Keturunan Raden Aria Wiratanudatar Cikundul

Abuya Sufyan bersabda:”Kiai Hasyim Asy’istal Pendiri Falak.U. Seguru dengan K.H. Rd. Muhammad Nuh bin Rd. H. Idris, kedelai Rd. H. `Arifin kedelai Rd. H. Sholeh kacang Rd. H. Muhyiddin Natapradja bin Rd. Aria Wiratanudatar V (Dalem Muhyiddin) kedelai Rd. Aria Wiratanudatar IV (Dalem Sabiruddin) bin Rd. Aria Wiratanudatar III (Dalem Astramanggala) bin Rd. Aria Wiratanudatar II (Dalem Wiramanggala) bin Rd. wiratanu I (Dalem Cikundul / R.Jayalalana) bin Aria Wangsa Goparona (Baginda Sagala herang, Subang) kacang Sunan Wanaperih kacang Sunan Parunggangsa bin bin Sultan Surasowan II Banten (Prabu Mundingsari leutik) kacang Sultan Surasowan I Banten (Yang dipertuan Mundingsari II) bin Raden Pamanahrasa (Baginda Siliwangi III)


Sebagaimana dinyatakan

kerumahtanggaan kitabnya:”

al-Ajwibah al-Syâfiyah li Dzaw al-‘Uqûl al-Sâlimah: Himpunan Fatwa Ajengan KH. Raden Muhammad Nuh Cianjur (w. 1385 H/ 1966 M)

—————————
Ini merupakan halaman cangkang dari kitab berjudul al-Ajwibah al-Syâfiyah li Dzaw al-‘Uqûl al-Sâlimah coretan seorang jamhur besar Lahan Sunda sumber akar Cianjur (Jawa Barat) yang atma di paruh pertama abad ke-20 M, yaitu KH. Raden Muhammad Nuh b. Idris (w. 1358 H/ 1966 M), yang juga ayah berpangkal seorang ulama besar, pejuang, dan sastrawan Sunda generasi berikutnya, yaitu KH. Raden Abdullah b. Nuh (Bogor, Jawa Barat, w. 1987 M).




Kitab ini ditulis kerumahtanggaan bahasa Melayu aksara Arab (Jawi/ Pegon), berisi himpunan fatwa KH. Raden Muhammad Nuh terkait beberapa permasalahan fikih nan diajukan kepada sira. Terwalak 12 (dua belas) buah soalan yang kebanyakan bersambung dengan masalah-masalah amaliah nan berlaku di kalangan Muslim tradisional Tanah Sunda dan pula Nusantara lainnya, sama dengan ziarah kubur, membaca talqin, hukum bertawassul, merayakan maulid Nabi, dan tidak-enggak.




Tidak terdapat keterangan yang menjelaskan pada saat karya ini diselesaikan. Kitab ini dicetak dalam format cetak batu (litografi/ thaba’ hajar) setebal 16 (enam belas) halaman oleh percetakan Sayyid Yahya b. Utsman b. Yahya yang berlokasi di Tanah Abang, Waltevreden, pun tanpa keterangan hari cetak. Namun, memperhatikan keterangan tambahan kata “Waltevreden” (New Batavia, kini Jakarta Pusat) yang berbahasa Belanda dan ditulis di belakang kata “Tanah Biram”, maka dapat dipastikan jika karya ini dicetak sebelum periode 1942 M.




N domestik kata pengantarnya, KH. Raden Muhammad Nuh batik:





وبعد مك سسغكهن تله ممنتا اكنداكو اوليه ستغة سودراكو في الله اكن سفاي اكو ممفربوة سات رسالة ددالم ميتاكن ببرف سؤال دان جواب يغ فرلو فد اين ماس يغ منمبهكن قوة كفرجيائن كيت قوم أهل السنة والجماعة دان ممنتا فول سفاي اكو مغهيسكن اين رسالة دغن آيات قرآنية دان احاديث نبوية: مك اكو ممفركننكن اكن فرمنتائنن كارن سفاي جادي فرايغاتن باكي اكو دان باكي سودر2اكو يغ سفرت اكو ككوراغنن




(Wa ba’da. Maka sungguhnya telah meminta akan daku secabik saudaraku fillah akan meski aku memperbuat satu risalah di dalam menyatakan beberapa soal dan jawab nan perlu puas musim ini nan menambahkan lestari kepercayaan kita kabilah Ahlussunnah wal Jama’ah dan meminta pula supaya aku menghiaskan ini risalah dengan ayat Qur’aniyyah dan ahadits Nabawiyyah. Maka aku memperkenankan akan petisi karena supaya jadi peringatan bagi aku dan bagi saudara-saudaraku yang seperti mana aku kekurangannya).



Menyimak kata pengantar nan dituliskan oleh sang pengarang, yang di sana ia menegaskan sekiranya karyanya dibuat bakal memperkuat keimanan kalangan Muslim tradisionalis (Ahlussunnah wal Jama’ah), maka besar prospek jika karya ini ditulis antara tahun 1920-1940-an, di mana pada masa itu madya menghangat polemik referensi keislaman antara limbung Muslim tradisionalis (Ahlussunnah wal Jama’ah yang direpresantasikan oleh Nahdlatoel Oelama [NU]) yang kerap juga disebut “kaum tua” dengan lingkaran Muslim modernis yang direpresentasikan oleh beberapa perkumpulan sebagai halnya Muhammadiyyah, al-Irsyad, PERSIS Bandung, dan lain-lain (nan berafiliasi dengan ideologi Wahhabiyyah di Nejd atau Reformisme di Mesir) nan sayang pun disebut “kaum muda”.

Pada waktu itu, kelompok Muslim modernis masih kasatmata minoritas, namun gegares “menciptakan menjadikan gaduh” suasana dengan seringnya mengaibkan amaliah-amaliah yang mutakadim secara ambruk temurun dijalankan oleh kerubungan Muslim tradisionalis. Amalan-amalan tersebut seperti ziarah kubur, talqin mayyit, membaca usholli saat memulai shalat, membaca wirid beramai-ramai, merayakan mauled Nabi, praktik bermadzhab, dan lain sebagainya. Kalangan modernis menganggap kesemua praktik amaliah itu sebagai hal yang heretik (bid’ah) dan sesat.


Sejumlah permasalahan terkait praktik amaliah yang disebutkan di atas kemudian diulas secara gamblang dan argumentatif oleh KH. Raden Muhamma Nuh n domestik karyanya ini. Jika mengawasi konten isinya, maka karya ini memiliki persaudaraan nan adv amat hampir dengan karya berjudul al-Ajwibah al-Makkiyyah li al-As’ilah al-Jâwiyyah (fatwa-fatwa atau jawaban-jawaban berbunga Makkah terkait keburukan-masalah keislaman Nusantara) nan dikarang oleh Syaikh ‘Abdurrahmân b. Abdullâh Sirâj, kepala tertinggi urusan keagamaan (qâdhi al-qudhât) Makkah dan ditulis pada periode 1923 M.


Selain itu, karya ini sekali lagi berhubungan dengan karya lainnya nan mengkaji tema serupa, yaitu Risâlah ‘Aqâ’id Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah karangan Syaikh Mukhtâr b. ‘Athârid al-Bughûrî al-Makkî (Syaikh Mukhtar Bogor alias Raden Mukhtar Natanagara Bogor, w. 1930 M), koteng jamhur-bangsawan Sunda radiks Bogor nan mengajar di Masjidil Haram pada awal abad ke-20 M, nan juga temperatur langsung mulai sejak KH. Raden Muhammad Nuh momen masa belajarnya di Makkah sekaligus kerabat anda dari jongkong ibu.


Pasti saja, kita tidak boleh melewatkan karya lainnya nan pula memiliki hubungan tidak terpisahkan dengan karya ini, yaitu Risâlah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah garitan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’kandang kuda Jombang, yang juga pendiri NU. KH. Raden Muhammad Nuh Cianjur yaitu yunior seperguruan bersumber KH. Hasyim Asy’istal Jombang, yang mana keduanya adalah sederajat-sama murid dari Syaikh Mukhtar Bogor, Syaikh Mahfuzh Tremas, Syaikh Sa’îd Yamânî al-Makkî, Syaikh ‘Umar Hamdân al-Mahrasî, dan cerdik pandai-ulama Makkah berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah lainnya.


Sepulang dari Makkah, KH. Raden Muhammad Nuh mendirikan pesantren al-I’ânah di Cianjur pada waktu 1912 yang hingga saat ini masih bersimbah. KH. Raden Muhammad Nuh pula menjadi salah satu simpul utama semenjak jaringan sarjana ulama Sunda puas paruh pertama abad ke-20 M. Jaringan ini menghubungkan dirinya dengan beberapa ulama besar Tanah Sunda lainnya pada musim itu, seperti Ajengan Muhammad Syathibi Gentur (Cianjur), Ajengan Syuja’i Kudang (Tasikmalaya), Ajengan Bakri Sempur (Purwakarta), Ajengan Ahmad Sanusi Gunungpuyuh (Sukabumi), Ajengan Falak Pagentongan (Bogor), Ajengan Dimyathi Sukamiskin (Bandung), Ajengan Abdul Halim (Majalengka), Ajengan Abbas Buntet (Cirebon), dan tak-lain.


Bogor, Maret 2022




Alfaqir A. Ginanjar Sya’ban

Source: https://bysufyan.blogspot.com/2018/11/keturunan-dalem-cikundul-bermanhaj.html

Posted by: soaltugas.net