Struktur Novel Ronggeng Dukuh Paruk

Unsur Intrinsik Novel Ronggeng Dukuh Paruk, innovel orang ketiga, Unsur Intrinsik Ronggeng Dukuh Paruk, novel karya ahmad tohari, novel dukuh paruk, contoh novel basa jawa, film sang penari

Atom intrinsik ronggeng dukuh paruk. Partikel intrinsik adalah sebuah molekul penting yang membangun utuhnya sebuah novel diantaranya yang terdiri berasal tema, alur, latar, tokoh, penokohan, sudut pandang, tendensi cerita, dan makrifat.

Di setiap karya tulis atu buku gubahan sastra sebagaimana novel pasti cak semau unsur intrinsik dan ekstrinsik nan terkandung di dalamnya yang di tulis oleh pengarangnya. Misalnya Novel Ronggeng Dukuh Paruk nan n kepunyaan cerita ronggeng.

Ronggeng Dukuh Paruk yakni novel karya Ahmad Tohari yang berbentuk novel trilogi ronggeng dukuh paruk yang sangat menarik dan populer setakat momen ini.

Baca Juga : Sinopsis novel ronggeng dukuh paruk

Untuk itu disini gue akan memberikan zarah intrinsik novel ronggeng dukuh paruk karya Ahmad Tohari.

Untuk itu sinkron saja berikut ini unsur intrinsik dari Novel Ronggeng Dukuh Paruk:

Unsur Intrinsik Novel Ronggeng Dukuh Paruk

Unsur Intrinsik Novel Ronggeng Dukuh Paruk, Unsur Intrinsik Ronggeng Dukuh Paruk, buku kisah cinta, dukuh paruk, ahmad tohari, analisis novel ronggeng dukuh paruk,sinopsis novel ronggeng dukuh paruk

1. Tema Novel Ronggeng Dukuh Paruk

Tema yang menonjol dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk merupakan bertemakan cinta, budaya, dan tali peranti. Di mana novel Ronggeng Dukuh Paruk menceritakan tentang adat istiadat dan kebudayaan dari sebuah dukuh yang cak semau di Banyumas yang bernama Dukuh Paruk nan kondang dengan ronggengnya. Di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk pun diselipkan kisah cinta asmara sang ronggeng Srintil nan ialah tokoh terdahulu dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk yang menggetah kisah caruk dengan cowok bernama Rasus.

2. Galur Novel Ronggeng Dukuh Paruk

Alur dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk memperalat galur maju doang terkadang disertai flashback yang  menceritakan kisah masa lalu, seperti yang membualkan adapun malapetakan tempe bongkrek sebelas tahun yang lalu.

3. Tokoh dan Penokohan Novel Ronggeng Dukuh Paruk

a. Srintil

  • Srintil kecil

– Centil

“Ya, benar. Ia lewat cakap sekali sekarang.” ujar Pemberitaan. “Sebagaimana seorang ronggeng?” soal Srintil lagi. Gayanya bermanja-manja.

  • Srintil dewasa

– Pemilih

“Aku benci, benci. Lebih baik ku berikan padamu. Rasus, sekarang kamu tidak dapat memerosokkan sama dengan sira kerjakan tadi siang. Disini bukan perkuburan. Kita takkan kena kutuk. Kau kepingin, tak?”

– Penyayang

“Terbukti berbunga kasih sayang Srintil kepada Goder, momongan Tampi yang ia angkat menjadi anak nya”

“Keluar dari kondominium orang tua aku nya Srintil merasakan satu peristiwa yang hijau; begitu dekat dengan dirinya koteng. Aku nya sepenuhnya dalam tinju nya. Aku nya yang terdiri atas dirinya seorang & seorang bayi n domestik dekapan. Hangat tubuh Goder yg terpatok didadanya menjadi kehangatan pertama bagi sebuah semangat bau kencur yangg mulai melembaga dlm spirit Srintil”

– Suka menolong

Dengan kesediaan Srintil menjadi gowok buat Waras, agar hidup kelelakiannya Waras muncul. “Nyai, sekarang ajari aku bagaimana menjadi gowok. Ajari aku!”.

-Mudah Percaya

Srintil percaya jika Pak Bajus, menyukainya dan ingin menjadikan Srintil sebagai istrinya Selongsong Bajus. Doang asumsi Srintil salah, karena Pak Bajus mendekati Srintil hanya ingin menjualnya kepada Kelongsong Blegur.

“Si fulan, Srin. Kamu sudah kuperkenalkan kepada Pak Blegur. Percayalah, dia orangnya baik. Aku optimistis bila kamu mohon segala-apa kepadanya, beberapa pun harganya , akan engkau kabulkan. Nanti dia akan inap di sini. Temanilah anda. Temailah ia, Srin.”

b. Rasus

  • Rasus kecil

-Tidak sabaran

“Sudah-telah. Kalian tolol,” ujar Rasus tak lunak. “

-Banyak akal

 “Kita kencingi beramai-ramai bawah mayat ubi ini. Jika gagal juga, sungguh bajingan.”

-Emosional

“Kartareja memang bajingan. Bajindul kotok,” jawabku, mengumpat sinse ronggeng itu.

  • Rasus dewasa

-Pendendam

“Memang Dukuh Paruk memberi kesempatan kepada ku mengisi fragmen hati yangg nihil dengan seorang dayang katai bernama Srintil. Tak lama, karena sejak situasi malam bukak klambu Srintil di seret keluar dari dalam hati ku. Dukuh Paruk bertindak semena-mena kepadaku. Aku bersumpah takkan memaafkan nya”

Pemberani

“Menggondokkan. Kopral Pujo tidak lebih dakar daripadaku. Lega momen itu dia tidak bisa mengambil keputusan. Jadi akulah yang mencuil prakarsa.”

c. Warta (p versus rasus kecil)

Intensi

“Ya, kita mengetem dulu. Kita tetapi akan bermain sekali lagi kalau Srintil berjanji memberi kami upah”

d. Darsun (bandingan rasus kecil)

-Gemar meremehkan

“air?” ejek Darsun, anak ketiga. “Di mana kau dapat menemukan air?”

e. Sakaraja ( Bibit buwit Srintil) dan Nyi Sakaraja (Nenek Srintil)

– Pemurah

“Akan kukatakan Srintil tinggal dirumah Kartareja, tiga rumah ke timur pecah sini. Tapi jangan kalian apa-apakan dia. Sungguh. Srintil cucu eksklusif kami. Rampas hartanya, tapi jangan cederai dia.”

f. Kartareja (Tabib Ronggeng)

– Licik

“Jangan keliru! Yang asli bagi Sulam. Lainnya buat Dower.” Pengenalan Kartareja. Istrinya tersenyum. Walaupun tak selicik Kartareja, belaka putri itu sudah lalu boleh menduga ke mana maksud tindakan suaminya.

g. Nyi Kartareja

-Licik

Dengan kontributif kelicikan sang laki.

“Suami-istri Kartareja ikut ke bilik mereka seorang. Di sana dagi tua bangka itu bercanda. Sebuah ringgit emas, 2 rupiah perak, dan seekor kerbau sudah sanding dingan”

h. Sakum (Penabuh calung yang buta)

– Hebat

“Sakum, dengan mata buta mampu menirukan secara saksama pergelaran ronggeng. Seperti koteng awas, Sakum dapat mengkhususkan seruan cabul tepat detik ronggeng memprakarsai belakang ke depan dan ke belakang”

i. Santayib (ayah Srintil)

– Tak bertanggung jawab dan tidak mau disalahkan

“Bajingan! Kalian semua bajingan tengik! Betapa pun bongkrekku enggak bersangkut-paut dengan malapetaka ini. Lihat! Akan kutelan bongkrek ini banyak-banyak. Jika ini benar ada racunnya, pasti aku akan segera sekarat”

j. Istri Santayib (Ibu Srintil)

– Setia

Dengan masuk memakan tempe bongkrek beracun, seperti suaminya.

“Dia menengok istri nya nan semula berdiri di sampingnya, masuk mengunyah bongkrek”

k. Dower

Gigih

Sambil mengusap wajahnya yang berkeringat, Dower menelanjangi ura-ura. “Aku hinggap lagi kek. Supaya tak sekeping ringgit kencana nan ku bawa, ku harap engkau mau menerimanya”

l. Sulam

– Temperamental

“Sebuah pertanyaan yang menghina, kecuali engkau belum mengenaliku. Karuan saja aku membawa yen kencana itu. Tidak rupiah perak, apa lagi se ekor kerbau sama dengan anak pecikalan ini” Tutur sulam sambil mengerling ke arah Dower.

m. Sersan Slamet

– Baik lever & lain memandang rendah orang lain

“Mana tahu saja yang punyai cukup tenaga serta kejujuran, bisa melaksanakan tugas andai tobang. Tentang tenaga, aku sudah merasa pasti engkau memiliki dengan cukup. Kejujuranmu mutakadim terpancar berpunca tampang dan terang mata mu sendiri. Makara aku merasa pasti pula kau mampu menjadi koteng tobang”

horizon. Kopral Pujo

– Penakut

“Semoga begitu tetapi jangan gila. Cuma terserah sepucuk senjata lega kita. Pada mereka ada lima” ujar Kerakal Pujo saat mengawasi para perompak. “Jadi bagaimana? keputusan harus taajul kita ambil.” ucap Rasus. “Tulat dulu. Aku kepingin kencing” jawab Kopral Pujo.

udara murni. Waras

– Begitu juga momongan kerdil

“Kalau sejenis itu dimana Emak tidur? Dipan itu tidak muat bagi tidur bertiga. Eh, sekadar kita bisa menggelar tikar di tegel. Kita tidur bertiga. Aku ditengah. Induk dan kamu dipinggir. Walah, hebat, kan?”

p. Sentika (Ayah Waras)

– Penyayang

“Dan tayuban itu khusus bagi sang Waras, anak ku yang lelaki suatu-satunya itu”

q. Nyi Sentika (Ibu Waras)

Penyayang

“Nyai Sentika memeluk dan mengelus Srintil dengan rasa sayang melebihi rasa terhadap momongan kandungnya”

r. Pak Bakar

– Ki busuk

“Ah, tidak sejauh itu. Biarkan kayu itu terpasang di sana. Aku takkan mengambilnya. Siapa pun tak bisa menyingkirkannya. Siapa yang berbuat serupa itu karuan akan menghadapi kemarahan pemuda-pemuda ku. Cukuplah, kalian bukan ingin melihat kehancuran, bukan?”

s. Marsusi

– Pendendam

“Tentu sahaja aku cak hendak membalasnya, bahkan melenyapkannya. Aku tahu betul Srintil mengamini semua junjungan-laki nan datang sebelum diriku demi persen nan tak seberapa ataupun demi satu dua gram emas. Belaka beliau menampikku, padahal seratus gram kalung emas berbandul berlian yang ku sodorkan kepadanya. Ingin disebut apalagi takdirnya tak penghinaan yang sebesar-besarnya”

– Licik

“Di belokkannya motornya ke kiri, masuk ke jalan kecil yang menuju daerah pertanian kejai Wanakeling. Saat barang nan sangat di inginkannya telah berada di tangan, mengapa lain langsung membawanya pulang ke rumah”

tepi langit. Pak Bajus (Khalayak kiriman dari Jakarta)

– Licik, pembohong, dan penipu

Pak Bajus awalnya mendekati Srintil sampai Srintil dan makhluk orang percaya bahwa pak Bajus individu yang baik dan ingin menjadikan Srintil laksana istrinya. Hanya semua itu cuma tipuan amung.

“Anu, Srin. Kamu sudah kuperkenalkan kepada Pak Blegur. Percayalah, engkau orangnya baik. Aku yakin bila kamu minta apa-apa kepadanya, beberapa juga harganya , akan ia kabulkan. Kelak dia akan bermalam di sini. Temanilah kamu. Temailah sira, Srin”

u. Paket Blegur (Pemimpin Sampul Bajus)

– Baik

“Ya, berilah dia kesempatan mencecah keinginannya menjadi seorang ibu rumah tangga. Masih banyak amoi tidak nan dengan sukarela menjadi mangsa petualangan. Jumlah mereka tak akan berkurang sekali lagi Srintil mengundurkan diri dari manjapada lamanya”

– Tidak tegaan

“Memang beliau tahu siapa aku. Aku yang senang bertulang. Namun entahlah, aku enggak tega mempekerjakan Srintil”

Baca Kembali: Analisis novel ronggeng dukuh paruk

4. Setting Novel Ronggeng Dukuh Paruk

a. Latar Tempat Novel Ronggeng Dukuh Paruk

  • Dukuh Paruk

“Dengan daerah pemukiman terdekat, Dukuh Paruk hanya dihubungkan oleh jaringan galangan sawah, hampir dua kilometer pajangnya. Dukuh paruk, mungil dan menyendiri. Dukuh paruk yang menciptakan kehidupannya sendiri”

  • Di tepi kampung

“Di tepi kampung, tiga momongan maskulin sedang memeras tenaga mencabut sebatang singkong”

  • Kober

“Perdua malam Sakarya keluar menjurus kober Portal Secamenggala. Maskulin itu menangis seorang diri disana”

  • Kondominium Kartareja

“Aku sendiri namun beradab beberapa awalan dan berteduh di emperan flat Kartareja”

  • Desa Dawuan

“Dawuan, tempatku menyingkir berasal Dukuh Paruk, terletak di sebelah kota kecamatan”

  • Pasar Dawuan

“Di pasar Dawuan juga suatu kali aku dapat melihat Srintil nan datang berbelanja dengan Nyai Kartareja”

  • Rumah Batu / Markas tentra

“Jalan hidup ku berangkat. Peti-peti besi serta barang berat lainnya kuangkat di atas pundak dan kubawa ke sebuah rumah batu yang ternyata telah dipersiapkan sebagai markas tentara”

  • Kondominium nini Rasun

“Selagi khalayak-basyar Dukuh Paruk merumung kondominium Kartareja, aku duduk berdekatan dengan Srintil di berencik kondominium nenekku seorang”

  • Warung lontong

“Dayang-amoi itu memperhatikan Srintil memasuki warung penjual lontong. Di sana Srintil duduk satu lincak bersama perempuan empunya warung”

  • Lapangan Kecamatan Dawuan

“Perayaan Agustussan masa 1963 itu dimulai dengan upacara pagi masa di pelan kecamatan Dawuan”

  • Alaswangsal

“Hampir batang hari ketika delegasi dari dukuh paruk memasuki kampung Alas wangsal”

  • Kantor petugas keamanan

“Sampai di depan kantor yang di tuju Kartareja berhenti termangu. Jelas sekali keraguannya. Tapi Srintil terus melangkah”

b. Latar Waktu Novel Ronggeng Dukuh Paruk

  • Tuarang

”Namun kemarau belum usai. Ribuan hektar sawah yang mengelilingi Dukuh Paruk sudah tujuh bulan kerontang”

  • Sebelas tahun silam

“Sebelas hari yang silam detik Srintil masih kanak-kanak anyir. Dukuh Paruk nan kecil basah kuyup tersiram hujan lebat”

  •  Agustus Tahun 1963

“Perayaan Agustussan perian 1963 itu dimulai dengan formalitas pagi hari di lapangan kecamatan Dawuan”

  • Tahun 1964

“Saja lega periode 1964 itu, ketika paceklik merajalela di mana-mana, ronggeng Dukuh Paruk bahkan sayang naik pentas”

  • Februari Tahun 1966

“Tengah lilin lebah Februari 1966 di sebuah kota kecil di sudut tenggara Jawa Paruh. Keremangan yang mencekam telah berlangsung segumpal waktu lamanya”

  • Masa 1970

“Memasuki tahun 1970 semangat di provinsi Kecamatan Dawuan berubah gemuruh oleh gelegar truk-truk besar berwarna kuning serta buldoser bermula berbagai jenis dan format”

c. Bidang Suasana Novel Ronggeng Dukuh Paruk

  • Haru

“Seorang perempuan mengisak. Rasa harunya setelah melihat Srintil menari menyebabkan air matanya menetes”

  • Tegang

“Kang, orang-orang itu geger. Banyak tetangga yang sakit dan pingsan. Ini bagaimana, Kang?”

  • Tersentuh perasaan

“Lanang itu menangis koteng diri di sana. Privat kegundahan nya nan amat sangat, Sakarya mengadukan malapetaka yang terjadi kepada moyang orang Dukuh Paruk”

  • Tegang dan mencekam

“Irama calung juga menggema. Tetapi suasana jadi mencekam. Semua khalayak berkeyakinan akan prolog Sakarya bahwa Kartareja sedang di rasuki nyawa leluhur. Maka mereka mundur n domestik suasana tegang”

  • Kecewa

“N domestik wawasan ini, Srintil tidak bisa mematamatai tikai antara dua wajah lelaki itu. Semuanya mengecewakanya, semua merangsang Srintil membuat satu perhitungan”

5. Kacamata Pandang Novel Ronggeng Dukuh Paruk

a. Babak I (Catatan Buat Induk)

  • Sudut Pandang Orang Mula-mula

Novel Ronggeng Dukuh Paruk bagian 1 memperalat kacamata pandang anak adam pertama, karena menggunakan alas kata “Aku”, yang di mana induk bala “Aku” yaitu Rasus.

“Aku sendiri, kata nini, selamat secara kebetulan”

b. Bagian II ( Lintang Kemukus Dinihari)

  • Sudut Pandang Orang Ketiga

Novel Ronggeng Dukuh Paruk bagian 2 menggunakan sudut pandang orang ketiga, karena menunggangi pembukaan “Dia, -nya, dan pengujaran tera tokoh”

“Srintil cepat bangkit dan berpaling ke bokong. Didapatinya dirinya tak berteman di dalam bilik yang lenggang itu. Mula-mula ia menyahajakan, ataupun bercita-cita, rasus masih makmur di selingkung rumah, madya berhajat di birit misalnya”

c. Adegan III (Jentera Keluwung)

  • Sudut Pandang Orang Ketiga

Novel Ronggeng Dukuh Paruk bagian 3 menggunakan sudut pandang cucu adam ketiga, karena memperalat kata “Dia, -nya, dan pengujaran nama tokoh”

“Dan Rasus yang dikawal Sersan Pujo menebaskan langkah pertama menginjakkan suku diatas tanah kelahirannya”

6. Gaya Bahasa Novel Ronggeng Dukuh Paruk

Di privat novel Ronggeng Dukuh Paruk ini ada beberapa nan menunggangi bahasa Jawa dan mantra-hobatan jawa yang bukan ada terjemahannya. Begitu juga kata-perkenalan awal Niyatingsun matak emir pamurung, Hadi aing tampean aing cikaruntung nantung, Ditaburan boeh sna, manci rasa marang, Srintil marang Rasus, Kene wurung kana wurung, pes mimpes dening, Eyang Secamenggala

7. Butir-butir Novel Ronggeng Dukuh Paruk

Di n domestik novel Ronggeng Dukuh Paruk pengarang cak hendak menyampaikan bahwa jangan mengaram orang dengan sebelah mata, tetapi lihat orang dari dalamnya. Juga jangan mudah dibodohi dan terhasut cucu adam lain. Untuk itu ikutilah perkembangan jaman mudah-mudahan tidak mudah dibodohi oleh individu tak.

Ya itulah unsur intrinsik ringkas novel Ronggeng Dukuh Paruk nan kali bisa mendukung kalian lakukan menanbah takrif atau berbuat tugas untuk menjawab tanya nan di berikan oleh hawa.

Baca novel ronggeng dukuh paruk bagi mengetahui kisah lengkapnya yang memiliki kisahan yang menarik dan layak di ikuti. Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari pun sudah lalu di orientasi menjadi film yang berjudul Sang Penari.


Perigi : cintaningmega blogspot


Baca Juga:

  • Unsur Intrinsik Novel Cucur terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana
  • Makalah Tentanag Segitiga Bermuda
  • Unsur Ekstrinsik Novel Ronggeng Dukuh Paruk

Source: https://www.blogkuncoro.com/2021/04/unsur-intrinsik-novel-ronggeng-dukuh.html

Posted by: soaltugas.net