Contoh Skenario Sandiwara tradisional 7 Khalayak Ringkas – Sebelum kita meluluk hipotetis naskah drama 7 makhluk cak semau baik nya kita mengenal istilah sandiwara, bagi etimologi, sebutan drama berangkat dari bahasa Yunani ialah“ draomai”, yang mana mempunyai makna selaku yang berbuat, berlaku, berperan, serta beraksi. Berpangkal pada rekaman kata tersebut, pustaka drama boleh dimengerti selaku sesuatu perbuatan ataupun aksi yang ditulis serta berikutnya digunakan kerumahtanggaan pementasan di suatu panggung.

Bersamaan pertumbuhan era, dagelan tidak cuma minus dipentaskan antar bekas. Saat ini ini, drama dapat didefinisikan selaku sesuatu cerita yang dipentaskan di atas gelanggang maupun tidak dipentaskan di atas panggung, misalnya semacam film, tv, ketoprak radio, serta bukan sebagainya.

Dalam makna yang luas, bacaan ketoprak pada dasarnya yakni bagian bersumber wujud karya sastra berisi cerita tentang semangat yang dipamerkan ataupun ditunjukkan dalam wujud aksi ataupun perbuatan. Sedangkan itu, dagelan seorang lazimnya diperankan oleh seorang yang diucap aktor atau aktris. Internal melaksanakan pertunjukan sandiwara radio, aktor serta aktris ini hendak menciptakan menjadikan kampanye serta diskusi cocok dengan bacaan sandiwara bangsawan buat dipertontonkan kepada banyak insan . Nah berikut kami memuat beberapa sempurna skenario drama 7 insan ringkas

Contoh Teks Drama 7 orang

Peran :

  • Suntina
  • Kurutri
  • Wanziyola
  • Karanova
  • Denvin
  • Ranki
  • Sahyu

KARMA SEORANG TEMAN

Suntina dan Kurutri merupakan sahabat baik. Mereka telah bersahabat sejak kecil, tapi suatu hari detik keluarga Suntina anjlok miskin, Kurutri sekali lagi tak ingin pun berteman dengan Suntina. Suatu siang ketika Suntina, Kurutri, Wanziyola, Sahyu dan Ranki madya berada di kelas pada jam pulang ketika akan membersihkan inferior, Suntina dengan berat lever menanyakan Kurutri untuk membantunya. Karena menurutnya Kurutri lah nan bisa menolongnya dan Kurutri merupakan sahabatnya, tapi yang terjadi adalah Kurutri malah menghina Suntina.

Suntina : Kurutri, bisakah kau membantuku?

Kurutri : Barang apa? Menolongmu? Kau pikir kau itu siapa yang harus aku tolong?

Suntina  : Terserah barang apa denganmu? Bukankah kita sahabat? Hari kau sudah lupa dengan itu?

Kurutri  : Sahabat? Maaf ya, aku tidak punya sahabat miskin sepertimu!

Ranki : Kenapa dengan kalian empat mata? Sepertinya terserah problem?

Suntina  : Tidak ada segala-segala, betul kan Put?

Kurutri  : Baik-baik sekadar bagaimana? Begini Capuk, tadi Suntina miskin memintaku Membantunya da  menganggapku sahabatnya, padahal aku tidak kepingin punya dagi miskin seperti mana dia!

Suntinapun meninggalkan Kurutri karena mendengar perkataan Kurutri.

Wanziyola : Jangan begitu Kurutri. Bukannya kau dan Suntina memang bersahabat bermula kecil? Tahun karena Suntina dan keluarganya terban miskin, kau tidak mau sekali lagi bersahabat dengannya. Bukannya saat-momen sama dengan ini kau bisa tunjukan ke dia, kalau kau memang sahabatnya. Bukan malah meninggalkannya.

Ranki :Betul kata Wanziyola, kiranya anda menemaninya enggak menghinanya.

Sahyu : Betul itu. Sahabat begitu juga apa kau ini?

Kurutri  :Kalian pikir siapa kalian nan berani-jantan menasehatiku? Suka-suka aku dong ingin berbuat segala. Urus semata-mata diri kalian masing-masing!

Sahyu  : Bukannya sok menasehati, tapi kami lain mau pertemanan lama kamu Berakhir dengan semudah ini.

Kurutri : Aduh, tidak ada kerjaan sekali kalian mencampuri urusanku!

Suntinapun pergi teman-temannya itu, disisi tidak Suntina yang tadi pergipun menghampiri teman dekatnya Denvin dan Karanova.

Suntina    : Hai, teman-teman.

Denvin : Hai, Suntina. Cak kenapa wajahmu murung seperti mana itu?

Suntina    : Tidak ada segala-apa kok.

Karanova  : Ayolah, dia lain dapat bohong pada kami! Ayo narasi puas kami.

Suntina    : Aku sedih, aku mangut mengapa Kurutri jadi membenciku. Padahal kami Sudah bersahabat sejak kecil, bagaimana bisa karena aku terban miskin kamu Melupakanku dan membenciku?

Karanova  : Benarkah? Bagaimana bisa? Moga, dia mendukungmu bukan Membencimu demikian ini.

Denvin : Iya betul, sahabat seharusnya kontributif dan menggauli bilamana sahaja, Setia menggauli apapun keadaannya.

Karanova  : Iya benar. Tapi, bani adam memang farik-tikai, tidak cak semau nan setara. Barangkali sira malu, atau entahlah itu.

Suntina    : Tapi, aku sedih persahabatanku yang sudah lama terjalin itu kemungkus n domestik Selintas.

Denvin : Sabarlah, tenang hanya. Kan suka-suka kami, jangan dayuh.

Dahulu Ranki, Sahyu, dan Wanziyolapun menghampiri Suntina, Denvin, dan Karanova bikin bergabung bersama.

Ranki    : Hai semua.

Wanziyola : Kalian pasti medium menggunjingkan Kurutri cerek? Bagaimana bisa ya dia berbuat semacam itu kepadamu Suntina? Bukankah selama ini dia yang pelalah cuma membelamu saat terserah masalah?

Suntina    : Ya, akupun enggak sempat cak kenapa Kurutri jadi serupa itu.

Karanova  : Ya, aku lagi enggak menyangka mengapa Kurutri seperti itu.

Denvin : Tapi, karena situasi ini, kita jadi luang jikalau dia hanya ingin berteman dengan Orang kaya belaka.

Sahyu  : Iya betul, tapi sudahlah. Lebih baik kita pulang saja.

Keesokan harinya mereka pun masuk kesekolah seperti konvensional, tetapi bukan dengan Suntina. Hal ini pun terjadi sepanjang 2 minggu berturut-turut. Pada karenanya momen mereka sedang kerumahtanggaan pengelanaan kesekolah, dengan tidak sengaja mereka bertemu dengan Suntina di pinggir urut-urutan yang sedang berburu komoditas bekas.

Sahyu  : Hey bukankah itu Suntina?

Wanziyola : Iya bermoral, sedang barang apa sira? Bukan sekolah malah keliaran dijalan begitu.

Ranki    : Iya benar. (Ranki sekali lagi langsung menarik Kurutri yang kronologi di belakangnya dan sedang asyik dengan BB-nya) Liat itu? Segala yang sahabatmu   bakal?

Kurutri   : Hahaha, paling sedang mengais sampah, namanya orang miskin.
Karanova  : Kamu itu, ayo lebih baik kita temui sekadar dia.
Sahyu  : Tin, apa yang sedang kau buat? Kenapa kau tidak ikut 2 minggu?
Suntina   : (dengan Tersingahak) Aku? Ya sebagai halnya nan kalian liat. Kalian sedang segala apa Disini?
Kurutri   : Cak semau kita, ini tak urut-urutan milikmu! Teman, tatap! Aku sejumlah apa.

Karuan dia sedang menggeragau sampah. Seperti tidak tahu sekadar kalian kerjaan orang miskin.

Denvin : Kami madya dalam perjalanan ke sekolah, Suntina.

Wanziyola : Anda ini, Put. Sudahlah begitu juga dia sahabatmu!

Kurutri   : Halah sahabat! (dengan mata mengaduk)

Suntina    : Orang tuaku tidak bisa membiayaiku sekolah dan adikku masih sekolah.

Aku tak tega jika mengorbankan adikku, kaprikornus aku lebih memilih agar adikku sekolah, dan aku bisa mendukung ayah dan ibu mencari uang jasa.

Ranki    : Baik sekali kamu, Suntina.

Kurutri   : Baik apanya hah? Gampang sekali kalian dibodohi olehnya.

Suntina    : Tega sekali dirimu Put, aku memang mutakadim jatuh miskin. Tapi kamu tak Boleh  menghinaku seperti itu, aku sekali lagi punya perasaan, memangnya dirimu bisa jadi dapat membandingkan derajat seseorang? . Jika kamu tidak Mau berteman denganku, itu bukan ki aib! Tapi bukan begini caranya! (Suntina meninggalkan meninggalkan Temannya)

Denvin : Sudah lalu pada ia menghinanya, Put? Tega sekali kamu!

Wanziyola : Iya, suatu ketika kamu akan merasakan apa yang Suntina rasakan!

Ranki    : Syariat karma masih berlaku, bangun itu.

Kurutri   : Alah gak barangkali lah itu semua terjadi. Aku orang kaya dan tak akan Perpautan kaprikornus miskin. Dengar itu!

Sahyu  : Alah sudahlah, ayo kita menghindari kesekolah.

……….( mereka akhrinya melanjutkan perjalan ke sekolah )……….

Setibanya disekolah Denvin, Ranki, Sahyu, Wanziyola, dan Karanova pun asik membincangkan situasi tadi di pinggir jalan sewaktu berlanggar Suntina. Sedangkan Kurutri asik seorang memainkan BB di bangkunya sendirian.

Karanova  : Tega sekali ya Kurutri menghina Suntina terus sejenis itu!

Ranki    : Iya benar, moga sira bukan menghina Suntina.

Denvin : Benar, seharusnya takdirnya Kurutri memang tidak kepingin berteman dengan Suntina.

Ia bisa kan tidak menghina? Meninggalkan ya tinggalkan saja tidak usah Dibarengi cacian.

Wanziyola : Jika aku jadi Suntina, aku pasti akan adv amat sakit hati. Aku akan menangis Tersedan-sedan. (sambil menjawat pipi dan menekuk bibir)

Sahyu  : Hahaha. Kamu ini, norak sekali sebatas menangis tersedu-sedan. Tapi baguslah, Suntina sangat abadi sehingga ia bisa menahan rasa perihnya.

Denvin : Hahaha betul itu.

Sahyu  : Ah nah, berjarak. Selintas sekali lagi masuk.

Hari itu ialah hari terakhir mereka bertemu Suntina dan ketika semuanya telah terjadi, Kurutri pun merasakan segala apa yang dulu Suntina rasakan. Keluarganya bangkrut karena ditipu makanya penipu handal. Tapi sayangnya Kurutri tidak songsong dengan hidupnya nan miskin, dan ia beranggapan bahwa semua ini salah Suntina.

Kurutri   : Lain! Ini cuma mimpi, tidak kelihatannya aku jatuh miskin seperti ini!

Aku yakin semua ini sekadar mimpi, ya bermartabat. Hanya mimpi! Arg semua ini gara-gara Suntina miskin, karenanya masa ini aku jatuh misiki! Aku benci sira Suntina! Aaaa..

Jadinya keluarga Kurutripun pun drop miskin dan anda merasakan apa yang Suntina rasakan habis.

NASKAH DRAMA 7 ORANG DENGAN

Tema   : Persahabatan, Sekolah, Kehidupan  Sirkulasi Bahasa Indonesia

Jumlah Karakter : 7 Bani adam

(Benang, Vinla, Trianta, Sanili, Pak Sarmono, Kepsek, Sanzauzia)

Pagi masa di sekolah didalam kelas ada 3 individu anak murid nan sedang bercelatuk. Anak asuh-anak asuh ini mempunyai geng yang bernama SutraVinlaTrianta Sanili nan anggotanya cak semau 4 bani adam. Ialah Sutra, Vinla, Trianta, Sanili. Maka dari itu mereka menamakan gengnya itu “SutraVinlaTriantaSanili”

Sutra    :           (Lugu) ”Pagi Sobat.    !!”

Vinla    :           , Trianta : “Pagi Lungsin ”

Makao    : “Ngomong-ngomong kayanya ada yang tekor deh !”

Vinla    : “Iya, yah.       ”

Trianta            : “ya, iyalah ada yang adv minim. Insan Sanili belum cak bertengger.”

Lungsin    : “Oh… Iya Sanili. Pantas saja antap banget biasanyakan dia yang paling celopar !”

Mendadak Sanili cak bertengger, dengan wajah termenung sonder senyum. Sedikitpun Langsung duduk  ditempat duduknya.

Vinla    : “Tumben banget dayang bawel bau kencur datang ?”

Trianta            : “ Iya nih kesiangan ya ?”

Sanili   : “Iya    (refleks tertegun)”

Untai    : “Dia kenapa Li ? Gak biasanya anda begini ? rata-rata kamu pagi-pagi udah buat kita bertiga ketawa.”

Vinla    : “Iya nih ! kamu nyeri Li, kayanya dia lesu banget.” Trianta          : “Tau nih ditanya aku aja jawabannya ringkas banget.”

Sanili   : “Gak kok…. N partner aku gakkenapa-napa sahaja lagi culas ngomong aja   ”

Tali    : “Ya udah Li kalau memang kamu gak kenapa-napa kita Cuma takut auja kalau dia juga terserah kebobrokan atau sira sedang sakit tapi gak kepingin narasi.”

Sanili   : “Ya    pokoknya aku gak kenapa-napa. Kalian gak usah agak kelam.

(Bel turut juga berbunyi)

Pak Sarmono sekali lagi masuk ke dalam kelas karena plong musim ini jam mengajar Paket Sarmono dikelas ini. Ia ini pelecok suatu guru yang aneh di sekolah.

Pak Sarmono : “Pagi.  anak-anak ?”

Anak-anak asuh : (Menjawab Serentak) “PAGI       ”

Paket Sarmono : “Baik pada tahun ini kita akan melanjutkan materi nan minggu lalu Buya berikan, sebelumnya kumpulkan tugas kalian!!”

Momongan-momongan : “IYA PAK”

Sanili : “Buntelan rahasia tugas saya keteter dirumah !”

Pak Sarmono : “ TERTINGGAL            ? sira tidak mengapalkan tugasnya, apatidak membuatnya ?”

Sanili : “Saya tidak membawanya sampul. Sungguh, saya tak berbohong.”

Pak Sarmono : “Ya telah sekiranya serupa itu engkau tidak boleh biji begitu juga teman-imbangan kamu. !”

Trianta : (berkusu-kusu) Li… engkau gak gendong tugasnya ? Gak biasanya kamu kaya gini…..

Sanili : “Iya Trianta aku lupa. Kemarin aku tidur lilin batik banget !!! Bintang sartan aku lalai memasukan kedalam tasku.”

Pak Sarmono : Bapak akan berikan selembaran kertas yang isiunya materi-materi utama kerjakan kalian pelajari..”

Pak Sarmono membagikan kertas lembaran itu, momongan-anak lagi membacanya dan memahaminya. Lalu ia menyelidiki tugas yang dikumpulkan tadi.

Tahu-tahu bapak Kepsek datang dan masuk kedalam kelas.

Kepsek : “Minta diri Pak Sarmono… Saya minta hari sebentar.”

Kelongsong Sarmono : “Silahkan bapak Kepsek !!! Memang jam mengajar saya juga sudah habis.” Kepsek : “Anak-momongan abolisi bapak mengganggu kalian sparing. Sebentar, bapak kesini cak hendak memanggil anak yang bernama Sanili. Yang bernama Sanili acungkan tangan.”

Sanili : (Mengancungkan Tangan) “SAYA PAK !”

Kepsek : “Ikut keruang bapak selintas cak semau y7ang bapak mau bicarakan !” Sanili : “Baik Pak.”

Sampainya diruang Bapak Kepsek, Sanili duduk tegang di handapan buya Kepsek.

Sanili : “ Ada segala ya pak sampaui saya di panggil keruang buya ?”

Kepsek : “Serupa ini, apa bermartabat engkau telah memperlambat SPP 3 bulan ?” Sanili : “Iya pak memang saya belum mengupah uang lelah spp selama 3 bulan.”

Kepsek : “Kenapa ? sira setakat menunggak 3 wulan segala sepantasnya kamu di belas kasih uangnya sama orang tua ia cuma pakai ?”

Sanili : “Tidak kelongsong memang saya belum dikasih uangnnya sama hamba allah sepuh saya karna ibu bapak saya belum punya uang.”

Kepsek : “Ya sudah lalu, kalau begitu.       bapak sarankan kekamu secepatnya engkau lunasi karena sebentar lagi beliau akan UAN.

Sanili : “Baik pak. Secepatnya saya akan melunasinya.” Kepsek : “Iya          Kembalilah kekelasmu!”

Sanili : “Terima kasih pak. Permisi !”

Akhirnya Sanili kembali kekelas. Didalam kelas, Sutra, Vinla, dan Trianta sedang asik berlabun-labun.

Vinla : “Li, Bapak Kepsek ngomong apa sam engkau ? ada keburukan ya ?

Sanili terdesak berbohong dengan sahabat-sahabatnya karena dia tidakmau sahabtanya bintang sartan sempat masalah dia dan ikut kedalam masalahnya.

Sanili : “Gak kok ! Gak suka-suka masalah apa-apa cumangobrol masalah perpecahan aja. aku kan penasihat panitia.”

Vinla : “Oh. dikira kau kenapa ?”

Sutra : “Jodoh, tar pulang sekolah antar aku ya ke toko muslihat ? Soalnya aku kepingin beli novel-novel terbaru sekaligus kita shopping.

Vinla,Trianta : “IYAA !!”

Sutra : “Li mengapa beliau diam, apa kamu gak mau masuk ?”

Sanili : “Iya Sutra kayanya aku gak ikut soalnyakan kamu tahu seorang ayahku juga sakit. Belum Sembuh, jadi aku harus mendukung ibu menjaga ayah.”

Untai : “Ya sudah kalau begitu !

Giring-giring Istirahat berbunyi

Rayon : “Telah istirahat, kita kekantin yuk.. Laper nih !!” Vinla, Trianta : “Marilah.  kita kembali laper!”

Sanili : “Teman, aku gak ikut ya soalnyaaku gak laper dan juga males kekantin. Kalian tetapi ya      ?”

Utas, Vinla, Trianta : “Ya sudah jika dia gak mau ikut. Kita ke kantin suntuk ya?”

Sanili Terpaksa harus berbohong lagi sedangkan dia tidak tidak lapar tapi tidak mempunyai tip dan mendadak tersirat di ingatan Sanili untuk mengambil uang Rayon yang ada didalam tas. Uang itu akan digunakan Lungsin kerjakan membeli Noveldan Shopping besok sepulang sekolah.

Sanili : “Aku senewen nih harus mengupah SPP tapi gak punya komisi. Mohon sama ibu kan ibu lagi gak punya habis cak bagi ayah kerumah sakit. Segala apa aku rebut saja tip Sutra nan katanya cak hendak dibeluikan novel dan shopping pasti uangnya cukup ! Tapi kan kamu sahabat aku sendiri. Maafin aku ya Sutra. Gak ada jalan lain Karena akuharus secepatnya melunaskan uang SPP.”

Tanpa Sanili Sadari ada yang melihat kelakuannnya itu adalah Sanzauzia sira ank kelas bawah itu juga. Sanzauzia tak sengaja mengintip Luili di gapura papan bawah.

Sanzauzia : “Barang apa yang dilakukan Sanili itu kan tasnya Sutra kok ia mencuil uangnya ?”

Sanzauzia kembali langsung kedalam kelas dan pura-pira tidak tahu. Bel Masuk kelas bawah pula berbunyi . Tali, Vinla, dan Trianta masuk kedalam kelas bawah.

Trianta : “Sedang apa kamu Li ?”

Sanili : “Aku lagi baca buku saja.”

Vinla : “kamu istirahat Sekadar dikelas aja ? gak bosen Li ?” Sanili : “Gak, aku kan telah bilang aku males.”

Sutra : “Udah… kok jadi dipermasalahin sih.. ?!”

Sutra belum menyadari seandainya uangnnya hilang. Sesudah sira menyibakkan tasnya dan menyibuk dompetnya membengang dia langsung kaget karena uangnya hilang…..

Sutra : “Saingan, uang aku hilang semua!” Vinla, Trianta : “HILANG ?!?”

Trianta : “Ia lupa siapa Tali. Coba cari Lagi.”

Sutra : “Aku gak lalai tadi aku simpan disini uangnya. Kemana ya ?”

Vinla : “Apa suka-suka yang MENCURI uangkamu Untai !!?”

Sutra : “Mana tahu, sekiranya tidak ada nan maling gak mungkin uang aku hilang.” Trianta : “Siapa yang mencuri ya kok tega banget sih !!?”

Untai : “LI ! Kok kamu bungkam saja sih ?Uluran tangan aku donk ! persen aku hilangnih !!

Sanili : “Bukan Aku Tali yang mencuri !!”

Sutra : “Mana tahu yang sejumlah kamu yang mencuri. Aku kan Cuma harap dibantuin cari.”

Trianta : “Li.    kok kamu ngomong gitu ?bukannya aku nuduh kamu ya dari tadikan Sahaja kamu yang terserah dikelas ini sampai istirahat radu.”

Sanili : “Tapi bukan aku Trianta yang ngambil persen Sutra. Benar bukan. Aku kan sahabat Sutra dan Kalian.”

Vinla : (Jutek) “Walaupun ia sahabat kita kelihatannya ajakan. Ya udah meski kita gak salah nuduh kita selidik tas kamu, Belaka membuktikan saja.”

Sanili : “Jangan kumohon JANGAN !! Tak aku yang ambil.”

Tiba-tiba Sanzauzia bicara dengan mereka.

Sanzauzia : “Hei. Sebelumnya aku mintamaaf kalau aku turut rancam urusan kalian. Aku Namun mau bilang tadi aku tatap Sanili membuka tas beliau Sutra dan mengambil sesuatu sepertinya ya…. Uang.”

Makao : “Ia gak bohong morong Sanzauzia?”

Sanzauzia : “Iya aku gak bohong aku tatap dengan mata kepalaku sendiri. Maafin aku Li, aku gak mau menutupi kejahatan. Jadi, aku ngomong apa yang aku lihat tadi.”

Sanili : ”Sanzauzia. aku seimbang sekali gak tau kalau tadi kamu melihat apa nan aku kerjakan. Sutra, memang aku yang mengambil uang ia. Sanzauzia benar. Tapi aku terdesak Sutra!!! Aku bukan berujud Virulen.”

Sutra : “Bintang sartan… kamu Li yang rebut uang jasa aku ! Ya ampun Li. Aku gak nyangka banget !!! Kamu terpaksa kenapa ???”

Sanili : “Aku terpaksa karna aku belum bayar uang jasa SPP 3 rembulan. Insan tua ku gak punya uang kan dia adv pernah koteng ayahku sedang sakit.”

Sutra : “Tapi kamu gak harus begitu juga iniLi.    ”

Vinla : “Iya Li kenapa beliau gak mustakim suka-suka sama kita. Kalau anda jujur kita pasti akan bantu kamu.

Trianta : “Bener banget !!! Bintang sartan kamu dari tadi pagi mutakadim berbohong kamu bilang kamu lagi males aja ternyata kamu ada masalah ?”

Sanili : “Sutra, Vinla, Sanili aku menyesal udahgak jujur sama kalian. Aku sebagaimana inikarna aku gak mau menyiksa kalian terus. Aku mohon lepas sama kalian. Terutama Lembar.”

Sutra : “Aku maafin kamu Li. Karena aku luang kamu kerumahtanggaan keadaan terdesak berbuat semua ini.”

Sanili : “Kamu memang sahabat aku yang minimum baik Sutra, aku sangat menyesal sekali.”

Vinla : “Bagaimanapun seseorang sahabat dia tetap menjadi seorang sahabat !

Trianta : “Kamu salah La… diralat ya ? Bagaimanapun kesalahan seorang sahabat kita harus memaafkannya karena manusia pasti membuat kesalahan dan enggak selalu benar. Bintang sartan kita harus tetqap jadi sahabat jati.”

Sanili : “Makasih ya sahabat-sahabat ku kalian memang sahabat yang paling baik dan yang paling aku sayang . Makasih kalian sudah lalu ingin maafin aku dan masih ingin jadi sahabat aku.

Utas, Vinla, Trianta : “IYA DONK HARUS !!!”

Sutra : “ya udah Li Uangku bagi kamu saja karena aku tahu dia suntuk m embutuhkannnya daripadaaku.”

Sanili : “Benar Lawe ? Makasih sekali lagi aki ucapkan untuk kamu sampai kapan lagi sekali lagi aku gak akan melupakan kebaikan beliau.”

Tali : “Iya Li. Kamu makasih sekali lagi donk sama Sanzauzia karena dia sudah bagi kejujuran untuk kamu.”

Sanili : “Sanzauzia, sambut pemberian ya    ? Atas kejujuran dia !”

Sanzauzia : “Iya Li sebanding-sejajar.”

Sutra : “Ya sudah kalau seperti ini kan jadinya enak. SutraVinlaTriantaSanili tidak peroi. Sutra  ”

Vinla : “Vinla.  ”

Trianta : “Trianta.       ”

Sanili : “Sanili  ”

SutraVinlaTriantaSanili : “YEEEEEEEEE          ”