Khotbah Roma 10 8 13

EKSPOSISI ROMA 10:9-13 (PENGAKUAN IMAN)

PENDAHULUAN

Pengakuan iman dahulu berarti di dalam vitalitas ke-Kristen-an. Selain itu, syahadat iman juga berpengaruh terhadap kehidupan jemaat (anak adam Serani). Persaksian iman suatu konsep yang harus dipahami dengan bermoral oleh setiap orang percaya. Sebab di dalam konsep ini, keselamatan insan lain ditentukan oleh kelakuan yang dilakukannya, “melainkan beralaskan anugerah dari Allah yang diterima menerobos iman kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Keselamatan itu bukan karena pencahanan alias perbuatan hamba allah, melainkan keselamatan itu anugerah Tuhan”.

Pengertian Pengakuan Iman

Kata “mengakui” baik intern bahasa Ibrani maupun dalam bahasa Yunani (yada dan homolegein), sama dengan halnya privat bahasa Indonesia mengacu kepada dua hal, yaitu pengakuan iman dan pengakuan dosa. Dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Saat ini menjelaskan bahwa “pengakuan signifikan mengiklankan di depan mahajana suatu hubungan pribadi dengan Sang pencipta dan ketaatannya kepada-Nya.”

Artinya, pengakuan Allah dan Tuhan Yesus Kristus harus dilakukan secara terbuka di hadapan turunan (Matius 10:32). Dalam Perjanjian Lama pengakuan sayang n kepunyaan adat penghormatan, di mana orang percaya dengan mengucap syukur mengumumkan apa yang Halikuljabbar telah lakukan dalam penyelamatan bikin Israel atau untuk jiwanya seorang.

Padahal, iman merupakan pendamping alias keteguhan seseorang terhadap Tuhan atau sesuatu nan dipercayainya. Namun, pembukaan iman itu sendiri berusul bermula bahasa Ibrani ialah “emun, yang penting kesetiaan. Dan Perjanjian Baru yaitu pistis (Perkenalan awal Benda), pisteuo (Verba), yaitu tangan kanan nan memiliki bawah yang teguh.” Defenisi iman yang paling dempet ialah yang dinyatakan kerumahtanggaan Kitab Ibrani 11:1, yang berkata demikian: “Iman ialah pangkal dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita tatap.”

Hal nan sekufu sekali lagi ditambahkan oleh Chris Marantika bahwa: “Maslahat iman adalah suatu tunjangan alias tumpuan, khususnya pada satu pribadi, yang padanya pihak lain sonder ragu dapat mengandalkan maupun mempercayakan dirinya.”Kurnia leksikonnya: “letting a full weight down, to lean upon; believe, faith, trust,to tust, yang berarti bersandar penuh atau mempercayakan seluruh umur bodi dan rohani.”

Prinsip Pendirian Pengakuan Iman

1.Ketaatan.

Loyalitas berpunca dari kata bawah taat yang artinya loyal dan taat untuk melakasanakan tugas. Sedangkan, “disiplin adalah satu tindakan alias perlakuan cak bagi selalu patuh dan patuh terhadap segala sesuatu nan menjadi rasam alias pengelolaan tertib.” J. Wesley Brill memberikan penjelasan pengertian perkenalan awal taat. Kata konsisten dalam bahasa aslinya, “ialah bahasa Ibrani berasal dari sebuah alas kata nan berarti bantu atau tanggung.

Kaprikornus, orang yang tetap bermanfaat orang nan dapat menyokong kita, yang menanggung kita yang kepadanya lain dapat bersandar tanpa merasa kuatir.” Internal Ulangan 7:9 berkata: “Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa Tuhan, Allahmu, Dialah Yang mahakuasa, Allah yang ki ajek, yang menyambut perjanjian dan karunia ki ajek-Nya terhadap turunan yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada bermami-mili keturunan.”

Demikian juga, Andew Murray mengatakan bahwa taat merupakan “riuk satu yang paling terdepan di dalam Alkitab dan di dalam kehidupan orang Kristen. Karena ketidaktaatanlah, cucu adam bukan diperkenankan Halikuljabbar internal kehilangan sukma Allah.” Hanya dengan ketaatanlah manusia boleh diperkenankan Allah dan dapat kembali menikmati spirit itu. Kesetiaan seseorang boleh memberikan teladan melalui tindakan dan perbuatan.

Pengertian ketaatan pun dikemukakan maka itu Joni Sugicahyono bahwa ketaatan (konstan) adalah “sikap usia nan diwarnai oleh sikap silih mencemarkan diri dan ketundukan serta ketaatan di antara sesama orang berketentuan secara tunggal berdampak terhadap perantaraan tinbal balik antara momongan dan individu tua renta serta antara pegawai dan bos.” Oleh karena itu kesetiaan atau kesetiaan kiranya mereka lakukan dengan sukarela dan dengan sukacita.

2.Lever yang Percaya

Paul G. Caram mengatakan: “Hati nan percaya adalah suatu sikap lever, “Aku senggang bahwa Engkau mampu, Tuhan.” Ini juga yaitu satu pengakuan nan positif.” Pengakuam iman mencakup hati bagaikan kata majemuk pikiran dari iman nan dimiliki oleh jemaat atau orang Masehi. Ini mandu iman yang mungkin bukan semua basyar memilikinya.

Hamba allah yang mengkui imannya, tetapi tidak dari hati maka tidak ada dampak sama sekali baik dalam kehidupannya alias dalam kehidupan hamba allah. Lebih-bertambah internal hubungannya dengan keselamatan. Joyce Meyer mengatakan “Hanya iman nan dari periode yang menciptakan menjadikan Allah demen. Kita menerima dari Almalik melalui iman. Makanya karena itu, sangatlah penting bari orang percaya di internal Kristus bikin berlatih tentang iman dan mulai berjalan di dalam iman itu.”

Melalui pengakuan iman, kita mendapatkan kekuatan, keberanian, dan religiositas terbit setiap pengalaman di mana kita betul-betul nongkrong untuk menatap sederum kepada rasa takut. Ulangan 31:6 berkata: “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah tegak dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang melanglang menyertai dia; Ia enggak akan merelakan engkau dan tidak akan menyingkir ia.”

3.Iman yang Sejati

Menurut Paul G. Caram, iman sejati adalah: “suatu pemberian bermula Sang pencipta. Suatu hati yang percaya dan pengakuan yang bersusila mengarak kepada iman.” Israel tidak konstan, karena itu, mereka tidak percaya dan tidak memiliki iman. Mereka senyap semua dipandang gurun belantara. Kaleb dan Yosua patuh. Makanya karena itu, mereka memiliki suatu lever yang beriman dan pengakuan nan ter-hormat yang memandu kepada iman ilahi. Iman sejati adalah iman nan keluar dari pengakuan lever, yang disaksikan melalui mutul dengan tindakan nan bersusila.

Arozatulo Telaumbanua mengatakan bahwa “setiap orang berkeyakinan harus mempunyai iman yang baik dan etis. Artinya, bani adam beriman yang n kepunyaan iman dan percaya kepada Almalik, maka kamu harus memiliki sikap dan tindakan yang sesuai dengan imannya itu dan Allah menghendaki mudah-mudahan ada keterpaduan antara hati nan percaya dengan tuturan yang mengaku.”

Iman yang zakiah datang pecah suatu hubungan yang intim dengan pencipta iman, ialah Allah (Ibrani 12:2). Jika iman dipisahkan bersumber Yesus Kristus, maka iman itu tak ada nilainya. Pengakuan iman akan mempengaruhi kehidupan kita yang akan datang setelah kita memencilkan dunia yang fana ini.

Tuhan Yesus dengan tegas mengatakan n domestik Matius 10:32-33 “Setiap turunan yang mengakui Aku di depan khalayak, Aku pun akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” Jelas bahwa tanpa ada pengakuan di privat bacot kita, maka bukan akan berkenan ke internal Kerajaan-Nya.

EKSPOSISI ROMA 10:9-13

1.Mengaku Dengan Mulut (Roma 10:9)

Pengakuan iman di dalam Kristus tidak hanya pengakuan secara teoritis, melainkan pengakuan yang benar melewati bacot. Pengakuan ini menunjukkan sikap dan tindakan kita tehadap Allah dalam arwah sehari-hari. Akuilah Kamu dalam barang apa lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu (Amsal 3:6). Persaksian yang nirmala akan menghasilkan iman nan sejati. Iman yang steril adalah berkepastian kepada Kristus laksana dasar iman yang dipedulikan atas kasih belas kasih Allah. Paul G. Caram mengatakan bahwa “Iman itu etis-bersusila supranatural. Iman itu hanya dari dari Allah. Setiap berbintang terang atau anugerah nan kita miliki kita terima maka itu kasih karunia melewati iman (Efesus 2:8).

Yesus Yaitu Tuhan (Roma 10:9b)

Selanjutnya, persaksian melewati mulut merupakan kata aktif ialah perkenalan awal kerja nan terus diungkapkan menerobos nilai-nilai semangat yang nyata. Pengakuan kepada Yesus sebagai Halikuljabbar merupakan suatu tindakan aktif yang terus bekerja di internal semangat orang berkepastian.

Internal konteks ini Paulus menengah memuliakan Sang pencipta dengan mulutnya. Melalui pengakuan ini, Paulus juga berkeinginan moga jemaat menyanggupi dengan ucapan bahwa Yesus ialah Halikuljabbar. Dalam konteks jauh, Matius 16:16, syahadat Petrus kepada Yesus sebagai Tuhan menunjukkan bahwa Yesus membalikkan konsep nan keseleo berpangkal hamba allah banyak akan halnya Yesus. Marulak Pasaribu menguraikan bahwa “Pengakuan Petrus bahwa Yesus yaitu Mesias, Momongan Allah yang hidup merupakan pengungkapan nan luar biasa. Petrus mengerti bahwa Yesus, Anak Allah, adalah Mesias yang dinubuatkan oleh para nabi dalam PL”.

Secara teologis, kata dan pengakuan bahwa Yesus ialah Tuhan, Anak Almalik bukanlah sesuatu keadaan yang mudah. Pengakuan ini membutuhkan keberanian yang teguh dan patuh dengan kesahihan. Dengan mengakui bahwa Yesus yakni Halikuljabbar, maka terjadi eskalasi iman kita di dalam persaksian tersebut. Sebab tuturan yang diucapkan yaitu kuasa yang menyatakan kebenaran. Dan itu adalah pekerjaan Allah di privat semangat setiap khalayak percaya.

Allah Menggarangkan Ia (Roma 10:9c)

Tidak sekedar kita mengakui Yesus yaitu Sang pencipta. Secara konteks yang sedang dibahas, menunjukkan satu pendalaman iman nan mendalam. Di internal ayat sebelumnya (ayat 6 dan 7) menyatakan keabsahan yang disebabkan oleh iman. Oleh karena itu, Paulus menunjukkan satu legalitas iman yang menurut pandangan manusia mustahil terjadi, yaitu “Halikuljabbar membangkitkan Dia dari antara individu mati.”

Secara gramatikal, kalimat “Almalik membangkitkan Dia dari antara hamba allah nyenyat”, ditulis intern bahasa Yunani “(ho Theos auton hegeiren ek nekron). Alas kata“ (hegeiren) menunjukkan kata kerja sugestif aoris aktif manusia ketiga tunggal. Ini artinya, kebangkitan Kristus Yesus dari antara sosok antap bukan suatu rekayasa, cuma bermartabat-sopan terjadi.

Kata (hegeiren) berasal dari kata bawah (hegeiro), nan artinya “menggugah, membangkitkan; menyebabkan (Filipi 1:17); mengeluarkan (Matius 12:11); menjadikan.” Kalimat ini dipakai sehabis Tuhan Yesus bangkit dari antara orang lengang. Kata membakar Dia berusul antara khalayak mati, Dave Hagelberg mengatakan “ini menyebutkan apa yang kita harus lakukan dengan mulut dan lever kita.”

Secara teologis, berbicara mengenai iman yang alangkah-sungguh di n domestik Pribadi Yesus Kristus. Suatu bukti bahwa Almalik yang memberikan keselamatan melangkahi iman kepada Kristus. Mengaku dengan mulut merupakan sebuah usaha, sebuah pegangan, doang konfirmasi diberikan kepada orang yang lain bekerja.

Yesus Merupakan Juruselamat (Roma 10:9d)

Pengakuan dengan mulut bahwa Yesus adalah Juruselamat adalah hal yang amat penting di internal hayat turunan beriman. Sebab tidak semua orang memiliki iman yang tohor tentang keselamatan di dalam Kristus Yesus. Tanpa ada pengakuan mulai sejak mulut kita bahwa Yesus ialah Juruselamat, maka kita mutakadim mengabaikan pengorbanan Yesus di atas tiang salib, dan mengabaikan kasih karunia yang Allah berikan melangkaui Dia.

Charles C. Ryrie mengatakan “Paulus pasti mengaduh pengakuran dengan mortalitas Kristus di n domestik Roma 3:25. Talenta-Nya (kematian-Nya) menjadikan diri-Nya bak penengahan.” Roma 10:9, memfokuskan fakta bahwa Kristus sendiri adalah korban yang menghapuskan dosa insan, sehingga orang memperoleh keselamatan pecah Allah melalui Yesus Kristus.

Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dunia memberikan kepastikan kepada cucu adam beriman yang mengaku dengan mulut bahwa Yesus Adalah Juruselamat untuk hidup dalam kerajaan Allah. Keselamatan itu diberikan kepada setiap orang melalui iman dan pengakuan di dalam Kristus Yesus. Dalam Kisah Para Rasul 4:12 berkata “Dan keselamatan tidak ada di n domestik sembarang orang juga selain di dalam Dia, sebab di pangkal kolong langit ini bukan cak semau logo lain nan diberikan kepada cucu adam yang olehnya kita dapat diselamatkan.” “Yesus merupakan satusatuny Juruselamat manusia.

Sira tak sahaja memakamkan kita berbunga penghakiman Allah di masa depan, Dia lagi Juruselamat kita saat ini kerumahtanggaan hidup kita.” Semua orang percaya bisa bersaksi bahwa mereka telah terbebas berpokok cengkeraman setan, maut dan dosa; dan mereka sanggup menuntaskan semua kesukaran hidup ini oleh karena Sira

2.Percaya Lubuk hati (Roma 10:10-11)

Kata percaya kerumahtanggaan bahasa Yunani (pisteuses), yang artinya beriman, berketentuan, mempercayai, meyakini, mempercayakan.” Beriktikad merupakan penyetoran totalitas hidup kepada Kristus berdasarkan iman kita kepada-Nya. Pengenalan (pisteuses) yaitu perkenalan awal kerja yang berasal semenjak prolog (pisteuo). Berarti pengenalan berketentuan ialah suatu ungkapan nan aktif, bukan pasif.

Sementara itu kata hati internal bahasa Yunani adalah (kardia), artinya “hati, jantung”. Kata (kardia) merupakan introduksi benda datif feminim tunggal. Introduksi hati atau hati semu khalayak n kepunyaan karena memang sifatnya umum. Tetapi percaya tidak semua orang mempunyai kepercayaan nan seperti harapan yang proporsional.

Dengan demikian, percaya privat hati adalah suatu kata majemuk yang dalam dari hati dan diucapkan atau disaksikan menerobos mulut kepada dunia. Persaksian iman dari dalam hati adalah pengakuan yang menghasilakn kuasa. Menanggung dengan mulut dan percaya internal hati ada kaitannya dengan menjadi saksi Kristus, karena menyaksikan, mengakui Yesus Tuhan dan Juruselamat kepada dunia.

Henry C. Thiessen mengatakan “dengan syahadat iman, maka iman membuat kita terus menjadi berkat bagi orang tak (Yohanes 7:38), menuntun kita untuk berusaha melakukan sesuatu yang menguntungkan orang tidak (Markus 2:3-5), dan mendapatkan pertolongan buat orang tidak (Kisah Para Nabi 27:24-25).”26 Artinya, pengakuan kita melintasi iman kepada Yesus akan menjadikan syahid-Nya kepada dunia melangkahi tata arwah kita setiap waktu, nan ialah cerminan berpunca Kristus dan karakter-Nya (Matius 5:14-15).

Dibenarkan (Roma 10:10a)

Kalimat privat Roma 10:10 tersebut yakni hasil dari pengakuan iman kita kepada Kristus melampaui mulut dan lever kita. Kata dibenarkan secara konteks ialah dibebaskan, dilayakkan. Dave Hagelberg mengatakan “kebenaran dan keselamatan, sebagai dua aspek dari suatu informasi.”

Secara gramatikal, kata dibenarkan berasal dari bahasa Yunani, adalah (dikaiosunen), yang artinya “validitas, keadilan, apa nan dituntut Allah, kebenaran nan dianugerahkan Yang mahakuasa.” Kata (dikaiosunen) adalah kata benda akusatif feminism singular common. Artinya, sahaja orang yang n kepunyaan iman dalam hati kepada Kristus yang dibenarkan dan nan mendapatkan anugerah Allah

Konsep verifikasi berhubungan dengan posisi resmi manusia di hadapan Tuhan, disebut pula legalitas dalam imperium Allah. Chris Marantika mengatakan “Seseorang yang sudah menerima Yesus Kristus ibarat Juruselamat pribadi, oleh Tuhan dinyatakan sebagai cucu adam benar tanpa dosa dan mempunyai eigendom legal n domestik kerajaan Tuhan.” “Pernyataan ini lengkap dan sesuai dengan segala yang dijelaskan dalam seluruh surat Roma mengenai cara di mana sosok berdosa dapat memperoleh gengsi bersusila dihadapan Sang pencipta.”

Ura-ura konsep pemeriksaan ulang menjadi sangat terdepan karena mengandung kredit nan tidak dapat dibeli dengan apa sekali lagi selain pembawaan Kristus. Dengan demikian, dengan hati Bibel Kristus dipercayai sehingga orangnya dibenarkan. Tes mempunyai semata-mata suatu syarat, yaitu iman relung hati. Ragam seperti amal, kehadiran di gereja, ketaatan sreg hokum taurat, baptisan maupun pengakuan di dalam mulut tidak dikemukakan sebagai syarat untuk dibenarkan.

Secara teologis, dibenarkan adalah punya hal paten berdasarkan pembuktian yang dilakukan oleh Halikuljabbar melalui Yesus Kristus. Internal ayat ini jelas bahwa keselamatan merupakan akibat terbit pengakuan, dan dibenarkan merupakan akibat berusul pengakuan akan iman kepada Allah.

Diselamatkan (Roma 10:10b)

Keselamatan adalah suatu kondisi obyektif yang dialami secara arketipe, dan karuan dalam penebusan Yesus Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Secara etimologis, kata “keselamatan” terwalak n domestik banyak ragam pembukaan Ibrani, doang yang tersohor bersumber semenjak akar kata Yahudi kerumahtanggaan Perjanjian Lama yakni: yw’ alias yasha’. Kata yasha sreg mulanya berarti luas, lebar, lawan berpokok kesempitan atau tindasan, di pakai intern Injil Ibrani sebatas kurang lebih 270 kali.”

Intern Perjanjian Baru dipakai kata soteria. “Pengenalan soteriologi berpangkal semenjak dua kata yaitu: “soteri” dan “logos/logi”, yang berguna selamat, aman, sonder ada cela sama sekali, sehat, teguh, perkasa, etis (Matius 9:22; Kisah Para Nabi 27:20; Ibrani 5:7).” Soteriologi atau keselamatan yakni sebagai suatu anugerah biar orang-orang yang madya mengalami penderitaan mendapatkan keselamatan, juga bisa berhubungan dengan Halikuljabbar secara formal.

Federans Randa II sekali lagi menjelaskan bahwa “keselamatan menunjukkan satu kepedulian Allah bakal membebaskan manusia mulai sejak kutukan dosa, dimana kata agorazo memiliki pengertian membeli atau menebus.” Rasul Paulus berbicara kepada Jemaat Sang pencipta di Korintus dengan mengatakan bahwa “Sebab ia sudah dibeli dan harganya sudah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Tuhan dengan tubuhmu! (1 Korintus 6:20).” Sang pencipta sudah lalu membeli kita dengan harga lunas, itulah keselamatan dari Allah nan sudah lalu diberikan kepada manusia.

Dalam konteks atau kalimat pada ayat ini berbicara suatu kepastian dan panjar akan arwah orang yang berkepastian kepada Yesus Kristus. Diselamatkan bukan gerakan manusia, melainkan pemberian Allah. Namun, pengakuan iman relung hati sangat penting untuk keselamatan kita.

Kalimat diselamatkan merupakan parafrase dari bahasa Yunani, yaitu (soterian) yang bersumber dari kata dasar (soteria), yang artinya “keselamatan, pembebasan, pemeliharaan.” Kata ini juga adalah nomina akusatif feminism singular common.

Secara harfiah, kata diselamatkan yakni dipelihara oleh Yang mahakuasa, tidan dibiarkan begitu saja, melainkan dijaga dan dibebaskan dari kematian kekal. Menurut Chris Marantika mengatakan “Di dalam bahasa Yunani, prolog keselamatan berpunca berusul pengenalan kerja sozo nan manfaat dasarnya merupakan “menjadi bugar”, menyembuhkan”, “memakamkan”, mengawetkan”, dan privat kaitannya dengan bani adam berarti “menanam dari kematian atau mempertahankan semangat.”

Dengan perkataan hal ini diakui sehingga orangnya diselamatkan. Peristiwa mengaku Yesus sebagai Tuhan tidak dianggap suatu ulah nan sehingga mereka bukan segan mengatakan seandainya pengakuan menumpang lega iman sebagai syara pembuktian. Dalam ayat ini Paulus menguraikan bahwa menyanggupi dengan mulut merupakan suatu kegiatan yang dapat dilakukan oleh orang percaya untuk memperoleh keselamatan dari bahaya nan mereka hadapi.

Dave Hagelberg mengatakan “orang yang mengaku dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan akan diselamatkan bermula berang Allah yang madya dinyatakan semenjak surge atas segala kefasikan dan kekaliman manusia yang memperkuda kesahihan dengan kelaliman.” “Orang yang menindas keabsahan tidak dapat mengaku Yesus sebagai Allah dengan mulut mereka, dan sebaliknya orang yang memakai mulut mereka untuk bersedia dan menerima Yang mahakuasa Yesus enggak dapat memperkuda keabsahan.”

Bukan Akan Dipermalukan (Roma 10:11c)

Barangsiapa nan percaya kepada Anda, tidak akan dipermalukan (Roma 10:11). Dalam Bahasa Yunani ditulis ” (ho pisteuon he auto ou kataiskhunthesetai), dengan pembukaan kuncinya (kataiskhunthesetai). Kata ” (kataiskhunthesetai), artinya “menghina, mempermalukan (pas. Merasa malu); mengecewekan.” Kata  (kataiskhunthesetai), merupakan introduksi kerja indikatif future pasif khalayak saat tunggal. Ini berarti bahwa suatu tanda jadi atau janji nan akan menclok bagi khalayak berkeyakinan.

Paulus mengungkapkan hal ini untuk meneguhkan dan meyakinkan bahwa siapa pun yang percaya dan mengaku dengan iman bahwa Yesus yaitu Tuhan dan Juruselamat tidak akan dikecewakan oleh Dia. Ada jaminan atau kepastian di dalam Kristus. Internal Yohanes 14:1-2 jelas dikatakan bahwa: “”Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak ajang lampau.

Kalau tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ bagi menyenggangkan tempat bagimu.” Olla Tuluan mengatakan bahwa peristiwa ini menerangkan “tentang cara Injil bersangkut paut dengan bangsa Israel. Paulus menegaskan bahwa Bibel tidak meniadakan niat Sang pencipta lakukan bangsa Israel (ps 9). Sebaliknya Injil menggenapi janji Allah bagi Israel (ps. 10) dan meneguhkan pengharapan cak bagi Israel (ps. 11).”

Janji ini hingga sekarang masih relevan kerumahtanggaan kehidupan individu yang berkepastian kepada Tuhan Yesus Kristus. Roma 8:24-25, berkata: “Sebab kita diselamatkan kerumahtanggaan pengharapan. Namun pengharapan yang dilihat, lain pengharapan lagi; sebab bagaimana individu masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Sahaja jika kita merindukan apa nan bukan kita tatap, kita menantikannya dengan serius.” Iman Saud mengatakan: “orang-orang nan dipanggil itu karuan merupakan suatu panggilan yang efektif dari Allah melalui iman pada Yesus Kristus.

Sehabis itu dibenarkan, lain diampuni atau diselamatkan atau diberi hidup plonco, sesuai dengan Roma 1:17 “manusia nan sopan karena iman akan roh. Dan akhirnya barulah turut di dalam ketinggian.”

APLIKASI BAGI Semangat Insan PERCAYA Masa kini

Melalui syahadat iman privat lever, jelas bahwa atma orang percaya harus tercermin secara nyata. Kehidupan yang berakibat dan menjadi contoh lakukan orang enggak malar-malar lakukan dunia ini. Jason Lase mengatakan bahwa “realitas (wujud nyata) keselamatan itu adalah suatu rangkaian yang diubahkan dan hidup yang diperbaharui.” Artinya, kita memasuki suatu kualitas usia mentah, spirit dalam hubungan dan persekutuan yang sopan dengan Tuhan, yang bernasib baik ekspresinya dalam keeratan relasi kita dengan sesama, dan tanggung jawab menernakkan alam seberinda.

Wahdah Orang Beriman (Roma 10:12a)

Kalimat “Sebab tidak ada perbedaan antara cucu adam Ibrani dan insan Yunani”, secara primitif dapat didefenisikan bahwa turunan percaya enggak ada perbedaan, baik organisasi gereja, tungkai, budaya hanya suatu di privat Kristus. N domestik Efesus 2:19 berkata “Demikianlah kamu tak lagi anak adam asing dan musafir, melainkan kawan sewarga dari insan-individu murni dan anggota-anggota keluarga Tuhan.”

Kata perbedaan dalam bahasa Yunani, (diastole), artinya “memisahkan, membebaskan, perbedaan.” Di intern Galatia 3:28, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau dara, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Keadaan ini menunjukkan bahwa di dalam hidayah dan iman kepada Yesus Kristus kita tetapi suatu.

Paulus berfirman kepada Filemon seharusnya menerima Onesimus dengan anugerah. “Rahmat yang diinginkan maka dari itu Paulus adalah kasih yang tidak mengenal perenggan sosial. Meskipun Onesimus yaitu sendiri hamba alias budak cuma tetap harus dikasihi sebagai sesama orang Kristen.”

Bukan ada perbedaan ini menunjukkan bahwa di kerumahtanggaan Kerajaan Almalik kita semua saudara. Karena itu, sangatlah penting bagi kita mengetahui makna semangat kita kepada Yesus Kristus seharusnya kita n kepunyaan konsep dan perilaku seperti yang Tuhan kehendaki dalam kehidupan setiap orang beriman kepada-Nya.

Di sisi lain, kata  (diastole), pula menunjukkan kepada kita bahwa tak tertutup kemungkinan keselamatan hanya untuk bangsa Israel, atau hanya kepada insan Kristen cuma, melainkan kepada semua orang yang ingin percaya dan menyanggupi dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat dunia dan pribadinya. ‘Paulus memintal alas kata barangsiapa… tidak akan dipermalukan untuk dijadikan pendahuluan berasal hal kedua nan akan dibicarakan, yakni bahwa jalan keselamatan dapat dicapai oleh semua cucu adam, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi.”

Kaya Di Intern Kristus (Roma 10:12b)

Intern konteks ini menunjukkan suatu pemahaman yang etis bahwa makhluk miskin akan menjadi kaya. Secara konteks berbicara tentang pertolongan. Dave Hagelberg menjelaskan bahwa “yang dimaksud disini adalah bernasib baik pertolongan-Nya yang berkelimpahan.”

BACA JUGA:
Persaksian IMAN RASULI (CREDO APOSTOLICUM)

Secara grammatical, kata berada (plouton), yang akar tunjang introduksi (plouteo) yang adalah pembukaan kerja participle present aktif nominative maskulin singular. Arti kata (plouton), ialah berkemampuan, kaya, berpunya, karim.” Dave Hagelberg mengatakan bahwa “syarat untuk menerima kekayaan pertolongan-Nya yang fertil adalah satu, kita harus berseru kepada-Nya.”

Kata berseru internal bahasa Yunani ialah ” (epikalesetai), nan artinya “menyebut, menyambung nama, berseru, menamai.” Sementara itu, pembukaan berseru di dalam Matius 7:21, ” (legon), artinya “berkata dengan tidak melakukannya.” Jadi, introduksi berseru di kerumahtanggaan Roma 10:13 berbeda dengan kata berseru intern Matius 7:21

Intensi prolog (epikalesetai), adalah berseru dan berperan berdasarkan pengakuan iman mereka kepada Kristus. Artinya, jikalau orang nan bersedia dan menerima dengan perkataan dan percaya privat hati Yesus adalah Sang pencipta dan Juruselamat dunia, maka harus dilaksanakan melintasi tindakan dan kehendak Allah Bapa, dengan mengasihi (Matius 22:37-40), bersaksi tentang Injil (Maitus 28:19-20) dan berbuah (Galatia 5:22-23).

Dalam Terjemahan Alkitab Mutakhir 3 menjelaskan bahwa: “Injil adalah bagi semua orang ditekankan lagi dengan kutipan Yoel 2:32, nan dengan tegas membawa kepada konklusi, bahwa jikalau Ibrani tidak berseru kepada nama Tuhan, maka mereka bertanggung sendiri atas nyawa mereka.”

Penekanannya, berseru kepada Almalik, akan diselamatkan adalah penyerahan totalitas usia dan melakukan karsa Bapa sesuai dengan Firman-Nya. Yakobus berkata: “Namun hendaklah dia menjadi pelaku firman dan tidak hanya pendengar saja; sebab sekiranya tidak demikian kamu memperdayai diri sendiri (Yakobus 1:22).” Berseru kepada Almalik adalah sukma benar dihadapan Yang mahakuasa, menyanggupi dengan iman dan melakukan kehendak Allah.

BACA JUGA:
IMAN, Penyambutan DAN KASIH

Dengan demikian, Abineno berpendapat bahwa harta benda yang dimaksud Paulus adalah bukan saja kasatmata berkat rohani yang nantinya akan dinikmati di sorga, tetapi mencakup berkat yang dinikmati di dunia ini yang dikaruniakan oleh Usia (pneuma).” Berkat-berkat rohnai yang diberikan oleh Roh Bersih kepada makhluk-bani adam beriman.

Memberitakan Injil (Roma 10:13)

Kehidupan orang percaya yang mutakadim bertumbuh secara rohani akan mengalami kenaikan kualitas hidup sehingga gemuk mendemonstrasikan kerajaan Allah kepada bumi menerobos Alkitab. Di dalam ayat 14 dan 15, Paulus menekankan buat memberitakan Bibel kepada semua orang. Penting bikin kita ketahui bahwa riuk satu ciri khas orang nan bertumbuh adalah memberitakan Bibel. “

Amanat Agung menugaskan gereja (cucu adam berketentuan) buat menyingkir keseluruh dunia serta menjadikan semua bangsa murid Allah (Matius 28:19). Artinya, gereja berutang kepada seluruh dunia, merupakan gereja bertanggung jawab untuk memberikan kesempatan kepada manjapada bagi mendengarkan Injil serta menyepakati Kristus.”

Mengajarkan Kebenaran (Roma 10:13)

Kebenaran nan dimaksud disini adalah Bibel. Turunan percaya ditugaskan untuk mengajarkan kebenaran Injil kepada manusia lain. Tugas ini keseleo satu pengaturan alias dampak nyawa yang bertumbuh secara rohani, sebab tanpa pertumbuhan rohani nan tidak jelas, maka sia-sialah kehidupan ini. “Bahwa Injil adalah bagi semua orang ditekankan pun dengan kutipan Yoel 2:32, yang tegas mengangkut kepada kesimpulan bahwa takdirnya Yahudi bukan berseru kepada jenama Tuhan maka mereka bertanggung jawab sendiri atas nasib mereka.”

Konsisten Kepada Allah (Roma 10:13)

Disiplin kepada Halikuljabbar merupakan kepribadian hidup orang berketentuan nan bertumbuh secara rohani. Tedd Tripp mengatakan “ketaatan adalah kesediaan seseorang kerjakan menyerah kepada otoritas. Itu berarti kepingin mengamalkan apa nan diperintahkan tanpa alasan, minus menjorokkan, minus tantangan.” Sikap taat, secara tidak langsung kita menjadi kopi-surat Kristus yang terbukan buat orang lain.

BACA Juga:
YESUS Yakni Almalik: ROMA 10:9-10

Rasa takut dan kembali hormat kepada Tuhan Tuhan harus terserah di dalam spirit orang percaya, sehingga tunduk kepada pengaturan Allah yang membagi kehidupan itu. Loyalitas kembali yaitu kejadian yang sangat utama bikin dimiliki setiap orang percaya, sebab minus loyalitas tidak akan mendapatkan kehidupan yang kekal di kerumahtanggaan Kristus. Artinya, ketaatan menunjukkan kualitas usia rohani kita melangkahi syahadat iman relung hati kepada Yesus Kristus Tuhan kita.

KESIMPULAN

Usia kekristenan tidak mempunyai alasan untuk tidak memufakati imannya di n domestik ucapan, tindakan dan umur sehari-hari. Tentu hal ini menjadi utama bahwa pengajaran kepada jemaat Tuhan akan halnya manfaat persaksian menjadi tanggungjawab gereja. Basilika diberi tugas cak bagi ki menggarap, mengajar dan mempersiapkan jemaat Halikuljabbar cak bagi menjadi jemaat yang militant dalam mengkover Bibel.

Salah suatu makna persaksian iman kepada Tuhan Yesus Kristus adalah melakukan publikasi Injil. Pemberitaan Bibel merupakan tugas setiap individu percaya kepada Yesus Kristus. Akuilah Dia dalam segala lakumu, itulah yang Tuhan kehendaki di internal pengakuan ini. Syahadat iman harus sopan sesuai dengan kebenaran Allah.

EKSPOSISI ROMA 10:9-13 (PENGAKUAN IMAN) -Marinus Gulo

Source: https://teologiareformed.blogspot.com/2021/09/eksposisi-roma-109-13-pengakuan-iman.html

Posted by: soaltugas.net