Ragu Terkena Najis Atau Tidak

Hukum Ragu Setelah Melakukan

APAKAH JIN BISA Berubah bentuk SEPERTI Makhluk?

assalamuailkum paket ustadz..saya mau menunangi

1. misalkan kedua suku rantus najis, terus kita langsung membersihkan kedua kaki kita yang ketularan najis tadi, setelah kita membersihkan najis tadi kita langsung melakukan kegiatan yang lain, sehabis beberapa detik kita lupa kaki arah kiri mutakadim dibersihkan alias belum tadi ya, dalam kondisi tengung-tenging sperti itu apakah kita harus mencuci suku kita lagi alias mengganggap kaki kita tadi sudah dibersihkan kelongsong ustadz, soalnya kita mutakadim mencuci tungkai tadi sahaja nan keingat dicuci kaki sisi kanan sementara sebelah kiri kita ragu entah sudah dicuci atau belum ?

TOPIK SYARIAH ISLAM

  1. HUKUM RAGU Detik Menengah MELAKUKAN DAN Selepas TERJADI
  2. RAGU Selepas Kumbah KEDUA Kaki KARENA NAJIS
  3. MEMBAYANGKAN WAJAH NABI,JIN DAN MALAIKAT, BOLEHKAH?
  4. APAKAH JIN Dapat Berkaca BENTUK Bani adam ATAU Orang Lain?
  5. TALAK Manusia MABUK APAKAH Normal?
  6. HUKUM MENYAKITI Khalayak Berida (AYAH DAN IBU)
  7. CARA KONSULTASI AGAMA

2. apakah air panas baik panas gara-gara rumit matahari alias air seksi yang direbus bisa mensucikan badan yang terkena najis ?

3. apaakh boleh mengumpamakan jasmani nabi muhammad, malaikat atau jin itu seperti apa?
4. apakah jin atau demit bisa berubah wujud sebagaimana manusia, contohnya menampakkan diri seperti manusia nan sudah meninggal ?
5. dari umur berapa kita individu start menanggung dosa ?
6. misalnya ada orang minum arak dengan sengaja, terus orang itu mabuk. pertanyaanya
a. kalau cucu adam mabuk dengan sengaja tersebut mengucapkan prolog cerai sederajat istrinya segala hukumnya ?
b. sekiranya orang mabuk dengan sengaja tersebut mengejek allah apakah sira kaprikornus murtad?

7. apakah terserah waku maupun jam tidur yang diharamkan intern islam ? misalkan jikalau ada, kita masih juga tidur dijam gelap tersebut, terus waktu mulai tidur atau didalam tidur tersebut dengan tidak sengaja mengejek tuhan apakah ulah seperti itu bisa takhlik kita murtad karena kita tidur dijam yang liar ?

8. siapa pun tidak menganakemaskan anak asuh kecil kami dan tidak mengenal hak orang tua kami maka tak termuat golongan kami..
a. apakah etis adanya hadits ini ?
b. apakah jikalau kita menyakiti momongan kecil dan menyakiti ibu bapak maupun menyakiti basyar tidak baik n partner atau siapapun bisa membuat kita murtad ?
c. apakah kita menyakiti ayah bunda kandung bisa mengakibatkan murtad ?

harap dijawab pak ustadz, syukur sebelumnya.. maaf kalau saya banyak tanya pak ustadz.

JAWABAN

RAGU Setelah Mencuci KEDUA KAKI KARENA NAJIS

1. Syak wasangka dalam melaksanakan satu perbuatan ibadah makanya ahli fiqih dibagi menjadi dua yaitu (a) Keraguan saat sedang melaksanakan kelakuan; dan (b) keraguan yang terjadi selepas melaksanakan satu perbuatan.

Mula-mula, akan halnya ragu saat sedang melaksanakan perbuatan misalnya, seseorang nan sedang berwudhu saat membasuh tungkai dia ragu apakah sudah lalu membasuh tangan, maka kerumahtanggaan peristiwa ini ia harus mengulangi membasuh tangannya.

Khatib Al-Syarbini dalam kitab Al-Iqnak fi Halli Alfadzi Abi Syujak, hlm. 1/46, menyatakan:



ويأخذ الشاك باليقين في المفروض وجوبا وفي المندوب ندبا، لأن الأصل عدم ما زاد كما لو شك في عدد الركعات فإذا شك هل غسل ثلاثا أو مرتين أخذ بالأقل وغسل أخرى

Artinya: Orang yang ragu seharusnya mengambil yang berpengharapan. Hukumnya wajib mengulangi dalam cak bertanya perkara yang wajib dan sunnah cak bagi perkara sunnah, karena yang asal ialah tidak adanya polah yang lebih dari yang diyakininya sama dengan apabila basyar ragu dalam jumlah rakaat shalat. Apabila ragu apakah sudah membasuh tiga kali atau dua kali maka hendaknya mengambil nan makin kecil dan membasuh yang lain.

Kedua, apabila ragu setelah perbuatan dilakukan maka kesangsian itu tidak dianggap. Seperti mana dalam kasus Anda di mana syak wasangka membasuh kedua kaki itu terjadi selepas perbuatan dilakukan, maka keraguan anda enggak dianggap. Al-Zarkasyi dalam kitab Al-Mantsur fi Al-Qawaid, hlm. 2/285, menyatakan:



ثانيها: الشك بعد الفراغ من العبادة. قال: ابن القطان في المطارحات: فرّق الإمام الشافعي بين الشك في الفعل، وبين الشك بعد الفعل، فلم يوجب إعادة الثاني؛ لأنه يؤدي إلى المشقة…

Kedua: Ragu pasca- radu dari ibadah. Ibnul Qattan bersabda kerumahtanggaan Al-Mutarahat: Imam Syafi’i memberi keraguan saat perbuatan dan keraguan setelah ragam. Nan kedua tidak perlu diulangi karena hal itu akan berakibat menyulitkan.

Allah berfirman kerumahtanggaan Al-Hajj :78



وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Artinya: Beliau kadang kala tidak menjadikan untuk ia dalam agama satu kesempitan.

Kembali dalam QS Al-Baqarah 2:185



يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Artinya: Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan bukan menghendaki kesukaran bagimu.

Anak laki-laki Rajab menyatakan dalam Al-Qawaid



القسم الثالث: ما عمل فيه بالظاهر ولم يلتفت فيه إلى الأصل، وله صور، منها: إذا شك بعد الفراغ من الصلاة أو غيرها من العبادات في ترك ركن منها، فلا يلتفت إلى الشك؛ وإن كان الأصل عدم الإتيان به وعدم براءة الذمة، لكن الظاهر من أفعال المكلفين للعبادات أنها تقع على وجه الكمال، فيرجح هذا الظاهر على الأصل.

2. Air memberahikan bisa menyucikan najis.

MEMBAYANGKAN WAJAH Rasul,JIN DAN MALAIKAT, BOLEHKAH?

3. Tak terserah pantangan membayangkan wajah Nabi dan rasam-kebiasaan fisik dan karakternya sebagaimana disebut privat kitab Syamail Tirmidzi, Al-Syifa karya Qadhi Iyad, Al-Anwar fi Syamail An-rasul Al-Mukhtar karya Al-Baghawi, dan lainnya. Begitu lagi membayangkan bentuk jin dan malaikat. Namun jin dan malaikat sulit dibayangkan karena bentuk aslinya tidak ada yang tahu dan tidak diterangkan oleh Nabi.

APAKAH JIN BISA MENIRU Rang Manusia ATAU MAKHLUK Enggak

4. Dapat. Jin bisa meniru bentuk makhluk lain kecuali gambar fisik Nabi Muhammad. Dalam sebuah hadits sahih riwayat Bukhari dari Abu Hurairah Utusan tuhan bersabda:



ومن رآني في المنام فقد رآني، فإن الشيطان لا يتمثل في صورتي

Artinya: Barangsiapa nan bermimpi aku maka ia serius melihatku karena setan tidak boleh meneladan bentukku.

5. Sejak baligh.

TALAK Sosok MABUK APAKAH SAH?

6.A. Perkataan talak orang mabuk itu formal dan terban talak menurut sebagian pendapat (dasarnya: akalnya hilang karena maksiat) dan bukan roboh talak menurut pendapat yang lain (dasarnya QS An-Nisa 4:43 dan hadits biasa riwayat Muslim #1695). Kedua pendapat ini sama-sama ada di kalangan cerdik pandai madzhab Syafi’i.

Pendapat kedua (lain jatuh talak) cenderung lebih awet karena suka-suka keputusan Sahabat Usman kedelai Affan dan Ibnu Abbas sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Bukhari:



وَقَالَ عُثْمَانُ : لَيْسَ لِمَجْنُونٍ وَلَا لِسَكْرَانَ طَلَاقٌ . وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : طَلَاقُ السَّكْرَانِ وَالْمُسْتَكْرَهِ لَيْسَ بِجَائِزٍ

Artinya: Usman bin Affan berkata, “Khalayak gila dan mabuk tak merosot talak. Ibnu Abbas berucap, “Talaknya orang mabuk dan dipaksa tidak boleh (tidak terjadi).” Baca detail: Cerai privat Islam

6.B. Ucapan manusia mabuk yang menghina Almalik hukumnya seperti mana pendapat tanya talak. Cak bagi yang menyatakan jatuh talak, maka ucapannya murtad. Untuk nan menyatakan tidak anjlok talak maka tak kabil.

7. Tak ada jam tidur nan terlarang intern Selam.
8.A. Moralistis. Itu hadis sahih riwayat Bukhari privat Bab Al-Adab Al-Mufrad no. 271. Berikut teks asalnya:



مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا

Artinya: Barangsiapa enggak memanjakan anak kecil kami dan tidak mengenal hak ayah bunda kami maka tidak termasuk golongan kami.

8.B. Tidak kabil tapi berdosa. Menyakiti momongan kecil atau samudra tanpa sebab yakni berdosa. Itulah yang dimaksud sabda di atas yakni sepatutnya kita memanjakan sesama manusia tanpa memandang arwah. Tentang apabila ada anak boncel berbuat kahar plong siapapun, maka teradat bagi kita untuk menasihatinya sesuai perintah Allah untuk melakukan amar makruf nahi munkar (memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran) begitu juga disebut dalam QS Luqman :17



أقم الصلاة وأمر بالمعروف وانه عن المنكر واصبر على ما أصابك , إن ذلك من عزم الأمور

Artinya: .. dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari ragam yang mungkar

Syariat MENYAKITI Orang tua (AYAH DAN IBU)

8.C. Menyakiti orang tua kandung ialah salah satu perbuatan dosa besar. Saja bukan setakat berakibat murtad kecuali jikalau menganggap itu bukan perbuatan dosa. Baca detail: Dosa Segara dalam Selam

Menghormati ibu bapak dan taat lega keduanya adalah riuk suatu prinsip ketaatan utama dalam Islam menduduki nomor tiga setelah taat sreg Halikuljabbar dan pada pemerintah. Bahkan anak adam wreda non-mukminat pun harus ditaati perintahnya kecuali apabila perintahnya berlawanan dengan syariat Islam. Baca detail: Syariat Taat Orang Gaek


Source: https://www.alkhoirot.net/2016/01/hukum-ragu-setelah-melakukan.html

Posted by: soaltugas.net