Hadits Dari Ibnu Abdul Barr

√ Kumpulan hadits tentang menuntut guna-guna Cermin √  beserta latin dan artinya √ Keutamaan menuntut aji-aji √  Ayat Al Alquran tentang ilmu √ dan Deklarasi jamhur akan halnya menuntut aji-aji.

Kata sandang ini panjang, dan bagi melampiaskan anda, kami lakukan link daftar isi, silahkan bentang daftar isi dan pilih tema bahasan yang hendak anda baca, atau dapat beliau baca berusul awal setakat akhir.

Signifikasi Ilmu

Ilmu ialah Segala apa sesuatu nan datangnya dari Tuhan dan Rasullullah Sallalahu Alaihi Wassalam, dalam bentuk Ayat Al Quran maupun Hadist.

Ilmu yaitu kiat semua fungsi, dengan ilmu kita bisa mengetahui hukum-hukum Allah, dengan aji-aji kita bisa mengamalkan Agama secara sempurna, dengan mantra kita mengetahui batasan-batasan halal dan haram dan dengan ilmu kita berselesa raksasa kerjakan masuk suralaya.

Pentingnya Menuntut Ilmu

Imam Ahmad bin Hambal
bersabda, “Manusia sebenarnya lebih membutuhkan guna-guna ketimbang nafkah dan minuman. Karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan dua atau tiga siapa sehari, sedangkan ilmu diperlukan di setiap perian.”

Padri Anak lelaki Hajar rahimahullah privat kitab FathulBahri, 1/92 menjernihkan bahwa tujuan ilmu disini adalah ilmu syar’i atau dogma bukan ilmu marcapada.

Bukan bermanfaat ilmu dunia tidak baik, manfaat ilmu manjapada kembali baik dan kita terlazim pula akan ilmu dunia, tapi tidak masuk ketaraf terlazim, semata-mata mubah saja, dan itu sekali lagi tersidai berbunga maksud kita mempelajari ilmu dunia tersebut, kalau maksud kita baik dan bermanfaat maka akan baik juga aji-aji tersebut, tapi jika niatnya busuk maka akan mendapatkan dosa.

Hadits Tentang Menghendaki Hobatan

Haditt tentang menghendaki mantra ini terserah nan berkaitan dengan wajibnya, dan ada yang berkenaan dengan keutamaannya, dan nan lebih banyak yaitu haditt tentang keutamaan menuntut ilmu.

Kami sertakan gambar, tuliskan arab, coretan latin dan artinya, untuk penjelasan ulama tentang sabda akan kami tuliskan di penghabisan artikel ini dalam sub judul penjelasan cerdik pandai.

Untuk hadits ini sebagiannya kami tampilkan hipotetis dengan sanad, matan dan rawinya, tapi ada juga yang tidak kami tuliskan secara lengkap, karena keterbatasan ilmu kami.

Hadits Tentang Wajibnya Menghendaki Aji-aji

Hadist mula-mula ini yakni hadits memaui ilmu yang pendek nan menjernihkan tentang wajibnya menuntut teologi.

Bacaan Arab Hadist Wajibnya Menuntut Ilmu:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Latinnya:
“Tholibul ilmi faridhotan a’la kulli muslimin”

Artinya:
“Menuntut mantra itu wajib atas setiap Mukmin”
[HR. Anak lelaki Majah no. 224], dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al Albani privat [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 3913]

Hadist Tentang Keutamaan Menuntut Aji-aji ke 1

Hadist kedua ini menerangkan akan halnya penuntut Ilmu akan di mudahkan jalannya mendekati surga.

Teks Arabnya:

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Teks Latinnya:
“Man salaka thoriqon yaltamisu fihi i’lman sahhallahu bihi thoriqon ilal jannah”

Artinya:
Produk barangkali yang berjalan bikin mencari ilmu, Allah akan melajukan dirinya jalan menuju surga. hadist dari sahabat Abuk Hurairah radhiyallahu ‘anhu
[HR. Muslim].

Hadist Tentang keutamaan Menuntut Ilmu ke 2

Hadist ketiga ini menguraikan tentang tanda guna pada seseorang yang di berikan oleh ALLAH aktual kepahaman akan aji-aji agama.

Pustaka Arab:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

Referensi Latin:

“Man yuridillahi khaoyron yufaqihhu fiddiin”

Artinya:
“Barang mungkin nan Allah kehendaki maslahat, maka Allah akan mengartikan dia akan halnya ilmu agama.” Hadist ini cak bertengger dari sahabat Muawiyyah Radhiallahu Anhu.
[HR. Bukhari no. 71 dan Muslim No. 1037].

Hadist keutamaan Penuntut Ilmu ke 3

Hadist adapun menuntut ilmu ke empat ini menerangkan mengenai keutamaan penuntut ilmu, adalah di samakan kedudukannya dengan mujahid fii sabillillah.

Bacaan Arabnya:

مَنْ جَاءَ مَسْجِدِى هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

Bacaan Latinnya:
“manjaa amasjidii hadzaa lam yatihi illa likhoyrin yata a’llamuhu aw yua’llamuhu fahuwa bimanzilatil mujaahidi fii sabiilillah”.

Artinya: “Barangsiapa nan memusat masjidku ini, tidaklah sira mendatanginya kecuali untuk kekuatan yang akan dipelajarinya atau diajarkaannya, maka engkau seperti kedudukan mujahid fii sabiilillah.”
[HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani intern Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 227].

Hadist Menuntut Guna-guna ke 4

Hadist akan halnya menuntut mantra keempat menjelaskan tentang fadhilah ilmu yang berguna, bahwa pahalanya akan kekal dan mengalir kepada kita walaupun kita sudah meninggal.

Bacaan Arab:

ذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Referensi Latin: “Idzaa maatalinsaan anqothoa’ a’maluhu illa min tsalatsin; shodaqotin jaariyah, auw i’lmin yuntfu’bihi, auw waladin sholihin yadu’u lahu”

Artinya: “Jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, guna-guna yang signifikan, dan anak asuh shalih yang berdoa untuknya”
[HR. Muslim].

Hadist Tentang Memaui Aji-aji Ke 5

Hadist ini menyucikan akan halnya warisan Nabi nan substansial ilmu nan di berikan kepada para Ulama.

Bacaan Arab:

اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَامًا، وَلَكِنْ وَرَّثُوْا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Teks Latin:
“A’l Ulamaa u warotsatul anbiyyaa, wainnal anbiyyaa lam yuwarrotsuu diinaaron walla dirhamun, walakin warrotsuul i’lma, faman akhoduhu akhodu bi hadzhon wa firin”.

Artinya:
“Para jamhur adalah pewaris para nabi, Sesungguhnya para nabi enggak mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi para nbi mewariskan hobatan. Maka , barang siapa mengambilnya, beliau telah mencoket penggalan yang cukup.”
[HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Anak lelaki Majah; Di sahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’ no. 6297].

Hadist Keutamaan Ilmu Ke 6

Hadist ini menerangkan tentang keutamaan ilmu atas ibadah.

فَـضْلُ الْعِـلْمِ خَيْرٌ مِنْ فَـضْلِ الْعِـبَادَةِ، وَخَيْرُ دِيْنَكُمُ الْوَرَعُ

Bacaan Latin: “Fadlu al i’lmi khoiron min fadhlin al i’baadah, wakhoiru diinakumul warou’n”

Artinya:
“Keutamaan ilmu yaitu lebih baik dari pada keutamaan ibadah. Dan sesegak-baik agama kalian yaitu ketakwaan.”

Pendongeng dan riwayat hadist:
[Hadits ini hasan, datang berasal sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu’anhu, dan diriwayatkan oleh Ath-Thabrani n domestik Al-Ausath (no. 3972), Ibni ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi (ta’liq hadits no. 96 sebagai martir)]

Hadist Tentang Penekan Ilmu Ke 7

Hadist ini membeningkan tentang keutamaan penuntut ilmu yang akan mendapatkan doa kebaikan berpunca semua mahluk baik di langit dan di bumi.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

Wacana Latin:
“Innallahu wamalaikatahu wa ahlassamawati wal arodhina hatta anamllata fii juhrihaa wa hatta alhuuta layusholluuna a’laa mua’llminnasi al khoiyro”.

Artinya:
“Senyatanya Yang mahakuasa,para malaikat Nya,warga langit dan bumi sampai pun semut di sarangnya dan lauk di ki akbar ikut mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kelebihan kepada manusia”
[Hadits Serbuk Umamah Al Bahili di Riwayat maka itu Tirmidzi dan di shahihkan makanya Syehk Al Albani].

Hadist Adapun Menuntut Mantra Ke 8

Hadist ini menerangkan tentang keluasan pikiran atau sakinah, dikelilingi oleh malaikat dan di naungi oleh belas kasih ALLAH Subhana Hu Wataala bagi para penuntut ilmu.

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Artinya:
“Tidaklah suatu suku bangsa berkumpul di pelecok satu rumah Allah mengaji Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan terban kepada mereka sakinah atau kesabaran, dinaungi rahmat, dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di arah makhluk yang dimuliakan di jihat-Nya.”
[HR. Muslim, no. 2699]

Hadits Tentang Aji-aji Yang Bermanfaat

Hadits ini dirwayatkan maka itu Ibnu majah, dari sahabat Jabir bin ‘Abdillah Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

سَلوا اللهَ علمًا نافعًا ، و تعوَّذوا باللهِ من علمٍ لا ينفَعُ

Nan artinya: “Mohonlah kepada Almalik guna-guna yang bermanfaat dan berlindunglah kepada-Nya dari ilmu nan lain bermanfaat”.

Hadits akan halnya hobatan yang ber manfaat ini dinyatakan hasan sanadnya maka dari itu Syaikh al-Albani internal kitabnya Silsilatul ahaadiitsish shahiihah no. 1511.

Makna hadits ini yang di jelaskan oleh para ulama salaf merupakan ilmu yang bersumber dari Al Quran dan Hadits nan bisa di amalkan dan menjadi amal shalih.

Makna ilmu nan bermanfaat juga di jelaskan makanya Padri Ibnu Rajab al-Hambali adalah kita berlatih dengan betapa betapa tentang dalil dalil n domestik Al Quran dan sunnah, lalu berusaha mengerti kandungannya sesuai dengan pemahaman para salafus shalih.

Setelah memahami kandungannya, maka kita bisa dengan mudah mengamalkan mantra tersebut, inilah nan di sebut dengan mantra yang berharga intern hadist tersebut.

Ayat Al Quran Akan halnya Aji-aji

Disini kami tuliskan lagi ayat AL Quran tentang aji-aji, diantarannya merupakan:

Al Quran Akta Al-Mujadilah Ayat Ke 11

َرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ..

“…Niscaya Yang mahakuasa akan memerdukan orang-insan yang berkepastian di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengumuman beberapa derajat…”
[QS. Al-Mujadilah : 11]

Al Quran Surats Az Zumar ayat 9

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Katakanlah, apakah sebanding antara manusia nan memahami dengan orang yang tidak tahu.”
[Qs Az Zumar : 9]

Penjelasan Jamhur

Penjelasan cerdik pandai alias kata tambahan ulama tentang maksud dari hadist menuntut ilmu di atas.

Penjelasan Tentang Kewajiban Menghendaki Ilmu

Ini adalah perintah yang jelas tentang bagasi kerjakan memaui teologi, dan sikap seumpama seorang muslim yang baik adalah “samina Wa Athona” Kami mendengar dan kami tegar.

Sesuai dengan barang apa yang di firmankan oleh Tuhan Subhana Hu Wataala, dalam Al Alquran Piagam An-Nuur Ayat 51, yang berbunyi:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sepantasnya congor orang nan beriman adalah apabila diajak untuk sekali lagi kepada Allah dan Nabi-Nya agar Rasul itu memberikan keputusan syariat di antara mereka hanyalah dengan mengatakan, “Kami dengar dan kami tunak”. Dan merekalah orang-orang yang mendapat.”
[QS. An-Nuur (24): 51].

Hukum Mesti Terbagi Dua

Rohaniwan al-Qurthubi rahimahullaah
menjelaskan bahwa hukum menuntut ilmu terbagi dua:

Pertama, hukumnya fardhu ai’horizon alias wajib untuk setiap individu: Menuntut mantra aqidah, mantra fiqih wajib seperti  shalat, zakat, dan puasa. Inilah nan dimaksudkan privat riwayat yang menyatakan bahwa menghendaki aji-aji itu hukumnya mesti.

Kedua, hukumnya fardhu kifayah; sebagaimana menghendaki hobatan adapun pencatuan berbagai nasib baik waris, tentang pelaksanaan syariat islam alias hadd begitu juga qishas, potong tangan tembung dan lainnya, menjadi penghafal Al Quran.

Penjelasan Tentang Hadist Penekan Hobatan Dimudahkan Jalannya Menuju Suralaya

Di dalam hadits diatas terdapat janji Allah Subhanna Hu Wataala, bahwa orang yang berjalan dalam rangka menghendaki ilmu agama atau ilmu syar’i, maka Halikuljabbar akan memuluskan jalan untuknya mendatangi Indraloka.

“Bepergian memaui mantra”
dalam hadist ini mempunyai dua makna, yaitu:

Purwa
: Melakukan pelawatan dalam arti yang sebenarnya, ialah berjalan tungkai menuju majelis-majelis ilmu atau duduk di mejelis para ulama.

Kedua
: Menempuh jalan diartikan dengan “pendirian” nan mengantarkan seseorang bikin mendapatkan mantra syar’i  sebagaimana menghafaz ilmu dan Al Alquran, membiasakan dengan membaca berpokok sentral, menela’ah kitab-kitab jamhur, menulis guna-guna dan cara apa hanya yang dapat mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu syar’i.

“Allah akan memudahkan jalannya mendatangi Surga”
pun mempunyai dua makna, yaitu:

Permulaan: Allah akan memasrahkan fasilitas kronologi menuju indraloka bagi penuntut teologi, dengan syarat: lugu karena ALLAH dan melakukan guna-guna nan di milikinya.

Kedua: Allah akan memudahkan baginya perkembangan menuju Surga puas perian Yaumudin nanti, saat kita melangkaui shirath dan dimudahkan atau di hilangkan dari berbagai ketakutan dan ketakuan puas ketika itu baik sebelum dan sesudahnya.

Dengan hadist keutamaan ini saja sebenarnya dan seharusnya sudah cukup bagi seorang muslim buat giat dan semangat kerumahtanggaan menuntut ilmu, karena keutamaan ataupun fadhilah nan di janjikan adalah Surga, yang semua orang berharap bikin turut ke dalamnya.

Penjelasan Tentang Hadist Tanda nan Allah Berikan Kepada Pakar Ilmu

Intern kitabnya yang berjudul
Bahjatu Quluubil Abraar, hal. 38-39,
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah
menjernihkan bahwa hadits ini adalah umpama petunjuk adapun keutamaan ilmu yang paling besar. Yakni karena ilmu yang bermanfaat yaitu
tanda
akan bahagiannya seorang hamba dan kembali umpama
tanda
bahwa Sang pencipta Ta’ala menghendaki kelebihan untuknya.

Dan begitupun sebaliknya, hadits ini juga menunjukan bahwa barangsiapa yang berpaling berpunca menuntut ilmu agama, bermakna Allah Ta’ala enggak menghendaki faedah untuknya. Karena dia enggak bisa mengerjakan amalan nan akan mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah
kerumahtanggaan kitabnya
Kitaabul ‘Ilmi, keadaan. 21 menerangkan bahwa ”Nan dimaksud dengan ‘faqihu fid-din’ (paham akan agama) tak hanya memahami hukum-hukum amaliyyah tertentu doang maupun ilmu fiqih.

Doang yang dimaksud dengan ‘faqihu fid-din’ tersebut adalah paham akan secara keseluruhan aji-aji syar’i , begitu juga ilmu usuludin, guna-guna ushuluddin atau kiat-kancing agama, dan juga ilmu yang terkait dengan syari’at Allah.

Cerdik pandai tabiin yaitu
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah
berkata dalam kitab Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/230), “Keistimewaan di dunia adalah rizki nan baik (halal) dan
ilmu, sedangkan keistimewaan di akhirat merupakan Taman firdaus”.

Penjelasan tambahan Adapun Hobatan Yang Bermakna

Hobatan nan bermanfaat privat hadist di atas adalah ilmu nan (hak) benar datanganya mulai sejak Kitab Al Quran dan Sunnah maupun aji-aji syar’i, nan diamalkannya dan maupun mengajarkannya.

Dengan berbuat dan mengajarkan atau menyebarkan ilmu syar’i ini, maka selama khalayak yang kita ajari atau orang yang meneladan amalan kita masih mengamalkan ilmu tersebut, maka pahala akan terus kita dapatkan, walaupun kita telah meninggal.

Pentingnya Mendidik Anak Tentang Agama

Inilah pentingnya kita ki melatih anak untuk menjadi momongan yang shalih dan shalihah, karena sekiranya kita memasrahkan mantra akhirat dan doktrin secara umum nan dengannya anak asuh kita mengamalkan apa yang kita ajarkan, maka pahala akan terus mengalir kepada kita sejauh anak kita mengamalkannya.

Dan yang lebih penting lagi, selepas kita meningal mayapada, maka anak kita akan senantiasa mendoakan kita, dan ini yaitu wirid yang akan kita terima meskipun kita mutakadim meninggal.

Jangan hanya menyerahkan pendidikan manjapada sonder memikirkan ilmu darul baka kepada anak asuh kita, karena ini adalah kegeruhan yang maujud, seimbangkanlah antara nyawa dunia dan akhirat, dan kian tegas kembali berikan bekal agama sebelum bekal manjapada.

Jihad Yang Penting

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah
dalam kitab Al-Kafiyah Asy-Syafiyah fil Intishari lil Firqatin Najiyyah kejadian. 35, berujar, “Jihad dengan hujjah dan oral (ilmu) kian didahulukan dari pada jihad dengan pedang dan tombak.”

Maksudnya sebelum tegaknya jihad dengan senjata, maka langkah pertama yaitu dengan menerangkan dengan hobatan kepada kaum yang akan kita dakwahi, jika hujah nan kita sampaikan tidak di terima, maka persiapan lebih lanjut adalah dengan mengangkat senjata.

Inferensi Tentang Hadist Menuntut Ilmu

Sejumlah kesimpulan terdahulu tentang hadits memaksudkan ilmu agama dalam ulasan di atas adalah:

  • Menuntut Ilmu itu hukumnya wajib untuk setiap manusia, dan wajib disini yakni fardhu a’in seperti mempelajari aji-aji fiqih perlu dan aqidah nan benar.
  • Singgasana guna-guna dalam agama islam adalah sangat bermanfaat, karena dengan ilmu kita bisa mengetahui mana syariat yang benar menurut Al Quran dan As Sunnah, dan ini menjadi limbung untuk kita n domestik beramal.
  • Tanpa guna-guna niscaya kita boleh beramal dengan bermartabat sesuai dengan yang di contohkan maka itu para jamhur kita, sehingga muncul amalan amalan baru nan tidak sesuai dengan syariat atau bid’ah.
  • Jangan beramal tanpa guna-guna,
    kaidahnya
    adalah kebajikan agama terlarang di lakukan sebatas terserah dalil nan memerintahkannya, dan buat urusn bumi kaidahnya adalah semuanya legal sampai ada dalil yang mengharamkannya.
  • Keutamaan ahli ilmu suntuk banyak seperti mana yang di terangkan privat hadist mengenai menuntut ilmu di atas dan telah sepatutnya kita sebagai koteng mukminat menjadikan keutamaan ini cambuk dan sukma untuk membiasakan ilmu agama.
  • Paksakan diri dan luangkan musim cak bagi menghadiri majelis ilmu, karena ini adalah cara mendapat guna-guna yang berguna dan kembali jalan pintas menuju surga,
    Ingat selalu, imbangan yang kasatmata bagi kita yaitu syetan, yang akan membisiki kita untuk pangling dari teologi.

Seyogiannya kita semua dimudahkan oleh ALLAH Azza Wa Jalla untuk berbuat hadits akan halnya menuntut ilmu ini dan mudah-mudahan kita dapat selalu hadir di majelis aji-aji, dimudahkan oleh ALLAH bagi bersedekah dengan mantra yang bermartabat dan puas akhirnya mudah-mudahan Allah Azza Wajalla menggampangkan langkah kita berkiblat taman firdaus.

Baca juga:

Source: https://sepuluhteratas.com/bagaimana-isi-hadis-riwayat-abdul-barr-tentang-kewajiban-menuntut-ilmu

Posted by: soaltugas.net