Dosa Orang Tua Ditanggung Anak

Soal:

Apakah orang jompo yang telah meninggal mendapatkan dosa ketika anaknya yang masih hidup mengamalkan maksiat. Dalam kejadian ini anak kandung. Minta penjelasannya.

Jawab:

Al-Hamdulillah. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Hukum pangkal dalam hukum Islam bahwa seseorang lain menanggung dosa orang lain. Insan tua enggak bersedia dan menerima dosa yang diperbuat maka dari itu anak-anaknya; seandainya ayah bunda tidak punya peran, andil, dan tidak menjadi sebab atas kemaksiatan anaknya. Terlebih kalau orang tua sudah meninggal dunia.

Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلا عَلَيْهَا وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

“Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya koteng; dan seorang nan berdosa tidak akan memikul dosa basyar lain.” (QS. Al-An’am: 164)

Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di Haji Wada’,

ألا لا يجني جان إلا على نفسه، لا يجني والد على ولده، ولا مولود على والده

“Ingatlah, tidaklah seseorang mengerjakan kejahatan kecuali kejahatan itu ditanggungkan atas dirinya, kejahatan orang berida tak bisa ditimpakan ke anaknya, dan kejahatan anak tak bisa ditimpakan ke bapaknya.” (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Sekadar, kedua ibu bapak ketika hidupnya terbiasa mendidik anak mereka dengan baik. Orang tua wajib mengartikan syariat kepada anak-anaknya dan menanamkan etik mulia pada diri mereka. Jika mereka mengancaikan tanggungjawab ini maka mereka akan mendapat dosa atas maksiat anaknya karena kelalaiannya.

Yang mahakuasa Subahanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Wahai insan-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari jago merah neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan alai-belai.” (QS. Al-Tahrim : 6)

Ali kacang Abi Tahlib Radhiyallahu ‘Anhu -n domestik ayat di atas- menjelaskan tentang kewajiban orang tua atas anak-anaknya mencakup kewajiban mengajari anak asuh adapun Selam dan mendidik mereka dengan tata krama mulia.

Mujahid berkata, “Ajarkan ke mereka apa-segala apa yang bisa memakamkan mereka dari neraka.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ،

“Setiap kalian ra’in (penanggung jawab) dan masing-masing akan ditanya tentang tanggungjawabnya. Penguasa yaitu wali atas rakyatnya, dan akan ditanya tentangnya. Laki menjadi pengasuh kerumahtanggaan keluarganya, dan akan ditanya tentangnya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Makna ra’in adalah seorang penjaga, yang diberi amanah, yang harus memegangi perkara yang boleh mempersatukan amanah yang ada dalam penjagaannya. Ia dituntut kerjakan berlaku netral dan menunaikan perkara yang bisa memberi keistimewaan lakukan barang apa nan diamanahkan kepadanya. (Al-Minhaj 12/417, Fathul Bari, 13/140)

Maka ibu bapak juga dapat mendapatkan dosa atas maksiat anaknya apabila ikut memiliki peran pada kemaksiatan anaknya tersebut; sama dengan ikut memudahkan sebab kemaksiatan anaknya dan membelanya atas kemaksiatan tersebut. Dan ini, sepantasnya, berperan untuk setiap individu nan punya peran dalam kemaksiatan makhluk lain.

Bagi turunan tua haruslah serius memasarkan keshalihan anaknya melalui nasihat, pendidikan, keteladanan, doa, dan membangun kesalihan dirinya. Karena kesalihan basyar bertongkat sendok mengandung keberkahan bikin anak-anaknya. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Source: https://umma.id/post/orang-tua-dapat-dosa-atas-maksiat-anaknya-yang-masih-hidup-46762?lang=id

Posted by: soaltugas.net