Pelopor Pelukis Modern Indonesia Tts


camera

Lukisan “Banjir di Jawa” (1865) karya Raden Imani.

Satu hari, beberapa pelukis muda Belanda, yang sedang belajar, melukis bunga dan memperlihatkannya kepada Raden Saleh. Beberapa madukara dan kupu-kupu hinggap di atasnya. Mereka mencemooh Raden Alim.

Panas dan terhina, sengap-diam Raden Imani menyingkir sejauh berhari-hari. Karena pusing, oponen-temannya mendekati rumahnya dan masuk dengan mendobrak pintu. Mereka mengerik. “Kunarpa Raden Saleh” terkapar di lantai berlumuran pembawaan. Sebelum suasana kian panik, Raden Alim unjuk. “Lukisan kalian cuma mengomedikan lebah dan kupu-kupu, tapi gambar saya bisa menyikut manusia,” ujarnya tersenyum.

Raden Saleh ialah artis Indonesia pertama yang melukis dengan disiplin Barat. Besok dia dinobatkan sebagai pentolan seni lukis bertamadun Indonesia.

Raden Imani Syarif Bustaman lahir di Terbaya, dempang Semarang, berusul pasangan Sayid Husen kacang Alwi bin Awal dan Raden Ayu Syarif Hoesen. Tahun lahirnya simpang-siur. Privat sebuah lukisan potret diri, Raden Alim menulis lahir Mei 1811. Tapi dalam sebuah surat dia pernah menyebutkan tahun 1814.

“Bisa jadi karena dahulu di Jawa berlaku hitungan kalender Jawa (Saka) dan Selam sehingga Raden Saleh kira bingung ketika harus menyesuaikan dengan hitungan kalender Masehi,” perkenalan awal Werner Kraus, kurator radiks Jerman yang mendedikasikan seperempat abad  hidupnya bakal mempelajari karya Raden Imani. Kraus lebih sekata tahun 1811 karena sesuai dengan data bahwa Raden Saleh sparing melukis plong 1819 momen berusia delapan tahun.

Guru pertama Raden Saleh yaitu AAJ Payen, koteng Belgia yang ditugaskan pemerintah kolonial untuk melukis alam dan pemandangan di Hindia Belanda. Karena bakatnya, dia membujur kesempatan memperdalam guna-guna di Belanda pada 1830. Di sana Raden Alim belajar melukis potret pada Cornelis Krusemen dan seni taman pada Andreas Schelfhout.

Melukis potret dan pemandangan sesungguhnya sedikit menarik minatnya. Dia melakukannya demi uang. Kegalauannya terobati saat bersabung rombongan sirkus binatang arahan Henri Martin asal Paris nan berkunjung di Den Haag. “Saleh mewujudkan sebuah lukisan potret diri Henri Martin. Ini sebuah anak kunci agar Henri mengizinkan Saleh datang kapan saja lakukan melihat binatang sirkus miliknya,” ujar Kraus.

Saleh membuat banyak sketsa singa dan harimau milik Martin. Itulah semula ketertarikannya melukis arwah fauna. Salah satu lukisannya adalah “Lion Head”, menayangkan wajah seekor singa nan menatap tajam, penuh wibawa. Lukisan ini menjadi koleksi Museum Seni Rupa Kupferstichkabinnet, Berlin, Jerman.

Puas 1839, pemerintah Belanda memberinya kesempatan berkunjung ke negara-negara Eropa. Di Paris, Prancis, kamu bertemu pelukis Horace Vernet yang mempengaruhi permainan warnanya. Tapi dalam hal mencadangkan suasana objek lukisan dia terpengaruh pelukis besar aliran Romantisisme Prancis, Ferdinand Victor Eugène Delacroix. “Raden Saleh sendiri lain koalisi menyinggung cap Delacroix. Siapa dia pernah melihat lukisan Delacroix di museum,” ujar Kraus.

Gaya Romantisisme antara lain tertumbuk pandangan lega karya “Singa dan Ular cindai”. Uniknya, 23 perian setelah lukisan ini dibuat Raden  Saleh, Eugene Delacriox melukis tema yang sama, berjudul “Macan dan Ular”.

Seniman Prancis yang juga cukup mempengaruhi Raden Saleh adalah Theodore Gericault. Lukisan “Banjir di Jawa” kelihatan terpengaruh “the Raft of Medusa” karya Gericault. Keduanya menggambarkan suasana dramatis sekelompok orang yang berusaha menyelamatkan diri pada sengkuap rumah (Raden Saleh) alias sebuah rakit (Gericault) bersumber bencana air bah samudra (Raden Saleh) atau terpaan badai di lautan (Gericault).

Pada 1844 dia pun ke Belanda. Raja Willem II berkenan menerimanya dan  menganugerahi Medalion Eikenkroon. Kelak Kanjeng sultan Willem III mengangkatnya umpama pelukis puri.

Pada 1851, Raden  Saleh pulang ke Jawa, sesudah menikahi perempuan Eropa kaya, Nona Winkelman. Pernikahan itu tidak bertahan lama. Raden Saleh berjarak dan menikah lagi dengan seorang pemudi Jawa.

Di Jawa, Raden Saleh mendapat tugas sebagai konservator “Kumpulan Koleksi Benda-benda Seni”. Raden Imani tahu menjajat ke Jawa Tengah dan Jawa Barat untuk melukis pemandangan serta potret raja dan bangsawan. Sekadar salah suatu karya fenomenalnya adalah lukisan “Penggerebekan Diponegoro” (1857).

Setelah berhasil menata penyergapan Pangeran Diponegoro, Hendrick Merkus de Kock pulang ke Belanda dan mendapat habuan gelar pahlawan nasional. Untuk merayakan dan menandai kesuksesan itu, de Kock meminta Cornelis Kruseman –guru Raden Saleh– lakukan membuatkan lukisan dirinya.

“Raden Saleh terserah di sana saat Kruseman menggambar De Kock. Bayangkan pikiran sendiri pemuda asal Jawa menyaksikan bagaimana orang yang mutakadim menangkap Diponegoro dengan berbesar hati digambar di hadapannya,” ujar Kraus.

Enggak cuma itu. De Kock meminta kepada Nicolaas Pieneman untuk membentuk lukisan penyergapan Diponegoro bagi menandai keberhasilan karier militernya. Pieneman menggarap lukisan berjudul “Penaklukan Diponegoro”. Karena lukisan inilah Raden Saleh mewujudkan “Penangkapan Diponegoro”, yang sira berikan kepada Yamtuan Willem III.

“Pada masanya hal nan dilakukan Raden Saleh mungkin masih jauh bila dikaitkan dengan persoalan nasionalisme. Tapi detik itu dia mutakadim menunjukkan antikolonialisme,” ujar Krauss.

Pada 1857, Saleh juga berkunjung ke Eropa dan melawat ke Italia. Waktu 1878  anda sekali lagi ke Jawa, dan mengembuskan napas terakhirnya pada 23 April 1880 di Bogor, Jawa Barat.

Baca pun:

Digulung dan Disingkirkan
Raden Saleh “Pulang Kampung”
Restorasi Lukisan Penangkapan Diponegoro
Cara Keluarga Kerajaan Belanda Perlakukan Karya Raden Saleh

Source: https://historia.id/kultur/articles/pelopor-seni-lukis-modern-indonesia-P14pW

Posted by: soaltugas.net