Pendapat Ulama Tentang Ayat Mutasyabihat

Penulis :
Efendy Abdullah, S.Pd., CLMQ

Idemuslim.com, PENDIDIKAN Islam
— Penjelasan ayat muhkam dan mutasyabih yaitu salah satu babak dari penelitian Al-Qur’an. Selain memahami Makkiyah dan Madaniyah, Nasikh dan Batal, Asbabun Nuzul, Pemahaman Bahasa Arab mulai dari Isim, Fi’il & Hurf, maka pembelajaran mengenai ayat muhkam dan mutasyabih adalah kompenen penting dalam kata tambahan Al-Qur’an.

Defenisi Muhkamat dan Mutasyabihat

Ayat
Muhkamat
berarti ayat Al-Qur’an yang jelas. Makna menurut bahasa, muhkam terbit dari pembukaan حكم –يحكم –حكما nan bermanfaat membelakangkan dua kejadian. Makna menurut istilah, muhkam artinya suatu ungkapan yang tujuan makna lahirnya bukan barangkali diganti atau diubah. Sedangkan
Mutasyabih
adalah sebagai antitesis terbit kata muhkam yaitu ayat-ayat Al Alquran yang mengandung ketaksaan dan kepelikan intern memahaminya. Yang mahakuasa memangkalkan ayat-ayat mutasyabihat untuk menunjukkan kebesarannya, dan menunjukkan kepada manusia untuk berpikir dalam-dalam dan mengungkap rahasianya.

perbedaan ayat muhkamat & mutasyabihat

Paradigma Ayat Muhkam & Mutasyabih di Dalam Al Qur’an

Arti muhkam disini merupakan, bahwa makna ayat jelas dan terang ; lain tersamar kadang kala, seperti firman Halikuljabbar Subhanahu wa Ta’ala;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan sira berpunca seorang laki-laki dan seorang dara dan menjadikan beliau berbangsa-bangsa dan bersuku-tungkai supaya beliau ubah kenal mengenal” [Al-Hujuraat/49 : 13]

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ

“Diharamkan bagimu (meratah) buntang, darah, daging kartu ceki, (daging hewan) yang disembelih atas tanda selain Tuhan, yang tercekik” [Al-Maidah/5 : 3]

Sedangkan ayat-ayat

mutasyabihat

terbagi menjadi 2 adegan.

  1. HAKIKI, yaitu apa yang tidak dapat diketahui dengan nalar khalayak, sama dengan hakikat sifat-sifat Sang pencipta Subhanahu wa Ta’ala. Walau kita mengerti makna dari sifat-kebiasaan tersebut, namun kita tidak pernah sempat hakikat dan bentuknya, sebagaimana firman Halikuljabbar Subhanahu wa Ta’ala

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

“(Adalah) Halikuljabbar Nan Maha Penyayang, Yang bersemayam di atas Arsy” [Thahaa/20 : 5]

Ketika Imam Malik ditanya tentang ayat ini, Bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala bermukim ? Beliau menjawab : “Bermukim menurut bahasa sudah diketahui artinya, hakikatnya tidak diketahui, iman kepadanya hukumnya teradat dan mempertanyakannya adalah bid’ah”

2.
Relatif, yaitu ayat-ayat nan tersamar maknanya buat sebagian individu tapi tidak bagi sebagian yang lain. Artinya dapat dipahami oleh makhluk-sosok yang khusyuk ilmunya semata-mata. Bentuk Mutasyabih nan ini bisa dipertanyakan tentang penjelasannya karena diketahui hakikatnya

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang memenggal seorang mu’min dengan sengaja, maka kesudahannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Yang mahakuasa murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang osean baginya” [An-Nisaa/4 : 93]

Pendapat para Ulama Mengenai
Ayat Muhkam & Mutasyabih

Anak laki-laki Abbas
radhiyallahu ‘anhu, berpendapat bahwa ayat-ayat Al-Alquran yang muhkamat adalah menjelaskan barang apa nan dihalalkan dan diharamkan, nan belum dibatalkan dan yang harus diimplementasikan. Ideal kategori ini adalah ayat-ayat Al-Quran yang mengandung cara untuk manusia, sebagai halnya inkompatibel kemusyrikan, berbakti kepada individu berida, pemali mendebah, berzina, mencuri dan lebih jauh. Sedangkan ayat mutasyabihat ialah ayat-ayat yang mengandung fonem terpisah, seperti mana huruf muqatha’ah, alif-lam-mim-, shad, nun nan mewah pada semula surat Al-Quran dan dikenal dengan fawatih al-suwar. Selain itu ayat-ayat yang telah dibatalkan dan yang lain dilaksanakan juga terjadwal dalam kategori mutasyabihat.

Al-Qaradawi
dalam
Kaifa Nata’amalu ma’a Al-Quran al-Adzim
, ia berpendapat bahwa muhkam merupakan ayat yang jelas dengan sendirinya menunjukkan puas maknanya dengan terang, dan tidak memperlihatkan keremangan baik terbit segi lafal ataupun berasal segi makna.Padahal yang dimaksud dengan mutasyabih merupakan lafal yang terik dalam penafsirannya karena adanya keserupaan dengan nan enggak, baik bersumber segi lafal ataupun makna.

Baca Juga : Belajar Bahasa Arab, Ciri Radikal?

Hikmah dari pembagian ayat muhkamat dan mustasyabihat

  • Sekiranya seandainya Al-Qur’an seluruhnya Muhkam,
    maka akan hilanglah hikmah dari ujian testimoni dan darmabakti perbuatan, karena maknanya sangat jelas dan tidak ada kesempatan untuk menyelewengkannya ataupun berpegang kepada ayat Mutasyabih bagi menghamburkan fitnah dan merubahnya.
  • karena khalayak yang
    serius beriman akan mengakuri,
    bahwa Al-Qur’an seluruhnya mulai sejak dari Halikuljabbar Subhanahu wa Ta’ala, dan barang apa saja yang berasal bermula Almalik Subhanahu wa Ta’ala adalah etis, tidak mungkin ada kebathilan atau kontradiksi sedikitpun padanya.
  • seandainya seandainya Al-Qur’an seluruhnya adalah Mutasyabih, maka acerek lenyaplah posisi Al-Qur’an sebagai penjelas dan ramalan buat manusia
    serta tidak mungkin bagi mengamalkan darmabakti ibadah dengannya dan membangun aqidah yang etis diatasnya.
  • Akan tetapi Almalik Subhanahu wa Ta’ala dengan hikmahNya menjadikan sebagian ayat-ayat Al-Qur’an Muhkam agar dapat dijadikan rujukan ketika terwalak makna nan tersamar, dan sebagian lagi Mutasyabih sebagai testing untuk para hamba agar terlihat jelas individu yang benar-benar beriman dari basyar yang dihatinya terwalak penyakit,

Wallahu ‘umbul-umbul []

Source: https://idemuslim.com/penjelasan-ayat-muhkam-dan-mutasyabih-terlengkap/

Posted by: soaltugas.net