Renungan Roma 12 9 21

Bacaan Firman Tuhan “Hendaklah hidayah itu jangan jaring-jaring-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.” (Ay.9)

Panggilan intern nas ini ditujukan oleh Utusan tuhan Paulus bagi persekutuan jemaat yang ada diroma dengan rataan bokong yang berbeda dengan nan tidak (Serani Yahudi dan Masehi Non Yahudi) dimana Kristen yahudi merasa mereka kian tataran statusnya dibandingkan dengan Masehi Non ibrani dan melalui surat rasul paulus kepada jemaat roma berkata ” Hendaklah kasihlah yang menenangkan afiliasi di perdua-perdua persekuatuan. Karna dengan rahmat kita akan boleh saling memberi hormat, saling mengutamakan satu dengan lain dan bukan terserah yang sibuk mencari keuntungan dan kesenangan sendiri.

Ayat-ayat ini merupakan antologi pembukaan-alas kata mutiara nan berotot lega denotasi rahmat tanpa intensi. Ayat 10b mengidentikkan kehormatan dan rasa malu (“hendaknya saling menganjuri dalam membagi hormat”). Kehormatan harus diberikan. Rasa malu merupakan sikap perseptif terhadap kehormatan seseorang, perhatian terhadap apa yang dipikirkan, dikatakan dan dilakukan orang tak. Nasehat Paulus itu mendatangi sreg kehidupan yang terhormat. Di atas semua itu “layanilah Allah”, berbuatlah hal-hal yang terhormat: berhiaskan dalam penyongsongan, panjang hati, tekun internal doa. Juga dengan mendukung hamba allah-orang yang menderita: janda, momongan yatim piatu, para terhukum dan yang kehilangan.

Juga dinasehatkan jangan menyeranah para penganiaya, jangan mengecilkan alias menyerang kehormatan basyar tidak, bahkan nan menganiaya sekalipun. Allah akan mengusahakan keadilan dalam kehormatan dan rasa malu. “Menumpukkan bara api di atas kepalanya” rupanya diambil dari cara penghukuman di Mesir, dimana pesakitan menurunkan di atas kepalanya sebuah piring berisi bara api lakukan menelanjangi penyesalan. Pembalasan dengan tindakan “terhormat” terhadap tindakan pasangan yang “mempermalukan” merupakan tindakan yang boleh mempengaruhi lawan buat bertobat. Dengan pembukaan lain, janganlah mengganjar perbuatan yang mempermalukan, melainkan balaslah kejahatan yang mempermalukan dengan jawaban yang terhormat.

s
eseorang sedang melangkahi hutan meluluk seekor Serigala yang sudah lumpuh keempat kakinya. Ia ingin luang bagaimana Serigala itu bisa berdeging kehidupan. Adv amat ia melihat seekor Harimau datang dengan mengirimkan seekor Kijang hasil buruannya. Macan itu bersantap sepuasnya dan menyingkir sisanya. Serigala tersebut makan dari sempelah Harimau tersebut. Orang itu pun mulai mengagumi kebaikan Sang pencipta dan berkata dalam lever: “Aku sekali lagi akan menganggur di kondominium saja dengan penuh kepercayaan kepada Almalik karena Ia akan mencukupi segala apa kebutuhanku!” Ia berbuat niatnya berhari-masa lamanya, tetapi tidak terjadi apa-apa. Ketika orang yang malang itu telah hampir ranah, terdengarlah suara menyapanya: “Hai, beliau individu yang sesat, bukalah matamu kepada kebenaran. Berhentilah bercermin Anjing hutan yang mengadat!”

Di jalan kamu mengawasi seorang dara katai mengigil kedinginan dengan pakaiannya yang tipis. Tiada pamrih baginya bagi mendapatkan pas makanan. Ia menjadi marah dan berkata kepada Tuhan, “Mengapa situasi ini Kau biarkan terjadi? Kok engkau tidak berbuat sesuatu?” Sementara waktu Tuhan tidak berkata segala apa-apa. Malam harinya Tuhan menegur si peniru Jakal tersebut: Aku sudah lalu mengamalkan sesuatu. Aku menciptakan engkau! Dan membawa engkau kepada gadis itu, tapi hatimu separas sekali tidak tergerak buat menolong gadis malang itu.

Sering kita berpikir bahwa Tuhanlah nan harus bertanggung jawab atas barang apa sesuatu yang terjadi. Baik kebobrokan, bencana, dan penderitaan. Tuhanlah yang harus merosot tangan untuk memecahkan.

Rasul

Paulus menasihati individu percaya tentang bagaimana caranya kita tampil kerumahtanggaan bumi umpama tubuh Kristus, bahkan terhadap dunia yang menganiaya kita, dan terhadap orang tak yang menderita penganiayaan marcapada.

Bahwa kita umpama alat-perlengkapan Allah bikin membuat damai sejahtera.

Damai sejahtera bagi semua orang adalah tujuan Tuhan dalam Kristus. Damai sejahtera tidak semupakat dengan kejahatan, karena itulah bodi Kristus harus tampil beda, karena selalu akan ada krisis dengan marcapada. Belaka karas hati harus dikalahkan! Semata-mata, cara kita cundang kejahatan yaitu dengan memberkati penganiaya dan melakukan baik kepadanya, cak agar dia bertobat. Mandu itu bisa sahaja terasa tidak adil, semata-mata nabi Paulus mengingatkan kita bahwa di mengsol semua nan terjadi, Allah akan mengamalkan keadilan.

Berhentilah ki mawas Serigala yang lumpuh!”

S
elamat perian Ahad. Amin.

Terimakasih Kamu plonco saja membaca Renungan Harian | Khotbah terbit

Kitab

Roma 12 : 9 – 21 Hiduplah Dalam Iman dan Kasih


Ditulis Makanya
Parlindungan manurung

Semoga Renungan | Khotbah dari Kitab Roma 12 : 9 – 21 Hiduplah Internal Iman dan Hidayah ini Dapat mengkuatkan iman kita. Amin.. Jangan lupa
Komentar Ia
habis dibutuhkan, di pangkal ini.

Source: http://manurungnairasaon.blogspot.com/2017/09/roma-12-9-21-hiduplah-dalam-iman-dan.html

Posted by: soaltugas.net