Suara Pintu Terbuka Dalam Tulisan

– transliterasi obstulen –

‘Jauh di
nama
sanding di hati’—alias tak kenal sapaan biar pelahap digeluti tiap hari. Sepertinya begitulah umumnya sikap khalayak terhadap ‘sosok ramah oponen lama’ yang suatu ini. Coba,

Pow (sized 250)
Onomatope privat komik

‘der’, ‘bles’, ‘haha-hihi-hehe-hoho..’, ‘klontang’, ‘krompyang’, ‘srek’, ‘buk’, ‘dig’, ‘ah’, ‘oh’, ‘ugh’, ‘hm’, ‘set’, ‘dung’, ‘krak’, ‘uhuk’, ‘zeb’, ‘ting..tong..’, ‘jleg’, ‘hiks’, ‘wuss..’, ‘oye’, ‘wes..ewes..ewess..’, ‘jleb’, kreat-kreot’, ‘serrr..’, ‘kukuruyuk’, ‘tuiing..’, ‘glek’, ‘grrr..’, ‘dhuaar’, ‘kaing’, ‘blug’, ‘srosoo..ott’

Baik via lisan atau tulisan, audio ataupun visual, banyak yang tak asing, cerek? Itulah
onomatope
(Inggris:

onomatopoeia)
—arti teknisnya: kita membentuk pengenalan sesuai apa nan kita tangkap suara.

Arti populer: ‘kata sesuai obstulen’—bercipta kata, sesuai perbuatan nabi nabi muhammad telinga.

*****

Benturan, ledakan, seruan, sesuatu yang menyebelah, benda patah, celaan hewan—hingga yang plong dasarnya ‘lain bunyi’ pula (nocat, duduk dll), semua hiruk dengan
onomatopoeia.

Selain ‘ramah peristiwa‘ (aplikatif bikin berbagai kondisi),
onomatopoeia
kembali ‘ramah tipe‘ (ejaannya relatif suka-demen sendiri). Maupun untuk apa saja—dengan pendirian bagaimana pun, jadi!

hi‘ (boleh bagi rasa geli maupun mengirik, dan bebas ditulis ‘hii..’ alias ‘hiii..’)
ihik‘ (terisak); ‘hu..hu..‘ (nangisnya lebih seru); ‘huaa..hwaa..‘ (menangis
meraung-menggerung)

eng..ing..eng..‘ dan ‘jreng..jreng..!‘ (ilustrasi musik dalam film di momen menegangkan)
sreet..‘ (hunus pedang keluar sarung); ‘trek‘ (pedang perot timbrung sarung mentok gagang)

Onomatope
bukan
melulu soal
ekualitas
atau
akurasi
[antara kata dan bunyi],
belaka juga
rasa
dan
naluri
[mengenai bagaimana representasinya terasa di lever].

*****

Onomatopoeia
yang ‘barbar’ (senang tampil seenak perut/asal tulis tanpa
bentuk sah)
sering menurunkan anak-cucu yang punya tabiat bertambah ‘beradab‘ (penulisannya harus tunak pendirian),

ss..‘ → desis → mendesis
mbee..ek‘ → wedus/embik → mengembik
braak‘ → gebrak → menggebrak, gebrakan

Sehingga bisa tampil anggun (tidak lagi memesona ‘liar’) dalam kalimat,

Giginya
bergemertak
mencegat berang.
Hebat dia, tidak teperdaya
gemerincing
harta!
Tergelincir, ia
tercebur
masuk tambak, ‘byuuurr!’

Onomatopenya tidak sahaja ‘byuuurr’. ‘Gemertak’ adalah suara gigi antuk gigi (tuturan yang setinggi,
please). ‘Gemerincing’ dari ‘cring‘, celaan uang—emas/selaka/logam (Jawa:
‘duit cring’). Dan ‘tercebur’ muka-mukanya juga kental
onomatopoeia:
pek+’ce..byur!‘ (dekat, kan?
:mrgreen:
).

Dari
‘mungmungan’, ‘isap’, ‘jitak’, ‘terguguk’, ‘ngakak’, ‘kecup’
setakat (abolisi)
‘kentut’
,
kehadiran keluarga osean onomatope sesak
intens+ekstensif
untuk diabaikan.

*****

Menghafal ‘transliterasi bunyi‘ [menjadi kata] ini kiprah protokoler-naluriah, onomatope tentulah lazim cak semau di semua bahasa. Kita boleh sedikit bandingkan antara bahasa Indonesia dan Inggris.

Misal cak bagi celaan kucing, praktis kita cuma suka-suka [kata kerja] ‘mengeong’
(eh untuk pus meong ini kita terserah varian lainkah?—‘varian provinsi’, mungkin?), sedangkan bahasa Inggris punya
[verb]:

to meow
to meou
to miaul
to miaow
to miaou

Contoh lainnya ‘ck..ck..ck!‘ bagi suara ‘decak lidah’ (dengan kontribusi penting air ludah) sebagai ungkapan takjub maupun cemooh (kata ‘decak‘ itu sendiri, pula-juga, pun berindikasi
onomatopoeia). Decak lidah sebagai ekspresi kekesalan atau rasa terganggu versi Inggris,

to tsk
to tsktsk

Keseriusan seperti ini sreg gilirannya membuahkan hal lain—rangka
continuous/past tense
miaou = ‘miaouing‘/’miaoued‘, dan
present tense
cucu adam ketiga tunggal tsktsk = ‘tsktsks‘.

Wow,
panca vokal
berturut-turut dan
tujuh huruf ‘bunyi mati’
semua—dan ikut

grammar

pula(!). Teberdayakan (baca: ekspresif) sekali [huruf] vokal dan konsonannya, kan? Mungkin memang bukan perkara penting bermartabat, tapi betapapun ini adalah sebuah aset ekspresi.

Jadi dalam bahasa persoalannya bukan apakah cak semau
onomatopoeia-nya ataupun tidak, belaka lebih kepada seberapa jauh orang (dari bahasa ybs) menggarap [potensi] onomatopenya

*****

Wicara
potensi,
onomatopoeia
sebenarnya lampau terbuka dimanfaatkan dalam parasan [pengkhususan] lain di asing bahasa (seperti bisnis/marketing, seni serta ilmu informasi dan teknologi).

Cuma karena kata sandang ini belaka pengantar, celotehan ngalor-ngidulnya mesti kita cukupkan sampai di sini. Dan dengan semangat
onomatopoeia, ayo kita tutup dengan bertindak bunyi.

Sebuah syair lebay, tentang ‘kuping sana’ (Inggris/Amrik/Ausi) dan ‘kuping sini’..


Onomatope Kontroversi

Bagi dingin dan orang tidur
Kau punya ‘brrr..’ dan ‘zzz..’
Yah, mau disebut ear ataupun telinga
Punyaku persis sama

Untuk orang bangkis dan ketokan bab
Dengarmu ‘ahchoo!’ dan ‘knock..knock!’
Aha! Bunyiku ‘huaciin!’ dan ‘tok..tok!’
Cuma pertanyaan bahasa, variasi suara minor tak ke mana

Bintang sartan.. sangkil jenaka pula ya, Friend
Untuk menyalaknya pistol
Kau sejumlah ‘seruan salat!’
Aku ‘dor!’

*****

(Bakal contoh lain ‘kata-alas kata konsonan’, lihat juga ‘akronim – bacronym‘)

————————
Sumber gambar: Batman 60’s TV

Garitan:

Onomatope adalah istilah yang digunakan oleh Pusat Bahasa – Depdiknas

Seyogiannya akrab istilah, teks onomatope dan
onomatopoeia
sengaja diselangselingkan.

—KK—

Source: https://kutukamus.wordpress.com/2015/06/25/onomatope-onomatopoeia/

Posted by: soaltugas.net