Raden 2
Kehidupan perkariban khalayak Tepas, terbilang sangat tataran. Tapi gegares, seringkali bukan diungkapkan secara terbuka, melainkan lebih banyak berupa ekspresi melalui bahasa tubuh (body language) ataupun sekedar tersenyum. Ketika bertemu atau setelah akan berpisah/berpamitan, secara kultural, turunan Tadir bukan mengenal ucapan yang spesifik. Jika bertamu misalnya. Orang Bilik akan berdehem di depan rumah orang nan akan dikunjungi kerjakan memberi isyarat pada sahibulbait bahwa suka-suka manusia yang datang.

Seperti itu mendengar suara sosok mendehem, tuan rumah pun akan bertanya, siapa gerangan diluar, seraya menuju pintu rumah bikin menelanjangi pintu dan mempersilahkan tamunya masuk. Begitupun ketika akan berpamitan, tidak dikenal ucapan yang standar, melainkan dengan isyarat-pertanda tertentu, misalnya dengan mengatakan, tahun sudah lalu sagu belanda, telah tiba maupun akan habis hari sholat, maupun menyatakan bahwa urusan mutakadim rampung. Tapi semua itu berlangsung terlampau. Adat dan tali peranti, sekali lagi menirukan perkembangan. Mereka akan menyapa dengan kata salam; Assalamualaikum detik bertemu satu sama lain atau hendak bertamu. Dan akan menyatakan, saya pamit maupun kerumahtanggaan bahasa Gedek sehari-perian; Tiang Pamit atau Tunas Minta diri. Kemudian ditutup lagi dengan ucapan Assalamualaikum.
Begitu pula, orang Tepas tidak lumrah mengucapkan peroleh hidayah sebagai respon sekonyongkonyong setelah menerima suatu pemberian atau bantuan. Kendati demikian jangan terka mereka bukan tahu berteima rahmat. Mereka mengungkapkannya secara mendalam dan dipastikan dengan raut roman bersemarak, tersenyum serentak terbungkuk-bungkuk. Antara mengucapkan sambut hidayah dan berterima belas kasih, bagi orang Sasak adalah dua hal yang berlainan.
Semacam itu pula berjabat tangan, pada dasarnya, orang Sasak, sangat jarang berjabatan tangan kalau berlanggar atau hendak berpisah satu setimpal lain. Pagar adat berjawat tangan-salaman, biasanya dilakukan ketika turun sholat Ied atau maka itu seseorang murid majlis ta’lim terhadap Empunya Suhu. Di asing keperluan itu, berjabat tangan tak sering dilakukan. Tapi belakangan, rencana-kerangka persentuhan kerumahtanggaan afiliasi sehari-hari bertambah sering tampak. Lebih lagi banyak yang melakukan adu pipi antar sesama wanita yang erat. Lain jarang sekali lagi kita melihat, adu pipi dilakukan bukan sesama wanita, melainkan dengan lawan jenis.
Terkait dengan panggilan kemasyarakatan, dikalangan masyarakat Sasak, terdapat strata sosial nan membedakan kalangan Bangsawan (Sasak: Permenak) dan Kaula atau rakyat lumrah (Gedek: Derek Karang). Terdapatnya hierarki sosial ini, berakibat pada bervariasinya panggilan-panggilan intern masyarakat. Selain atas dasar tataran sosial, panggilan kehormatan kembali berkaitan dengan profesi seperti Tuan Guru, Ustad maupun Kiai. Hawa juga profesi yang cukup dihargai.
Seseorang nan bekerja perumpamaan guru, akan dipanggil dengan sebutan Guru Fulanah. Bagi individu Sasak, nama menjadi cukup penting. Mereka memandang bahwa nama adalah sekacip do’a. Karena itu, individual bagi orang yang telah menunaikan ibadah haji, suka-suka tradisi mengganti nama, sehingga bernuansa Islami dan mengandung makna do’a, dan di depannya ditambah lagi dengan pembukaan “Tuan”.
Contohnya, Dulatip (tera asli sangat waktu wadat). Setelah menikah menjadi Amak Piur (sesuai logo anak pertamanya, Piur). Sesudah menunaikan ibadah haji, berganti juga namanya menjadi Haji Piurahman atau populer dipanggil Tuan, (pembukaan Tuan dipakai sebagai Gelaran Haji untuk orang Sasak).
Dekatnya hubungan antara jemaah primadona haji dengan sang Syeikh (induk sdemangnya ketika di Mekkah), sehingga para syeikh itulah nan asian kehormatan memilihkan nama jemaah calon haji berasal Lada. Tentatif itu, disebagian wilayah Kota Mataram dan sebagian di Merica Barat, seorang pria nan telah menunaikan ibadah haji, akan dipanggil Mamiq, sonder memandang hierarki sosial berusul mana ia berusul. Jadi, persilihan panggilan, dapat terjadi karena perubahan bersumber pamor jomlo, kemudian berumah tangga atau karena mutakadim menunaikan ibadah haji. Kalau telah berumah tangga dan mempunyai anak, orang Gedek akan dipanggil Mamiq Anu untuk kalangan bangsawan, atau Amaq Si polan bagi kalangan rakyat jelata, sesuai nama anaknya yang pertama. Berpokok serupa itu banyak panggilan, yang minimal popular dan berterima yakni, Mamiq maupun Amaq.
Tetapi dikalangan kabilah muda akhir-akhir ini, dijumpai panggilan yang egaliter seperti semeton atau disingkat ton (seperti panggilan Bung bagi cucu adam Ambon). Belakangan ini sekali lagi, besar perut kita tangkap suara dibeberapa palagan, kaum muda apalagi orang sepuh pun sering menamai dengan panggilan Bro atau Gan!
Kerumahtanggaan adab berkata-cakap lagi, kita menentang menentukan hirarki sosial melalui kaidah mengamalkan percakapan. Dalam pergaulan modern, duduk di birit kenap sambil berbicara dengan seseorang yang semenjana berdiri, biasanya yakni tanda perhubungan atasan pion. Manusia yang duduk itulah atasannya. Perilaku serupa, juga boleh digunakan untuk menunjukkan ketidaksetujuan, kekurangajaran atau penghinaan bila turunan membentur norma-norma budaya. Kesalahpahaman mudah sahaja terjadi dalam sebuah kejadian antar budaya, ketika dua sosok berperilaku sesuai budayanya masing-masing. Misalnya, bila kita tetap mengirik, tentatif kita diharapkan duduk, akan dianggap melanggar norma budaya dan menertawai mahajana pribumi atau tamu, padahal kita seorang tak mengingat-ingat hal tersebut.
Orang Sasak bersuara dengan idiom merendah bila menyangkut dirinya. Dan sebaliknya, beliau akan meluhurkan lawan bicaranya. Menurut tradisi, sosok Sasak lebih menyukai percakapan nan dilakukan sambil duduk ketimbang berdiri. Percakapan sekalian takut, lain dilakukan untuk membicarakan keadaan-hal nan betul-betul. Begitu pula percakapan sepintas lalu lalang di jalanan, tak lebih diperhatikan, dibandingkan yang dilakukan di rumah. Selama konversasi berlangsung, lain dibenarkan mencemooh rasam istiadat setempat. Hindari usaha tangan berlebihan. Kontak mata tidak terlalu diperhatikan, tetapi lebih sering orang muda, tidak memandang antagonis bicaranya nan bertambah tua.
Sikap lever-hati dan kewajaran dalam bercakap-elok, sangat dihargai. Perhatikan sekali lagi bilang sikap tubuh. Hindari bercakap-rupawan dengan bertolak pinggang, menjaringkan tangan di saku celana (pada percakapan sambil menggermang) atau menaikkan kaki di radas apartemen tangga begitu juga kursi atau meja pada percakapan yang dilakukan serta merta duduk.(Dulu Jenjang Ali-Pranata Humas Penyelenggara Lanjutan-Kab. Cabai Barat)