas dapat kita ketahui bahwa dengan melantukan kidung mempunyai makna yang seperti menghaturkan berbagai upakara. Kidung adalah pengiring zikir nan digunakan untuk memuja kemuliaan dari Ida Sang Hyang Widhi. Seperti nan tersurat lega kidung Pupuh Gambuh di atas kidung yaitu salah suatu sarana pengultusan kepada Ida Sang Hyang Widhi mengiringi berbagai upacara dan upakara yang dihaturkan. Lirik-lirik internal kidung juga berisi tentang kebhaktian lega Ida Sang Hyang Widhi, artinya mengandung pernyataan rasa bhakti dan sradhhakita.

3. Skor Etika

Kidung tak hanya lagu-lagu untuk memuja kebesaran dan kemahakuasaan Ida Si Hyang Widhi Wasa. Internal kidung juga terdapat ular-ular-nasihat nan boleh dijadikan tuntunan roh bagi sosok. Lirik-lirik kidung pun mengandung prinsip-kaidah spirit yang diamanatkan dalam ilham agama, dan melalui kendaraan kidung ini umat diingatkan untuk melaksanakan visiun agama tersebut.

Kidung mengandung ajaran Etika, yaitu pedoman bertingkah laku cak bagi membuat tatanan masyarakat yang harmonis. Selain itu internal lirik kidung tersebut juga terdapat bineka visiun tentan perilaku yang kamil dilakukan dalam menjalani atma bermasyarakat sesuai dengan Varna dan Ashrama-nya per. Kidung-kidung yang banyak mengandung ajaran etika kebanyakan pada kidung Rsi Yadnya dan Manusa Yadnya. Pada upacara itulah kidung digunakan bikin menganjurkan pedoman alias etika hidup baik perumpamaan seorang orang biasa (walaka) maupun menjadi koteng makhluk nan memasuki dunia spiritual. Berikut salah satu transendental kidung yang mengandung tanzil etika di dalamnya.

KIDUNG RSI BHOJANA

BRAHMARA SANGUPATI

Fragmen I:

Wiwekan sang maweh dana

Tan sangkaning prih pamuji

Miwah tan sangkaning berbangga

Mangda safi nulus kalis

Saking perhatian las carya

Dawning hunan arta iku

Pedanayang lan puponin

Terjemahan

Pertimbangan bagi seseorang yang akan berdana punia

Tak karena kepingin mendapatkan penghargaan

Juga bukan karena rasa bangga

Agar tekun kudrati ikhlas

Berasal bersumber pikiran nan nirmala

Karena kegunaan harta itu

Bakal didana punikan dan dinikmati (untuk kebutuhan nasib)

Privat kidung di atas terwalak tuntunan etika pada saat melaksanakan dana punia, dalam hal ini yakni dalam pelaksanaan dana punia kepada para orang tulen. Pada lirik kidung itu terdapat nasihat dan tuntunan kepada kita saat berdana punia, yang sepatutnya dilaksanakan dengan suci ikhlas tanpa menginginkan hasil maupun penghargaan berpokok orang tak. Kidung tersebut boleh dijadikan seumpama pedoman etika dan tata perilaku dalam menjalani kehidupan, yang dapat diteladani n domestik beraneka ragam aspek arwah.

4. Nilai Keayuan (Estetika)

Kidung yaitu salah satu karya seni nan memiliki nilai keayuan khas. Keindahan kidung bisa dinikmati melalui pertalian kata-katanya yang disusun dengan pengenalan-kata sortiran, dengan permaianan rima, kata simile nan puitis, dan makna dari prolog-kata itu silam menyentuh. Selain keindahan dalam sudut pandang sastra, maka kegagahan kidung kembali dapat dinikmati berdasarkan alunan lagu saat kidung tersebut dilantunkan. Keindahan irama kidung membuat suasana hati menjadi damai dan sepi, Hal itu menjadi kegantengan tersendiri dalam seni suara kidung ini.

Keindahan kidung sekali lagi dapat dinikmati melangkaui unsur-zarah dramatic pada lirik kidungtersebut. Unsur-elemen dramatic tersebut bisa membangun imajinasi kita, sehingga mampu menggarangkan imajinasi dan pikiran manusia dapat membayangkan bagaimana suasana kidung ataupun kejadian yang digambarkan dalam kisah itu. Beralaskan kondisi tersebut, kekusutan keayuan dalam kidung tersebut dapat membangun kekhusyukan dan pemfokusan umat n domestik melakukan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi.

Wahai Para Sisya Sistha!

Ayo kita bekerja!

Carilah beberapa spesies kidung yang ada di daerah seputar Anda. Pilihlah kidung tersebut, kemudian terjemahkan kidung tersebut ke dalam Bahasa Indonesia. Pasca- itu analisislah makna semenjak kidung tersebut dan lagi temukanlah wanti-wanti-wanti-wanti adab yang terkandung internal kidung tersebut!

Sajikanlah hasil analisismu dalam bentuk artikel, kemudian presentasikanlah kepada teman sekelasmu. Diskusikanlah peristiwa ini dengan ayah bunda/ wali Anda, serta galilah kenyataan nan seluas-luasnya melalui berbagai media dan literature.Mintalah saran-saran dari padanan dan AcharyaAnda!

Selamat berkarya!

E. Dharma Gita dalam Upaya Konservasi Budaya

Bernyanyi merupakan ganjaran manusia cak bagi mengekspresikan kepelesiran hatinya dan lagi untuk menguasai kesedihan. Usia suka dan tenang merupakan dambaan manusia nan legal pada umumnya. Roh bersenang-senang tanpa kendali boleh berbalik menjadi hidup susah menderita. Karena itu hidup senang yang dikendalikan dengan atma tenang itulah nan lebih terdepan. Semoga dapat vitalitas senang dengan tenang itu salah satu dari banyak pendirian merupakan dengan bernyanyi untuk mendapatkan pulsa keheningan.

Kondisi ketenangan bhatin dan spiritual inilah yang sulit didapatkan maka dari itu cucu adam pada zaman mendunia ini. Nasib yang keras, munjung persaingan dan egoism yang berkecambuk menyebabkan manusia kehilangan jati diri, tekanan hidup semakin tinggi, tuntutan hidup yang semakin langka dan langka, sering dikejar-kejar waktu dan pekerjaan menyebabkan orang sulit mendapatkan ketegaran perhatian. Salah satu upaya cak bagi mencari ketenangan bhatin itu dapat diupayakan melalui kegiatan benyanyi.

Nan dibahas dalam hal ini ialah nyanyian keagamaan yaitu Kidung. Buaian kegamaan itu disebut giita, bhajan, kiirtan atau kidung itu untuk memuja Almalik dan meluhurkan kesucian dan kemuliaan perkataan nabi-Nya. Buaian keagamaan itu cak bagi meraih budhi yang binar. Dengan budhi nan cerah itu sebagai kendaraan mengekspresikan kesucian Atman mengendalikan kecerdasan perasaan. Kalau pikiran dikuasai oleh ekspresi indera atau hawa nafsu, maka individu yang cerdas akan semakin cerdas melakukan sadis maupun adharma.Belaka kalau kesadaran budhi yang langgeng menguasai perhatian, maka orang yang cerdas akan semakin cerdas dan bijak mengerjakan bermartabat, baik dan tepat sesuai dengan arahan rta dan dharma.

Dalam
Manawa Dharmasastra VII. 14
disebutkan bahwa nyanyian keagamaan itu sebagai pelumas atom-unsur hidup dan raga agar terstruktur secara ideal dan normatif. Kalau partikel-unsur yang membangun spirit dan badan itu dapat berfungsi sebagaimana normanya, maka insan akan bisa hidup kesepakatan, akur, sehat, segar, bugar dan sejahtera. Itulah nan dapat disebut usia bahagia lahir batin. Ini artinya kedudukan giita intern pengamalan wahi Hindu demikian terdahulu, tentunya harus disinergikan dengan kegiatan lainnya.

Strategi nan tepat adalah menanamkan pengertian dan pemahaman yang benar, baik dan tepat pada Dharma Gita tersebut. Dengan signifikasi dan pemahaman yang benar, baik dan tepat itu umat akan mengerti dan memahami tentang kegunaan berbuat Dharma Gita itu untuk kemajuan semangat untuk mengaras semangat yang kerukunan, damai, adil, sejahtra dan bahagia. Cak bagi mencapai situasi itu tanamkanlah di dalam dalam hati umat akan halnya singgasana dan manfaat Dharma Gita itu sesuai dengan sastra agama Hindu nan tercantum dalam bacaan asli Weda dan sastra-sastranya.

Dharmagita tidak sekadar sebagai media pembelajaran agama dan pelaksanaan ritus keagamaan bagi umat Hindu, tetapi lagi digunakan untuk alat angkut pelestarian khazanah budaya bangsa. Pelestarian budaya bangsa yang dimaksud di sini yaitu di tunjukkan dengan penjagaan sajak atau irama-irama yang digunakan n domestik Dharmagita. Kita sadari tembang-puisi tersebut merupakan disesuaikan dengan desa, rekata dan patra, berkembang sesuai dengan kearifan lokal di mana Dharmagita tersebut berkembang. Keanekaragaman tembang yang tumbuh dan berkembang di per wilayah di Nusantara bakal menunjukkan rasa bhakti umat pada Allah merupakan gana budaya yang harus kita lestarikan. Melalui yajña yang dilaksanakan umat, sudah tentu menghaukan dharmagita itu kerap suka-suka dan harus dilantukan. Hal ini menjadi angin segar, sehingga keberlangsungan budaya ini dapat loyal terjaga. Lestarinya yajña dan ajegnya Agama Hindu karuan berimplikasi plong awet dan makin berkembangnya seni dharmagita ini sebagai kekayaan budaya bangsa.

Pelestarian budaya ini sekali lagi ditandai dengan adanya pewarisan poin-nilai kearifan lokal yang terkandung n domestik lirik-lirik Dharmagita tersebut. Ponten-poin tata krama, kecakapan hidup, filososfi hidup masyarakat banyak tersimpan dan tercermin intern Dharmagita ini. Lirik-lirinya kadang mengilustrasikan kondisi alam yang abadi dan tata atma yang akur sebagai halnya yang diinginkan kerumahtanggaan norma sosial di masyarakat tersebut. Melalui menjaga keberlanjutan dan eksistensi Dharmagita ini tentu akan amat dolan sreg preservasi biji-nilai kearifan lokal dan keluhuran budaya bangsa.

Wahai Sisya Sistha! Diskusikan dengan gerombolan belajarmu.

Carilah salah satu Dharmagita yang ada di daerahmu, kemudian analisislah nilai-skor kearifan domestik yang terkandung privat narasi Dharmagita tersebut. Kemudian rancanglah sebuah perencanaan terkait dengan operasi pelestarian dan ekspansi Dharmagita sekaligus pewarisan poin kearifan tempatan ini bagi para generasi muda.

Catatlah hasil diskusi kalian pada kertas maklumat diskusi kemudian presentasikanlah di depan kelas, serta mintalah saran dan kritik berasal kelompok belajar lainnya.

UJI KOMPETENSI

Apa itu dharma gita jelaskan

1. Apa yang dimaksud dengan Dharma Gita? Jelaskan konotasi dan lagi jenis-spesies berpunca Dharma Gita tersebut!

2. Jelaskanlah fungsi Kidung dalam pelaksanaan Panca Yadnya? Berlandaskan kebaikan tersebut bagaimanakah takhta kidung tersebut?

3. Buatlah tabel jenis-jenis kidung nan Anda ketahui yang digunakan di negeri Anda. Internal diagram tersebut sajikanlah merek kidung, ritual yang berkaitan dengan kidung tersebut, serta makna inti dari kidung tersebut!

4. Coba carilah salah satu Dharmagita Panca Yadnya yang ada di daerah Anda, kemudian analisislah makna berasal kidung tersebut! Sertakanlah argumentasi Dia dibuktikan dengan lirik kidung yang mendukung pernyataan Anda tersebut.

5. Kidung dapat membangun kiat konsentrasi dan toleransi roh. Pernyataan tersebut sesuai dengan makna dan manfaat kidung tersebut. Coba jelaskanlah bagaimana kemustajaban kidung buat umat di era globalisasi ini, sesuai dengan pernyataan tersebut!

REFLEKSI DIRI

Apa itu dharma gita jelaskan

Setelah Kamu mempelajari bab ini, jawablah pertanyaan-pertanyaan di radiks ini bagaikan bahan evaluasi dan refleksi diri Dia !

1. Apakah manfaat yang Anda rasakan secara sederum sehabis mempelajari ki ini ?

2. Apakah materi-materi nan sudah Anda kuasai ?

3. Apakah materi-materi yang sulit untuk Anda pahami ?

4. Apakah kekurangan alias kelemahan yang ada dalam diri Ia, sehingga Anda sulit memaklumi materi tersebut ?

5. Apakah harapan Anda pasca- mempelajari bab ini ? Mintalah orang tuamu untuk turut memberikan penilaian tentang proses pembelajarannmu lega pintu ini !

Was this article helpful?

Source: https://idkuu.com/apa-itu-dharma-gita-jelaskan

Posted by: soaltugas.net