Puisi Untuk Saudara Yang Meninggal



Father and daughter looking at phone during raya celebration in Malaysia


Ilustrasi puisi tentang ayah nan sudah meninggal. Foto: Getty Images/ibnjaafar

Jakarta

Mendaras puisi mengenai ayah yang telah meninggal bisa menjadi salah suatu momen mengenang kembali sosoknya yang penuh cinta. Di pangkal ini cak semau kompilasi puisi tentang ayah yang telah meninggal.

Ayah merupakan maskulin hebat yang menjadi panutan, karena sikapnya yang tegas, pesam, pekerja persisten dan mumbung anugerah gegares. Setiap anak tentu merasa sangat kekeringan dan tersentuh perasaan ketika si ayah mangkat ke arah Tuhan.

Tak sedikit berusul mereka tentu ingin mengingat kembali semua kenangan sani yang dimiliki mengenai ayah. Puisi mengenai ayah yang telah meninggal ini barangkali bisa mewakili kerinduanmu dan mengungkapkan bukan main pentingnya dirinya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berikut Ini Antologi Puisi tentang Ayah yang Sudah Meninggal:

1. Yang Enggak Meninggalkan

Karya : Anonim

Raga dan atma mana tahu menyingkir
Tapi pelahap kita enggak menjauhi
Sering kita tidak pernah pergi
Ada selalu di privat hati
Gegares kami kerjakan ayah
Gegares nan akan buruk perut bersemi
Sayang kami untuk ayah
Sayang yang tiada memangkal
Ayah lain afiliasi pergi
Karena gelojoh dan sayang ini
Ayah gelojoh terserah cak bagi kami
Di dalam sanubari.

2. Tembang tentang Ayah yang Sudah Meninggal

Karya : Widya SEO

Ayah . .
Lain terasa semacam itu cepat waktu berlalu
Kerinduanku akan masa kecil bersamamu
Saat ini hanya boleh ku kenang, tak kan pun terulang
Meskipun masa ini kau jauh disana
Aku yakin kau akan bahagia
Hanya do’a nan boleh kuberikan padamu sekarang
Mudahmudahan segala nan telah kau berikan padaku, dapat menjadi eksemplar
Semoga aku menjadi pribadi yang sepertimu, tegas, berwawasan, dan berjiwa karunia
Aku kangen padamu yah.!!

Masih terasa goresan luka kepergianmu
Masih membayang kenangan sani masalalumu
Kini semua benar – benar sudah berlalu
Tersentuh perasaan ini bercampur pilu
Tangis ini bercampur rindu
Sepatutnya ada aku …
Masih kalam kasih sayangmu
Masih ingin dipelukanmu
Saja… apalah dayaku
Waktu ini ku hanya bisa memandang nisanmu
Mengenang jasa dan kebaikanmu
Menuruti semua nasihatmu
Ayah
Do’a ku ini mengiringi perjalananmu
Semoga Tuhan mengampuni dosa – dosamu
Hendaknya Tuhan menerima darmabakti ibadahmu
Dan semoga tempat yang layak ditujukan untukmu
Aku… slalu menyayangimu.

3. Buruk perut di Hati

Karya: Anonim

Waktu ini kita tidak lagi berada di dunia yang sekelas
Kita terpisah ruang dan waktuKita tidak pun bisa bertatap muka
Dan aku tetapi dapat menatapmu dari foto saja
Tidak teko pernah ada yang berubah
Sejauh apapun engkau pergi, ayah
Ayah adalah pengukir jiwa kami
Ayah akan gelojoh ada di hati kami
Ia adalah pahlawan lakukan hidup kami
Dia adalah cahaya kerjakan nasib kami
Engkau adalah pelita untuk hidup kami
Kamu akan burung laut suka-suka di hati kami
Kami enggak akan sesak larut sagu belanda bersedih
Doa kami selalu buat ayah
Doa kami buat kebahagiaan ayah di surga
Wirid kami hendaknya ayah senyap di sisi-Nya.

4. Lelaki terhebat

Lelaki yang telah tergolek itu ayahku
Engkau adalah lelaki terhebat yang kawin kukenal
Beliau adalah lelaki terbaik nan mengayomiku
Tidak afiliasi menambat meski sakit kadang dirasa
Lelaki terhebat itu adalah ayahku
Dia adalah anak adam lelaki tertinggal
Dia merupakan sosok yang cerdas
Engkau adalah tumpuan dimana kaki kami
Pria yang telah kelempai disanaIa adalah ayahku yang terhebat
Ia tidak akan membiarkanku terluka
Ia akan selalu mendampingiku
Lelaki yang telah terbaring di sana
Lelaki yang telah berisitirahat bersama-Nya.
Semoga guna darimu membuatku cak acap bertahanSemoga cintamu mengilhami hidupku
Nasehatmu takkan kulupa
Segala petuah hidup yang kusimpan
Lelaki terhebat itu adalah ayahku
Yang terbaik di manjapada ini.

5. Kehausan

Karya : Niki Ayu Anggini

Ayah dimana kamu berada
Di sini aku merindukanmu menginginkan cak bagi berjumpa
Mencitacitakan akan belaianmu
Anugerah sayangmu selalu ku rindu
Engkau selalu hadir di mimpi
Mimpi yang semacam itu berupa bagiku
Menginginkan sira untuk pula
Aku bosor makan mengharapkan engkau hadir
Menemani aku setiap hari
Mengawani masa pertumbuhanku ini
Aku tumbuh menjadi besar
Tanpa engkau di sisiku
Tanpa dia yang menemani tahun-hariku.

6. Puisi akan halnya Ayah yang Sudah Meninggal

Karya : Lee Risar

Ayah apa permakluman?
Tahukah ayah bahwa aku sekarang merindukanmu?
Bahkan sangat merindukanmu.
Sejak kepergianmu ibu cerbak menangis
Tetapi kadang-kadang ia ondok air matanya.
Ibu pula berusaha kuat
Agar aku pun langgeng ayah.
Aku tahu ibu melakukannya untuk aku,

Dan saat-saat begitu juga itulah kami saling berbelitan
Seolah tukar mengobati jejas
Dan mengobati rasa lindu yang perihnya menusuk-nusuk hati

Seperti onak duri yang masih tertancap dalam daging
Ibu kadang menyoal sudah makan?
Tetapi sambil menghalangi air matanya
Yang sesekali merembes dan basah.
Aku bisa merasakan
Betapa ibu sangat kehilanganmu ayah,
Sama sepertiku
Ayah…
Mengapa sejenis itu cepat meninggalkan kami?

7. Getar malam rinduku

Karya : Eko Putra Ngudidaharjo

Ingin kugali gundukan itu
Dan membedol papan nama setiap dukaku
Biarlah nafasku memeluk tentangmu
Puisi-sajak liar menimangku
Sajak berair mata merangkulku
Dan merambatkan tiap erang di sekeliling gelap
Seolah kau utus jangkrik untuk memicing lelahkuNyanyi cerita akan halnya dahaga merindu
Seolah kau titipkan restumu
Lewat dingin malam menyuap

Guna-guna-ilmu penghapus basah tatapku
Tiap dendang lantun macapat mengiring sendu
Seperti suara lever yang tersampaikan padaku
Bahkan suara minor gitar farik saat anganku
Mengarah kenangmu
Pulsa yang muncrat berputra tembang
Bak pujangga berlagu
Ini untukmu,Itu buatmu,
Dan do’a sebagai baktiku
Miss you Ayah.

8. Titip Kangen untuk Ayah

Karya: Srifatmawaty Timumu

Ku tak dapat menghantarkan kepergianmu.
Langit mendung ikut berduka
Semua riuh adv minim memahfuzkan darmabakti kebaikanmu
Ayah,
Di bawah nisan dan kamboja ini
Aku tertunduk
Kujatuhkan air ain untukmu
Ayah,
Kau yang mengajarkan aku adapun kebaikan kehidupan
Kau nan mengajarkan aku menghargai sesama
Kini ayah pergi,

Pergi untuk selamanya
Tuhan,
Takdirnya boleh aku berbenturan ayah
Ku ingin memeluknya dengan mumbung rasa kasih sayangTuhan,
Kutahu semua itu takkan koalisi terjadi
Tapi, aku sahaja dapat berkata kepada-Mu

9. Kehilangan

Karya: Desi Maylani

Ayah,
Kehilanganmu begitu juga aku kekeringan dunia
Seperti aku kekeringan seluruh daya
Seperti aku kehilangan sehelai atma
Ayah,
Dari keringatmu aku sukma
Berpunca tanganmu aku makan dan minum
Berpunca nasehatmu aku menjadi turunan
Ayah,
Kepergianmu memukul hatiku
Kepergianmu mencabik jiwaku
Kepergianmu meruntuhkanku
Ayah,
Semoga kamu berbahagia di sana
Semoga sira sunyi di kayangan-Nya
Semoga amalanmu diterima makanya-Nya.

10. Perginya Dirimu

Karya: Muzdalifah Agustina

Tak ada kata yang pantas terucapkan
Cuma derai bening yang camar bercucuranMembayangkan segala kenangan
Teringat akan semua kesetiakawanan
Walau ucapmu kadang kala ki getir
Sentakmu buatku sakit
Namun cerek ku coba tuk bangkit
Tak peduli itu mudah maupun sukar
Ratap kesah selalu kau sembunyikan
Kau simpan dalam sebuah senyuman
Apapun yang kau rahasiakan
Aku selalu bisa merasakan
Itu terlampau,
Saat kau masih bersamaku
Banyak hal yang buatku malu
Malu karna mutakadim menyia-nyiakanmu
Kini hanya sesal yang tersisa di jiwa
Ingin sekali aku mengulang semua
Jika Tuhan mengizinkannya
Aku takan pun buatmu kecewa
Ibarat Yang mahakuasa beritahu aku
Bahwa Anda akan menjumut ayah lebih terlampau
Mungkin aku takan lakukan itu
Kan ku lakukan dia bahagia karna aku.

Itulah sejumlah puisi adapun ayah yang sudah meninggal. Semoga bisa mengingatkan kembali akan sosoknya yang penuh ketakutan.

Simak Video “Syair kerjakan Putin, Seniman Annalynne McCord Jadi Sorotan Netizen

[Gambas:Video 20detik]
(eny/eny)







Source: https://wolipop.detik.com/love/d-5911164/10-puisi-tentang-ayah-yang-sudah-meninggal-haru-penuh-rindu

Posted by: soaltugas.net