Yesus Marah Di Bait Allah

[jezuschrystus.eu]

HIDUPKATOLIK.com
– Dalam perikop Yesus menyucikan Kuplet Almalik (Yoh. 2:13-25), dikisahkan Yesus sangat marah dengan para pengelana nan berjualan di halaman Kuplet Sang pencipta. Apa yang mewujudkan Yesus marah? Apakah karena barang yang dijual ataupun karena penjualannya bukan bebas? Adakah alasan kemarahan Yesus ini ada kaitannya dengan kisahan Perjanjian Lama?

Rayindra Gusti,
Denpasar

Menarik sekali pertanyaan ini. Alasan kemarahan Yesus di Stanza Almalik disebut secara metaforis, dengan mengutip Mzm. 69:10: “Cinta untuk rumah-Mu menyangitkan aku.” Mazmur itu sakti puji-pujian tangis, nan merencana akan halnya pemazmur laksana hamba Almalik nan setia, hanya ia dicela dan dihujat makanya tali pusar-saudaranya, lebih-lebih karena kesetiaannya itu. Dengan mengutip Mazmur ini, Yohanes berbarengan menunjuk konflik yang muncul, antara Yesus Putra Sang pencipta dan para penjaga Israel, yang melengahkan identitasnya. Yesus tatap muka dengan praktik pasar nan malar-malar merusak pamrih Bait Allah.“Jangan anda membuat kondominium BapaKu menjadi gelanggang jualan.”

Injil Synoptik menambahkan juga: “Rumah-Ku yaitu rumah doa. Cuma dia menjadikannya sarang penyamun” (Luk. 19:46. Bdk. 21:13 dan Mat. Mrk. 11:17). Penyamun adalah perampas lihai, tetapi langsung perampok yang serakah. Yesus menyundak gelagat itu dalam sistem pasar Stanza Sang pencipta. Mereka lihai karena menyisihkan barang buat kurban bakaran, sama dengan merpati, dan dabat alamat lainnya. Terhidang juga uang lelah penukar, karena Bait Allah mempunyai uang jasa sendiri, yang farik dari uang yang dipakai sehari-hari. Jadi tidak masalah sepatutnya ada dengan barang yang dijual, karena memang dibutuhkan. Para peziarah lain teristiadat repot-repot mengapalkan semuanya semenjak kampung mereka yang jauh dari Yerusalem.

Yang salah terlebih sistem dan akibat mulai sejak penyimpangannya. “Penyamun-perampok” siluman memanfaatkan keadaan bikin meraup keuntungan mulai sejak ketulusan para peziarah. Suasananya menjadi enggak adil kembali; ada persaingan, monopoli dan kelicikan. Rumah doa umat pilihan Yang mahakuasa sudah menjadi sarang kerakusan dunia. Relasi dengan Allah Maha Kasih pula terhalang. Tindakan Yesus ini mengingatkan kita sreg Paus Fransiskus, ketika berbicara tentang sistem keuangan tertentu yang lebih bersifat mengatur, ketimbang melayani. Aturan demi kebiasaan jamak mencekik, cuma hidup pelayanan umat makhluk kurang diperhatikan. Aturan menjadi sonder etika dan status cucu adam terabaikan (bdk. EG).

Lebih lanjut, kicauan Yesus juga signifikan simbolik. Bibel Yohanes membandingkan Bait Allah dengan Tubuh Yesus sendiri, laksana lambang yunior kehadiran Yang mahakuasa, yang mewakili Bait Allah Yerusalem. Di dalamYesus ini terbuka urut-urutan baru kepada Allah Bapa. Dialah Bait Allah salih. Seperti stanza Allah Yesus akan menyerahkan jasmani-Nya dibongkar dalam kematian, dan menjadi sumur keselamatan dalam kebangkitan-Nya. Di dalam Dia kita menemukan hukum baru yang mengatasi hukum lama.

Karena mortalitas dan kebangkitan Yesus ini menyelamatkan manusia, perombakan rumah Allah ini juga menunjuk pengangkatan martabat kita, yang disatukan dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Kembali tubuh orang yang percaya merupakan rumah Almalik, seperti dikatakan makanya Paulus. Oleh pencurahan Kehidupan Kudus tubuh kita menjadi palagan sembah yang yang baru. Yesus sendiri menunjuk situasi ini internal konversasi dengan perempuan Samaria, “Akan berangkat saatnya bahwa penyanjung-pengikut ter-hormat akan menyembah Bapa dalam semangat dan kebenaran” (bdk. Yoh.4:21-23).

Kesimpulannya, Yesus marah karena jatidiri rumah wirid lebur. Tindakan itu bermakna simbolik, menunjuk pada sistem agama nan tercemar, tetapi juga sebuah langkah menuju jalan baru melalui diri-Nya. Yesus hendak mengembalikan jalan relasi sejati dengan Tuhan, yang akan mengangkat status kita.

Gregorius Hertanto MSC

Kehidupan NO.31 2022, 4 Agustus 2022

Source: https://www.hidupkatolik.com/2019/09/04/39504/marah-di-bait-allah.php

Posted by: soaltugas.net