Khotbah Habakuk 3 14 19

Hendry Kornelius Mamen

KETIKA TUHAN DIAM - HABAKUK 3:17-19

PENDAHULUAN:

Nasib dimana detik seakan-akan Almalik diam. Kira-agak itulah hidup Habakuk di saat engkau menggambar ayat-ayat bermakna yang nantinya akan di bahas di buku ini.

Habakuk mengalami hidup nan karenaNya, dia harus terus mencucurkan air mata bahagia. Habakuk usia di dalam sebuah kondisi dimana “seakan-akan” Allah tidak merespon kepada sebuah kesahihan di intern waktu kronos.

Kemusykilan Habakuk mengaram sebuah kerangka Tuhan dan karya Allah di dalam sebuah pergolakan hatinya membuat Habakuk menjadi seorang yang berlamentasi (meratap). Habakuk berteriak kepada Allah yang bukan sahaja semata-mata adil, tetapi lega diri-Nya tidak bisa jadi bisa tidak objektif.

Habakuk berteriak kepada Tuhan yang pada dirinya sangat mengenal dan mengerti diri Habakuk sebelum Habakuk seorang cak hendak mulai memaklumi dirinya koteng.

Orang fasik seakan-akan hidup berbaik, dan basyar benar seakan-akan hidup dengan suatu keadaan yang sulit, itulah peristiwa dimana kitab Habakuk ini ditulis. Situasi sejenis ini mengakibatkan sebuah lamentasi mulai sejak anak asuh Sang pencipta nan gagal mematamatai tulang beragangan Sang pencipta. Lamentasi boleh tetapi, namun tenggelam di intern sebuah ratapan, adalah satu kedunguan. Habakuk gagal mengenal dirinya sendiri, Habakuk gagal melihat barang apa yang Sang pencipta lihat. Namun Tuhan tidak gagal, Almalik lain pernah gagal menyibuk keadaan diri Habakuk nan terus-menerus memaksudkan keadaan diri begitu juga yang selalu diingini dirinya.

Habakuk gagal membentuk sekelilingnya, namun Allah tidak ikatan gagal bakal menciptakan menjadikan Habakuk. Tuhan bukan gagal menjadikan Habakuk seorang yang berlamentasi di n domestik sebuah lompatan sukacita, sehingga kitab Habakuk menjadi sebuah kitab yang memang Almalik sendiri tulis.

Konteks Habakuk bercerita adapun orang-individu fasik nan terlihat dibiarkan oleh Tuhan ketika berbuat karas hati kepada orang yang benar. Karena mereka seolah-olah Tuhan biarkan, – sesungguhnya Allah sedang menghukum mereka ketika mereka dibiarkan Allah, dan hal ini merupakan hukuman yang paling mengerikan – sehingga orang fasik bertambah jahat dan merasa dirinya ter-hormat, sebaliknya orang benar justru berteriak minta tolong kepada Tuhan dan seakan-akan tidak didengarkan, – ini merupakan kebahagiaan bani adam benar ketika Allah justru memasrahkan kepercayaan kepada mereka, dan menganggap mereka pantas mendapatkan perlakuan seperti itu sebab mereka mutakadim dewasa rohani, atau memang ada jalan hidup Allah yang mau dinyatakan – semata-mata ada rencana Sang pencipta yang begitu mulia untuk anak-anak-Nya.

Habakuk 3:17 dikatakan bahwa: Sekalipun pohon ara tak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun menggondokkan, sekalipun ladang-ladang enggak menghasilkan bahan alat pencernaan, kambing kambing arab terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,

Sekalipun tumbuhan ara tak berbunga: Pohon kiara yaitu tanaman yang paling banyak bertumbuh di wilayah Israel plong waktu itu (Ulangan 8:8). Kebolehjadian pohon ara adalah salah suatu jalan hidup umat Israel bagi orang-bani adam itu hidup. Namun di sini Habakuk mengatakan bahwa sekalipun pohon ara lain terbit, berarti sekalipun kejadian yang paling sering ada di privat hidup saya sudah tidak ada sekali lagi, saya akan taat bersorak-sorak kepada Sang pencipta.

Di dalam umur individu, kita mengingini hal yang kita perlukan ada. Peristiwa pokok yang memang harusnya bukan sebuah keinginan, tetapi kebutuhan kita harus burung laut ada. Kita pikir bahwa kita pun tak meminta kepada Allah yang plus rangah-angkuh, kita hanya meminang situasi sederhana nan saya perlukan, enggak saya inginkan, dan keadaan itu selayaknya harus terserah.

Di sini perbedaan kita dan Habakuk sesudah direformasi makanya Allah. Habakuk bukan sekadar lain mendiskusikan segala yang ada lagi, saya akan kukuh bersorak-sorak kepada Sang pencipta. Saya dan engkau bagaimana? Apakah saya butuhkan maupun apa yang saya inginkan, sebagai halnya pidato-ceramah klasik, yang terus cuma mengkhotbahkan di dalam daerah wilayah itu saja. Sekadar Habakuk mengatakan bahwa sekalipun peristiwa yang saya perlukan, nan harusnya menjadi jalan hidup hidup saya tidak nan menjadi suatu perwujudan mulut terima kasih, atau bahkan kesukaan kita waktu-hari ini?

Maukah kita mengatakan seperti yang Habakuk katakan bahwa, sekalipun hal yang saya perlukan di dalam kehidupan ini pun tidak ada, saya tetap bersorak-sorak kepada Allah. Ini namanya suatu kebahagiaan yang masif dan lain kebahagiaan nan semu. Ini namanya kesukaan nan tidak terkontrol oleh barang apa lagi, melainkan sebuah kebahagiaan yang mengontrol apa sekali lagi.

Tanaman berpangku tangan tidak berbuah: Pokok kayu berpangku tangan melambangkan kemakmuran dan berbaik sejahtera bagi manusia Ibrani.? Keadaan ini memerangahkan sekali ketika Habakuk berbicara mengenai sekalipun pokok kayu anggur tak berbuah, ini berarti Habakuk ingin mengatakan bahwa sekalipun bukan terserah kemakmuran dan damai sejahtera di dalam diri saya. Perkataan ini lega zaman ini dapat dianggap bagaikan perkataan yang dungu, mana ada yang enggak mau kemakmuran dan damai sejahtera, pula pula Tuhan juga centung mengangkut damai sejahtera, tetapi Habakuk yang hayat beribu-ribu tahun sebelum ini bisa mengatakan tuturan yang begitu mulianya, sekalipun enggak cak semau pohon anggur yang berbuah saya akan tetap bersorak-sorak kepada Allah.

Meneladan dari barang apa nan Habakuk katakan. Jika kita merefleksikan spirit kita saat ini, bagaimanakah keadaan kita? Mungkin anda akan bersuara bahwa, “ Ah mencari kemakmuran kan doktrin kemakmuran, itu mah tidak saya, itu mah orang tak. Ya anda dan saya dapat saja berbicara sebagai halnya itu dengan cepat, dan serupa itu lugas mendorong bahwa saya bukan orang yang mencari kemakmuran, belaka apa nan kita hidupi setiap hari, demi apa kita usia saban hari, apa yang engkau dan saya begitu kuatirkan tidak ada di dalam kehidupan ini, itu semua memancarkan begitu jelas bahwa siapakah kita sebenarnya.

Hasil pokok kayu zaitun mengecewakan: Tanaman zaitun adalah pohon yang dulu disukai lega waktu itu.” Ini berarti bahwa Habakuk cak hendak mengatakan bahwa sekalipun hal yang minimal disukai sekarang bukan lagi menjadi hal yang disukai, tambahan pula yang paling disukai itu sekarang mengecewakan. Saya akan setia bersorak-sorak kepada Allah.

Kita hidup di bumi ini melihat keindahan-keindahan, kita mengesir satu hal dan hal lainnya, kita pecinta banyak hal. Pertanyaannya bagaimana kalau peristiwa yang kita cintai itu justru mengecewakan? Pasangan kita memengkalkan kita? Orang tua kita mengecewakan kita? Studi kita mengecewakan kita? Dan sedemikian itu banyak hal yang sira dan saya sukai, dan hal itu mendongkolkan. Dulu bagaimanakah sikap anda? Habakuk mengatakan bahwa atas keadaan itu dia konstan bersukacita kepada Allah.

Sekalipun kebun-huma tidak menghasilkan target peranakan, kambing domba terhalau bersumber pengasingan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang: Ini klimaks berpokok Habakuk yang akan terus bersorak-sorak kepada Allah, sekalipun situasi ladang tidak

menghasilkan rezeki, kambing domba terhalau bersumber kurungan, dan tak cak semau lembu sapi di n domestik kandang, Habakuk akan patuh bersorak-sorak kepada Tuhan di privat ketidaknyamanan hidupnya.

John Calvin dengan indahnya memberikan komentarnya di ayat 17 ini sama dengan ini: The Prophet then teaches us what advantage it is to the faithful seasonably to submit to God.“ (Terjemahan netral: Nabi Habakuk mengajarkan kita mempergunakan kesempatannya setia di dalam apa keadaan untuk tungkul kepada Tuhan.)

Tafsiran Alkitab kontemporer mengatakan bahwa rasa kepastian Habakuk ketimbul berpokok imannya yang hidup.

Habakuk 3:18 doang aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-sombong di dalam Yang mahakuasa yang menguburkan aku.

Namun aku akan bersorak-sorak di n domestik TUHAN: Habakuk tetap akan bersoraksorak sekalipun nan sudah kamu dikatakan di Habakuk 3: 17. Perkataan di ayat 17 itu mengaplus banyak sekali kesusahan yang barangkali akan dan pernah ada di dalam diri Habakuk, dan sekali lagi di intern diri anda dan saya.

Di Habakuk 3: 18 Habakuk mengatakan bahwa engkau tetap ingin bersorak-sorak kepada Almalik. Bersorak-sorak di dalam bahasa Ibraninya adalah (âlaz): artinya bukan namun beria-ria dengan senyuman dan dengan mata yang menangis untuk terus tetap tegar. Tidak itu kian mirip basyar-orang nan sebenarnya saja membancang sebuah kekecewaan dengan perujukan emosi psikologis yang bukan berarti, tetapi dalam bahasa Ibraninya sampai-sampai Habakuk sampai mengatakan bahwa engkau seperti meloncat untuk bahagiah.

Hal tentang peristiwa-hal dan kejadian-hal buruk yang ditulis dan dikondisikan madya dan kali akan saja terjadi oleh Habakuk tidak membuat Habakuk sedikit pun menjadi sedih, kecewa, dan kehilangan sukacita ilahi. Lebih lagi Habakuk bersukacita sampai nocat, sebab ia tahu bahwa kesusahan itu pun dapat dipakai Tuha lakukan dia bersorak-sorak, dan dia melakukan sorak-soraknya.

Habakuk melakukan sukacita nan bahkan seseorang yang jiwa nyaman, dan tidak terganggu dengan hambatan sedikit pun tak merasakan, dan bukan dapat menikmati sukacita nan didapatkan oleh Habakuk itu.

Ini adalah cerita sukacita yang keluar berpunca respon kepada perkara ilahi, ini enggak gerakan agamawi yang ditudungi kemunafikan, nifak, ataupun pula suatu perwujudan membodohi diri sendiri, dengan berpura-kantung mengerti kehendak Almalik, dan tetap belaga sunyi, seperti mana yang mungkin kerap kali saya dan dia cak bagi di waktu-masa bodoh kita.

Di sini yang mulia adalah bahwa Habakuk tahu harga bersumber sebuah sukacita hingga beliau dapat melompat adalah sebuah kesusahan karena Tuhan. Sebuah kesusahan karena Tuhan akan lebih meriakan dibandingkan sebuah kesenangan karena diri sendiri. Sebuah kesukaan yang bukan karena Tuhan, tetapi karena diri sendiri ialah suatu kutukan. Sebaliknya suatu kesusahan karena Tuhan adalah berkat yang tak ternilai yang sering sekali kita tidak menyadarinya, dan kita gelisah jadinya.

Beria-ria di dalam Almalik nan menyelamatkan aku: Habakuk di sini justru mendayukan bahwa ia akan beria-angkuh di dalam Sang pencipta yang menyelamatkannya. Ini suatu pengharapan nan pasti, karier kepada ikrar penyelamatan Allah adalah wahi Kristen yang begitu bermakna. Seseorang yang beriman berpijak kepada janji Allah, seorang yang percaya tak boleh mengedrop harapan kepada nan bukan janji dari Allah, seseorang yang percaya lebih-lebih enggak menaruh pengharapannya kepada harapan itu sendiri, melainkan kepada Almalik. Tuhan yakni tempat keselamatannya, Tuhanlah nan akan menguburkan Habakuk, Habakuk yaitu seseorang yang luang bagaimana dan kepada mana tahu dia harus berharap. Pengharapan seperti ini bukanlah penyambutan yang mansukh, pengharapan seperti yang dipercakapkan maka itu Habakuk adalah pengharapan yang memang sebagai halnya semoga bani adam percaya menaruh hatinya tanpa memikirkannya lagi.

Pengharapan kepada Allah saja, itulah hal nan minimum utama di dalam sebuah avontur kehidupan orang percaya. Hamba allah percaya boleh saja rumpil, turunan beriktikad bisa saja dikecewakan, khalayak beriktikad boleh tetapi ditipu besar-besaran makanya insan dunia ini nan lain bertanggung jawab, doang orang berketentuan bukan dapat berhenti bercita-cita kepada Allah, seperti yang dilakukan oleh Habakuk. Tuhanlah semata saya bertarget.

THE OXFORD BIBLE COMMENTARY

mengatakan bahwa: he has learned how to live without the answers, and how to live rejoicing. (Interpretasi bebas: Habakuk sudah belajar bagaimana hidup tanpa sebuah jawaban, dan atas hal itu dia itu tetap bersukacita) Hidup tanpa sebuah jawaban, seperti mana seakan-akan Sang pencipta tutup mulut bukanlah vitalitas nan mudah. Sira dan saya akan mengalami masamasa dimana seakan-akan Tuhan diam kepada saya dan anda? Dan apakah pilihan semangat kita? Habakuk melembarkan tetap berria di n domestik Tuhan, nan seakan-akan sengap itu.

Habakuk 3:19 Sang pencipta Tuhanku itu kekuatanku: la membuat kakiku seperti kaki menjangan, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. (Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan dandi).

Allah Tuhanku itu kekuatanku: Pasca- mengatakan keadaan-hal di Habakuk 3:18 yang juga sangat sukar sekali dikatakan makanya orang orang yang memang madya bersusah hati.

Lalu Habakuk sekarang mengatakan bahwa kekuatan dia merupakan Almalik. Habakuk bukan mengatakan bahwa kekuatannya yakni keimanan dirinya, atau sama dengan yang orangorang postmoderen promosikan bahwa kekuatan saya ialah perasaan positif saya.

Habakuk tidak menaruh kekuatannya di internal dirinya, atau di dalam pikirannya, atau di intern keyakinannya, cuma Habakuk mengatakan bahwa kekuatannya merupakan di

dalam Almalik. Motivator Kristen – sekiranya tidak mau dianggap bukan Kristen mengajarkan bahwa manusia harus mengedrop kekuatannya di dalam sebuah atmosfer positif. Mereka enggak peduli kejadian itu Yang mahakuasa ataupun bukan, asalkan mereka bukan menimang hal yang subversif.

Tetapi jauh berbeda dengan apa yang menjadi jiwa Habakuk, ia menaruh perhatian dan kondisi hatinya kepada Sang pencipta, dan Allah adalah semata sumber kekuatannya. Apakah sumber kekuatan kita ketika ini? Tidak, tidak, saya tidak menanya apakah jawaban anda momen beliau ditanya mata air faedah anda, tetapi saya bertanya apakah yang menjadi sumur kekuatan di internal kehidupan nyata sira?

Ia membuat kakiku seperti kaki kijang, Ia merelakan aku berjejak di bukit-bukitku: Ini suatu bahasa puisi bakal menunjukkan bahwa memang Allah yang membuat Habakuk menjadi kuat. Yang mahakuasa yang yaitu fungsi Habakuk enggak namun ada di dalam sebuah konsep berpikir, atau “keiyaan” serebral dari Habakuk.

Allah adalah kekuatannya. Allah merupakan yang karenanya Habakuk dapat dan bisa bersorak-sorai sekalipun dia hidup di kerumahtanggaan sebuah kemasygulan, kecewaan, dan kesusahan seumur hidupnya.

Habakuk 3:19 merupakan satu pengakuan di ujung pergumulan nan amat melelahkan. Segala pertanyaan tentang Tuhan berakhir di sini. Penyusun atau utusan tuhan kumat bermula rasa galaunya dan mengakui apa yang dilakukan Tuhan atas umat-Nya.” Iman senantiasa mengangkat kita lebih pangkat dan menciptakan menjadikan kita kian berbahagia. Bahkan sekalipun anda tidak dapat bersukacita kerumahtanggaan kejadian ekonomi, anda dapat bersukacita di kerumahtanggaan Tuhan.

Berharap, lalu bukan mendapatkan sebuah jawaban ialah anugerah dan sarana dari

Allah, bagi anak adam bisa dan boleh mengenal Yang mahakuasa bahkan.

Source: https://teologiareformed.blogspot.com/2018/07/ketika-tuhan-diam-habakuk-3-17-19.html

Posted by: soaltugas.net