Resensi Novel Konspirasi Alam Semesta

Judul Trik: Konspirasi Alam Semesta

Penulis: Fiersa Besari

Penerbit: mediakita

Penyunting: Juliagar R. N.

Pengedit Akhir: Agus Wahadyo

Desainer Cover: Khuluk Setiawan

Penata Letak: Didit Sasono

Gemblengan Permulaan: 2022

Gemblengan Ketiga: 2022

Tebal Siasat: vi + 238 hlmn.; 13×19 cm

ISBN: 978-979-794-535-0

Rating: 5 Bintang

Begitu juga apakah corak cinta? Apakah

merah jambu mewakili rekahannya,

ataukah kelabu mengoper pecahannya?

****

Juang Astrajingga, seorang pria dengan bidang pinggul hidup yang rumpil, makanya seberinda dipertemukan dengan Ana Tidae, wanita cerdas dengan kehidupan nan lagi lain sederhana. Persuaan pertama mereka yang terjadi bak sebuah penggalan dalam sinetron, membawa keduanya lega petualangan comar yang mampu menjungkirbalikkan dunia mereka rapat persaudaraan tanpa aba-aba. Juang tidak bisa menolak pesona Ana, tidak bisa memungkiri rasa bahwa sira tertarik pada pandangan mula-mula. Sementara Ana, meski berkeras bahwa gengsi mereka sekadar pasangan semata, tidak bisa mencerai-beraikan cinta nan selalu datang tanpa terencana. Masalahnya; Ana sudah cak semau nan memiliki, Deri namanya.

Petualangan selalu Juang yang pertama bersama Ana pun dimulai. Ia harus bertahan bersama gadis itu, terus mencintainya, dengan status yang tidak pernah diberi gelar pasti. Akankah Juang berhasil mengukuhkan Ana umpama namun miliknya seutuhnya?

****

Meski saya adalah salah satu dari sekian banyak
followers
Instagram maupun Twitter Seruan salat Fiersa, jujur semata-mata, Kolusi Pataka Semesta menjadi buku pertamanya yang saya baca. Awalnya, berpikir bahwa buku ini steril belaka membincangkan tanya comar antara Juang dan Ana nan terhambat orang ketiga, ternyata tak. Sendi ini memuat kisah yang kompleks namun tidak elusif kerjakan dipahami, menggagalkan untuk diikuti, kadang membuat saya kasmaran perhatian, terutama ketika membaca pesan-pesan Juang untuk Ana ketika ia bernas di Papua, pesan-pesan yang sarat makna dan cerita. Bahwa betapa kepada Analah, Juang cak hendak membagi kepingan-kepingan perjalanan dalam hidupnya. Ini yaitu bagian yang paling saya senang dari pusat ini. Saya adalah macam penutur, jika dibahasa sehari-harikan sebut saja “bawel” dan saya juga gemar mendengarkan orang bercerita. Terutama mengenai pelawatan sukma, hal-kejadian yang pernah dialami, kisah-kisah seru di masa lampau – apalagi itu pecah cucu adam yang saya cintai. Posisi Ana, sebagai amung wanita yang diceritai Juang ketika ia berjuang di Timur Indonesia membuat sendi ini makin istimewa – walau mungkin rasa istimewanya hanya saya hanya yang merasakannya. Muatan puisi, lagu, pesan-pesan, surat, isi lever Juang maupun Ana menjadi pemanis nan serupa itu luhur dan romantis bikin saya.

Selain tentang cinta, buku ini sekali lagi mengangkat isu kesenjangan sosial yang menurut saya pribadi, hingga masa ini masih menjadi penyakit aktual Indonesia yang masih kurang beruntung perhatian baik makanya pemerintahnya, ataupun maka dari itu masyarakat luas lega biasanya. Penulis mengangkat cerita mengenai Papua, negeri nan berlambak dengan hasil emasnya namun menjadi etnik paling miskin di tanahnya sendiri. Negeri yang hendaknya congah membeli apa doang jikalau meluluk keberadaan salah satu perusahaan pabrik terbesar di sana, cuma untuk mendapatkan pendidikan yang memadai dan merata saja hampir tak boleh. Sentral ini tidak hanya akan memanjakan kita dengan kisah cinta yang mendebarkan, penuh bunga cinta, nggak cuma cak bagi baper-baper aleman, tapi secara tersirat mengajak pembaca cak bagi mengungkapkan indra penglihatan kian lebar, pikiran lebih ternganga, cak bagi senantiasa bersyukur akan apa yang kita memiliki, lakukan refleks belajar mengedrop pikiran lega saudara-plasenta seikhwan kita.

Siasat ini bisa dikatakan n kepunyaan akhir bahagia, bisa pula dikatakan tidak. Kenapa begitu? Karena kalau dinilai dari jihat ceritanya, alurnya, hidup tokoh-tokoh di dalamnya, apa saja yang telah mereka lalui, lakukan lalu dapatkan, kisah Juang Astrajingga sebenarnya n kepunyaan kahir bahagia. Tapi, kalau dinilai dari jihat ego pembaca seperti saya yang benci dengan duka di intiha cerita – bagaimana pun proses gundah itu dihantarkan, buku ini sesekali tidak memiliki akhir bahagia. Walau demikian, saya gemar dan demen mutakadim membaca buku ini. Cak dapat anugerah kerjakan Seruan salat Fiersa, yang sudah menyuguhkan karya sebaik ini bagi sidang pembaca Indonesia 🙂

Source: https://diarylusuh.blogspot.com/2018/12/resensi-konspirasi-alam-semesta-albuk-1.html

Posted by: soaltugas.net